PASKAH SEBAGAI PERAYAAN POLITIK

29 04 2009

peace

Sebuah kebetulan yang istimewa bahwa tahun ini hari paling penting bagi umat Kristen, Paskah, akan dirayakan berdampingan dengan PEMILU, pesta demokrasi lima tahunan di negeri ini. Sekilas, kedua acara ini tidak punya hubungan kait-mengait satu dengan yang lain: yang satu adalah pesta rohani dan yang lain adalah pesta politik. Tapi benarkah demikian? 

Menurut tradisi Perjanjian Lama, paskah pertama kali dirayakan sebagai pengingatan atas karya ajaib Tuhan yang memerdekakan umat Yahudi dari belenggu perbudakan.  Menurut catatan sejarah Eusebius dari Kaisarea dan catatan Taurat, umat Yahudi ditindas oleh raja Firaun Ramses II selama 430 tahun. Jelas ini bukan sekadar berita yang bernada rohani belaka. Ini adalah sebuah berita politik, bahkan sebuah “perayaan politik” bahwa dibalik kemustahilan yang amat panjang dalam perjalanan hidup sebuah bangsa, ada secercah sinar harapan.

Dalam perkembangan selanjutnya, berita paskah tetap berdampingan erat dengan berita politik.  Lima ratus tahun kemudian (490 M), seorang imam, Ezra, kembali menyerukan perayaan massal Paskah sebagai ungkapan syukur karena bebasnya mereka dari pembuangan Babilonia Baru selama 50 tahun.

Bagaimana dengan Paskah menurut Injil dan Perjanjian Baru? 

Zaman Yesus merupakan zaman yang secara politik sangat carut marut dan sulit. Lagi-lagi Palestina ada di bawah penjajahan.  Saat itu Romawi menjajah Palestina dan menetapkan status imperial provinces; sebuah status yang diberikan untuk propinsi yang dianggap pembangkang dan mudah memberontak kepada Kaisar.  Zaman Yesus juga adalah zaman multipartai politik, tidak beda dengan kondisi negara kita saat ini. Terlepas dari motivasi keagamaan yang kuat yang mendorong partai-partai ini, sebenarnya masing-masing partai memperjuangkan kemerdekaan negaranya dari penjajahan Romawi dengan cara dan tujuannnya sendiri-sendiri.  

Sayap politik nasionalis yang dimotori kaum Zelot berupaya membebaskan kaum Yahudi dari kaum penjajah dengan kekuatan militer. Kelompok lain yang sangat berpengaruh adalah kelompok Farisi.  Kelompok ini memang awalnya merupakan gerakan sosial-keagamaan. Namun seiring perkembangan waktu dan perkembangan yang terjadi dalam kelompok ini, kelompok ini pun pada akhirnya merubah wujud menjadi kelompok (partai) politik bernafas keagamaan. 

Disamping dua kelompok di atas, yang merupakan kelompok yang dapat dianggap beroposisi dengan pemerintah dan penjajah Roma saat itu, ada dua kelompok lain yang merupakan kelompok politik pro-pemerintah berkuasa.  Yang pertama adalah kelompok Herodian.  Kelompok ini memang jarang disebutkan dalam Alkitab (lih. Mat. 22:16; Mrk. 3:6; 12:13). Namun dalam kenyataannya kelompok ini adalah kelompok yang kuat karena menjadi penyokong utama dinasti Herodes. Kelompok lainnya berasal dari kalangan agamawan, Saduki.  Kelompok ini adalah penguasa Bait Allah.  Kelompok ini sangat liberal dalam pengajaran dan sangat kompromistis dalam praktik hidup.  Sangat mungkin sikap liberal dan kompromistis mereka disebabkan oleh bantuan yang diberikan Herodes agung untuk merenovasi secara luar biasa Bait Allah saat itu.  Menurut sebuah sumber, Bait Allah yang direnovasi oleh Herodes ini diselesaikan dalam kurun waktu  83 tahun!

Partai-partai yang tetap punya unsur agama (selain Herodian) ini sebenarnya punya satu motivasi yang sama; mengusung teman: No King, but YHWH!” Mereka berjuang demi kemerdekaan dari penjajahan dan ditegakkannya Kerajaan Allah, namun sayangnya tujuan yang kelihatan mulia ini sebenarnya lahir dari motivasi haus akan kekuasaan dan yang akhirnya melegalkan berbagai intrik dan perselingkuhan politik tingkat tinggi.  Ajaran Kitab Suci tentang Kerajaan Allah pun diperkosa, dipelintir dan dianggap sama dengan memiliki kerajaan dunia.  Tidak heran mereka suka menggunakan cara “tangan besi” (bdk. Mrk. 10:42) dan kudeta berdarah-darah untuk mendirikan Kerajaan Allah versi mereka.

Dalam carut-marut politik inilah sebenarnya berita kebangkitan Kristus menggema.  Tuhan Yesus yang setia melakukan kehendak Bapa-Nya tanpa sedikit pun tergiur dengan godaan untuk menjadi relevan, populer, dan merengkuh pengaruh dan kekuasaan, akhirnya menjadi tumbal dari kompromi politik tingkat tinggi antara Pilatus, Herodes dan para pemimpin parpol-agama Yahudi. Dengan membunuh Yesus, Sang Mesias-utusan Allah yang terjanji, mereka yang hidupnya korup dan manipulatif ini menganggap kekuasaan mereka akan langgeng dan tidak akan mungkin terinterupsi lagi. Dengan kematian Yesus, masyarakat (termasuk para murid), akan berpikir: berakhirlah perjuangan kebenaran melawan kegelapan.  Selamanya kejahatan karena dosa ini akan menguasai bumi yang diciptakan Allah sungguh amat baik ini, dan untuk selamanya pula tidak akan ada harapan untuk pemulihan umat manusia sebab Anak Domba Allah sudah dikalahkan.

Namun kebangkitan membalikkan semua prediksi itu. Kebangkitan menjadi tanda awal dan penting bahwa Allah menghancurkan kematian sebagai senjata pamungkas kejahatan, seperti yang dikatakan  Tom Wright dengan sangat indah: “Death is the final weapon of the tyrant, or, for that matter for the anarchist, and resurrection indicates that this weapon doesn’t have the last word.” Kebangkitan juga menjadi tanda penting bahwa Allah sedang berurusan dan menantang semua kekuatan dan kuasa dunia ini yang merasa lebih tahu untuk membarui dunia ciptaan-Nya ini. Kebangkitan bukan hanya menyatakan bahwa kejahatan dan maut sebagai buahnya tidak punya kuasa apa-apa, tapi juga sekaligus memberikan harapan pasti bahwa satu kali kelak Allah akan sungguh-sungguh membebaskan, membarui dunia ini dan mengakhiri segala kejahatan yang ada di dalamnya.  Berita kebangkitan bukan hanya berita rohani.  Berita kebangkitan Kristus adalah berita politik yang memberitakan pembebasan kepada yang tertindas dan terjajah, sekaligus menantang semua bentuk penjajahan yang dilakukan orang-orang yang merasa berhak menguasai dan mengatur manusia kepunyaan Allah.

Pada akhirnya berita kebangkitan adalah berita kontroversial yang menantang setiap orang yang percaya kepada-Nya untuk berani bertindak dan berani bersikap. Berita yang menggemakan bahwa ada pengharapan akan pembebasan tuntas Allah untuk dunia ini seharusnyalah memberi kita sukacita dan asa untuk giat bekerja bagi Allah, tanpa takut, bukan hanya di balik tembok-tembok Gereja yang rohani, tapi juga di dalam semua sektor kehidupan bermasyarakat yang jauh dari kesan rohani.  Tempat-tempat gelap yang tidak berpengharapan itu membutuhkan kehadiran Kristus yang bangkit. Dunia yang sekarat dan tertindas ini membutuhkan berita kebangkitan Kristus dan membutuhkan saksi-saksi kebangkitan-Nya yang bukan hanya pandai bicara tapi juga yang berani hidup dalam kekudusan yang radikal, tanpa kompromi.


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: