Perlukah Reformasi Jilid Dua?: Refleksi Singkat Terhadap Gerakan Reformasi Abad XVI

20 11 2008

indulgences1Gerakan reformasi abad ke-16 adalah sebuah gerakan yang berdampak sangat luas.  Produk yang dihasilkan oleh gerakan ini sebenarnya bukan melulu berkaitan dengan soal doktrinal/pengajaran dan diskursus-diskursus teologi lainnya—seperti yang seringkali ditekankan banyak orang—tapi juga berkaitan dengan kehidupan kristiani yang riil (real Christian life). Malah, Roger Olson, seorang ahli sejarah Gereja, menjelaskan bahwa salah satu latar belakang penting yang mendorong timbulnya gerakan reformasi adalah tidak berminatnya lagi banyak orang dengan teologi Kristen saat itu karena dianggap tidak relevan dengan kehidupan riil masyarakat. Dengan menyimpulkan pandangan Erasmus yang muak dengan teologi dan para teolog saat itu, ia mengatakan demikian tentang latar belakang Reformasi, “The great Christian humanist Erasmus used theology as a synonim for pointless speculation and theologian for an ivory tower thinker who had lost touch with reality.”[i]  Alister McGrath, yang cenderung memandang Reformasi sebagai sebuah gerakan intelektual mengatakan bahwa reformasi memang adalah sebuah gerakan keagamaan namun tidak bisa dilepaskan dengan pergulatan dimensi sosial, politik, dan ekonomi masyarakat pada abad ke-16.  Artinya bagi reformasi abad ke-16, gerakan keagamaan bukanlah gerakan yang lepas dari pergumulan riil masyarakat dan sekadar bicara soal private religion, “It is perhaps inevitable that many modern western historians, familiar with a privatized religious ethos, will assume that religion has no role beyond the realm of personal spirituality. Yet this was not the case in the sixteenth century. . . .”[ii]  Kita tidak boleh lupa bahwa fakta paling telanjang yang memicu trigger reformasi adalah proyek mercusuar rekonstruksi Basilika St. Petrus di Roma oleh Paus Leo X dan upaya fund-raising yang gencar oleh Johann Tetzel dengan menjual indulgensia (surat penghapus dosa) untuk mempercepat pembangunannya.  Dalam dalilnya yang ke-28—dari 95 dalil yang ia pakukan di pintu Gereja Wittenberg sebagai bentuk protesnya terhadap praktik korup Gereja saat itu—Luther jelas menyinggung hal ini, “It is certain that when the penny jingles into the money-box, gain and avarice can be increased, but the result of the intercession of the Church is in the power of God alone.

 

Sejarah reformasi sebenarnya bukanlah milik Martin Luther dan para koleganya belaka pada abad ke-16.  Di dalam kisah-kisah narasi Alkitab yang berusia ribuan tahun, proses reformasi dan tuntutan reformasi berulang kali dan silih berganti dicatat.  Dan perlu kita ingat, semua seruan pembaruan (baca: reformasi) rohani di Alkitab ini dipicu oleh terjadinya pelencengan kehidupan riil umat Tuhan yang tidak sesuai dengan tindak-tanduk dan status rohani serta syariat-syariat keagamaan yang setia mereka lakukan.  Lihat saja beberapa ayat berikut:

 

Aku membenci, Aku menghinakan perayaanmu dan Aku tidak senang kepada perkumpulan rayamu. Sungguh, apabila kamu mempersembahkan kepada-Ku korban-korban bakaran dan korban-korban sajianmu, Aku tidak suka, dan korban keselamatanmu berupa ternak yang tambun, Aku tidak mau pandang. Jauhkanlah dari pada-Ku keramaian nyanyian-nyanyianmu, lagu gambusmu tidak mau Aku dengar. Tetapi biarlah keadilan bergulung-gulung seperti air dan kebenaran seperti sungai yang selalu mengalir (Am. 5:21-24).

 

Sunatlah dirimu bagi TUHAN, dan jauhkanlah kulit khatan hatimu, hai orang Yehuda dan penduduk Yerusalem, supaya jangan murka-Ku mengamuk seperti api, dan menyala-nyala dengan tidak ada yang memadamkan, oleh karena perbuatan-perbuatanmu yang jahat! (Yer. 4:4)

 

Lalu Yesus masuk ke Bait Allah dan mengusir semua orang yang berjual beli di halaman Bait Allah. Ia membalikkan meja-meja penukar uang dan bangku-bangku pedagang merpati dan berkata kepada mereka: Ada tertulis: Rumah-Ku akan disebut rumah doa. Tetapi kamu menjadikannya sarang penyamun (Mat. 21:12-13).

 

Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi telah menduduki kursi Musa. Sebab itu turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu, tetapi janganlah kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka, karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya (Mat. 23:2-3).

 

Perlu diperhatikan bahwa semua seruan reformasi ini umumnya ditujukan justru kepada para rohaniwan, yang mengerti kitab suci, bukan kepada kaum awam.  Terlebih ayat yang terakhir.  Memang seruan Tuhan tersebut tidak hendak menyatakan bahwa Tuhan setuju dengan penafsiran Farisi terhadap Taurat (bdk. Mat. 9:10–11, 14; 12:1–2, 10–14; 15:1–20; 19:3–9; 16:6, 11–12), tetapi penulis sepakat dengan Donald Hagner yang mengatakan bahwa terlepas dari semua ketidaksetujuan Tuhan dengan penafsiran Farisi terhadap Taurat, ayat tersebut menegaskan kesetujuan Tuhan dengan komitmen Farisi yang teguh dan tidak diragukan terhadap kitab Taurat (sola scriptura?).  Ya, komitmen mereka kepada Taurat tidak diragukan, tapi hidup riil merekalah yang menjadi masalah!

 

Bagaimana dengan kondisi Gereja masa kini?  Sungguhkah Gereja ada pada  garis terdepan yang berupaya menjaga agar slogan agung: sola scriptura, sola gratia, sola fide, solus christus dan soli deo gloria tetap diejawantahkan secara berintegritas dan tidak berat sebelah: sekadar menekankan sisi doktrinal-teologis sempit dan miskin implementasi dalam kehidupan riil?  Bagaimana dengan kegandrungan banyak gereja dan lembaga Kristen kini dengan proyek-proyek mercusuarnya dan pemotivasian jemaat untuk mendukung melalui khotbah-khotbah yang menggunakan teks-teks Alkitab? Cukup berperankah Gereja memperhatikan problem-problem sosial seperti masalah ketidakadilan ekonomi, kemiskinan, pengangguran, tingkat kriminalitas yang tinggi, pengrusakan lingkungan hidup dan global warming ataukah Gereja tidak menganggap itu sebagai bagian integratif dari spirit reformasi? Perlukah reformasi jilid dua?

 

Spirit reformasi yang gemanya tetap terasa hingga hari ini sebenarnya dan sepantasnya senantiasa mengajak kita untuk berefleksi dan memberanikan diri mengoreksi bagian-bagian kehidupan bergereja kita yang tidak konsisten dan tidak integratif.  Berita reformasi mengonfirmasi kita bahwa hidup kekristenan dan bergereja kita sewaktu-waktu bisa keliru dan untuk itulah kita perlu terus-menerus terbuka dan mengalami reform (pembentukan/pembaruan kembali). Selamat hari reformasi, semper reformanda!

[i]The Story of Christian Theology (Downers Grove: InterVarsity, 1999) 369;  penekanan oleh penulis.

[ii] The Intellectual Origins of the European Reformation, 2nd ed (Oxford: Blacwell, 2004) 2; penekanan oleh penulis.



Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: