Iman yang Menyelamatkan

20 08 2009

Roma 3:21-30

 

I

Menurut pandangan saya, penyakit yang paling berbahaya dalam iman adalah legalisme. Inilah jugalah yang sebenarnya menjadi masalah yang sedang Paulus paparkan sebagai latar belakang teks yang baru kita baca tadi (pasal 2:18-3:20).  Legalisme adalah keimanan yang disandarkan pada status bukan kekudusan hidup; pada tradisi dan formalisme agamawi bukan relasi dengan Allah; pada ketaatan melakukan ritual-ritual lahiriah bukan pada perubahan karakter hidup.  Sebagai catatan orang-orang Yahudi adalah orang-orang yang sangat kagum dan bangga dengan identitas dan ritual ke-Yahudian mereka.  Mereka sangat bangga bahwa mereka adalah keturunan Abraham, di sunat, bangsa pilihan Allah, memiliki hari sabat dan tentu yang paling penting hukum Taurat.  Namun ada masalah yang lebih parah, yang muncul sebagai konsekuensi dari iman buta ini.  Karena mereka (orang-orang Yahudi) merasa bahwa mereka adalah bangsa pilihan Allah, punya sunat, anak Abraham dan memiliki sunat maka mereka beranggapan apa pun yang mereka lakukan—meskipun itu adalah segala perbuatan cemar yang penuh dengan kenajisan dan kejijikan di hadapan Allah—mereka tetap merasa bahwa mereka pasti akan diselamatkan oleh Allah. Coba kita lihat sebentar beberapa ayat dari Roma yang mengindikasikan hal ini:

Sebab walaupun mereka mengetahui tuntutan-tuntutan hukum Allah, yaitu bahwa setiap orang yang melakukan hal-hal demikian, patut dihukum mati, mereka bukan saja melakukannya sendiri, tetapi mereka juga setuju dengan mereka yang melakukannya (1:32).

tetapi murka dan geram kepada mereka yang mencari kepentingan sendiri, yang tidak taat kepada kebenaran, melainkan taat kepada kelaliman. Penderitaan dan kesesakan akan menimpa setiap orang yang hidup yang berbuat jahat, pertama-tama orang Yahudi dan juga orang Yunani, tetapi kemuliaan, kehormatan dan damai sejahtera akan diperoleh semua orang yang berbuat baik, pertama-tama orang Yahudi, dan juga orang Yunani. Sebab Allah tidak memandang bulu (2:8-11). Nah, khusus pada ayat 11 ini sebuah terjemahan bahasa Inggris memberikan alternatif yang baik sekali: “For God does not  show favoritism.” Perhatikan kata favoritism di situ.  Ini menegaskan bahwa Allah tidak punya anak favorit, Allah tidak punya anak emas. Semua sama di hadapan Allah.

 

Tetapi, jika kamu menyebut dirimu orang Yahudi dan bersandar kepada hukum Taurat, bermegah dalam Allah, dan tahu akan kehendak-Nya, dan oleh karena diajar dalam hukum Taurat, dapat tahu mana yang baik dan mana yang tidak, dan yakin, bahwa engkau adalah penuntun orang buta dan terang bagi mereka yang di dalam kegelapan,pendidik orang bodoh, dan pengajar orang yang belum dewasa, karena dalam hukum Taurat engkau memiliki kegenapan segala kepandaian dan kebenaran. Jadi, bagaimanakah engkau yang mengajar orang lain, tidakkah engkau mengajar dirimu sendiri? Engkau yang mengajar: “Jangan mencuri,” mengapa engkau sendiri mencuri? Engkau yang berkata: “Jangan berzinah,” mengapa engkau sendiri berzinah? Engkau yang jijik akan segala berhala, mengapa engkau sendiri merampok rumah berhala? Engkau bermegah atas hukum Taurat, mengapa engkau sendiri menghina Allah dengan melanggar hukum Taurat itu?(2:17-23)

 

Sunat memang ada gunanya, jika engkau mentaati hukum Taurat; tetapi jika engkau melanggar hukum Taurat, maka sunatmu tidak ada lagi gunanya (2:25).

 

Jika demikian, maka orang yang tak bersunat, tetapi yang melakukan hukum Taurat, akan menghakimi kamu yang mempunyai hukum tertulis dan sunat, tetapi yang melanggar hukum Taurat. Sebab yang disebut Yahudi bukanlah orang yang lahiriah Yahudi, dan yang disebut sunat, bukanlah sunat yang dilangsungkan secara lahiriah (2:27-28).

 

Itulah sebabnya mengapa kemudian dalam 3:9-10 Paulus menyimpulkan:

Jadi bagaimana? Adakah kita mempunyai kelebihan dari pada orang lain? Sama sekali tidak. Sebab di atas telah kita tuduh baik orang Yahudi, maupun orang Yunani, bahwa mereka semua ada di bawah kuasa dosa, seperti ada tertulis: “Tidak ada yang benar, seorangpun tidak.

 

Dan dalam ayat 20 ia mengatakan, “Sebab tidak seorangpun yang dapat dibenarkan di hadapan Allah oleh karena melakukan hukum Taurat, karena justru oleh hukum Taurat orang mengenal dosa.”

Perhatikan ayat-ayat itu.  Fatal bukan? Mereka tetap merasa ok dan fine-fine saja tetap berbuat dosa, tetap hidup dalam kefasikan, tetap hidup berlawanan dengan kehendak Allah dengan alasan: kami ‘kan umat pilihan Allah, kami ‘kan disunat, kami ‘kan punya Taurat, kami ‘kan anak Abraham? Dan menurut saya ini jugalah penyakit yang banyak mampir dalam diri Gereja Tuhan masa kini.  Banyak orang Kristen menganggap bahwa karena dia sudah dibaptis, karena dia sudah di sidi, karena dia adalah anak pendeta, karena dia dari kecil (dan ortu serta nenek moyangnya adalah Kristen), karena dia rajin pelayanan, karena dia rajin ke Gereja dan karena dia selalu juara 1 lomba cerdas-cermat Alkitab serta rajin baca buku rohani dan hafal ayat-ayat Alkitab, maka otomatis keselamatan itu menjadi miliknya; dan Allah pastilah menjadikannya “anak favorit.” Apa pun yang dilakukannya, apa pun yang dipikirkannya, apa pun yang dikehendakinya—walaupun itu semua adalah hal-hal yang sangat dan paling dibenci oleh Allah—ia pasti akan tetap diselamatkan Allah dan Allah tidak pernah bermasalah dengan itu semua.  Saudara-saudaraku kalau sampai itu menjadi pandangan kekristenan kita hari ini, i must tell you, you are standing in a very front of a teribble condition!!!

 

II

Namun mungkin pertanyaan yang perlu kita ajukan dan tanyakan lebih jauh (supaya kita bisa mengerti dengan baik masalah ini adalah), “Mengapa sampai banyak orang Yahudi pada zaman Paulus (termasuk orang-orang Kristen masa kini) yang punya pikiran yang demikian picik dan legalis? Apa penyebabnya?” Menurut saya penyebab pelencengan yang paling serius dan membuat banyak orang secara tidak sadar tergelincir (dan mungkin termasuk kita) dalam masalah yang serius adalah karena konsep dan pandangan kita yang keliru soal dosa.

Ketakutan saya kebanyakan orang Kristen saat ini (juga seperti orang-orang Yahudi) menganggap dosa melulu bicara soal perbuatan yang tidak pantas/tidak baik secara eksternal (sekadar bersifat moralis), mis: tidak berzinah (berhubungan kelamin), tidak mencuri, tidak berbohong, tidak membunuh (menghilangkan nyawa), dll.  Dengan kata lain dosa sekadar dikaitkan dengan seperangkat persoalan kriminal yang melanggar norma-norma susila masyarakat.  Asalkan saya tidak melakukan sesuatu yang merugikan masyarakat (apalagi ditambah saya rajin beribadah) pastilah saya bukanlah seorang pendosa, melainkan orang benar. Inilah konsepsi kebanyakan orang soal dosa. Karena itu, tidak mengherankan kalau seseorang punya pemahaman dosa seperti ini, ia pasti akan sangat mudah jatuh ke dalam jebak legalisme dan cukup puas dengan mendandani/memperbaiki kosmetik penampilan  persembahan rutin, tidak merokok dan bertato, tidak mencontek dan tidak mencuri; ikut katekisasi dan dibaptis/sidi pastilah saya tidak lagi dikategorikan sebagai orang berdosa. Tapi benarkah ini definisi dosa yang alkitabiah?

Menurut saya definisi yang paling baik dan lengkap tentang dosa diberikan Paulus di 1:18-19, 21, 23:

Sebab murka Allah nyata dari sorga atas segala kefasikan dan kelaliman manusia, yang menindas kebenaran dengan kelaliman. Karena apa yang dapat mereka ketahui tentang Allah nyata bagi mereka, sebab Allah telah menyatakannya kepada mereka. . . . Sebab sekalipun mereka mengenal Allah, mereka tidak memuliakan Dia sebagai Allah atau mengucap syukur kepada-Nya. Sebaliknya pikiran mereka menjadi sia-sia dan hati mereka yang bodoh menjadi gelap. . . . Mereka menggantikan kemuliaan Allah yang tidak fana dengan gambaran yang mirip dengan manusia yang fana, burung-burung, binatang-binatang yang berkaki empat atau binatang-binatang yang menjalar.

Ya, inilah dosa: menggeser atau menggantikan Allah yang sejati, yang semestinya menjadi pusat kepuasan dan tujuan hidup kita satu-satunya; dengan sesuatu yang lain yang kita anggap lebih cocok untuk dijadikan sebagai sumber kepuasan dan tujuan, bahkan sumber hidup kita yang utama. Dosa adalah membuang Allah, menyingkirkan Allah, meremehkan Allah dan tidak menganggapnya sebagai oknum yang layak berotoritas dan menjadi pusat hidup kita. Sampai di sini sepintas mungkin ada di antara rekan-rekan yang berpikir: saya tidak pernah membuang Allah kok dari hidup saya; saya tidak pernah menyingkirkan Allah kok atau meremehkan apalagi tidak menganggap-Nya sebagai oknum yang berotoritas. Tapi tunggu dulu, benarkah demikian??? Karena itu saya ingin sedikit menjelaskan makna “penyembahan berhala,” istilah lain untuk “menggantikan Allah dengan sesuatu yang lain.”

Dalam bahasa Yunani (bahasa asli Perjanjian Baru), kata “berhala” berasal dari kata “eidolon” yang berarti gambaran atau image. Akar kata dari kata ini adalah “eidos” yang secara hurufiah berarti the external or outward appearance. Dengan demikian berhala adalah segala sesuatu (apa pun itu) yang secara eksternal sangat memikat, mempesona dan membuat segala potensi kita (baik waktu, tenaga, pikiran, uang) terkuras. That’s our very idol! Jadi pertanyaannya, “Apakah penyembahan berhala hanya bicara soal menyembah sesosok patung, gambar atau benda-benda langit yang mati? Ataukah menyembah berhala berarti menyembah pepohonan atau binatang-binatang tertentu yang dikeramatkan?” Bagi Alkitab tidak! Terlalu banyak hal yang dapat menjadi berhala: pacar, uang, seks, video game, cita-cita/karir, ortu. Tentu saya tidak mengatakan bahwa semua itu (pacar, uang, seks, video game, cita-cita/karir, ortu) pada dasarnya adalah hal-hal dosa; tapi yang saya maksudkan adalah pada saat kita menganggap bahwa dengan semua itu kita akan menikmati kebahagiaan dan sukacita sejati dan bahwa semua hal itulah yang paling kita butuhkan dalam hidup (dan bukan Allah), di sanalah sebenar-benarnya “penyembahan berhala” sedang terjadi. Itulah sebabnya dalam Kolose 3:5, Paulus menyamakan percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat, dan keserakahan dengan penyembahan berhala!

Berhala sebenar-benarnya adalah hasil refleksi (cerminan) dari sebuah hasrat nafsu/keingingan manusia yang ingin bebas otonom dari Allah, yang merasa mampu hidup bahagia di luar Allah, dan merasa bahwa Allah hanyalah sosok kejam yang suka “mengatur-ngatur” hidupnya. Baginya “kebahagiaan hidup” berarti hidup bebas, lepas dari kontrol siapa pun (termasuk Allah), untuk memuaskan semua hasrat nafsu yang terpendam di dalam dirinya. Bahagia berarti: “I have everything what I like, and I can do everything what I want.” Semua benda-benda yang dijadikan berhala (tuhan) hanyalah sarana/alat yang harus cocok dengan keinginan dari orang tersebut.  Orang yang ingin kaya pastilah memilih berhala yang dianggapnya bisa membuatnya kaya (kebiasaan gunung kawi); orang yang memang haus dengan seks pastilah “menyembah” berhala yang setuju dengan pemuasan hawa nafsu seks (Kel. 32:6), dll. Dengan kata lain dalam penyembahan berhala manusialah yang jadi allah! Dan itulah yang sebenarnya yang dilakukan oleh Adam dan Hawa di Eden.  Dosa mereka bukanlah karena mereka makan buah tapi karena mereka dengan sadar dan sengaja ingin “menjadi allah” bagi diri mereka sendiri!

Dari definisi ini kita bisa melihat betapa seriusnya sebenarnya masalah dosa.  Dosa bukan hanya persoalan etis-moral belaka (itu sempit sekali). Dosa adalah tindakan baik secara terang-terangan maupun terselubung melawan, memberontak, ingin mengkudeta Allah sebagai Tuhan atas hidup kita dan sebagai pemelihara hidup kita yang paling setia, dan ingin menggantinya dengan diri kita sebagai tuhan atas hidup kita sendiri, persis seperti lagu Bon Jovi: It’s My Life! Dan itulah yang sebenarnya dicatat dan disimpulkan oleh Paulus dalam 3:10-11, 18:

 

“seperti ada tertulis: “Tidak ada yang benar, seorangpun tidak. Tidak ada seorangpun yang berakal budi, tidak ada seorangpun yang mencari Allah. . . . rasa takut kepada Allah tidak ada pada orang itu.”

 

“tidak seorang pun yang mengerti dan tidak seorang pun yang menyembah Allah. Semua orang sudah menjauhkan diri dari Allah; semuanya telah sesat. Tidak seorang pun berbuat yang benar; seorang pun tidak!. . . . dan tidak menghormati Allah” (BIS).

Dan ironisnya, banyak orang menghidupi semua ini tanpa disadari. Dan supaya mereka tetap bisa diselamatkan maka mereka membawa semua embel-embel dan simbol-simbol keagamaan mereka dan berusaha menenangkan hati mereka yang sebenarnya sedang resah sambil berkata, “tenanglah hai jiwaku, engkau pasti diselamatkan karena engkau rajin ibadah, rajin memberi persembahan, rajin pelayanan, rajin VG/PS, sudah disidi/dibaptis, dll. Coba kita sama-sama berpikir secara realistis: adakah bentuk kesalehan yang kita pikir mujarab, yang dapat dilakukan oleh manusia yang sudah melawan Allah dapat menyelamatkannya dari murka Allah? (bdk. Yes. 64:6)

Saya ingin sedikit memaparkan tentang sebuah fakta dosa dalam PL dan betapa seriusnya dosa itu (yang kadang-kadang, saya yakin kurang kita sadari).

Di dalam PL memang ada ritual pengampunan dosa lewat hewan-hewan kurban yang dipersembahkan di atas mezbah di Kemah Suci atau Bait Allah. Namun tampaknya banyak orang kurang memperhatikan jenis dosa yang bisa diampuni lewat hewan korban ini:

 

“Katakanlah kepada orang Israel: Apabila seseorang tidak dengan sengaja berbuat dosa dalam sesuatu hal yang dilarang TUHAN dan ia memang melakukan salah satu dari padanya” (Im. 4:2)

“Jikalau yang berbuat dosa dengan tak sengaja itu segenap umat Israel, dan jemaah tidak menyadarinya, sehingga mereka melakukan salah satu hal yang dilarang TUHAN, dan mereka bersalah” (Im. 4:13)

“Jikalau yang berbuat dosa itu seorang pemuka yang tidak dengan sengaja melakukan salah satu hal yang dilarang TUHAN, Allahnya, sehingga ia bersalah” (Im. 4:22).

“Apabila seseorang berubah setia dan tidak sengaja berbuat dosa dalam sesuatu hal kudus yang dipersembahkan kepada TUHAN, maka haruslah ia mempersembahkan kepada TUHAN sebagai tebusan salahnya seekor domba jantan yang tidak bercela dari kambing domba, dinilai menurut syikal perak, yakni menurut syikal kudus, menjadi korban penebus salah” (Im. 5:15).

 

Perhatikan baik-baik jenis dosa tersebut. Ya, yang diampuni lewat hewan-hewan korban itu adalah dosa-dosa yang tidak disengaja. Nah, pertanyaannya bagaimana dengan dosa yang disengaja?

 

Tetapi orang yang berbuat sesuatu dengan sengaja, baik orang Israel asli, baik orang asing, orang itu menjadi penista TUHAN, ia harus dilenyapkan dari tengah-tengah bangsanya (Bil. 15:30).

Bagi dosa yang disengaja, tidak dapat pengampunan (apalagi seperti penyembahan berhala = sengaja menggeser Allah sebagai Tuhan dan menjadikan sesuatu yang lain, yang berasal dari hawa nafsu diri sebagai tuhan). Yang ada hanyalah penghukuman, pembuangan dan maut! Ini jelas menunjukkan betapa seriusnya dosa yang disengaja dan betapa tidak mampunya sebenarnya semua upaya manusia untuk mengatasi dosa ini, baik itu identitas keagamaan kita maupun tindakan-tindakan moral kita yang kita anggap cukup baik sehingga Allah akan melirik dan menyelamatkan kita. Seorang ahli Alkitab mengatakan demikian tentang dosa kita yang sangat serius: 

Sin is the pit into which we have fallen, but it is too deep for us to escape. It is the quicksand into which we have foolishly blundered but from which we cannot extricate ourselves. It is the death we have entered but from which we cannot restore ourselves to life

 

Saat melihat kondisi dosa yang amat sangat parah ini, saya sadar betul bahwa tindakan yang normal yang akan dilakukan Allah adalah membinasakan manusia dan meninggalkannya.

 

III

Itulah sebabnya—karena tidak ada jalan dan cara untuk mengampuni dan menolong para pendosa (termasuk semua kesalehan, tradisi dan formalisme mereka yang hanyalah seperti “kain kotor” bagi Allah, dan hanya Allah yang dapat menyelamatkan manusia dari dosa separah ini)—Allah menyediakan keselamatan yang baru, yang ada di dalam Yesus Kristus. Melalui dan hanya melalui Kristus, Allah tidak melakukan tindakan yang sewajarnya Allah mestinya lakukan (seperti yang saya pikirkan tadi), malah sebaliknya Allah memberikan pengampunan dan jalan keluar yang tidak terduga lewat Kristus. Dan itu tampak jelas lewat kata awal dari ayat 21 “Tetapi sekarang. . . .”  Perhatikan kata “tetapi” itu; sebuah kontras dari kondisi manusia dengan respons Allah terhadap kondisi manusia! Bayang-bayang maut dan kebinasaan yang ada di benak umat manusia hilang dan diganti dengan sesuatu yang penuh sukacita. Lewat tindakan Allah di dalam Kristus, Allah tidak memperhitungkan lagi, menghapuskan, membiarkan dan semua pelanggaran dan bentuk-bentuk pemberontakan manusia. Di dalam Kristus dan lewat percaya kepada Kristus, kini para manusia malang yang tidak punya masa depan dan terancam di bawah kutuk Allah, disayangi kembali, dikasihi kembali dan dapat menikmati relasi yang intim kembali dengan Allah seperti Adan dam Hawa di Eden.  Inilah Injil atau kabar baik. Allah tidak menghukum dan membinasakan manusia (seperti yang sewajarnya dan sepantasnya mereka terima) tetapi sebaliknya Allah menyediakan jalan pengampunan dan pembenaran yang tuntas lewat Kristus agar orang-orang percaya kepada-Nya kembali bersatu dan dikasihi-Nya. Perhatikan: betapa limpahnya dan murahnya hati Allah buat para pendosa! Allah sungguh tahu bahwa tidak ada satu pun upaya yang dapat menyelamatkan manusia kecuali Ia sendiri datang, menjamah, memulihkan, mendamaikan manusia dengan diri-Nya, walaupun itu berarti ada pengorbanan luar biasa yang harus Ia lakukan.


Aksi

Information

Satu tanggapan

28 11 2009
lisa berlian

hanya oleh karena kasih karunia Allah kita diselamatkan bukan oleh usaha kita sendiri, puji Tuhan Yesus memberkati…….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: