Consistency in Discipleship: Keep Looking for Jerusalem

7 10 2008

Eksposisi Lukas 9:57-62

Teks ini tidak dapat dilepaskan dari bagian-bagian sebelumnya di mana bagian-bagian sebelumnya berbicara banyak tentang rencana Yesus yang telah ditetapkan Allah untuk pergi ke Yerusalem (9:21-51).  Ini bisa kita lihat dari percakapan Tuhan dengan nabi Elia dan Musa pada saat Ia dimuliakan di atas gunung (khususnya ay. 31).  Rencana ke Yerusalem ini kembali diulang pada ayat 51.  Nah, tentu yang perlu kita tanyakan adalah, “Apa rencana Yesus untuk pergi ke Yerusalem?” 

Satu hal perlu kita ketahui bahwa sebenarnya pada masa itu ada banyak gerakan-gerakan Mesianik yang muncul silih berganti.  Bagi banyak tokoh-tokoh Yahudi yang juga saat itu turut mendeklarasikan diri sebagai Mesias, Yerusalem merupakan tempat yang penting. 

Satu hal yang perlu kita perhatikan dengan seksama, bagi orang-orang Yahudi pada abad pertama, Mesias identik dengan the King of Jews.  Konsep ini sebenarnya lahir dari sebuah kepahitan sejarah yang amat lama, yang dialami Israel akibat opresi bangsa-bangsa asing yang silih berganti menerpa mereka.  Pengharapan eskatologis mereka sebenarnya bertumpu pada sebuah kerinduan pada saatnya nanti masa kejahatan yang terus menaungi bangsa pilihan Allah akan segera sirna, diganti dengan zaman baru yang telah dinubuatkan para nabi jauh sebelumnya.  Dalam konteks inilah kerinduan hadirnya seorang King of Jews itu makin kuat.  Sang Raja itu akan menjadi agen YHWH di mana lewat dialah pembaruan yang sejati itu akan tiba.  Itulah sebabnya tidak heran kalau Yohanes 6:15 mencatat bagaimana orang banyak mendesak Yesus untuk menjadi raja mereka. 

Dekat dengan ide Sang Raja Mesias ini adalah simbol Bait Allah yang ada di Yerusalem.  Di sinilah kemudian mengapa Yerusalem menjadi ikon yang sangat penting bagi gerakan mesias saat itu.  Kalau kita mempelajari sejarah Israel, maka raja-raja yang dipakai Allah adalah raja-raja yang dekat dengan Bait Allah.  Daud merupakan inisiator awal pembangunan Bait Allah; Salomo merupakan eksekutor pembangunan itu; Hizkia dan Yosia, dua raja saleh Yehuda adalah raja yang merestorasi Bait Allah.  Zerubabel dan Yosua sang imam (bin Yozadak) adalah dua tokoh yang membangun bait Allah paska-pembuangan (Zak. 4:1-10; Hag. 2:20-23).  Tradisi ini kemudian dipakai oleh beberapa tokoh yang hidup pada zaman antar perjanjian untuk mengklaim diri mereka di hadapan rakyat sebagai raja yang dipilih Allah. Dengan mengadakan tindakan penyucian Bait Allah dari kekafiran Antiokhus Epifanes, Yudas Makabe mendirikan 100 tahun dinasti imam (ia adalah seorang imam).  Mendirikan Bait Allah termegah merupakan bagian dari klaim Herodes Agung atas dinasti yang didirikannya.  Menahem, salah seorang yang kuat dianggap sebagai mesias, muncul di Bait Allah dalam pakaian kerajaan, memberikan tanda pembebasan ilahi yang telah lama dirindukan.  Yerusalem dan Bait Allah juga menjadi sentral dari beberapa tokoh yang lain seperti Simon bar Giora dan Bar-Kochba.  Konsekuensi lain dari ide mesias sebagai raja (khususnya dalam konteks politis pada zaman Yesus) ini adalah bahwa seorang mesias adalah seorang yang pasti mengalahkan musuh-musuh Israel.  Daud mengalahkan Goliat dan bangsa Filistin.  Kemenangan ini sekaligus menjadi tanda sah Daud sebagai pemilik takhta Israel lewat teriakan para wanita dalam 1Samuel 18:7-8 dan 21:11:

dan perempuan yang menari-nari itu menyanyi berbalas-balasan, katanya: “Saul mengalahkan beribu-ribu musuh, tetapi Daud berlaksa-laksa. Lalu bangkitlah amarah Saul dengan sangat; dan perkataan itu menyebalkan hatinya, sebab pikirnya: “Kepada Daud diperhitungkan mereka berlaksa-laksa, tetapi kepadaku diperhitungkannya beribu-ribu; akhir-akhirnya jabatan raja itupun jatuh kepadanya.”

 

Pegawai-pegawai Akhis berkata kepada tuannya: “Bukankah ini Daud raja negeri itu? Bukankah tentang dia orang-orang menyanyi berbalas-balasan sambil menari-nari, demikian: Saul mengalahkan beribu-ribu musuh, tetapi Daud berlaksa-laksa?”

 

 

Dari fakta-fakta ini kita dapat melihat bahwa Yerusalem, bagi orang-orang Yahudi saat itu merupakan penting karena di sanalah penahbisan Sang Raja Mesias terjadi.  Dia akan membimbing umat untuk mengalahkan dan menghancurkan musuh Israel yang saat itu adalah kekaisaran Romawi.  Menjadi mesias berarti menjadi orang terhormat, orang penting, orang yang memiliki kekuasaan mutlak yang tidak hanya diberikan oleh rakyat tapi juga oleh Allah.  Dalam konteks inilah perkataan Yesus tentang mesias yang akan menderita sangat tidak dimengerti oleh para murid (ay. 45). Menarik untuk mencermati apa yang dikatakan John Nolland dalam tafsirannya terhadap sikap ketidaktahuan para murid akan agenda Kristus ke Yerusalem, “The disciples do not know, because they do not want to know: note how they are afraid to ask him about what they have not understood.  Ya, mereka bukannya tidak tahu agenda Yesus, melainkan tidak mau tahu akan agenda-Nya ke Yerusalem, karena mereka punya agenda sendiri untuk Yesus saat Ia di Yerusalem.  Itu pulalah sebabnya mengapa di tengah-tengah Yesus berulang-ulang mengutarakan agenda ilahi bagi diri-Nya bahwa di Yerusalem Ia harus mati, para murid justru sibuk memperdebatkan siapa yang terbesar di antara mereka (ay. 46-48).  Berkenaan dengan ayat-ayat ini, Frank Gaebelein mengutarakan pandangannya sebagai berikut, “They were still thinking of the Messiah only in terms of triumph, assuming, quite naturally, that their position was important. 

 

Dengan demikian tujuan Yesus ke Yerusalem sangat jelas. Ya, Ia ke Yerusalem bukan untuk merengkuh kuasa dan popularitas dengan cara-cara politis yang umumnya dilakukan orang-orang Israel saat itu.  Berkebalikan dengan semua cita-cita politis dan militeristik yang dilakukan oleh kebanyakan raja-mesias saat itu, Yesus ke Yerusalem justru untuk menderita, ditolak bahkan dibunuh.  Dan yang menarik, Ia mengungkapkan semua ini dalam kesadaran penuh dan tanpa sedikit pun niat untuk mengingkari bahkan melarikan diri dari visi ilahi ini (ay. 51).  Dan sejak awal sebenarnya Lukas telah memaparkan hal ini dalam kisah tentang pencobaan yang sedikit berbeda dengan apa yang dipaparkan Matius.  Dalam kisah pencobaan Matius, pencobaan paling puncak adalah tawaran terhadap gemerlap kenikmatan duniawi, sedangkan dalam kisah pencobaan Lukas bagian puncaknya adalah Yesus dicobai di Bait Allah.  Mengapa Lukas menuliskan ini dengan cara berbeda dengan Matius?  Tentu karena Lukas ingin menekankan sesuatu yang berbeda dengan Matius.  Lewat kisah pencobaan, Matius yang memang sangat menekankan tema Kerajaan Allah hendak mengungkapkan bahwa bagi Yesus Kerajaan Allah bukanlah seperti yang dipahami oleh kebanyakan orang Yahudi saat itu: soal kuasa, otoritas dan gemerlap dunia.  Kerajaan Allah Yesus adalah sesuatu yang sangat berbeda, yang disimpulkan dalam 20:28, “sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.”  Bagi Lukas ini berbeda.  Lukas sengaja menempatkan pencobaan di Bait Allah sebagai klimaks sebab bagi Lukas Bait Allah dan Yerusalem adalah puncak pencobaan terakhir yang paling sulit yang akan dihadapi Yesus.  Sebab di sana Ia akan disiksa, ditolak, dihina dan dibunuh justru oleh orang-orang yang seharusnya melayani Dia, para imam-imam Bait Allah dan tetua-tetua (perhatikan bahwa tidak seperti Lukas yang eksplisit menyebut nama Yerusalem, Matius justru hanya menyebutnya dengan “Kota Suci”).  Lagi-lagi kita melihat bahwa sejak awal Lukas ingin menegaskan bahwa Yesus sangat mengerti bahwa tujuan-Nya ke Yerusalem adalah demi menderita dan mati.  Tapi lagi-lagi tidak sedikit pun terlihat Yesus ingin mengingkari panggilan ini, bahkan tatkala popularitas dan ketenaran mulai menghinggapi diri-Nya.  Lihat saja apa yang dipaparkan beberapa ayat berikut:

 

Kemudian Yesus berjalan keliling dari kota ke kota dan dari desa ke desa sambil mengajar dan meneruskan perjalanan-Nya ke Yerusalem (13:22).

 

Tetapi hari ini dan besok dan lusa Aku harus meneruskan perjalanan-Ku, sebab tidaklah semestinya seorang nabi dibunuh kalau tidak di Yerusalem (13:33).

 

Yerusalem, Yerusalem, engkau yang membunuh nabi-nabi dan melempari dengan batu orang-orang yang diutus kepadamu! Berkali-kali Aku rindu mengumpulkan anak-anakmu, sama seperti induk ayam mengumpulkan anak-anaknya di bawah sayapnya, tetapi kamu tidak mau (13:34).

 

Dalam perjalanan-Nya ke Yerusalem Yesus menyusur perbatasan Samaria dan Galilea (17:11).

 

Yesus memanggil kedua belas murid-Nya, lalu berkata kepada mereka: “Sekarang kita pergi ke Yerusalem dan segala sesuatu yang ditulis oleh para nabi mengenai Anak Manusia akan digenapi (18:31).

 

Untuk mereka yang mendengarkan Dia di situ, Yesus melanjutkan perkataan-Nya dengan suatu perumpamaan, sebab Ia sudah dekat Yerusalem dan mereka menyangka, bahwa Kerajaan Allah akan segera kelihatan (19:11).

 

Dan setelah mengatakan semuanya itu Yesus mendahului mereka dan meneruskan perjalanan-Nya ke Yerusalem (19:28).

 

Fokusnya tetap sama dan satu.  Tidak berubah, tidak tergoyahkan.  Panggilan untuk mati dan menderita demi keselamatan umat itu tetap terpatri dalam hati Yesus.  Tentu Iblis terus menggodai-Nya (4:13) tapi fokus kepada agenda Bapa-Nya itulah yang membuat-Nya tetap konsisten dalam panggilan pemuridan!

 

Dalam konteks inilah sebenarnya panggilan seorang murid Kristus diberikan pada ayat 57-62.  Kalau Kristus yang adalah Allah dan menjelma menjadi manusia saja terus konsisten dan tidak tergoyahkan dalam mengerjakan agenda-agenda Bapa-Nya, maka setiap orang yang mau menjadi murid-Nya pun sepatutnya dan seharusnya memikirkan baik-baik hal ini.  Bagi saya pemuridan bukanlah bicara sekadar soal ikut KTB, Komsel, menyelesaikan bahan KTB, dll.  Pemuridan bicara soal apakah dalam hidup kita, kita tidak pernah terpesona dengan yang lain selain Allah yang sudah menyatakan diri di dalam diri Yesus Kristus.  Pemuridan bicara soal apakah kita tetap teguh tak tergoyahkan serta konsisten hidup dan menghidupi agenda-agenda ilahi dalam dunia yang penuh daya tarik kedagingan ini. Bahkan bukan itu saja, kita berani untuk melepaskan dan membuang apa pun juga yang mungkin menjadi penghalang kita untuk mencintai Dia dan agenda-agenda-Nya.

Kalau kita mencermati dengan seksama percakapan ketiga orang dalam teks ini dengan Yesus maka sebenarnya kita akan melihat betapa radikalnya panggilan pemuridan Yesus sebenarnya kepada setiap orang saat itu.  Bahkan yang menarik, John Nolland, seorang penafsir mengatakan bahwa keradikalan panggilan Yesus ini, “with its priorities that displace even the most solemn and sacred of filial obligations.    

Gambaran pentingnya perjalan ke Yerusalem untuk ditolak, dihina dan dibunuh ini kembali memulai teks pembahasan kita pada ayat 57 ini, “Ketika Yesus dan murid-murid-Nya melanjutkan perjalanan mereka. . . .”  Jelas melanjutkan perjalanan di sini berkaitan dengan visi ilahi yang sudah dipaparkan Yesus berulang-ulang pada pasal 9 ini.  Seolah-olah Lukas tidak ingin pembacanya sedikit pun beralih dari background/latar belakang ini sebelum akhirnya ia memaparkan karakter ketiga tokoh dalam kisah ini.  Dan tampaknya dalam konteks ini pulalah karakter pertama ini bertanya.  Dalam pertanyaan ini sebenarnya Lukas ingin mengarahkan kita bahwa karakter pertama ini berkeinginan untuk mengikut Yesus dalam perjalanan-Nya menuju Yerusalem. Tidak seperti Matius yang menyebutkan bahwa sang tokoh di sini adalah seorang ahli Taurat, Lukas sama sekali tidak menyebut siapa tokoh ini.  Jelas perbedaan ini terjadi karena lagi-lagi kembali kepada soal tujuan dari masing-masing Injil.  Karena Injil Matius lebih ditujukan kepada orang Yahudi tidak heran siapa tokoh ini perlu dicantumkan.  Ini beda dengan Lukas yang lagi-lagi harus kita ingat sedang menggiring para pembaca (termasuk kita) untuk secara perlahan-lahan namun pasti mengikuti jejak langkah Yesus menuju puncak di Yerusalem.  Ia tidak terlalu mau memusingkan kita dengan siapa yang bertanya.  Saya setuju dengan apa yang dikatakan Nolland berkaitan dengan bagian ini, “We will never know about the man, because his story is told for its challenge to us. We do not know how he responded to Jesus’ words, but we do know what our own response is. Bagian ini sebenarnya diberikan untuk menantang setiap pembaca kitab ini, termasuk kita, yang mengatakan diri sebagai orang-orang yang dengan rela hati mau mengikut Yesus.  Sungguhkah kita mau mengikut Yesus?  Sudah tahukah kita bahwa mengiring Dia adalah pengiringan yang penuh risiko, kendala, ancaman bahkan kematian?

Dari jawaban Yesus pada ayat selanjutnya (ay. 58), jelas Yesus mengetahui motivasi orang yang bertanya ini. Ya, mungkin sekali ia ingin berada dalam lingkaran inner circle Yesus karena ingin menyaksikan karya-karya ajaib Yesus dan bahkan menjadi bagian dari Yesus pada saat Ia menjadi Raja-Mesias menurut versi orang Yahudi (bdk. ay. 46-48).  Homer, seorang pujangga Yunani besar pernah mengekspresikan perasaan yang sangat sentimen bahwa binatang-binatan buas bahkan lebih terlindungi dan menetap daripada manusia.  Tampaknya ini juga yang hendak diekspresikan Yesus lewat kalimatnya pada ayat 58 ini; alam menyediakan tempat yang nyaman dan aman bagi binatang liar dalam perjalanan mereka, namun tidak demikian dengan “Anak Manusia,” yang tidak secara otomatis dapat menikmati perlindungan seperti mereka.  Kalau demikian apa yang dimaksud oleh Yesus?  Ya, Yesus seolah-olah ingin memberikan gambaran kepada setiap orang yang bertanya, pada saat itu dan kita pada masa kini bahwa bagi mereka yang mau hidup dalam berita Kerajaan-Nya, dunia bukanlah tempat yang aman.  Bagi mereka yang sungguh-sungguh mau mengikut Yesus, perjalanan ke Yerusalem adalah perjalanan yang sangat berbahaya, penuh risiko dan kendala.  Berkebalikan dengan harapan orang ini, Yesus ingin setiap kita yang membaca teks ini melihat bahwa mengikut Yesus berarti siap untuk mengiring Dia ke Yerusalem.

Percakapan dengan orang kedua dan ketiga merupakan percakapan yang memuat panggilan lebih radikal lagi bagi orang-orang yang benar-benar ingin mengiring Dia.  Percakapan dengan orang kedua dan ketiga ini menantang kebiasaan yang bahkan paling dianggap sakral dalam kehidupan orang Yahudi saat itu. 

Kalau melihat text flow dari teks ini tampaknya orang kedua dan ketiga sangat mungkin sudah mendengar perkataan Yesus kepada orang yang pertama.  Dari respons yang diberikan oleh kedua orang ini tampaknya tantangan Yesus kepada orang pertama berupa tidak punya tempat yang memproteksi dari ancaman, dapat mereka atasi.  Namun masalah tidak selesai, karena ternyata mereka tidak langsung, dengan seketika, mengikut Yesus.  Ada satu proposal yang diajukan oleh kedua orang ini, dan ini berhubungan dengan tanggung jawab sosial-keagamaan yang teramat penting dalam kehidupan orang Yahudi pada masa itu. 

Satu hal harus kita mengerti bahwa tanggung jawab terhadap keluarga pada budaya pada masa itu sangatlah penting dan bukan sekadar sebuah tanggung jawab yang lahir dari sebuah norma sosial.  Tanggung jawab ini lebih jauh lahir dari sebuah keyakinan religius yang ketat pada masa itu.  Mengutip Martin Hengel, seorang teolog PB, Nolland bahwa He who is confronted by a dead relative is freed from reciting the Shema, from the Eighteen Benedictions, and from all the commandments stated in the Torah.  Bayangkan, kematian seseorang sanak keluarga bahkan membuatnya dapat memperoleh dispensasi untuk dibebaskan dari melakukan perintah Taurat!  Betapa krusial, sakral dan tingginya tugas dan tanggung jawab ini di mata masyarakat Yahudi saat itu.  Tanggung jawab penting terhadap penguburan orang tua ini juga terlihat dari nada kefrustasian yang dicatat dalam Tobit 6:15, karena ia adalah seorang anak tunggal:

. . . .  Aku ini anak tunggal ayahku dan aku tidak mau mati dan begitu membawa hidup ayah dan ibuku ke liang kubur karena kesedihan atas diriku.  Anak lain tidak ada pada mereka untuk menguburkannya.

Dari perbandingan dengan teks Tobit ini saya tampaknya lebih setuju kalau sebenarnya kondisi orang tua dari orang ke dua ini sepertinya telah meninggal atau ada pada kondisi sekarat dan hampir mati.  Nolland benar dalam hal ini dengan mengatakan bahwa kebanyakan prinsip penafsiran terhadap ayat ini cenderung mencoba untuk mereduksi radikalnya makna panggilan Yesus terhadap orang ini.  Saya yakin tentu Tuhan tidak bermaksud untuk menghalang-halangi seseorang menguburkan orang tuanya.  Yang mau ditekankan di sini adalah aspek urgensitas dan prioritas Kerajaan Allah dan melekat kepada Yesus tidak boleh dinomorduakan oleh apa pun juga, walaupun itu tanggung jawab yang melebihi tanggung jawab kepada Taurat sekalipun.  Hal ini juga dialami oleh seorang tokoh PL, Yehezkiel (24:15-24) yang dilarang berkabung secara normal oleh Allah pada saat isterinya mati. Tugas ilahi jauh lebih penting daripada tugas apa pun di dunia ini.  Ikatan kepada Yesus harus lebih kuat daripada ikatan apa pun di dunia ini, termasuk keluarga.

Urgensitas panggilan Yesus ini juga dapat dicermati lewat apa yang dipaparkan kepada orang ketiga.  Banyak orang yang mengaitkan kisah ini dengan pemanggilan Elisa.  Dalam kisah itu, Elisa masih diberi kesempatan untuk meminta izin kepada keluarganya.  Berbeda dengan Elisa, Tuhan melarang sama sekali orang ini untuk bahkan meminta izin sekali pun.  Apa artinya?  Tentu karena tugas pemberitaan Kerajaan Allah yang dibawa Yesus jauh lebih urgen daripada apa yang dulunya dialami Elisa.   

 


Aksi

Information

One response

7 10 2008
Lestari

Gabung di CIBfest Zone jawaban.com donk… salam kenal yah… i just wondering if u were my classmate at elementary school…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: