PANGGILAN MEMBERITAKAN INJIL

1 12 2008

Yesaya 40:1-11; 44:1-8; 52:7; Ro. 1:1-5

idolatry2

I

Sebenarnya ada konsep berbahaya yang sedang dianut oleh Gereja dan banyak orang Kristen saat ini berkenaan dengan konsep pemberitaan Injil, yang menurut penulis tidak memuat seutuhnya konsep Alkitabiah tentang pemberitaan Injil dan cenderung berat sebelah dalam melihat makna Injil. Gereja dan banyak orang Kristen saat ini cenderung mereduksi makna Injil yang dalam Alkitab sebenarnya memuat esensi berita “kabar baik” yang sangat agung dan mulia dan memiliki muatan restorasi yang holistik atas semesta ini sekadar menjadi “kabar baik” yang menurut penulis cenderung egoistik-ekslusifistik, bahkan terkesan bernada hedonisme-materialistik, yakni agar kelak kita mendapatkan “hidup kekal.”  Parahnya lagi (kalau tidak mau dikatakan konyol) konsep “hidup kekal” yang dimaksudkan di sini lagi-lagi tidak beranjak dari konsep yang alkitabiah melainkan sekadar menekankan “hidup yang nikmat, nyaman, enak dan penuh ketenangan, di surga nun jauh di sana.”  Dan parahnya juga, konsep surga yang seperti ini sebenarnya bukanlah konsep surga yang 100% alkitabiah.

Pada saat penulis sedang melayani selama dua bulan di satu kota, penulis sangat terkejut pada saat mendengar sebuah khotbah dari sebuah radio Kristen yang cukup terkenal di kota itu, yang disampaikan oleh seorang Pendeta yang mengaku pernah naik—turun surga dan mendapatkan penglihatan-penglihatan tentang surga.  Ia mengatakan (kalau penulis tidak salah ingat) bahwa di surga apabila seseorang makin taat maka ia akan memiliki rumah yang luas, berperabot indah,  garasinya bisa untuk dua mobil; dan kalau ia selama di dunia punya anjing kesayangan maka di sana kelak ia pun akan punya rumah anjing.  Bukankah tidak salah kalau penulis mengatakan bahwa konsep surga tersebut bertendensi materialistik-hedonistik.

Berkaitan dengan hal ini penulis ingin mengajak saudara untuk membuka dua ayat alkitab yang mungkin bisa mengklarifikasi pengertian kita tentang istilah-istilah Alkitab yang sangat agung dan cenderung diperkosa maknanya oleh orang-orang Kristen zaman modern ini:

Tidak ada seorangpun yang telah naik ke sorga, selain dari pada Dia yang telah turun dari sorga, yaitu Anak Manusia (Yoh. 3:13). 

Dari ayat ini penulis takut apa yang diajarkan orang-orang yang mengaku bolak-balik naik-turun surga itu tidak benar!

Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus (Yoh. 17:3).

Dalam satu ayat ini ada satu kata penting yang diulang dua kali yakni kata “mengenal.”  Dalam bahasa Yunani kata ini berasal dari kata ginoskō.  Dalam bahasa Ibrani kata ini berasal dari kata yada.  Yada (to know) bagi orang Yahudi bukanlah sekadar berarti sebuah aktifitas mental seseorang melainkan menggambarkan sebuah aktifitas relasi yang aktif dan intim.  Bahkan kata ini juga dapat diartikan sebagai hubungan intim (seksual) suami-istri.  Artinya bagi Alkitab istilah “hidup kekal” bukanlah melulu menunjuk ke konsep surga yang materialistik itu. Bagi Alkitab “hidup kekal” tidaklah menekankan soal kuantitas waktu seperti yang selama banyak ditekankan, melainkan soal kualitas hidup yang seperti Allah.  Hanya Allah yang kekal, dan orang yang memiliki relasi dengan Allah juga akan memiliki kualitas hidup seperti Allah.  Sebab itulah penulis berpikir keliru kalau sebagai orang Kristen tujuan kita menjadi Kristen adalah agar kita “sekadar pergi ke surga” (mohon jangan salah mengerti penulis).  Tujuan kita menjadi orang Kristen adalah agar kualitas hidup kita makin serupa seperti Allah kita, makin serupa seperti Yesus (bdk. Ro. 8:29; 2Kor. 3:18b; Fil. 3:10).

 

II

Kalau begitu, apa yang sebenarnya arti Injil menurut Alkitab, dan apa relevansinya bagi kehidupan kita sebagai orang-orang percaya dalam memberitakan Injil?

Satu hal perlu kita ketahui bahwa istilah “Injil” bukanlah semata-mata istilah milik Perjanjian Baru.  Istilah ini sebenarnya sudah ada sejak Perjanjian Lama.  Coba kita perhatikan dua ayat dari Yesaya sudah kita baca di awal tadi:

Hai Sion, pembawa kabar baik, naiklah ke atas gunung yang tinggi! Hai Yerusalem, pembawa kabar baik, nyaringkanlah suaramu kuat-kuat, nyaringkanlah suaramu, jangan takut! Katakanlah kepada kota-kota Yehuda: “Lihat, itu Allahmu!” (Yes. 40:9).

Betapa indahnya kelihatan dari puncak bukit-bukit kedatangan pembawa berita, yang mengabarkan berita damai dan memberitakan kabar baik, yang mengabarkan berita selamat dan berkata kepada Sion: “Allahmu itu Raja!” (Yes. 52:7).

Perhatikan dua ayat ini.  Jelas dua ayat ini memuat berita Injil  atau kabar baik dan bukan hanya itu, dua ayat ini juga sekaligus memuat berita tentang “tugas pekabaran Injil” (perhatikan frase: “pembawa kabar baik” dalam Yes. 40:9 dan frase “pembawa berita” dalam Yes. 52:7; [LXX: euanggelion]).  Tapi perhatikan pula dua ayat itu: tidak satu pun berita Injil yang diberitakan oleh si pekabar Injil yang berkaitan dengan konsep-konsep “hidup kekal” ngawur dan surga yang materialistik seperti yang selama ini didengang-dengungkan!  Kalau begitu apa berita Injil yang disampaikan oleh kedua ayat ini? Kalau kita perhatikan dua ayat tadi maka jelas berita Injil atau kabar baik yang disampaikan oleh si pekabar Injil Yesaya adalah, “Lihat, itu Allahmu!” dan “Allahmu itu Raja.”  Namun kita tidak akan mengerti dengan baik berita Injil ini tanpa kita memahami sedikit latar belakang konteks Yesaya 40 dan 52 ini.  Pasal 40:1 memberikan sedikit clue (petunjuk) kepada kita tentang apa yang sebenarnya menjadi latar belakang dari teks ini.  Dari ayat 1 kita mengetahui bahwa berita ini erat kaitannya dengan peristiwa perhambaan atau perbudakan yang dialami Yehuda karena segala dosa yang mereka lakukan dan tampaknya ini mengacu kepada perbudakan yang dialami di Babel (586-538 SM).  Dan jangan lupa dalam peristiwa pembuangan tersebut ada satu hal yang sebenarnya sangat menyakitkan hati dan membuat orang-orang Yahudi masuk dalam kesedihan yang sangat dalam: Yerusalem dibumihanguskan dan Bait Allah, sebagai simbol kehadiran Allah di Sion diluluhlantakkan dan dijarah. Kesedihan mereka karena dibumihanguskannya Yerusalem dan dilululantakkannya Bait Allah, bukanlah karena sudah banyak anggaran yang dihabiskan untuk pembangunan dan seketika hancur sia-sia atau karena mereka kehilangan harta milik dan rumah mereka.  Tidak!  Kesedihan mereka erat kaitannya dengan keyakinan teologis umat Israel tentang Yerusalem dan Bait Allah sebagai simbol penting agama Yahudi.  Kehancuran Bait Allah dan Yerusalem (sebagai kota Allah) sebenarnya memberikan satu pertanda penting bagi mereka: Allah sudah meninggalkan mereka!  Hal ini tergambar dengan jelas dalam Mazmur-mazmur ratapan (mis: Mazmur 137:1, 5-6 [yang dipopulerkan oleh Boney M]à Di tepi sungai-sungai Babel, di sanalah kita duduk sambil menangis, apabila kita mengingat Sion. . . .  Jika aku melupakan engkau, hai Yerusalem, biarlah menjadi kering tangan kananku! Biarlah lidahku melekat pada langit-langitku, jika aku tidak mengingat engkau, jika aku tidak jadikan Yerusalem puncak sukacitaku!).

 

Dari latar belakang ini kita tentu bisa memahami bahwa “kabar baik” yang dimaksudkan di sini bicara soal kabar baik bahwa Allah yang telah meninggalkan umat karena keberdosaan mereka kini akan datang kembali untuk mengasihi bahkan memulihkan umat-Nya. Karena itulah ayat 3-5 dari Yesaya pasal 40 mengajak segenap umat untuk mempersiapkan jalan bagi Tuhan, karena Ia akan datang kembali dengan kasih-Nya yang ajaib dan yang akan memulihkan umat.  Dan perlu diperhatikan, berita tentang kembalinya TUHAN ke Sion ini adalah berita yang konsisten di sepanjang PL.  Coba bandingkan dengan Zefanya 3:14-20 dan Zakharia 9:9:

 

Bersorak-soraklah dengan nyaring, hai puteri Sion, bersorak-sorailah, hai puteri Yerusalem! Lihat, rajamu datang kepadamu; ia adil dan jaya. Ia lemah lembut dan mengendarai seekor keledai, seekor keledai beban yang muda (Zak. 9:9).

 

Selanjutnya pada ayat 6-8 (yang bicara soal kesia-siaan dan kefanaan segala sesuatu), sang pekabar Injil memberikan paparan kepada umat bagaimana cara mereka seharusnya dalam mempersiapkan diri untuk menyambut TUHAN. Ya, mereka diminta untuk bertaut semata-mata kepada TUHAN dan firman-Nya dan meninggalkan segala sesuatu di dunia ini yang sia-sia dan yang sudah membuat mereka berdosa dan mengalami pembuangan.

 

Dalam Alkitab sangat jelas diberitakan bahwa penyebab utama yang membuat umat yang sangat dikasihi Allah ini mengalami pembuangan adalah karena mereka menduakan TUHAN dengan berhala-berhala yang mereka nikmati.  Berhala-berhala itu sangat memikat hati mereka dan membuat mereka tidak manunggal mengasihi TUHAN.  Itulah sebabnya mengapa di sepanjang Yesaya 40-55 yang sebenarnya secara garis besar bicara soal kabar baik (Injil) bagi umat Allah, berulang-ulang muncul berita yang sama dan berulang: TUHAN akan kembali ke Sion, tetapi umat harus membuang segala berhala dan hanya men-Tuhankan DIA (lih. 40:18-20, 25-26; 44:7, 9-20, dst).

Dengan demikian, jelas tugas pekabaran Injil atau bersaksi bukanlah menyampaikan “surga-surga-an” materialistik seperti yang selama ini kita sering dengarkan tapi menjadi saksi lewat kata dan hidup yang penuh ketaatan bahwa TIDAK ADA TUHAN SELAIN ALLAH dan bahwa semua berhala adalah ilah palsu dan harus disingkirkan (bdk. 43:10-13). Dan sebenarnya berita Injil ini pulalah yang diberitakan oleh Paulus dalam Perjanjian Baru (Ro. 1:5).  Menyampaikan Injil artinya membawa dan mengantar orang lain untuk hanya men-Tuhankan Kristus, Allah yang sudah datang kembali untuk mengasihi dan menebus umat-Nya dan membawa mereka untuk membuang segala bentuk berhala kesia-siaan yang mereka miliki.

 

III

Berhala sendiri bukanlah sekadar menunjuk kepada patung atau gambaran-gambaran yang disembah manusia.  Dalam bahasa Yunani kata “berhala” berasal dari kata eidolon yang akar katanya adalah eidō (yang hurufiahnya berarti the external or outward appearence).  Ya, dan yang dari eksternal sangat menarik itu sangat memikat hati, menarik hati, memberi pengertian dan membuat kita sangat bergantung dan bahkan mengilahkannya).  Kasarnya, berhala adalah segala sesuatu yang membuat semua potensi, hati, arah hidup, cita-cita, dana dan waktu kita habis terkuras dan waktu kita menyelidikinya ternyata tidak ada TUHAN dalam semua itu!  Contoh: Keluaran 32:6 bdk. 1Kor. 10:7-8.

 

Seorang pemberita Injil adalah seorang yang berani menantang dirinya sendiri untuk menanggalkan berhala-berhalanya sebelum menantang orang lain menanggalkan berhala-berhala mereka!  Bagaimana dengan kita?


Aksi

Information

2 responses

1 12 2008
ivbsav

Memang sekarang ini banyak muncul khotbah aneh2 dari para pendeta.. saya sangat prihatin sebagai seorang Kristen yang ingin mewujudkan Amanat Agung TUHAN YESUS.

Pengajaran yang tidak seimbang yang cenderung merupakan ajaran manusia telah meracuni ajaran murni Kekristenan berabad2.

Sejak Kekristenan abad pertama dan kedua, kekristenan menghasilkan ajaran-ajaran yang telah terkontaminasi oleh keegoisan manusia.

1 06 2009
Pieter Kuiper

Sanatapan Harian bulan Juni tersedia di situs

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: