LOVE FOR THE GENTILE, PUNISHMENT FOR GOD’S PEOPLE?: TINJAUAN DOKTRIN KASIH ALLAH DALAM KITAB YUNUS

7 10 2008

PENDAHULUAN

Kitab Yunus merupakan kitab yang unik dan menarik untuk diselidiki.  Keunikan kitab ini tercermin dari sifat sastranya yang sangat berbeda dari kitab nabi-nabi yang lain.  Kalau kitab nabi-nabi langsung dikenali lewat oracle atau prophecy yang diucapkannya, maka kitab ini justru didominasi oleh kisah hidup pribadi sang nabi (autobiography).  William Sanford menyatakan: “The prophecy of Jonah is unique in that it is an account of what happened to a prophet and not a report of his message.”[1]  Elmer Dyck menambahkan keunikan keunikan literatur Yunus dengan menyatakan: “… the prophet is the subject of stinging satire.”[2] Keunikan lain yang dapat ditemui dalam kitab Yunus adalah pesan (message) yang kebanyakan justru disampaikan kepada Niniwe dan bukan Yehuda, sebagaimana kitab-kitab post-exilic yang lain.[3]  Fakta ini seolah-olah ingin menyatakan suatu prinsip yang bertolak belakang dengan semangat yang terus digembar-gemborkan oleh komunitas remnant, yakni restorasi perjanjian umat Israel dengan Yahweh.  Seperti yang dinyatakan Abraham Heschel bahwa tema kitab ini adalah belas kasihan Tuhan pada Niniwe.”[4] Keunikan ini makin dibertambah menarik di kala kita menyaksikan bahwa berita anugerah yang disampaikan oleh kitab ini justru ditujukan buat bangsa kafir!  Pertanyaan yang mungkin timbul saat kita membaca kitab ini adalah, “Apakah kitab Yunus juga turut berbicara untuk komunitas Yahudi pasca pembuangan?”  Atau mungkin akan timbul pertanyaan: “Apa relevansinya kitab ini dengan umat Allah yang kembali dari pembuangan?”  Apa yang hendak disampaikan oleh Yunus kepada komunita Yahudi saat itu?

            Menyikapi pertanyaan-pertanyaan di atas, penulis tetap berasumsi bahwa berita Yunus relevan dengan umat pasca pembuangan saat itu.  Dan dengan tujuan inilah penulis menyajikan tulisan singkat ini: bahwa kitab ini tetap–sebagaimana kitab-kitab post-exilic yang lain–hendak menyatakan rahmat dan anugerah Allah buat umat perjanjian.

 

YUNUS SEBAGAI SEBUAH REFLEKSI HISTORIS

            Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas maka perlu untuk menelusuri dn memahami makna literatur kitab ini secara baik.  Pemahaman ini dapat membuat kitab mengerti bagaimana sebaiknya pembaca melihat kitab ini.  Pokok yang akan dibahas dalam hal ini adalah perihal jenis literature (genre) kitab.

            Bentuk sastra dalam kitab ini sangat kaya.  Hal ini membuat sulit sekali untuk menetapkan satu jenis genre yang tepat untuk kitab ini.  Ada banyak asumsi yang dihasilkan oleh para pakar berkenaan dengan genre kitab ini.  Beberapa asumsi yang umum adalah alegoris, perumpamaan (parable) dan sebagai sejarah.[5]  

Pandangan alegoris merupakan pandangan yang berkembang pada abad-abad awal.[6]  Pandangan ini menafsirkan secara rohani hal-hal yang semestinya dipandang sebagai hal yang kongkrit.  Peristiwa Yunus ditelan ikan besar dalam 1:17 ditafsirkan: Yunus, yang berarti “merpati”, merupakan simbol Israel yang akan ditawan oleh “ikan besar” yang merupakan simbol Babel karena menolak tugas Allah untuk menyatakan maksud Tuhan kepada bangsa kafir.  Keberatan atas pandangan ini telah dipaparkan dengan mengagumkan oleh John Walton.[7]  Sebagian pakar menyatakan bahwa pandangan yang kedua (parables) disebabkan oleh penolakan terhadap beberapa bagian yang bersifat miracle, seperti: kisah Yunus ditelan ikan besar (1:17) dan pertumbuhan yang tidak natural (nocturnal) dari “pohon jarak” (4:6-7).[8]  Keberatan-keberatan pandangan ini juga disebabkan oleh beberapa persoalan historis dalam kitab ini, seperti: berkaitan dengan keabsahan kota Niniwe dan terminologi “raja Niniwe”.[9]  Pandangan ketiga (historical) adalah pandangan yang umum diterima di kalangan Kristen.  Salah satu dasar titik tolak dari pandangan ini adalah kutipan Tuhan Yesus dalam Mat. 12:39-41 dan Lukas 11:29-30.[10]  Fakta lain yang menjadi dasar dari asumsi ini adalah tercatatnya nama sang nabi dalam 2Raj. 14:25 yang membuktikan bahwa sang nabi adalah tokoh sejarah.[11]

Pendapat yang sangat bervariasi tentang genre dari kitab ini, menunjukkan adanya kesulitan dalam menetapkan tujuan kitab ini. Dasar yang diberikan buat asumsi-asumsi ini terletak pada beberapa kesulitan teks tidak dapat terhindarkan dan metodologi penafsiran yang berkembang.  Bahkan karena kesulitan tersebut, Brevard Childs mengemukakan kalimat yang sedikit bernada pesimis: “ In sum, neither of the major interpretation has been able to achieve a clear consensus nor to do justice to the full range of exegetical problems in the biblical text.”[12]

            Untuk melihat genre kitab ini dengan baik maka kita perlu mengamati latar belakang historis dan perihal penanggalan kitab

Kitab Yunus tidak mencatat satu pun informasi tentang sang nabi. Satu-satunya informasi tentang sang nabi diinformasikan oleh catatan sejarah dalam 2Raj.14:25. Dalam 2Raj. 14:25 diinformasikan bahwa sang nabi bernubuat pada zaman raja Yerobeam bin Yoas atau lebih dikenal sebagai Yerobeam II.  Di sana diceritakan kisah kesuksesan dan kebesaran dari Raja Yerobeam II, yang mungkin hanya dapat dilebihi oleh Raja Salomo.[13]  Sehubungan dengan Niniwe–tempat pelayanan Yunus yang dicatat dalam kitab Yunus–banyak penafsir yang berpendapat bahwa saat itu kerajaan Asyur sedang dalam posisi lemah.[14] Dari kacamata sejarah, faktor inilah yang mendorong kesuksesan raja Yerobeam II.  Tapi secara teologis, kitab Raja-raja mencatat bahwa kesuksesan yang diberikan kepada Yerobeam II berasal dari YHWH (2Raj. 14:26-27).  Dan inilah message Yunus pada masa itu (2Raj. 14:25).  Dasar ini menjadi alasan yang cukup signifikan untuk membela sifat historisitas dari kitab Yunus.  Ernst Wendland menyatakan: “Thus I view Jonah as being an essentially historical text (compare 2Kgs 14.25) …[15]  Namun, kenyataan bahwa Yunus dalam kitab ini identik dengan tokoh yang dicatat dalam 2Raja-raja, tidak otomatis membuat kita berkesimpulan bahwa kitab ini ditulis pada abad ke VII oleh nabi Yunus sendiri.[16]  Sebab–selain alasan kemunculan nama nabi ini dalam kitab sejarah 2Raja-raja–tidak ada alasan yang cukup logis untuk memantapkan posisi ini.[17]  Contohnya adalah alasan yang dikemukakan Bullock yang cenderung tidak tegas dan inkonsisten:

“The book of Jonah could have been composed as early as the middle of the eighth   century. There are no compelling reasons that it could not have been.  Yet it also possible that it may have come into existence in its present form at a latter time and the dispersion of the northern tribes.”[18]

Prinsip penanggalan ini berpengaruh pada penarikan genre dan akhirnya berdampak pada penafsiran tujuan dari kitab.  Problem yang paling signifikan dari pandangan ini adalah perumusan tujuan kitab yang pada gilirannya terkesan absurb dan tidak jelas. Seperti pendapat dari Bullock:

It serves that function for our study of prophecy, even though it need not have been the author’s purpose for writing. He set out to tell his own story (if Jonah authored it) or the story of the eight-century prophet whose reputation was at best one of reluctant

obedience to the prophetic call …, and Yahweh’s sovereign will effected through His prophet is the most obvious element.[19]

Tujuan ini cenderung bersifat human-centric sebab terlalu menekankan kehidupan sang nabi dan dikaitkan dengan kedaulatan Allah.  Meskipun pandangan ini cukup kuat, pandangan ini tidak dapat menjawab beberapa pertanyaan fundamental: “Apa signifikansi Niniwe dalam kisah ini?  Pandangan yang semestinya lebih memperhatikan aspek historis ini, malah cenderung mengabaikan kota penting, “penerima berita Yahweh,” yang digambarkan sebagai kota yang besar.  Apakah pesan berita ini tidak ada kena-mengena dengan kota ini?”

Pandangan yang mungkin lebih tepat adalah pandangan yang menyatakan bahwa kitab ini ditulis pasca pembuangan Yehuda (sekitar abad 4-5 BC).  Seperti yang dinyatakan Joyce Baldwin: “The date of writing, however, could be much later; indeed the majority view is that the book is postexilic.”[20]

Argumentasi yang memperkuat pandangan ini, adalah:

·         Pesan ditujukan kepada seluruh rakyat dan bukan kepada royal court.  Ini merupakan ciri yang paling menentukan dari perbedaan antara kitab-kitab pre-exile dan kitab-kitab post-exile.[21]

·         Dalam kanon Ibrani, kitab ini berada dalam urutan latter/minor prophets yang dapat mengindikasikan bahwa kitab ini ada pada tanggal penulisan late date.[22]  Dyck memaparkan beberapa implikasi dan penafsiran, jika kitab ini masuk dalam the Twelve yang beberapa di antaranya adalah: (1) The contours of the process can be drawn in lines that correspond to Judah political and religious life; (2) The process was most likely terminated during the time of Nehemiah; (3) Tied as it was to nationalist revival, the process had a functional character.”[23]

·         Dari sudut bahasa, merupakan pandangan yang disepakati secara luas bahwa bahasa yang digunakan dalam kitab ini tipikal dengan late Biblical Hebrew.[24]

·         Dalam konteks historis, sikap “pembangkangan” Yunus akan lebih signifikan apabila kitab ini ditulis setelah Samaria ditaklukkan oleh Asyur.  Sikap yang ditunjukkan oleh nabi Yunus memperlihatkan sikap sebagian besar orang Israel pasca pembuangan.  Sikap yang sama ditunjukkan oleh nabi Habakuk yang mempertanyakan keadilan YHWH dengan memakai bangsa kafir untuk menghukum Yehuda.  Dalam kasus ini, Yunus seolah-olah menjadi kitab Habakuk bagi Samaria.

·         Tersirat makna universalisme yang kental dalam kitab ini.  Seperti yang dinyatakan Baldwin:

Israel’s nationalistic outlook needed correcting, hence the emphasis on   God’s concern for the people of Niniveh (4:11). The hoped-for out come would be a greater missionary vision in Israel instead of a narrow, particularistic emphasis.”[25]

Dan dengan mengutip pandangan Rowley, ia menyatakan: “Rowley considered that such a message might have been most appropriate in the fifth century B.C….[26]

Hal ini membawa kita memahami bahwa peristiwa historis yang dialami Yunus, diolah kembali oleh seorang editor akhir untuk menunjukkan makna teologis tertentu.  Ini adalah hal yang umum terjadi pada kitab-kitab post-exilic; seperti penulisan kitab Tawarikh yang tidak ditujukan primary sebagai kitab sejarah, tetapi bagi tujuan teologis.[27]  Hans Wolff setuju dengan pandangan ini.  Ia menggarisbawahi penulisan kitab ini pada late date after postexilic dengan menyatakan bahwa ada tendensi tertentu yang ingin diberikan oleh penulis pasca kepahitan peristiwa pembuangan.[28]  Pemahaman ini membuat kita dapat melihat bahwa kitab ini tidak semata-mata ditujukan untuk mencatat sejarah (biography) seorang nabi dari panggilannya (individual message), tapi lebih jauh dari itu kitab ini memiliki universal message yang kuat. Dan message itu ditujukan bagi komunita remnant yang baru kembali dari pembuangan untuk menyadarkan mereka akan Allah yang masih terus berkarya (didactic purpose).[29] Melalui analisa ini penulis berkesimpulan bahwa genre kitab Yunus bukanlah “pure-historical, melainkan didactic-historical.[30] Namun perlu dicatat, penekanan didactic dalam genre kitab ini tidak sama dengan penekanan yang diberikan oleh genre parable. Genre parable berangkat dari asumsi bahwa beberapa bagian dari kitab ini bukanlah peristiwa historis dan cenderung mengamati semua peristiwa dalam kitab ini dari sisi moral.[31] Genre ini menegaskan sifat kitab Yunus yang tidak hanya membahas persoalan-persoalan teknis sejarah, tetapi ingin memberikan sebuah refleksi teologis melalui kisah-kisah sejarah tersebut.

            Dari pemaparan tentang genre kitab ini, maka beberapa kesimpulan penting yang dapat kita tarik adalah:

  • Merupakan suatu kekeliruan untuk menetapkan orientasi kitab Yunus hanya berdasarkan fakta-fakta historis yang terdapat di dalam 2Raj. 14:25.  Meskipun tokoh di dalam kedua bagian Alkitab ini identik (dan ini mengindikasikan bahwa kitab ini adalah kitab sejarah) kita tidak boleh mengabaikan motivasi teologis yang dimaksudkan penulis.
  • Kitab ini ditujukan bagi umat pasca pembuangan dengan tujuan memberikan refleksi teologis dari peristiwa historis yang dialami oleh nabi Yunus. Refleksi teologis tersebut menekankan tentang kedaulatan Allah.

 

NAMA-NAMA ALLAH: BERITA BAGI UMAT

Ada hal yang menarik di dalam kitab ini berkaitan dengan nama-nama Allah (divine names). Hal yang sangat unik itu adalah disepanjang kitab yang terdiri dari 48 ayat ini, hanya dua nama untuk Allah yang dipakai: Yahweh dan Elohim, dengan pengecualian El yang muncul sekali pada 4:2. Yahweh muncul 25 kali dan Elohim muncul 15 kali. Pandangan yang ekstrim menyatakan bahwa penggunaan yang berbeda dari nama Allah berkaitan dengan dengan teori document hypothesis.  Teori ini mencoba untuk mengamati sumber-sumber kitab ini berdasarkan metodologi JEDP, seperti pendekatan yang digunakan dalam mengamati Pentateukh. 

Pendekatan ini cenderung kurang memperhatikan motivasi postexilic seperti yang dipaparkan pada sub bab di atas.  Pendekatan yang lebih tepat dikemukakan oleh F. Derek Kidner.  Dalam artikelnya The Distribution of Divine Names in Jonah, Kidner menyatakan ada tiga kemungkinan penggunaan nama-nama Allah dalam kitab ini yang kesemuanya didasarkan pada asumsi bahwa kitab ini ditulis oleh satu orang penulis.[32] Dari tiga kemungkinan tersebut, ada satu kemungkinan yang cocok dengan motivasi postexilic: A preference for “Yahweh in an Israelite context and “Elohim” elsewhere.[33]  Yahweh merupakan nama Allah perjanjian bagi umat. Banyaknya penggunaan Yahweh dalam kitab ini menunjukkan bahwa kitab ini primarily ditujukan bagi umat dalam rangka pembaharuan covenant.

 

PESAN YUNUS: MISIOLOGIS ATAU TEOLOGIS?

Terdapat beberapa asumsi tentang pesan dari kitab Yunus.  Asumsi yang paling umum adalah kitab ini ditujukan untuk menyampaikan pesan misiologis.  Yunus diasumsikan sebagai seorang misionaris yang harus menyampaikan berita rahmat Allah kepada bangsa lain.  Pandangan ini sering mengambil asumsi bahwa Yunus merupakan gambaran (type) dari Israel.[34]  Namun asumsi ini menemui banyak kendala.  Desmond Alexander menyatakan bahwa: “Yet Jonah is no missionary. … Only in the most superficial way does Jonah resemble a missionary.”[35]  Sehubungan dengan asumsi bahwa Yunus dapat diidentikan dengan Israel, Andrew Hill dan John Walton menyatakan: “Persamaan yang diberikan pada kita oleh kitab itu bukanlah Yunus = Israel, tetapi Yunus = Niniwe.”[36]  Pendapat ini diberikan karena terdapat banyak komposisi ironi yang memang hendak menunjukkan kesamaan antara Yunus dengan Niniwe.

Namun pertanyaan lebih lanjut yang perlu diajukan adalah, “Apa pesan utama yang hendak di sampaikan kitab ini? Dalam hubungan dengan natur postexilic dan tekanan yang dominan pada universalisme yang dominant dari kitab ini, relevansi apa yang dapat kita tarik?” 

Hal pertama yang perlu dipahami adalah fokus utama dari kitab ini bukan kepada Yunus   tetapi kepada Yahweh.  Meskipun kitab ini disusun dengan menceritakan sejarah kehidupan sang nabi, kitab ini tidak ditujukan untuk menonjolkan sang nabi.  Orientasi kitab ini juga bukan kepada Niniwe (bangsa kafir). Seperti yang diungkapkan oleh Andrew Hill dan John Walton: “… kitab ini menetapkan bahwa ketiganya (Yunus, Niniwe dan Israel) merupakan sasaran kegiatan Allah.”[37]  Seperti yang dinyatakan pula oleh Dillard dan Longman: “He is the God of Israel, the God of Niniveh, the God of the entire creation.”[38] Titik tolak ini akan membuat kita memiliki pola pikir yang lebih komprehensif untuk melihat pesan dari kitab Yunus.

            Pemahaman bahwa kitab Yunus berfokus pada Yahweh membawa kita pada satu kesimpulan bahwa kitab ini lebih menekankan nilai teologis daripada nilai misiologis.  Tapi kesimpulan ini tidak begitu saja menghilangkan nilai misi dan nilai-nilai didactic lain yang terkandung di dalam kitab ini.  Seperti dipaparkan oleh Desmond Alexander: “Nevertheless, the book of Jonah reveals some important ideas concerning the missionary nature of God.”[39]  Penekanan prinsip teologis di dalam kitab ini dimaksudkan untuk menolak setiap asumsi yang hendak menjadikan kitab ini bersifat human-centric.  Artinya, nilai misiologis atau nilai-nilai didactic lain yang diberikan kitab ini tidak berangkat dan bertitik tolak dari tokoh manusia yang dipaparkan kitab ini, melainkan beranjak dari Allah.  Allah-lah pusat pembicaraan kitab ini.

            Poin kedua yang perlu mendapat perhatian di dalam menentukan pesan kitab ini adalah beberapa bentuk struktur di dalam kitab ini. Bentuk struktur pertama yang perlu diperhatikan adalah adanya ironi yang berulang-ulang dicatat di dalam kitab ini.  bentuk ironi yang berulang-ulang dipaparkan dalam kitab ini.  Bentuk-bentuk ironi ini kebanyakan dapat dikenali lewat pemakaian kata yang sama namun dalam konteks yang berlawanan.  Seperti definisi yang diberikan oleh Ernst Wendland: “

A person says one thing, but in the particular context and setting concerned, his words turn out to mean something quite different, sometimes the very opposite.  An ironic utterance may be implicitly critical of the addressee or the subject of conversation; at other times it may contradict the speaker himself, that is on the basis of his previous words and actions.[40]

Beberapa bentuk ironi tersebut adalah:

  • 1:6 dengan 1:2à terdapat terminologi yang identik dengan penekanan pada kata “bangunlah…”.  Perbedaannya adalah 1:2 menyatakan perintah Allah supaya Yunus memberitakan berita penghukuman untuk Niniwe tapi di 1:6 sang Nahkoda memeritahkan berita pelepasan. Ironisnya Yunus tidak merespon terhadap kedua hal tersebut.[41]
  • 1:9 dengan 1:16 à Yunus menyatakan “takut akan Tuhan” secara verbal tapi orang-orang kafir “takut pada Tuhan” dalam perbuatan.  Bahkan ada penekanan “sangat takut kepada Tuhan.”
  • 3:5-10 dengan 3:4 dan 4:1 à Yunus menyampaikan berita pertobatan dan orang-orang Niniwe bertobat.  Anehnya, respons Yunus tidak seperti respons nabi-nabi post-exile lain dalam melihat pertobatan. Ia justru menyesal melihat pertobatan.
  • 4:3 dengan 4:4 à bentuk ironi pada bagian ini dipaparkan lewat pertanyaan retoris Yahweh kepada Yunus setelah mendengar pernyataan kepahitannya.  Wendland memberikan terjemahan literal yang lebih tepat untuk memperlihatkan bentuk ironi pada bagian ini dan memberikan komparasi dengan menyatakan: “Is it good that you are [so] angry?–for this better brings out the play on the word “good” which Jonah has just used, namely, “My death is good…!”[42]  Tuhan menegur pernyataan Yunus tentang suatu kebaikan yang terbersit dari kemarahannya kepada Yahweh.   Dengan kata lain, marah kepada Yahweh lebih baik daripada Niniwe diselamatkan.
  • 4:10-11 à Yunus sayang kepada pohon jarak (benda mati, asalnya dari Tuhan tanpa usaha Yunus; namun “menyepelekan” sayang Allah kepada Niniwe yang berpenduduk banyak.

Keberadaan bentuk-bentuk ironi ini sangat penting.  Ironi biasanya ditujukan untuk memberikan sindiran dan kritikan buat kelemahan-kelemahan yang dimiliki penerima.  Dengan mengutip perkataan E. M. Good, Wendland mengatakan: “The aim of irony as a rhetorical device is to implicitly criticize some apparent incongruity or discrepancy in the attitude, thinking, speech or behavior of another person or group.”[43]  Pandangan ini makin mempertegas pemaknaan teologis yang dimaksudkan oleh sang penulis, dan tidak sekedar mencatat suatu kronologi sejarah.  Wendland menyatakan hal yang sama: “It is divinely inspired history with a theological sting – that is, its multifaceted message demands a moral and spiritual response either for or against the life-changing will of Yahweh (cf. 4:11).”[44]

Ironi yang dipaparkan di atas jelas hendak mengkontraskan sikap Allah dengan nabi-Nya.  Yunus sebagai seorang hamba Allah justru tidak menunjukkan sikap dan perilaku yang diinginkan Yahweh.  Meskipun kitab ini memang tidak bermaksud mengidentikkan Yunus sebagai Israel, namun dalam sisi negatif, ada kecenderungan yang hendak disampaikan penulis untuk memberi “sentilan-sentilan” halus buat komunita remnant yang sedang membangun nasionalisme baru mereka.  Seperti pendapat Wendland berkenaan dengan maksud ironi: “In short, irony always involves some conceptual (often also emotive) conflict that is occasioned by one’s perception of the distance [or disparity] between pretense and reality,”[45] terlihat secara implisit sang penulis hendak mengutarakan kekecewaan dan konflik batin yang dialami olehnya menyikapi spirit refomasi spiritualitas Yehuda.  Sikap yang sangat mungkin ditonjolkan oleh semangat reformasi spiritual umat saat itu adalah: ekslusifisme!”  Kenyataan bahwa mereka adalah umat perjanjian, membuat mereka berasumsi bahwa Yahweh ekslusif milik mereka.  Pandangan ini jelas menghilangkan pesan-pesan yang juga diusung oleh para nabi-nabi post-exilic lainnya: (1) Allah berdaulat dan (2) Pada akhirnya Allah akan menyatakan rahmat-Nya kepada segala bangsa.  Kedaulatan Allah dipandang hanya dari sisi judgment dan bukan dari sisi grace.  Ketimpangan inilah yang harus dikoreksi dari komunitas post-exile.  Jadi, kitab ini secara mengesankan hendak memberikan persepsi tentang kedaulatan Allah yang seimbang yakni Allah bebas mutlak dan berdaulat atas penghukuman/penghakiman (1:13:1-3; dan pendapat ini berulang-ulang ditekankan secara eksplisit dalam kitab nabi-nabi kecil yang lain) dan bahwa Ia juga bebas mutlak dan berdaulat atas anugerah kepada siapa Ia berkenan (2:9; 3:10; pandangan ini juga sebenarnya sering diungkapkan secara eksplisit oleh kitab nabi-nabi kecil yang lain, kecuali Obaja, Habakuk dan Nahum). 

Pemaknaan ini juga hendak ditujukan agar umat post-exile menyadari bahwa reformasi spiritualitas mereka hanya akan berhasil jika mereka meletakkan dasar pengharapan dan keselamatan mereka di atas landasan perasaan ketidaklayakan dan kehinaan diri di hadapan Yahweh yang berotoritas.  Tidak akan ada keselamatan tanpa sikap kemiskinan diri tersebut (bdk. Hos. 14:2-9; Zef. 2:3).  Keselamatan tidak pernah tiba akibat status fisik (keturunan Abraham, “umat perjanjian”, dan jargon-jargon ekslusifisme sempit) tapi akibat pandangan yang melihat diri tidak lebih dari orang-orang lain (atau bangsa-bangsa “kafir”) lain yang juga perlu belas kasihan Tuhan (hal senada diungkapkan oleh Am.1:2-2:16; 8:7-10).

           

PENUTUP

Dari argumentasi-argumentasi yang sudah dipaparkan–meskipun secara redaksional kitab ini banyak berbicara kepada bangsa kafir–kitab ini primarily ditujukan kepada orang Israel.  Hal ini senada dengan konklusi yang diberikan oleh Peter Craigie: “Yet the mission of the book is not in the last resort Niniveh, but Israel; the faith of the chosen people, as a result of bitter historical experience, had develop a shrunken notion of God.”[46]  Dan meskipun ada kesan bahwa dalam kitab ini terdapat berita yang negatif buat umat Allah, kitab ini sebenarnya dimaksudkan untuk mengungkapkan makna pertobatan dan keselamatan yang sejati bagi umat-Nya yakni lewat pertobatan dan kesungguhan hidup di dalam Allah.  Berita kitab Yunus sangat indah dan menawan sebab mengantisipasi berkat rohani yang akan umat Allah terima di zaman PB (bdk. Mat. 5:3; 1Kor. 1:18-2:5; Gal. 3:14).

 


[1]Old Testament Survey (Grand Rapids: Eerdmans, 1982) 347.

[2]“Jonah Among the Prophets: A Study in Canonical Context,” JETS 33/1 (March 1990) 63.

[3]Ada beberapa pendapat sehubungan dengan tanggal penulisan kitab ini.  Paul J. N. Lawrence, dengan menelusuri sejarah dinasti Asyur dan membandingkannya dengan pelayanan sang nabi (2Raj. 14:25), menyimpulkan bahwa kitab ini ditulis pada abad VIII BC.  Dengan demikian ia berkesimpulan bahwa kitab ini ditulis bukan pada zaman post-exilic, setelah 6 BC(“Assyrian Nobles and the Book of Jonah,” Tyndale Bulletin no. 37 [1986] 121). Untuk fakta sejarah ini, Victor H. Matthens dan James Moyer melihat bahwa meskipun kitab ini berlatarbelakang Asyur (850-605B.C), kitab ini paling mungkin ditulis selang masa sesudah penawanan (setelah 500 BC) (The Old Testamet: Text and Context [Mass: Hendrickson, 1997] 238).  Asumsi inilah yang lebih umum diterima: kitab ini ditulis pada abad 4-5 BC atau pasca pembuangan.  David L. Petersen menyatakan: “Most Scholars agree that the story postdates the destruction of Jerusalem in 587 B.C.E. …” (“The Book of the Twelve/The Minor Prophets,” The Hebrew Bible Today: An Introduction to Critical Issues [eds. Steven L. McKenzie & M. Patrick Graham; Louisville: WJK, 1998] 112).

[4]The Prophets (NY: Harper and Row, 1962) 131.

[5]Lih. C. Hassel Bullock, An Introduction to the Old Testament Prophetic Books (Chicago: Moody, 1986) 44-45.  T. Desmond Alexander memberikan perincian lebih detail tentang asumsi-asumsi genre dari para pakar terhadap Yunus: midrash, prophetic parables, legend, prophetic legend, novella, satire, didactic fiction, satirical, didactic, short story (“Jonah and Genre,” Tyndale Bulletin 36 [1985] 36-37).  Brevard S. Childs menyatakan adanya pandangan yang unik dari C. A. Keller di mana ia memberi genre kitab ini sebagai, “Confessions of Jeremiah” (Introduction to the Old Testament as Scripture [Philadelphia: Fortress, 1979] 419).

[6]John Walton, Jonah (BSC; Grand Rapids: Zondervan, 1982) 75.

[7] John Walton, Jonah 75-76.

[8] Ibid.

[9]Penjelasan tentang keberatan-keberatan ini dapat dilihat dalam Bullock, An Introduction 46-48

[10]Raymond B. Dillard & Tremper Longman III, An Introduction to the Old Testament (Grand Rapids: Zondervan, 1994) 392.

[11]William Sanford Lasor et al., Old Testament Survey 350.

[12]Introduction to the Old Testament as Scripture 421.

[13]John Walton, Jonah 65

[14]John Walton, Jonah 64.

[15]“Five Key Aspects of Style in Jonah and (Possibly) How to Translate Them,” The Bible Translator 48/3 (1997) 309.

[16]Kesimpulan yang mengkoneksikan pelayanan Yunus di Samaria pada abad ke VII langsung dengan dengan tanggal penulisan diambil oleh Bullock (An Introduction to the Old Testament 52). Pendapat ini juga dianut oleh J. N. Lawrence (“Assyrian Nobles and the Book of Jonah,” 121).

[17]Pandangan ini kebanyakan dianut oleh mereka yang berpandangan bahwa kitab Yunus adalah kitab historical murni 

[18]Bullock, An Introduction to the Old Testament 52.

[19]Ibid.

[20]Joyce Baldwin, “Jonah,” The Minor Prophets: An Exegetical and Expository Commentary (ed. Thomas Edward McComiskey [Grand Rapids: Baker, 1993] 545).

[21]Walton mengklasifikasikan perbedaan ini dengan istilah pre-classical prophet dan classical prophet (Jonah 63-64).

[22]Jack M. Sassan menyatakan empat fragmen dari beberapa fragmen minor prophets yang bertanggal 2 B.C., di Wadi Murabba‘at, memuat kopi kitab Yunus secara lengkap.  Di samping itu penemuan fragmen-fragmen minor prophets dalam terjemahan Yunani di Nahal Hever juga memuat bagian-bagian dari kitab Yunus (Jack M. Sassan, Jonah [AB; NY: Doubleday, 1990] 15-16).

[23]“Jonah Among the Prophets,” 69-70.

[24]Joyce Baldwin, “Jonah,” 546.  Pembahasan yang lebih rinci tentang hal ini dapat dilihat pada tafsiran Jack M. Sassan, Jonah 23-24.

[25]Ibid.

[26]Ibid.

[27]Andrew Hill menekankan bahwa kitab-kitab yang ditulis pada masa pre-exilic lebih condong bersifat Primary historic.  Sedangkan kitab-kitab yang ditulis setelah masa pembuangan lebih bersifat primary theological dan secondary historic (sejarah merupakan implikasi dari asumsi teologis yang dibangun) (1 & 2 Chronicles [NIVAC; Grand Rapids: Zondervan, 2003] 26). 

[28]Obadiah and Jonah (Minneapolis: Ausburg, 1986) 76-77.

[29]Mengutip perkataan Fretheim, Desmond Alexander menyatakan dengan tegas bahwa kitab ini tidak pernah dimaksudkan untuk dibaca sebagai tulisan sejarah (“Jonah and Genre,” 53-54)

[30]Dalam hal ini penulis  setuju dengan pendapat Desmond Alexander yang menyatakan bahwa kitab Yunus lebih tepat ber-genre didactic history (“Jonah and Genre,” 59)

[31]Joyce Baldwin, “Jonah,” 547.

[32]Tyndale Bulletin 21 (1970) 126-128.

[33]Ibid. 126.

[34]Contoh dari pandangan ini dapat dilihat pada artikel Gerald B. Stanton, “The Prophet Jonah and His Message,” BIS 108/431 (Jul-Sept 1951) 363-376.  Lihat juga penilaian Andrew Hill dan John Walton Survei Perjanjian Lama (terj. Malang: Gandum Mas, 2000) 634.

[35]“Jonah–A Case Study for Missions?,” Asian Challenge 21 (1991) 12.

[36]Andrew Hill dan John Walton Survei Perjanjian Lama 634-635.

[37]Ibid. 638.

[38]An Introduction to the Old Testament 395.

[39] “Jonah–A Case Study for Missions?,” 12.

[40]Ernst R. Wendland, “Five Key Aspect of Style in Jonah,” 318-319.

[41]Ibid. 320.

[42]Ibid. 319.

[43]“Text Analysis and The Genre of Jonah,” JETS 39/2 (June 1996) 197.

[44]Ibid. 198.

[45]Ibid. 197.

[46]The Old Testament: Its Background, Growth and Content (Nashville: Abingdon, 1988) 189.


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: