Kebangkitan Generasi Apolitik

19 12 2011

Kompas, 8 September 2011 memuat sebuah artikel berjudul Wajah Belia di Jerman. Artikel ini mengulas tentang partai baru, Pirate, yang didominasi oleh kaum muda dan langsung menembus empat besar di negara bagian Berlin. Partai ini berhasil merebut 15 kursi di parlemen. Menariknya, pemilih mayoritas mereka adalah kalangan muda apolitik yang biasanya golput dan senang berseluncur di dunia maya. Fenomena partai Pirate ini mengingatkan kita dengan Arab Springs, gelombang perubahan yang terjadi di Timur Tengah. Para penggerak utamanya justru kaum muda dan mahasiswa yang apolitik, maniak situs-situs jejaring sosial dan pecinta teknologi informasi. Banyak yang mengatakan mereka adalah Facebook Generation atau Net Generation tapi ada juga yang memuji mereka sebagai Miracle Generation.

Tren Generasi Apolitik

Jajak pendapat yang diadakan Litbang Kompas (21/3/2011) mengulas beberapa ciri kaum muda apolitik. Mereka cenderung konsumtif, berorientasi pada diri sendiri dan tak bergairah untuk terlibat dalam organisasi-organisasi kepemudaan. Disimpulkan pula bahwa jumlah mereka cenderung makin meningkat. Survei Litbang Kompas baru-baru ini (28/10/2011) kembali menegaskan kecenderungan generasi muda yang semakin individualis dan berorientasi pada kepentingan diri, yang juga berarti semakin apolitis. Namun jangan buru-buru mendiskreditkan mereka. Kita perlu memahami mengapa mereka menjadi apolitis. Setidaknya ada dua faktor kunci yang berandil melahirkan generasi apolitik: trauma politik dan anomali politik.

Trauma Politik

Thung Ju Lan, dalam buku Setelah Air Mata Kering: Masyarakat Tionghoa Pasca Peristiwa Mei 1998 (2010) menyatakan bahwa trauma politik masa lampau adalah pemicu utama lahirnya generasi apolitik. Ia menjelaskan bagaimana kaum keturunan Tionghoa, yang mengalami trauma berkepanjangan akibat stigma komunis yang dilekatkan pada mereka, cenderung menghindarkan diri untuk membicarakan apalagi terlibat dalam aktivitas-aktivitas yang berbau politik. Tidak mengherankan pula jika mereka memilih menyekolahkan anak-anak mereka ke bidang-bidang yang tidak ada kaitannya dengan politik atau kenegaraan. Situasi ini diperparah dengan perlakuan-perlakuan diskriminatif yang menimbulkan perasaan sebagai outsider dan bukan bagian dari bangsa ini. Namun trauma politik seperti ini tentu tidak hanya dialami oleh warga keturunan Tionghoa. Banyak kelompok masyarakat lain, baik kelompok suku maupun kelompok agama-kepercayaan yang turut mengalami penindasan politik, seperti Papua dan Ahmadiyah. Trauma politik juga tidak semata soal kepahitan sejarah akibat diskrimasi dan stigma ideologi yang dialami kelompok tertentu. Dalam tingkatan yang lebih umum ia juga hadir tatkala berbagai kebijakan ekonomi dan hukum lebih bernuansa politis dan tidak berpihak kepada kepentingan masyarakat serta menciderai rasa kemanusiaan. Dalam bukunya, Youth in a Suspect Society: Democracy or Disposability? (2006), Henry Giroux menjelaskan bagaimana politik yang berselingkuh dengan ekonomi neoliberal cenderung menghasilkan kebijakan-kebijakan opresif dan diskriminatif terhadap generasi muda. Pelayanan sosial, kesehatan, pendidikan dan ketersediaan lapangan kerja—semua sarana yang mestinya dinikmati secara bebas dan menjadi indikator penting dari sebuah negara demokrasi—telah tertawan oleh kepentingan ekonomi. Akibatnya tidak semua orang mendapatkan akses bebas ke sumber-sumber dasariah tersebut. Dampaknya mereka terabaikan, termarginalkan dan menjadi “sampah” masyarakat (disposal).

Anomali Politik

Era reformasi yang berhasil melengserkan rezim Orde Baru merupakan buah perjuangan generasi muda dan mahasiswa. Sayangnya, sudah empat rezim berganti namun perubahan tak kunjung tiba. Amanat reformasi yang dititipkan para mahasiswa bagi para pemimpin bangsa ini untuk menghadirkan sebuah transisi politik yang berpihak pada rakyat, berubah wujud menjadi politik transaksional dan perselingkuhan keji antar lembaga negara. Praktik mafia peradilan adalah contoh nyata dikhianatinya cita-cita reformasi. Semua anomali ini tentu dapat melunturkan semangat kaum muda untuk turut berkontribusi dalam persoalan-persoalan kebangsaan. Selain itu tersandungnya sejumlah politisi muda dalam kasus korupsi sangat mungkin membuat dunia politik makin bernilai negatif di mata generasi muda masa kini.

Kekuatan Baru yang Menakutkan

Namun yang menarik, ditunjang oleh teknologi informasi, kini generasi apolitik menjelma menjadi kekuatan baru yang amat ditakuti rezim-rezim otoritarian. Rezim-rezim ini sering salah tingkah dan tampak bodoh dengan berupaya membatasi dan memblokir komunikasi dunia maya; dunia yang paling digandrungi generasi apolitik. Namun di balik tampilan lahiriah yang apolitik, sebenarnya terdapat sebuah kebenaran paradoksal dalam diri mereka. Mereka memang pragmatis, bergerak bebas dan tak terkungkung oleh ideologi apa pun. Itu terjadi karena dunia politik memang gemar mempolitisasi ideologi dan menjadikannya slogan kosong belaka. Jika mereka memilih diam, itu bukan karena mereka tak peduli. Mereka hanya takut tercemar oleh kebusukan rezim korup yang memang enggan dan takut dengan perubahan. Bagi generasi apolitik satu-satunya ideologi yang hakiki adalah kemerdekaan hati nurani yang didorong oleh rasa kemanusiaan, kebenaran dan keadilan. Dalam sebuah wawancara dengan CBS News (13/2/2011), Wael Ghonim, tokoh utama di balik revolusi Mesir mengatakan, “Kita akan menang sebab kita tidak mengerti politik, sebab kita tidak mengerti permainan kotor mereka. Kita akan menang karena air mata kita keluar dari hati kita”. Semakin giat sebuah rezim membentuk generasi apolitik, semakin kuat pula kemungkinan ia akan diturunkan oleh generasi yang sama. Rezim yang berikhtiar melanggengkan kekuasaannya melalui politik yang melahirkan generasi apolitik, satu saat kelak akan bertemu dengan karmanya.


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: