KANON PERJANJIAN BARU DAN KEILAHIAN YESUS: SEBUAH RINGKASAN PERENUNGAN

12 12 2008

gospels3 

I

 

Iman orang Kristen tidak hanya berakar dari Perjanjian Lama (PL).  Orang-orang Kristen percaya bahwa kitab-kitab Perjanjian Baru (PB) sama berotoritasnya dengan PL. 

 

Namun akhir-akhir ini ada banyak ajaran baru yang menghembuskan isu bahwa kekristenan yang hadir saat ini bukanlah kekristenan yang historical (menyejarah).  Artinya kekristenan saat ini adalah produk dari berbagai motivasi entah itu motivasi politik, sosial,  ekonomi dan budaya.  Kekristenan yang ada saat ini tidak orisinil lagi; ia tidak lagi berakar pada perihal religius yang menjadi motivasi utama kekristenan mula-mula.

 

Ada dua isu utama yang menjadi keberatan dari kalangan-kalangan tersebut: soal kanon PB dan soal Yesus, yang keduanya seperti kepingan mata uang yang tidak dapat dipisahkan.  PB tidak akan pernah ada tanpa Yesus dan Yesus semakin efektif diberitakan dan diproklamasikan tanpa kanon PB.

 

Tulisan pendek ini merupakan rangkuman keprihatinan, pergumulan dan upaya penulis dalam memaknai isu-isu kontemporer tentang PB, khususnya isu tentang kanon Perjanjian Baru dan Yesus ketika sedang mengikuti studi orientasi staf Perkantas, Juni-Juli 2007, khususnya di kelas Pengantar Perjanjian Baru.

           

 

II

 

Satu hal yang paling merisaukan saat ini bagi kekristenan adalah serangan-serangan terhadap Kanon PB.  Ditemukannya Injil Yudas, misalnya, menjadi salah satu tren yang membuat banyak orang mulai memandang miring kanon-kanon PB yang diyakini Gereja purba sebagai kitab suci. Dampaknya, orang mulai menyangsikan kalau kanon yang dipercayai orang Kristen saat ini adalah yang juga dipercayai sebagai kanon oleh para rasul.  Contoh sederhananya adalah banyak orang yang mulai berpikir bahwa kitab-kitab Injil berasal dari tahun yang lebih muda (late date) dibanding dengan kitab-kitab Injil gnostik seperti Injil Thomas, Injil Barnabas dan Injil Yudas.  Namun mungkin orang-orang Kristen sekarang ini akan bertanya, ”Apa masalah yang terjadi kalau kitab-kitab Injil itu dimasukkan di dalam Kanon?”  Tentu saja substansi yang berbedalah yang membuat kitab-kitab gnostik tidak dimasukkan dalam Kanon.  Kitab-kitab gnostik sangat skeptis dengan natur ilahi dan kemanusiaan Yesus.  Namun serangan dari pihak yang pro Injil gnostik mengatakan bahwa Kanon Kristen yang ada sekarang ini adalah hasil rekayasa dan kesepakatan sepihak Gereja Roma yang dipakai bagi kepentingan politik, khususnya oleh Kaisar Konstantinopel untuk menjaga stabilitas politik dan keamanan negaranya.  Benarkah demikian adanya? Apakah memang pada awalnya komunitas Kristen purba sebenarnya juga turut mengakui kitab-kitab gnostik sebagai Kanon?  Apa sebenarnya standarisasi Kanon?  Apakah hasil keputusan konsili atau memang kitab-kitab tersebut sudah lama diakui sebagai otoritas oleh gereja purba?

 

Pada dasarnya Yesus, Para Rasul dan orang-orang sezaman mereka mempercayai secara bulat bahwa PL adalah kitab suci dan kanon mereka.  Yesus sering mengutip PL dalam pengajaran-Nya (Mrk. 10:6-12; 12:36); bahkan Ia juga dengan lantang dan tegas menyatakan bahwa PL adalah kitab suci yang pasti tergenapi dan tidak mungkin gagal (Mat. 5:17-19; 26:54; Luk. 22:37; Yoh. 10:35). 

 

Para Rasul pun mengakui hal yang sama.  Lihat saja Kisah Para Rasul 1:16 dan Roma 3:2 (Paulus); Kisah Para Rasul 7:38 (Stefanus); Yakobus 4:5 (Yakobus).  Baik Yesus, para rasul dan orang-orang Yahudi sezaman mereka melihat bahwa PL merupakan nubuatan bagi kehadiran seorang Mesias yang akan menggenapi seluruh isi PL itu sendiri.

 

Bagaimana dengan orang-orang Kristen awal?  Bagi orang-orang Kristen yang sudah menyaksikan karya Yesus, kematian dan kebangkita (baca: kemenangan) Yesus, otoritas satu-satunya bukanlah sekadar PL tapi Yesus Kristus yang telah mati, bangkit dan naik ke surga itu, yang merupakan penggenapan nubuatan PL. Lihat saja apa yang sering dikhotbahkan para rasul, bukan PL melainkan Yesus Kristus yang adalah penggenapan apa yang sudah disampaikan di dalam PL.  Bahkan Dr. Bruce Metzer, seorang teolog PB yang sangat dihormati di dunia mengatakan, ”and who, in doing this, had given authoritative pronouncements concerning what is the true and most profound meaning of the Old Testament (Matt. 5:21-28; Mark. 10:2).”[1]  Itulah sebabnya kita tidak perlu heran kalau pada akhirnya dalam kehidupan Gereja mula-mula perkataan Yesus sering disimpan dan dikutip, disandingkan dengan PL dan dianggap memiliki otoritas yang sama (bahkan lebih) daripada PL (Kis. 20:35; 1Kor. 7:10, 12; 9:14; 1Tim. 5:18). Serupa dengan ucapan-ucapan Yesus yang disimpan dan yang beredar itu, pengajaran dan penafsiran para rasul berkenaan dengan kehidupan, karya, pelayanan dan pribadi Yesus Kristus memiliki peran yang signifikan bagi Gereja mula-mula.  Itulah sebabnya mengapa perkataan-perkataan Yesus dan pengajaran para rasul menempati posisi yang istimewa dan berotoritas di kalangan jemaat mula-mula. Surat-surat para rasul ini bahkan sering dibacakan dalam kebaktian-kebaktian jemaat! (Kol. 4:16; 1Tes. 5:27; Why. 1:3).

 

Fakta ini makin diperkuat oleh beberapa dokumen yang bernama Apostolic Fathers. Apostolic Fathers adalah tulisan-tulisan yang dibukukan oleh para pemimpin-pemimpin Gereja mula-mula paska para rasul dalam rangka mengajar dan mendidik jemaat.  Tulisan tertua dari Apostolic Fathers ini adalah karya Clement dari Roma, yang ditulis sekitar tahun 96 M.  Di dalamnya selain mengutip PL, Clement juga mengutip bagian dari surat pertama Paulus kepada jemaat di Korintus.  Ia juga menyinggung satu atau dua surat rasul Paulus yang lain.  Kutipan ini juga menunjukkan bahwa sebuah kopi dari surat Paulus yang telah ditulis pada akhir tahun 50-an di bagian Yunani telah adalah di Roma pada tahun 96!  Selain itu masih banyak Apostolic Fathers yang lain yang menunjukkan bahwa jauh sebelum konsili-konsili Gereja digelar, bagian-bagian PB yang sekarang ini menjadi kanon, telah diakui, disepadankan dan bahkan dianggap berotoritas sebagaimana PL oleh Gereja mula-mula (Surat kepada Barnabas [125 M]; Hermas, The Shepherd [abad 2-3 M]; Justinus Martir, First Apology [155 M]; Tatian, Diatessaron [170M]; Irenaeus,  Against Heresies).  Sebagai contoh, coba perhatikan kutipan surat yang ditulis oleh Polikarpus (69-155 M), seorang Uskup di Smirna, kepada jemaat Filipi yang sangat mirip dengan pesan Paulus dalam 2Timotius 3:16:

 

For neither I, nor any other such one, can come up to the wisdom of the blessed and glorified Paul. He, when among you, accurately and stedfastly taught the word of truth in the presence of those who were then alive. And when absent from you, he wrote you a letter which, if you carefully study, you will find to be the means of building you up in that faith which has been given you, and which, being followed by hope, and preceded by love towards God, and Christ, and our neighbour, “is the mother of us all.”       

 

Sampai di sini kita dapat menyimpulkan bahwa kanon PB terbentuk secara sendirinya lewat sejarah yang panjang dari Gereja mula-mula, seperti yang dikatakan oleh William Barclay, ”It is the simple truth to say that the New Testament books became canonical because no one could stop them doing so.”[2]

 

 

III

 

Isu berikutnya yang sering menjadi perdebatan hangat adalah perihal Yesus.  Tidak kurang dari ajaran-ajaran saksi Yehuwa, Mormonisme, Kristen Tauhid dan kaum Liberal menolak fakta biblis bahwa Yesus adalah Allah.  Inti dari problem of Jesus akhir-akhir ini adalah gugatan terhadap keilahian-Nya.  Semangat pluralisme turut mendorong isu ini menjadi makin hangat.  Tidak heran kalau buku-buku cetek sejenis The Da Vinci Code-nya Dan Brown atau Sejarah Tuhan-nya Karen Amstrong laku keras.  Pembelaan mereka pada intinya sama saja: para rasul dan orang-orang Kristen mula-mula tidak pernah mengakui Yesus sebagai Tuhan. Bahkan ekstremnya, ada yang mengatakan bahwa Yesus sendiri tidak pernah mengakui diri-Nya sebagai Tuhan.  Konsepsi Kristologi seperti yang dipahami kekristenan sekarang ini adalah buah dari politik gereja.  Benarkah kesimpulan ini?

 

Kembali kepada keberatan berbagai kalangan, apakah konsep Kristologi yang menyetarakan Yesus dengan Allah adalah hasil rekayasa Gereja dan bukan merupakan kepercayaan yang turut dianut oleh para murid pertama, khususnya para penulis Perjanjian Baru?  Dalam hal ini N. T. Wright memberikan pandangan yang baik,

 

Whatever we say of latter theology, this [Jewish polemic has often suggested that the Trinity and the incarnation, those great pillars of patristic theology, are sheer paganization] is certainly not true of the New Testament. Long before the secular philosophy was invoked to describe the inner being of the one God (and the relation of this God to Jesus and to the Spirit), a vigorous and very Jewish tradition took the language and imagery of Spirit, Word, Law, Presence (and/or Glory), and Wisdom and developed them in relation to Jesus of Nazareth and the Spirit.[3] 

 

Lihat saja bagaimana Yohanes dengan sangat apik memaparkan teologi Firman yang bergantung sepenuhnya atas tradisi hikmat dari Perjanjian Lama.[4]  Atau lihat juga paparan Rasul Paulus dalam 1Korintus 8:6 yang dalam ayat yang jelas-jelas memuat semangat monoteisme Yahudi ini memberikan posisi yang setara antara Yesus dan Allah:[5]

 

namun bagi kita hanya ada satu Allah saja, yaitu Bapa, yang dari pada-Nya berasal segala sesuatu dan yang untuk Dia kita hidup, dan satu Tuhan saja, yaitu Yesus Kristus, yang oleh-Nya segala sesuatu telah dijadikan dan yang karena Dia kita hidup.

 

Demikian pula apa yang dicatat Paulus dalam Filipi 2:5-11.  Ayat 10-11 dari teks ini jelas mengutip apa yang dicatat nabi Yesaya dalam pasal 45:23 dari kitabnya; yang dari konteks ayat 22 jelas lahir dari semangat monoteisme yang kental:

 

supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku: “Yesus Kristus adalah Tuhan,” bagi kemuliaan Allah, Bapa! (Fil. 2:10-11)

 

Berpalinglah kepada-Ku dan biarkanlah dirimu diselamatkan, hai ujung-ujung bumi! Sebab Akulah Allah dan tidak ada yang lain.  Demi Aku sendiri Aku telah bersumpah, dari mulut-Ku telah keluar kebenaran, suatu firman yang tidak dapat ditarik kembali: dan semua orang akan bertekuk lutut di hadapan-Ku, dan akan bersumpah setia dalam segala bahasa (Yes. 45:22-23).

 

Jelas bagi rasul Paulus Yesus bukanlah figur biasa, melainkan ia menempatkan Yesus sedemikian rupa sehingga setara dengan Bapa.  Penulis sepakat dengan apa yang dikatakan oleh Wright berkenaan dengan kaitan antara kedua teks ini,

 

Isaiah has YHWH defeating the pagan idols and being enthroned over them; Paul has Jesus exalted to a position of equality with ‘the Father’ because he has done what, in Jewish tradition, only the one God can do.[6]

 

Fakta-fakta biblis ini jelas memberikan bukti bahwa sebenarnya dengan cara yang sangat apik dan dengan sangat hati-hati para penulis Perjanjian Baru berupaya menyampaikan bahwa Allah yang dulu bertindak dalam sejarah Israel dan yang terus bertindak dalam dunia yang dikasihi-Nya ini dalam keunikan-Nya kini menyatakan diri di dalam Yesus Kristus.  Ini dapat ditunjukkan dengan penggunaan beberapa gelar yang diberikan penulis Perjanjian Baru kepada Yesus.[7] 

 

Namun selain memaparkan fakta-fakta yang seolah terselubung tentang identitas Yesus, Perjanjian Baru juga memaparkan fakta-fakta eksplisit tentang siapa Yesus:

 

Tomas menjawab Dia: “Ya Tuhanku dan Allahku!” (Yoh. 20:28)—ho kurios mou kai ho theos mou

           

Mereka adalah keturunan bapa-bapa leluhur, yang menurunkan Mesias dalam keadaan-Nya sebagai manusia, yang ada di atas segala sesuatu. Ia adalah Allah yang harus dipuji sampai selama-lamanya. Amin! (Rm. 9:5).

 

dengan menantikan penggenapan pengharapan kita yang penuh bahagia dan penyataan kemuliaan Allah yang Mahabesar dan Juruselamat kita Yesus Kristus (Tit. 2:13).

 

 

Melihat fakta-fakta ini penulis hanya terheran-heran dengan kesimpulan sepihak, spekulatif dan terburu-buru dari berbagai kalangan yang mengatakan bahwa doktrin Kristologi adalah produk Gereja dan tidak berasal dari Perjanjian Baru.

 

 

 



[1]The New Testament: Its Background, Growth and Content, 3rd ed. (Nashville: Abingdon,  2003) 310.

[2]Ibid. 319.

[3]N. T. Wright, “The Divinity of Jesus,” dalam The Meaning of Jesus: Two Visions (New York: HarperSanFransisco, 1989) 161.

[4]Wright membandingkan Yohanes 1:14 dengan Sirakh 24 (ibid).

[5] ibid.

[6]ibid.

[7]lihat buku C. F. D. Moule, The Origin of Christology (Cambridge: Cambridge University, 1977) 11-46.


Aksi

Information

One response

20 09 2012
Haickal Alfrian Dohare

terima kasih atas pemamparan injil di seluruh dunia bahwa Yesus adalah Tuhan yang hidup dan Juruselamat semua orang. kiranya Tuhan selalu berkenan kepada semua oarang yang di kenan-Nya. Marilah kita menyebar luaskan injil di seluruh dunia khusus orang-osng yang masih belum percaya. ” TUHAN YESUS MEMBERKATI”.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: