PELAYANAN MAHASISWA DAN SIGNIFIKANSINYA TERHADAP PENYEDIAAN SUMBER DAYA MANUSIA

27 10 2008

              

          Mencari Akar Krisis: Sistem Vs SDM

Setiap bangsa pasti mempunyai mimpi berkaitan dengan permasalahan yang dihadapinya…. Tak terkecuali Indonesia juga punya mimpi. Bangsa yang kini dilanda euforia demokrasi ini memimpikan pemimpin yang demokratis.[1]

 

Sepenggal kalimat di atas sangat menarik untuk disimak. Kalau boleh saya terjemahkan sedikit, kalimat tersebut seolah-olah ingin menyatakan bahwa setiap bangsa pasti punya masalah dan setiap bangsa pasti ingin lepas dari masalah yang sedang dihadapinya. Terlepas dari apa bentuk masalah itu, setiap masalah pasti punya sumber yang menyebabkannya. Biasanya masalah-masalah yang ada tidak terlepas dari sistem-sistem birokrasi yang mengatur tatanan kehidupan bangsa tersebut, entah itu sistem hukumnya, sistem politiknya, sistem ekonominya, sistem hankamnya, dan lain-lain.

 

Namun kalimat di atas mengisyaratkan kepada kita bahwa akar utama penyebab dari semua permasalahan yang ada di negara kita, tidak terletak pada sistem tetapi pada para pelaku sistem tersebut. Pemimpin yang dimaksudkan dalam  tulisan di atas tidak berbicara tentang sistem organisasi kepemimpinan atau suatu badan formal yang mengelola sistem-sistem yang ada, melainkan pada sosok personal yang mengendalikan sistem itu. Dengan kata lain masalahnya ada pada manusianya bukan pada organisasinya. Euforia demokrasi yang ada harus dijawab dengan mula-mula melahirkan sosok personal yang demokratis bukan sistem yang demokratis.[2]Salah satu contoh kongkrit adalah Sistem Otonomi Daerah (otoda) yang baru beberapa tahun lalu dicanangkan oleh pemerintah. Pada dasarnya sistem ini dibuat dengan maksud agar pengelolaan seluruh sumber daya alam (SDA) dan segenap potensi yang ada di daerah dikerjakan dari, oleh dan untuk daerah itu sendiri. Sistem ini tentu saja sistem yang sangat demokratis, baik dan tepat sebagai langkah maju dalam mendewasakan dan memandirikan keberadaan setiap daerah agar tidak tergantung pada pusat dan sebaliknya agar pusat tidak banyak mengintervensi kebijakan daerah. Namun sayang sungguh sayang, hasil survei dari Komite Pemantauan Pelaksana Otonomi Daerah menyatakan bahwa otonomi daerah yang seharusnya menyejahterakan masyarakat ternyata dimanfaatkan oleh pejabat korup, preman, dan “tuyul birokrasi” yang berlindung di balik tameng otonom.[3] Lebih lanjut hasil survei ini merekomendasikan bahwa Sumber Daya Manusia (SDM) merupakan faktor utama penentu keberhasilan pelaksanaan sistem ini.[4]

 

Kerusakan SDM tidak hanya terjadi di daerah-daerah. Dalam tataran nasional, ketiadaan SDM yang berkualitas mengakibatkan penyakit bangsa ini terus berlanjut. Sebagai contoh, kasus korupsi yang terus merajalela dan semakin sistematis di dalam  masyarakat sama sekali tidak disebabkan oleh langkanya produk hukum (sistem hukum) yang mengatur permasalahan ini.[5] Semakin menggilanya praktek-praktek KKN di negara kita lebih dikarenakan oleh para elite politik di legislatif dan eksekutif (bahkan yudikatif) yang  melakukan pembiaran (ommision) terhadap praktek-praktek tersebut.[6]

Tidak dapat ditawar-tawar lagi, kebangkitan bangsa ini harus dimulai dari penyediaan manusia-manusia yang berkualitas. Nirwan Idrus menuliskan satu pernyataan penting yang meneguhkan pentingnya hal ini: Human Resources Planning and Management are fundamental to this country’s improvement and these appear to be still missing.[7]

Potensi Mahasiswa, Posisi Stategis Kampus dan Problematika Sistem Pendidikan dalam Menyediakan SDM Berkualitas

Fakta membuktikan bahwa perubahan yang terus terjadi dalam sistem dan kultur suatu negara tidak dapat dilepaskan dari ide-ide pemikiran dan pergerakan kaum intelektual kampus. Reformasi gereja – gerakan yang sangat berpengaruh terhadap perubahan pada tatanan gereja dan masyarakat – yang dimotori oleh Martin Luther dan John Calvin pada abad ke XVI,  tidak terlepas dari semangat skolastik. Era skolastik – yang berkembang pesat antara abad XIII-XVI ditandai dengan adanya minat yang besar untuk mengembangkan pengetahuan akademis melalui pendirian universitas secara besar-besaran di daratan Eropa saat itu.[8] Arthur Driscoll mencermati fenomena yang menarik pada tahun 60-an di Amerika. Dia menyatakan bahwa terjadi pergeseran yang sangat besar di dalam masyarakat, di mana peran gereja yang sejak dulu sangat kuat mengakar dan mempengaruhi orang-orang Amerika telah digantikan oleh gaya hidup, nilai-nilai, moralitas dan minat yang dicuatkan oleh kalangan akademisi kampus yang ada di universitas-universitas.[9] Jack Voelkel – seorang misiolog Amerika Latin – mengungkapkan statement penting berkaitan dengan peran mahasiswa yang sangat berpengaruh terhadap perubahan tatanan hidup masyarakat di negara-negara dunia ketiga (khususnya di negara-negara Amerika Latin):

While the traditional elements still continue to have their influence, strong winds of change are sweeping Latin America. They’re causing great alterations in all aspects of life and society. Because students are more exposed to current ideas and more sensitive to them…they are naturally the ones most influenced.[10]

Kenyataan ini mau tidak mau menyadarkan kita bahwa mereka-mereka yang sedang duduk di dalam bangku perkuliahan merupakan aset paling berharga dan yang paling menentukan bagi arah suatu bangsa dan (bahkan) dunia.[11] Marie Pangestu, seorang ekonom CSIS menyatakan bahwa dalam era globalisasi dan teknologi yang makin canggih, keberhasilan perekonomian suatu negara harus berdasar pada sistem ekonomi yang berlandaskan pengetahuan. Dan keberhasilan sistem ini sangat bergantung pada sumber daya manusia (human capital) serta kemampuan untuk memiliki dan mengaplikasikan teknologi.[12] Tentu saja, kriteria ini hanya dapat dipenuhi oleh mereka yang terdidik dengan baik dalam perguruan-perguruan tinggi.[13]

Penyediaan SDM memang tidak terlepas dari pendidikan. Pendidikan merupakan sarana utama untuk menghasilkan SDM. Semakin baik kualitas pendidikan yang ada, makin semakin baik pula kualitas SDM yang dihasilkan. Idrus menyatakan: There’s no way to build one’s human resources without good and appropriate education of the population.[14] Dalam kaitannya dengan penyediaan SDM yang berkualitas, Perguruan Tinggi sebagai institusi pendidikan tertinggi, merupakan tempat yang paling vital dan strategis untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Dengan kata lain, tersedianya SDM yang menunjang masa depan suatu negara tidak terlepas dari keberadaan dunia kampus sebagai pusat pendidikan kaum intelektual bangsa. Tanpa pendidikan tinggi yang berkualitas, niscaya tidak akan ada SDM yang berkualitas pula. Kehancuran kampus sebagai pusat pendidikan berarti kehancuran pula pada masa depan bangsa.

Namun, sering terjadi kesalahan paradigma dalam mendefinisikan arti SDM yang berkualitas. Pada umumnya definisi SDM yang berkualitas dibatasi pada lingkup kognitif saja. Paradigma ini membuat pendidikan dalam Perguruan Tinggi sebagian besar berfokus sekedar pada urusan akademis. Pola pendidikan difokuskan pada knowledge based curriculum.[15] Kurikulum yang pada mulanya berorientasi pada manusia (berasal dari bah. Latin, currere, yang berarti “membebaskan” manusia dari belenggu kebodohan), sekarang ini lebih banyak berfokus pada sistem yang memacu kemajuan intelektual. Dengan kata lain, kurikulum tidak melayani manusia, tapi sistem.[16] Proses revisi dan perubahan-perubahan pada kurikulum dilakukan tidak lebih agar tercipta sistem pendidikan yang menunjang berdirinya kampus yang berkualitas, maju, elit dan memiliki nilai jual atau nilai komersil. Akibatnya, nilai-nilai moral dan pandangan-pandangan tradisionil yang sangat menekankan etika dalam pendidikan ditolak karena dinilai kuno dan ketinggalan zaman.[17]

Arthur Holmes, seorang teolog dan filsuf kristen terkenal, menyatakan bahwa moralitas dan etika yang berakar dari tradisi kekristenan merupakan dasar utama dalam pengembangan kurikulum perguruan-perguruan tinggi di Amerika pada abad XIX.[18] Namun secara perlahan-lahan, seiring dengan perkembangan waktu, nilai-nilai moral yang memaknai dan menjadi nafas utama dalam kurikulum dan di setiap kegiatan akademis kampus, tereduksi dan dibungkus rapi dalam kotak baru bernama jurusan studi filsafat dan agama.[19] Artinya, pendirian jurusan studi agama dan pembentukan biro-biro kerohanian dalam universitas-universitas sebenarnya merupakan ekses dari filosofi sistematik untuk menyingkirkan aspek moralitas dan nilai dari pendidikan. Parahnya, pola ini diadopsi dan lebih disistematiskan (bahkan disistemikkan) dalam universitas-universitas yang “ber-label” Kristen.

Pergeseran paradigma inilah yang mengakibatkan “blunder” hebat dalam penataan dan pengelolaan penyediaan SDM. Keahlian serta kepandaian yang dimiliki oleh lulusan perguruan tinggi justru membuat mereka semakin lihai dan oportunis dalam memanfaatkan setiap peluang yang ada untuk mengeruk keuntungan bagi kepentingan pribadi. Sebenarnya, negara kita kaya raya dengan SDA. Ketersediaan SDA yang berlimpah ruah itu tentu saja sanggup membuat seluruh rakyat hidup dalam kemakmuran. Hanya saja, negara kita miskin dengan SDM yang berintegritas dan  serta bermoral. Kesenjangan ini membentuk gap yang sangat besar antara kekayaan SDA dengan kemiskinan SDM sebagai pengelola SDA. Gap yang terlampau besar inilah yang mengakibatkan beratnya pemulihan krisis yang terjadi di negara kita.

Peran Pelayanan Mahasiswa

Dari pembahasan sebelumnya kita dapat menyimpulkan bahwa akar dari permasalahan yang sedang terjadi di negara kita terletak pada ketiadaan SDM yang berkualitas, bukan pada sistem birokrasi. Pembahasan sebelumnya juga telah menunjukkan bahwa sistem yang diharapkan mampu menopang dan memulihkan kehidupan bangsa yang carut marut ini ternyata malah menjadi alat bagi kaum oportunis yang mengelola dan mengendalikan sistem tersebut. Sistem-sistem yang diciptakan, tidak akan pernah mampu untuk mengubah keadaan menjadi lebih baik sebab baik mereka yang membuat maupun mereka yang melaksanakannya adalah SDM-SDM yang memiliki kualitas moral buruk.

Keadaan ini semakin diperparah dengan tidak jelasnya tujuan pendidikan yang menjadi instrumen bagi tersedianya SDM-SDM berkualitas. Sistem pendidikan (terkhusus Perguruan Tinggi) yang diharapkan mampu menyediakan SDM-SDM berkualitas dan berintegritas – termasuk (sepertinya) universitas kristen di dalamnya – justru sibuk mengenakan kosmetik, mendandani penampilannya agar memiliki nilai jual tinggi dan tetap laku di pasaran. Dengan demikian seperti terdapat lingkaran setan yang tidak pernah putus antara sistem birokrasi, sistem pendidikan dan ketersediaan SDM.

Masih adakah harapan yang tersisa di tengah derasnya deru ombak kepesimisan ini? Bagaimana dengan keberadaan Pelayanan Mahasiswa di kampus-kampus?

Dalam sejarahnya, Pelayanan Mahasiswa selalu hadir dan mampu membuktikan diri menjadi acuan yang meyakinkan dalam kebuntuan masalah ini. Count Nikolaus Von Zinzendorf – seorang yang lebih terkenal sebagai bapak Pietisme dan pendiri gereja Moravia – semasa belajar di Halle, Jerman, memberikan pengaruh yang sangat besar pada rekan-rekan mahasiswa yang lain.[20] Ia memiliki kehidupan yang sangat berbeda dengan kehidupan mahasiswa umumnya di masa itu. Kehidupannya ditandai dengan ketekunan di dalam firman, doa dan kesaksian hidup yang berintegritas menjadi model bagi mahasiswa yang lain. Saat berkuliah ia juga merintis satu gerakan yang pada awalnya kecil yaitu The Order of the Grain of Mustard Seed. Gerakan ini menekankan kehidupan doa, pembelajaran firman dan penginjilan. Gerakan ini memberi pengaruh yang besar terhadap perubahan moralitas mahasiswa saat itu. Demikian pula dengan Wesley bersaudara, dua penginjil besar dari Inggris yang pernah berkuliah di Oxford. Satu kelompok dibentuk oleh mereka bernama “Holy Club”. Kelompok ini bertujuan mempelajari firman Tuhan serta berusaha secara ketat dan dengan ketaatan yang sungguh-sungguh menjalani kehidupan kudus, penuh integritas. Selain itu mereka juga punya concern yang luar biasa terhadap keadaan sosial di Inggris saat itu dengan membantu kaum miskin dan papa. Gerakan ini menjadi model bagi mahasiswa-mahasiswa lain di Oxford. Apa yang dirintis di Oxford dikemudian hari menjadi model bagi pelayanan yang diterapkan John Wesley di geraja Metodis. Inggris yang kacau balau oleh moralitas yang bobrok diubah secara radikal.

 

Sebagian fakta dari peran Pelayanan Mahasiswa – seperti yang dipaparkan di atas – menunjukkan pentingnya kehadiran Pelayanan Mahasiswa di tengah dunia kampus untuk turut menghasilkan SDM yang berkualitas. Ada beberapa karakteristik Pelayanan Mahasiswa yang merupakan potensi dalam menyediakan SDM berkualitas:

1.   Sasaran dari Pelayanan Mahasiswa bukan pada sistem/organisasi, melainkan manusia. Organisasi dilihat sebagai instrumen bagi visi dalam menjangkau jiwa-jiwa dan bukan sebaliknya, visi demi organisasi. Perubahan karakter personal bagi mereka yang dibina merupakan tuntutan mutlak dalam pelayanan ini. Oleh karena itu metode kelompok kecil sebagai inti utama pelayanan ini merupakan strategi paling jitu dalam menyediakan SDM yang tinggi kualitas moral. Pada dasarnya Pelayanan mahasiswa dibentuk bukan untuk menghasilkan manusia-manusia yang dapat berorganisasi dengan baik melainkan manusia-manusia yang dapat mengorganisasi dengan baik.

2.   Pelayanan ini bersifat misioner, artinya gerakan pelayanan yang terjadi di dalamnya penuh dinamika, tidak stagnan dan terus berusaha melakukan penetrasi melalui mandat injil dan mandat budaya pada segala bidang kehidupan yang belum terjangkau injil Yesus Kristus. Hal ini semakin ditunjang dengan karakter alami mahasiswa yang ulet, dinamis, kritis dan enerjik.

3.   Cakupan pelayanan ini Holistik, artinya pelayanan ini berusaha untuk melihat segala sesuatu dari perspektif yang utuh, tidak dikotomis antara yang sacred dengan yang secular. Pengetahuan yang condong bersifat teologis maupun condong bersifat naturalis, semuanya bersumber dari Allah. Pada dasarnya pelayanan ini mengakui bahwa segala kebenaran adalah kebenaran Allah. Itulah sebabnya lembaga-lembaga Pelayanan Mahasiswa seperti IFES (Perkantas untuk Indonesia), justru berbeban untuk memberitakan injil dalam kampus-kampus yang mengajarkan bidang studi – yang dikatakan “sekuler” (liberal arts). Pelayanan Mahasiswa memiliki tugas yang mulia dalam upaya mengintegrasikan ilmu dan iman (di dalamnya tercakup nilai-nilai dan moralitas).

 

Melalui potensi-potensi ini diharapkan Pelayanan Mahasiswa mampu menciptakan kader-kader handal yang dikemudian hari mampu untuk berkarya dan berbakti dengan integritas yang baik di dalam sistem-sistem birokrasi yang ada. Mata rantai antara sistem birokrasi yang rusak dan SDM buruk yang membelenggu negara ini dapat diputuskan apabila kader-kader ini dapat memikirkan atau membentuk sistem alternatif.

 

Memang terkesan peran yang diambil oleh Pelayanan Mahasiswa tidak langsung bersentuhan dengan sistem. Namun – seperti asumsi awal yang dikemukakan penulis bahwa akar masalah bangsa ini bukan pada sistem melainkan pada kualitas SDM – maka sebenarnya posisi yang diambil oleh Pelayanan Mahasiswa sangat strategis. Filosofi Pelayanan Mahasiswa yang menekankan pembinaan berjenjang dan berkesinambungan membuat posisi ini makin strategis. Filosofi ini memungkinan adanya pemantauan yang terus-menerus terhadap mahasiswa yang dibina. Selain itu pola pembinaan Pelayanan Mahasiswa dengan metode kelompok kecil memungkinkan terjadinya pembentukan personal yang lebih efektif.[21] Namun lebih daripada itu, Pelayanan Mahasiswa senantiasa menekankan perubahan manusia yang berasal dari dalam. Perubahan yang dimaksudkan adalah perubahan substansi dasar dari perilaku manusia yaitu kerohaniannya, melalui injil Kristus. Sebab tanpa perubahan yang dari dalam niscaya apa yang tampak di luar hanyalah kebohongan belaka. Masalah moralitas manusia tidak pernah bebas berdiri sendiri. Masalah moralitas selalu terkait dengan dosa sebagai akar dari segala perilaku amoral. Dengan demikian, satu-satunya cara mengubah moralitas manusia secara tuntas adalah dengan membebaskan manusia dari dosa melalui kasih dan pengampunan Yesus Kristus.

Melihat peran yang demikian signifikan dari Pelayanan Mahasiswa, maka sepatutnyalah pelayan-pelayan Tuhan dalam pelayanan ini mulai serius memikirkan dan mengarahkan segenap potensi yang ada untuk memulai pekerjaan yang mulia ini. Beberapa hal yang dapat dilakukan, adalah:

  1. Tetap berfokus pada visi penginjilan dan pemuridan. Peran yang terlihat kecil ini sebenarnya merupakan strategi yang paling efektif dalam mempersiapkan SDM-SDM yang berkualitas. Penginjilan menekankan aspek perubahan dari dalam sedangkan pemuridan menekankan aspek pertumbuhan karakter yang terus dipantau dan dievaluasi secara personal. Setiap pengembangan pelayanan harus berakar dan berpusat pada visi ini.
  2. Membuka wawasan dengan tidak membatasi diri pada pelayanan yang bersifat “rohani” saja. Para pelayan Tuhan di dalam lingkup pelayanan Mahasiswa harus berani melakukan terobosan dengan mencoba memikirkan bentuk-bentuk pembinaan yang tujuannya adalah mengajak mahasiswa memiliki pandangan holistik dalam perspektif Kristiani yang utuh. Misalnya: integritas dalam bisnis, etika dalam bidang kedokteran dan medis, kekristenan dan politik, dll.
  3. Selain itu perlu pula dipikirkan bentuk-bentuk pelayanan praktis yang dapat menjangkau masyarakat di sekitar kampus. Ilmu-ilmu yang dipelajari oleh mahasiswa dibangku kuliah harus dikongkritkan dalam bentuk aplikasi nyata yang dapat menolong sesama. Hal ini melatih mahasiswa saat terjun di dunia “nyata” untuk sadar bahwa ilmu yang mereka miliki bukan untuk diri sendiri tapi untuk diabdikan bagi Tuhan dan sesama.
  4. Memotivasi mahasiswa-mahasiswa yang memiliki kerinduan menjadi pengajar (dosen) untuk kembali ke kampusnya. Peran strategis dosen sangat penting dalam mengambil policy yang berhubungan dengan pembinaan Mahasiswa. Dengan semakin banyaknya kader-kader berkualitas yang menjadi tenaga pengajar diharapkan filosofi pendidikan yang mementingkan aspek akademis dapat direformasi.

Penutup

Kalau kita cermati dengan seksama, maka kita dapat melihat bukanlah suatu kebetulan kalau Pelayanan Mahasiswa ada sampai hari ini. Pelayanan Mahasiswa diijinkan Tuhan untuk terus eksis sampai hari ini tentu dengan maksud dan rencana yang mulia. Persekutuan-persekutuan kampus tidak dibentuk sebagai tempat “cangkruk”nya mahasiswa yang memiliki minat kerohanian yang tinggi. Pelayanan Mahasiswa juga tidak dibentuk untuk menghasilkan orang-orang yang pandai organisasi dan jago dalam berargumentasi. Pelayanan Mahasiswa dibentuk karena satu kesadaran yang penuh bahwa Mahasiswa dapat berperan luas bagi Kerajaan Allah di muka bumi ini.

Secara khusus di Indonesia, negara sangat butuh SDM-SDM  yang terdidik dan memiliki kehidupan yang berintegritas. Bukan suatu hal yang mustahil, kalau sebenarnya Tuhan sedang menempatkan Pelayanan Mahasiswa di negara ini untuk turut ambil bagian dalam misi-Nya memulihkan bangsa ini dengan menghadirkan anak-anak Tuhan dari kalangan mahasiswa yang dapat menjadi berkat. Pelayanan Mahasiswa harus punya visi yang tajam menangkap maksud Allah bagi Indonesia. Kalau dulu Allah memanggil Daniel, Sadrakh, Mesakh dan Abednego – mahasiswa-mahasiswa babel saat itu – untuk memberikan dampak yang besar bagi Babel, maka bukan tidak mungkin Tuhan sedang mempersiapkan Daniel-daniel yang baru, di abad modern ini, untuk menjadi alat kasih Allah melalui Pelayanan Mahasiswa.

 

 


[1] “Pemimpin Nasional Kuat, Mimpi Indonesia”, Kompas (Rabu, 4 Februari 2004).

[2] Konvensi Nasional Ikatan Alumni Lemhanas II menelurkan kesimpulan bahwa solusi terbaik bagi berbagai permasalahan utama bangsa yang berpusat pada bidang politik, ekonomi serta hankam adalah hadirnya kepemimpinan nasional yang kuat (strong leadership) di bawah seorang pemimpin nasional yang tidak otoriter dan mampu menjawab tuntutan zaman (ibid.)

[3] Ibid.

[4] Ibid.

[5] Sejak zaman Habibie sampai Presiden Megawati Soekarnoputri (dalam kurun waktu 4 tahun)  dihasilkan 13 peraturan yang mengatur sistem pemberantasan korupsi dalam segala tingkat, mulai dari Tap MPR, UU, PP dan Inpres (“Kanibalisme dalam Pemberantasan Korupsi”, Kompas [Rabu, 9 April 2003]). Ironisnya, Ketum PB NU Hasyim Musyadi menyatakan bahwa mereka yang jelas-jelas merupakan koruptor malah mendukung gerakan antisuap, ibarat “maling teriak maling” (“Koruptor pun Dukung Gerakan Antisuap”, Kompas [14 Februari 2004]).

[6] “Kanibalisme dalam Pemberantasan Korupsi”.

[7] Indonesia: A Blueprint for Strategic Survival (Jakarta: CSIS, 2003) 34.

[8] Alister McGrath, Sejarah Pemikiran Reformasi (terj.; Jakarta: BPK, 1997) 88.

[9] “Higher Education in Our Society”, dalam  (Comp. Charles M. Roselle; Nashville: Convention Press, 1969) 48.

[10] Student Evangelism in a World of Revolution (Grand Rapids: Zondervan, 1974) 31

[11] Clark Kerr mencermati bahwa setelah perang dunia II terjadi transformasi besar-besaran dalam perguruan-perguruan tinggi di Amerika. Hal ini ditandai dengan banyaknya orang yang dididik dalam universitas-universitas yang ada. Ini dipicu oleh kebutuhan akan tenaga-tenaga terampil dan berkualitas untuk membangun negara. Selain itu, harapan dan ketakutan yang timbul di dalam masyarakat karena berbagai permasalahan yang terjadi: harapan akan hidup yang lebih panjang, kehidupan yang lebih baik, ketakuan akan perang; menjadikan perguruan-perguruan tinggi sebagai alat utama dalam mencapai tujuan nasional saat itu (The Uses of the University 4th ed. [Massachusetts: Harvard, 1995] 65-66)

[12] “Challenges of Globalization for the Indonesian Economy”, dalam The Indonesian Nationhood and the Challenges of Globalization  (Jakarta: CSIS, 2003) 15.

[13] Kerr mencermati pertumbuhan yang begitu pesat dalam kurun waktu 30 tahun terakhir di Amerika tidak lepas dari dampak yang ditimbulkan oleh pendidikan masyarakat yang semakin tinggi dan teknologi yang semakin maju. Perkembangan ini tentu saja merupakan produk dari sistem pendidikan dalam Perguruan Tinggi (The Uses of the University, 65-66)

[14] Indonesia, 23.

[15] Definisi kualitas sebuah Perguruan Tinggi senantiasa dikaitkan dengan (lagi-lagi masalah) sistem manajemen dan sistem perencanaan yang baik. Hal ini mengakibatkan pemilihan tenaga pendidik dan staf operasional lebih diprioritaskan bagi mereka yang dapat menunjang sistem (dan bukan pribadi mahasiswa) tersebut. Prioritas ditujukan kepada mereka yang cerdas, enerjik, fleksibel, memiliki banyak ide-ide cemerlang serta cakap dalam melakukan riset-riset yang menunjang pengembangan dan pembaruan di masa depan (Bandk. pendapat George Keller, Academic Strategy: The Management Revolution in American High Education [Baltimore: John Hopkins, 1983) 136-37).

[16] Ronald Barnett – dalam menyikapi pola pendekatan dalam system pendidikan universitas-universitas di Amerika yang lebih mementingkan kapasitas daya tampung, pembiayaan dan efisiensi serta meninggalkan aspek nilai dan moralitas – menyatakan: “…in the end, to threat human as objects” (The Limit of Competence: Knowledge, Higher Education and Society [Buckingham & Bristol, PA: SRHE & Open University] 1994) 151)

[17] Bandingkan dengan pandangan Keller: An institution’s traditions, values and aspiration may no longer be in step with current realities and may be very different to maintain in the probable environment ahead. Your academic strategy may need to revise or update the values of the institution…., though obviously some tradition and expectation. Like old clothing, no longer fit (Academic Strategy, 154).

[18] Shaping Character: Moral Education the Christian College (Grand Rapids: Eerdmans, 1991) vii.

[19] Ibid.

[20] David Howard, Student Power in World Evangelism [Downers Grove: IVP, 1973] 55-64.

[21] Bandingkan dengan kebanyakan program-program pembinaan mental dari lembaga-lembaga pembentukan kepribadian yang lebih berorientasi pada massa (orang banyak) dengan jangka waktu yang terbatas (insidental), misalnya: melalui seminar, pelatihan,lokakarya, dan sebagainya.


Aksi

Information

2 responses

6 11 2008
selviya

Yap, setuju…karena itu sayang sekali kalau pelayanan mahasiswa/ persekutuan mahasiswa kristen memandang spiritualitas secara parsial, tanpa memiliki kerangka pandang yang utuh terhadap bagaimana seharusnya peran dan tanggung-jawab orang kristen di tengah zaman ini….en melupakan mandat budaya.

Kak, artikel ini bagus lho…koq gak dimasukkan di disciples aja…

Atau emang disiapkan untuk edisi Jesus n Politics

kak…
USUL:

materi refresh bahan PIPA, PD, dll kak postkan aja juga di sini, plus kalo bisa materi training pemimpin refresh bahan..
Jadi kita bisa langsung download…

GBU

6 11 2008
selviya

Yap, setuju…karena itu sayang sekali kalau pelayanan mahasiswa/ persekutuan mahasiswa kristen memandang spiritualitas secara parsial, tanpa memiliki kerangka pandang yang utuh terhadap bagaimana seharusnya peran dan tanggung-jawab orang kristen di tengah zaman ini….en melupakan mandat budaya.

Kak, artikel ini bagus lho…koq gak dimasukkan di disciples aja…

Atau emang disiapkan untuk edisi Jesus n Politics?

kak…
USUL:

materi refresh bahan PIPA, PD, dll kak postkan aja juga di sini, plus kalo bisa materi training pemimpin refresh bahan..
Jadi kita bisa langsung download…

GBU

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: