Menyertakan Tuhan dalam Setiap Perencanaan: Suara Allah Kepada Para Pebisnis

7 09 2008

Yakobus 4:13-14

 

quam stultum est aetatem disponere ne crastini quidem dominum[1]

 

“O quanta dementia est spes longas inchoatium!”[2]

 

Seneca

 

Ayat-ayat yang baru kita baca tadi secara jelas berbicara tentang kritik rasul Yakobus kepada sekalangan pengusaha atau lebih tepatnya para pedagang Yahudi-Kristen yang tampaknya tidak menghiraukan Tuhan dalam bisnis mereka.  Kenyataan apa yang sebenarnya sedang terjadi dalam jemaat penerima surat Yakobus ini?

 

Dari nada teguran Yakobus yang sangat keras—terjemahan yang lebih tepat untuk kata “jadi” pada ayat 13 (juga 5:1) adalah “Sekarang datanglah, hai kamu yang berkata. . .,” yang tampaknya merupakan nada tantangan—kelihatannya telah terjadi kesalahan yang sangat serius dilakukan oleh para pengusaha Yahudi-Kristen ini.  Kesalahan apa itu?

 

Akar dari kesalahan mereka dapat kita temukan melalui penelusuran secara perlahan pada bagian-bagian sebelum dan sesudah perikop pembacaan kita ini. 

 

Memang kalau kita pelajari secara ringkas, maka tampaknya bagian sebelumnya—4:1-12 yang berbicara tentang pertengkaran dan pertikaian dalam jemaat (4:1), saling memfitnah dan menghakimi (4:11-12)—dan bagian sesudahnya—5:1-6 yang berbicara tentang sikap manipulatif dan semena-mena orang kaya terhadap orang-orang upahan (5:4-6)—tampaknya tidak punya kait-mengait dengan pembicaraan dengan kesalahan pebisnis yang melupakan Tuhan dalam perencanaan.  Tapi kalau kita perhatikan dengan seksama dan teliti seluruh surat Yakobus ini maka sebenarnya ada satu pokok pikiran yang sedang Yakobus kemukakan yang menjadi benang merah yang menyatukan bagian-bagian yang tampaknya terpisahkan itu. 

 

Saya yakin kita semua tahu dengan baik tema dari kitab Yakobus ini yang terdapat di dalam 2:17, “Demikian juga halnya dengan iman: Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati.”  Dan pada penjelasannya, Yakobus mengangkat isu-isu moral-praktis yang tampaknya diabaikan dan dianggap remeh oleh jemaat penerima surat saat itu dengan menanggap bahwa cukup dengan percaya akan adanya Tuhan dan menjalankan aktivitas ibadah, tanpa perlu taat seutuhnya kepada-Nya dan mengamalkan ajaran-Nya hari lepas hari (bukan hanya saat hari ibadah saja), mereka tidak mengalami masalah yang serius di hadapan Tuhan.  Dan menariknya ada satu masalah jemaat yang terus diulang dan diangkat oleh Yakobus yang membuat iman dari jemaat ini mati: yakni perihal kesombongan/arogansi. 

 

Kalau kita lihat pasal 2:1-11 maka kita temukan di sana satu masalah serius di mana terjadi pembedaan yang dilakukan di dalam gereja Tuhan antara jemaat yang kaya dengan yang miskin di dalam gereja Tuhan.  Para tokoh di gereja menyambut dengan sangat ramah orang-orang kaya dan bercincin (hanya orang-orang kaya dan pejabat yang dulu memakai cincin/ay. 2-3), dan membuang/merendahkan orang-orang miskin (ay. 4).  Berikutnya mulai pasal 3-5, Yakobus memaparkan dosa-dosa lidah yang kesemuanya bersumber dari kesombongan/keangkuhan.  Misalnya dalam 3: 14 timbul masalah iri hati dan saling menjelek-jelekkan satu dengan yang lain (berhikmat-bodoh) karena masalah kesombongan; demikian pula dicatat dalam 4:1, 6, 9-10.  Timbulnya fitnah-memfitnah pada ayat 11-12 juga tampaknya berakar dari keinginan kuat satu pihak dengan pihak yang lain untuk tidak mau diremehkan dan selalu mau diunggulkan (kata “memfitnah” berasal dari akar dua kata yakni: kata (bawah, rendah) dan laleo (berbicara) = lit. berbicara merendahkan).  Dan tentu saja perilaku manipulatif dan biadab dari para orang-orang kaya pada 5:1-6 tidak lain dan tidak bukan bersumber dari kesombongan hati dan menganggap bahwa orang lain rendah.

 

Dan inilah alasan utama mengapa pada akhirnya pebisnis-pebisnis Yahudi-Kristen ini melupakan Tuhan, ya, kesombongan mereka (ay. 16).  Parahnya, kalau dalam bagian-bagian tadi orang-orang merendahkan orang lain, maka pada bagian ini mereka (memang) tidak sedang merendahkan orang lain, tapi secara langsung mereka sedang merendahkan Tuhan.  Namun pertanyaan yang lebih jauh kita perlu tanyakan adalah bentuk kesombongan seperti apa yang mereka lakukan terhadap Tuhan dan mengapa pada akhirnya mereka melupakan Tuhan dalam perencanaan mereka?

 

Satu hal yang perlu kita ingat bahwa Yakobus tidak pernah menentang seseorang untuk menjadi kaya.  Uraian yang cukup panjang lebar dan tajam yang diuraikan oleh Yakobus tentang orang-orang kaya dalam jemaat penerima surat saat itu bukanlah soal kekayaan yang mereka miliki, melainkan sikap mereka terhadap kekayaan itu dan bagaimana kekayaan mereka mempengaruhi sikap mereka kepada Tuhan.  Dan inilah yang menjadi alasan utama dari teguran keras Yakobus.  Perlu kita ketahui bersama bahwa kata “congkak” (ay. 16) bukanlah sombong dalam arti biasa.  Seorang penafsir, Ralph Martin mengatakan bahwa kata ini sering dikaitkan dengan perilaku sombong dari orang-orang ateis/orang-orang kafir (duniawi) yang tidak ber-Tuhan (bdk. 1Yoh. 2:16, “Sebab semua yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup, bukanlah berasal dari Bapa, melainkan dari dunia).  Dan kalau kita lihat kata “memegahkan” dan “kemegahan” pada ayat 16, dua kata ini berasal dari kata Yunani yang sama kaukhaomai yang biasanya hanya diberikan kepada Allah dan Kristus (bdk. 1Tes. 2:19) dan kini dipakai oleh para pebisnis ini untuk diri mereka.  Dengan kata lain apa yang dilakukan oleh para pebisnis ini jauh dari sekadar menyombongkan kekayaannya.  Mereka bahkan menyingkirkan Tuhan dari skema rencana/planning mereka dan menganggap bahwa tanpa Tuhan rencana mereka tidak mungkin gagal.  Ya, kesimpulan singkatnya, “merekalah tuhan itu sendiri, “They’re the god themselves.”  Pada akhirnya tujuan bisnis dan usaha itu bukanlah untuk memuliakan Allah tapi untuk menumpuk uang/harta sebanyak mungkin tanpa menghiraukan caranya (5:4-5).  Jangankan manusia, Allah saja mereka hiraukan. 

 

Apa yang membuat sampai mereka bersikap seperti ini?  Jelas, uang banyak yang mereka miliki membuat mereka merasa aman dan nyaman dengan posisi mereka.  Tapi tampaknya bukan hanya itu.  Ketrampilan bisnis yang mereka kuasai, relasi –relasi bisnis yang kuat baik dengan sektor swasta maupun pemerintah (bdk. 2:2-4) tampaknya turut mendukung sikap ini dari para pebisnis.  Apakah mereka beribadah?  Tentu saja mereka tetap beribadah tapi tujuannya bukan untuk bersandar pada Tuhan.   

 

Kita tentu ingat peristiwa krismon tahun 1998 yang membuat banyak orang yang jaya dalam bisnis sekalipun gulung tikar.  Di Surabaya sendiri saya mendengar banyak orang yang mendadak “gila” karena kebangkrutan yang mendadak dan tiba-tiba di tengah usaha yang sedang menanjak pesat.  Suatu hal yang mustahil!

 

Mari kita mencari kehendak Tuhan pada saat memulai sebuah usaha; sebab biasanya banyak pengusaha/pedagang yang mengadakan kebaktian saat usahanya sudah mau mulai berjalan.  Jarang sekali ada pengusaha mulai berdoa tatkala ia baru mau merencanakan.  Biasanya dia sudah punya konsep dan sudah diupayakan baru terakhir tinggal peresmian konsepnya dengan mengadakan kebaktian.  Tidak lebih dari penyerahan proposal ke Tuhan dan Tuhan tinggal teken saja tanpa perlu banyak protes.


[1]how foolish it is to arrange one’s life, when one is not even a master of tomorrow!” 

[2]What madness it is [to build upon] far-reaching hopes!”       


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: