The Signs of True Revivalist

16 08 2008

Kisah Para Rasul 2:41-47

Pendahuluan

Baru-baru ini saya membaca kesaksian seorang pendeta terkenal, Rick Warren yang menulis buku best seller, The Purpose Driven Life yang laris terjual 15 juta kopi sampai pertengahan tahun 2007 (saat ini sudah laris 25 juta kopi).  Dalam majalah Times edisi 2005 ia masuk dalam salah satu dari 100 tokoh paling berpengaruh dunia pada tahun itu, dan dari 100 tokoh itu hanya dua orang yang berasal dari kalangan rohaniwan Kristen, dan tokoh yang lain adalah John Stott.  Ia juga adalah seorang yang menggembalakan sebuah Gereja Saddleback Church, California, dengan jumlah jemaat yang sangat fantantis, bahkan mencapai angka ribuan orang. 

Saat sejenak merenungkan kisah hamba Tuhan ini, saya sangat terkesan bercampur kagum dengan performa yang telah beliau berikan dalam pelayanannya sampai hari ini.  Bahkan saya berpikir tentulah ciri ideal seorang hamba Tuhan sejati dan yang dipakai Tuhan adalah seperti beliau ini:  punya pengaruh yang luas, pengikut yang banyak, menulis buku yang dibaca jutaan orang dan masuk menjadi salah satu tokoh legendaris di dunia.  Namun saya sangat tertarik saat membaca kesaksian terakhir yang beliau tuliskan pada saat beliau telah berada pada titik puncak “karir” pelayanan beliau:

Orang-orang bertanya kepada saya apa yang menjadi tujuan hidup dan saya menjawab, secara sederhana hidup adalah untuk kekekalan dan kita diciptakan untuk kekekalan dan Allah ingin kita ada dengan dia di Surga.  Satu hari jantung saya akan berhenti dan itu berarti kesudahan tubuh saya tapi bukan akhir dari saya.  Saya bisa saja hidup 60-100 tahun di bumi. Tapi saya akan menghabiskan triluyuan tahun dalam kekekalan.  Hidup sekarang hanyalah suatu pemanasan.  Tuhan ingin agar kita mempraktikkan di bumi hal-hal yang dapat kita lakukan selama di kekekalan.  Kita diciptakan oleh Tuhan dan untuk Tuhan.  Dan sebelum anda bisa mengerti dan menerima hal itu hidup tidak akan masuk akal.  Hidup terdiri dari serangkaian masalah.  Apakah anda sedang ada di dalam salah satunya sekarang atau anda baru saja keluar dari salah satu masalah atau anda sedang bersiap masuk dalam masalah yang lain. Alasan dari semuanya ini adalah bahwa Tuhan masih tertarik dengan karakter anda daripada kenikmatan anda.  Tuhan lebih tertarik untuk mengubah hidup anda menjadi kudus daripada membuat hidup anda bahagia.  Kita dapat menjadi sangat bahagia di dunia ini tapi itu bukanlah tujuan dari hidup.  Tujuan hidup adalah bertumbuh di dalam karakter menjadi serupa seperti Kristus.  Tahun terakhir ini telah menjadi tahun terbaik dalam hidup saya dan juga tahun terburuk dengan istri saya.  Kay didapati menderita kanker.  Dulu saya berpikir hidup terdiri atas bukit dan lembah.  Anda melalui saat2 gelap kemudian mengalami saat2 puncak.  Bergantian secara berulang2.  Saya tidak lagi percaya hal itu sekarang.  Bukannya hidup terdiri dari gunung dan lembah melainkan saya percaya hidup adalah seperti dua sisi kiri dan kanan dari sebuah jalur KA.  Yang mana anda akan mengalami hal baik dan buruk bersamaan setiap waktu.  Tak peduli betapa baiknya hidup anda selalu ada hal buruk yang perlu anda atasi.  Dan tidak peduli betapa buruknya hidup anda selalu ada hal baik yang anda bisa ucapkan syukur bagi Tuhan.  Anda bisa fokus pada tujuan2 anda.

Anda harus belajar cara mengatasi hal yang baik maupun hal yang buruk dalam hidup anda.  Sebenarnya kadang-kadang belajar untuk mengatasi hal yang baik bisa lebih sulit.  Misalnya tahun terakhir ini tiba2 saja saat buku tersebut terjual 15 juta kopi saya menjadi sangat kaya mendadak.  Hal ini juga memberikan ketenaran yang tidak pernah saya hadapi sebelumnya.  Menurut saya Tuhan tidak memberikan kita kekayaaan dan ketenaran untuk ego kita sendiri atau supaya hidup menjadi enak.  Jadi saya mulai bertanya kepada Tuhan apa yang Ia ingin saya lakukan dengan uang, ketenaran dan pengaruh ini.  Tuhan memberikan dua pasal menarik yang membantu saya membuat keputusan 2Kor. 9 dan Mzm. 72.  Pertama, walaupun banyak uang yang mengalir masuk kami tidak akan mengubah gaya hidup kami sedikit pun. Kami tidak membeli barang2 mewah.  Kedua, kira2 pertengahan tahun lalu saya berhenti mengambil gaji dari Gereja.  Ketiga, kami mendirikan organisasi yang disebut The Peace Plan untuk mendapati Church Planting, pelatihan pemimpin, pertolongan bagi yang miskin, pengobatan bagi yang sakit dan pendidikan bagi Generasi penerus. Keempat, saya mengakumulasikan seluruh gaji yang dibayarkan Gereja kepada saya selama 24 tahun terakhir sejak saya memulai Gereja tersebut dan mengembalikan semuanya.  Sungguh membebaskan saat saya bisa melayani Tuhan secara gratis!

 

Saat membaca kesaksian ini saya sungguh terharu dan memahami bahwa ciri seorang pelayan Tuhan yang sejati dan yang sungguh-sungguh dilawat dan diperkenan Allah tidaklah ditunjukkan dari seberapa tenar, terkenal, kaya dan luasnya pengaruh yang diberikannya.  Ciri seorang pelayan Tuhan yang dilawat dan diperkenan Tuhan adalah mereka yang secara konsisten terus mengarahkan hati menyembah dan berfokus kepada Tuhan yang maha tinggi, serta makin merendahkan hati walaupun status dan pengaruhnya makin berkembang luas di mana-mana.

Menurut saya konsep dipakai Tuhan dan konsep berbuah yang dimengerti anak-anak Tuhan sampai hari ini pun menurut saya banyak yang keliru.  Orang yang dikatakan berbuah atau dipakai Tuhan selalu dikaitkan dengan sukses dalam hal banyak pengikut, makin tenar, makin populer dan makin kaya.  Bahkan dalam percakapan dengan beberapa hamba Tuhan mengatakan bahwa saat ini konsep hamba Tuhan yang berhasil selalu dikaitkan dengan: sekolah teologi keluar negeri, diundang khotbah di mana-mana, anak studi ke luar negeri.

John Stott sendiri, seorang yang termasuk salah satu tokoh Times bersama Warren, bukan hanya terkenal karena pikiran-pikirannya yang bernas dan cerdas tapi juga karena hidupnya yang begitu totalitas di hadapan Tuhan. Setahu saya bapa Stott tidak menikah dan hanya hidup di sebuah flat kecil di kota London dan semua uang yang diperolehnya dipersembahkan kembali bagi Langham Partnership, sebuah lembaga misi yang mendorong kegerakan pembinaan jemaat, peningkatan kualitas SDM teologi dan literatur di negara-negara dunia ke-3.

Melihat hidup orang-orang saleh ini saya hanya berkesimpulan bahwa ciri utama seseorang yang berbuah dan berhasil dalam pelayanan dan yang dilawat/diperkenan Allah, tidak sekadar diukur dari apa yang dapat dan telah ia lakukan dan perkatakan selama hidupnya melainkan apa yang sesungguhnya terjadi dan membawa dampak dari hidupnya; seperti yang dikatakan Darrell Bock, seorang teolog PB dalam refleksinya terhadap teks kita ini, “Their life as a community was a visible part of their testimony. . . .  One can share Christ not only by what one says about him but also by showing the transformation that following him brings about.”

 

 

Pembahasan

Teks kali ini sebenarnya dituliskan Lukas sebagai bagian kesimpulan dari kegerakan awal kekristenan yang dimulai dengan peristiwa Pentakosta.  Kalau kemarin kita membahas apa yang semestinya terjadi dengan umat (“fokus kepada Kristus” dan “bertobat”—meninggalkan sungguh-sungguh agenda-agenda pribadi) agar Allah melawat mereka, maka pada bagian ini kita dihantar untuk memahami apa yang semestinya/sewajarnya terjadi dalam sebuah revival (kebangungan rohani) yang sejati dari sebuah persekutuan.  Dan ini juga sekaligus ingin menekankan kepada setiap kita bahwa sebuah lawatan Allah/kehadiran Allah dalam hidup seseorang pasti dan tidak mungkin tidak, akan membawa dampak dalam hidup seseorang dan komunitas tempatnya berada.  Dan aspek itulah yang ditunjukkan dengan jelas oleh kata “ . . . persekutuan. . . .” pada ayat 42.  Dalam teks kita tidak terlalu terlihat jelas penekankan yang diberikan tapi dalam bahasa asli terdapat definite article, ”te” (the) di depan kata ini (yun. Koinonia).  Dengan demikian terjemahan dari kata ini semestinya, “persekutuan itu.”  NIV dengan sangat baik menerjemahkan ayat ini sebagai berikut:

They devoted themselves to the apostles’ teaching and to the fellowship, to the breaking of bread and to prayer.

Dengan kata ini seolah-olah Lukas ingin menjelaskan kepada kita bahwa perkumpulan orang-orang percaya pertama itu terlihat sangat berbeda dan perbedaan itu sangat mencolok bila dibandingkan dengan perkumpulan-perkumpulan agamawi orang Yahudi, yang lebih mapan, yang juga marak saat itu, seperti kumpulan orang-orang Farisi, Saduki, Zelot, maupun Esenit. Perbedaan paling mencolok yang dipaparkan Lukas dalam ayat 42 lewat kata “bertekun.”  Kata ini berasal dari kata Yunani proskartereo.  Kata ini punya tendensi: keteguhan hati dan daya tahan dalam menghadapi sesuatu.  Dari 10 kali kemunculan kata ini di PB, 6 kali kata ini muncul dalam Kitab ini (1:14; 2:42, 46; 6:4; 8:13; 10:7).  Dari ayat ini kita dapat menyimpulkan bahwa ketekunan mereka di sini dikaitkan dengan pengajaran, doa dan persekutuan.  Pengajaran di sini merujuk kepada pengajaran rasul yang fokusnya pasti adalah Yesus Kristus (bdk. Mat. 28:19-20) dan doa di sini menekankan kebergantungan penuh komunitas Gereja perdana ini kepada Allah.  Luar biasa!  Di tengah-tengah tantangan yang tidak mudah untuk mengakui Yesus sebagai Tuhan saat itu, mereka bertekun dan teguh untuk terus fokus pada Yesus dan bergantung pada kehendak-Nya.  Lagi-lagi ini menegaskan berita bagaimana mereka terus fokus pada Yesus seperti khotbah Petrus

Menariknya, mayoritas dari kemunculannya, kata ini lebih diarahkan kepada ketekunan para para murid pertama itu dalam kesehatian mereka untuk hidup bersama-sama dalam satu komunitas (1:14).  Dan yang menarik juga, kata ini berbentuk imperfek yang menegaskan kepada kita bahwa ketekunan mereka dalam bersekutu dan bersehati ini adalah ketekunan yang terus-menerus terjadi di antara mereka.  Ini tentu bukan hal yang mudah.  Mengapa ini bukan hal yang mudah?  Istilah koinonia sebenarnya berasal dari akar kata koina (atau koinos) yang berarti in common.  Nah, yang menarik, dalam Markus 7:2 kata ini diterjemahkan “najis,” (Kis. 10:28; Ro. 14:14; Ibr. 10:29) dalam Kis. 10:14 diterjemahkan “haram,”(11:8).  Dengan demikian sebenarnya definisi yang diberikan oleh istilah “bersama” di sini tidaklah netral.  Istilah ini adalah istilah yang sangat bernuansa religius (agamawi).  Lawan/anti dari kata ini sendiri adalah istilah yang sangat penting bagi orang Yahudi, qadosh/hagios (kudus) yang secara hurufiah berarti separate (“terpisah.” Istilah Farisi dekat dengan makna ini.  Kata Farisi berasal dari kata ibrani Perushim atau kata Yunani parash yang berarti the separated ones).  Dengan demikian, persekutuan orang-orang percaya ini adalah persekutuan yang turut dihadiri oleh orang-orang yang dianggap bukan orang-orang qadosh/hagios, atau dapat dikatakan orang-orang yang dipandang najis oleh masyarakat Yahudi saat itu.  Dengan kata lain, ditengah-tengah pandangan miring masyarakat umum saat itu terhadap orang-orang yang dianggap tidak kudus/kafir, mereka terus-menerus tekun dan tidak henti-hentinya bahkan semakin bertekun untuk bersekutu dengan orang-orang tersebut.  Lihat apa yang menarik dari persekutuan ini! Di tengah-tengah kelompok-kelompok agamawi saat itu yang terus berupaya menjaga dan memproteksi sedemikian rupa “kemurnian” atau “keterpisahan” kelompoknya dari unsur-unsur kafir dan dari orang-orang yang dianggap para pendosa, kelompok ini justru menjadi tempat di mana kelompok-kelompok termarginalkan, kelompok-kelompok terbuang dan dianggap sampah masyarakat itu dalam hati mereka!  Semakin tekunnya kelompok unik dan mungkin “aneh” bagi lingkungan Yudaisme saat itu untuk mengasihi dan menerima orang-orang terbuang, menandaskan betapa mereka tidak hanya menerima tapi juga mengasihi dengan luar biasa orang-orang yang dianggap oleh kaum Yudaisme tidak layak bagi Kerajaan Surga itu!  Semakin “aneh” status/latar belakang seseorang bagi komunitas Yudaisme saat itu, semakin kelompok ini menerima mereka dengan tangan yang terbuka.  Hal ini sebenarnya smakin terlihat tatkala kita memperhatikan bagaimana ayat 42 dan 46 menjelaskan bahwa mereka selalu berkumpul untuk “memecahkan roti.”  Memang ada banyak perdebatan tentang makna dari istilah ini: apakah menunjuk kepada perjamuan kudus ataukah menunjuk kepada perjamuan makan umum; tapi saya sepakat dengan pandangan Darrell Bock bahwa terlepas dari apa pun maknanya, yang mau ditekankan lewat makan bersama ini adalah penerimaan yang luar biasa dari seseorang kepada orang yang diajak makan, “Either way, the phrase suggests the intimate interaction and mutual acceptance. . . .”   Dan menurut saya inilah salah satu ciri utama yang nampak saat seseorang atau sebuah persekutuan mengalami kehadiran Allah, ia belajar untuk mencintai orang lain, termasuk kalangan yang umumnya dalam komunitas tempat ia bertumbuh selama ini dipandang sebagai kelompok aneh; sebab itulah agenda yang Tuhan mau bahwa kita saling mengasihi satu dengan yang lain:

“Tetapi sesudah itu Aku akan memberikan bibir lain kepada bangsa-bangsa, yakni bibir yang bersih, supaya sekaliannya mereka memanggil nama TUHAN, beribadah kepada-Nya dengan bahu-membahu. Dari seberang sungai-sungai negeri Etiopia orang-orang yang memuja Aku, yang terserak-serak, akan membawa persembahan kepada-Ku (Zef. 3:9-10)

Tetapi tidak selamanya akan ada kesuraman untuk negeri yang terimpit itu. Kalau dahulu TUHAN merendahkan tanah Zebulon dan tanah Naftali, maka di kemudian hari Ia akan memuliakan jalan ke laut, daerah seberang sungai Yordan, wilayah bangsa-bangsa lain. Bangsa yang berjalan di dalam kegelapan telah melihat terang yang besar; mereka yang diam di negeri kekelaman, atasnya terang telah bersinar (Yes. 8:23-9:1)

è  perhatikan inilah nubuat yang digenapi di dalam Matius 4:12-13 dan ini pulalah alasan mengapa Tuhan Yesus menghabiskan hampir seluruh masa pelayanan-Nya untuk diam di tengah-tengah bangsa yang dianggap kafir.  Perhatikan pula bahwa mayoritas murid Yesus adalah orang-orang Galilea.

Dalam hal ini tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus (Gal. 3:28).

“Serigala dan anak domba akan bersama-sama makan rumput, singa akan makan jerami seperti lembu dan ular akan hidup dari debu. Tidak ada yang akan berbuat jahat atau yang berlaku busuk di segenap gunung-Ku yang kudus, ‘firman TUHAN’” (Yes. 65:25)

Bagi saya setelah mempelajari teks ini sangat aneh kalau seseorang yang katanya betul-betul bertobat namun masih memiliki kecurigaan dan kebencian-kebencian yang tidak pada tempatnya kepada kelompok-kelompok tertentu. Saya sungguh yakin kalau seseorang itu benar-benar dilahirbarukan oleh Kristus, hatinya akan menjadi sumber mata air belas kasihan Allah bagi orang lain dan bukan menjadi sumber kecurigaan.  Maka dengan demikian benarlah apa yang dikatakan dalam Yakobus 2:11, untuk orang-orang yang tidak memiliki iman yang benar, “Adakah sumber memancarkan air tawar dan air pahit dari mata air yang sama?”

 

Namun, ada sesuatu yang lebih menarik dipaparkan oleh teks kita tentang hal-hal praktis yang terjadi dalam komunitas “aneh,” akibat lawatan Allah di tengah-tengah mereka.  Coba lihat ayat 42-46. Dalam ayat-ayat ini diperlihatkan bahwa ternyata ketekunan mereka dalam bersekutu tidak sekadar ditunjukkan lewat kehadiran mereka dalam pertemuan-pertemuan rutin yang mereka adakan dan lewat penerimaan mereka terhadap orang-orang yang terbuang.  Dalam ayat 44-45 mereka bahkan dengan murah hatinya memberikan apa yang mereka miliki untuk menolong dan membantu yang lain. Satu hal yang perlu diperhatikan adalah tindakan murah hati mereka ini bukanlah sesuatu yang bersifat komunalisme atau sosialisme-komunis.  Mereka juga melakukan ini bukan karena dipaksa atau karena terpaksa (perhatikan bahwa para rasul tidak pernah mengkhotbahkan soal memberi; bdk. Kis. 5:4). Mereka melakukan ini bukan juga karena tuntutan supaya dianggap sebagai orang yang alim dan saleh dan sungkan kalau tidak memberi (bdk. dengan perilaku orang-orang Esenit).  Perilaku yang orang-orang percaya lakukan ini juga—di mana mereka saling berbagi dengan orang-orang yang sebenarnya koina—sebenarnya adalah perilaku yang tidak wajar dalam budaya saat itu.  Orang-orang Yunani berpandangan bahwa kita harus berbagi hanya dengan para sahabat kita (bdk. 5:43-48).  Ya, dari sisi budaya yang lazim pada masa itu, tidak ada satu alasan logis yang dapat menjelaskan apa yang menjadi dasar tindakan yang dilakukan oleh para murid pertama tersebut selain memang tindakan yang mereka lakukan ini semata-mata adalah tindakan spontan yang memang lahir dari hati yang telah percaya (perhatikan ayat 44).  Istilah “yang telah menjadi percaya” menunjuk kepada mereka yang berespons setelah mendengar khotbah Petrus tentang Kristus dan sungguh-sungguh bertobat dan berbalik dari agenda-agendanya.  Artinya tindakan spontan itu memang lahir karena dorongan Roh Kudus yang telah tinggal dalam hati mereka pada saat Allah melawat komunitas ini!  Tidak ada alasan lain.  Dengan kata lain, ciri utama berikutnya dari seseorang yang mengalami kehadiran dan lawatan Allah adalah tersingkirnya keakuan dan keegoisan dan hadirnya hati yang senantiasa rela untuk melayani orang lain dengan penuh belas kasihan.  Hati seperti ini pulalah yang dimiliki oleh jemaat Makedonia (2Kor. 8:1-5) dan yang juga dimiliki Paulus (1Kor. 9:17-18).  Dan saya yakin itu pula yang dialami oleh hamba-hamba Tuhan pada zaman modern ini seperti Rick Warren, John Stott, William Colgate, Hudson Taylor, C. T. Studd, John Wesley.

 

Apa dampak yang ditimbulkan oleh komunitas ini?  Lihat ayat 43.  Orang banyak “ketakutan” melihat hidup komunitas ini.  Istilah “takut” di sini (yun. Phobos) berulang-ulang dipaparkan Lukas dalam Injilnya untuk menunjukkan respons orang-orang yang menyaksikan demonstrasi karya Allah (1:12, 65; 2:9; 5:26; 7:16; 8:37; Kis. 5:5; 9:31.  Artinya terlepas dari kehadiran Allah memang dapat disaksikan lewat karya ajaib Pentakosta, teks ini juga hendak menekankan bahwa kehadiran Allah betul-betul dapat dinikmati oleh banyak orang tatkala anak-anak Tuhan yang mengalami lawatan Allah tersebut hidup dalam apa yang Allah kehendaki.  Ya, dan bukankah itu seperti yang Tuhan Yesus ungkapkan dalam Yohanes 17:21?

 


Aksi

Information

3 responses

8 09 2008
inyoot

Wanto, si Rick Warren pada buku yang kedua (Purpose Driven Church) sudah mulai menyimpang. Lebih mengutamakan kuantitas banyak. BTW, sudah pernah denger kotbah Paul Washer??

28 09 2008
perdian

Thanks for your response, sobat. Sebagai catatan saya saja, The Purpose Driven Church sebenarnya adalah buku yang ditulis Warren lebih awal (Zondervan, 1995). THe Purpose Driven life justru adalah buku kedua (Zondervan, 2002). Banyak orang yang menurutku terlalu cepat menghakimi Warren. Memang saya setuju, beberapa ayat yang dikutip Warren dalam bukunya The Purpose Driven Life cenderung mengikuti versi terjemahan dinamis dan bukannya literal, sehingga menimbulkan kesan Warren adalah seorang yang suka “comat-comot” ayat. Well, but i think in that book, he really want to share his faith to our One True Lord and not just that, he also want to share his own life which follow the path his Lord prepared him.

6 08 2010
karlin

halo saya baru saja menemukan blog ini,, luar biasa,, sangat memberkati,, artikelnya sangat berkualitas, cocok untuk para pemuda yang kritis. Saya juga setuju dengan pendapat anda akan rick warren. saya juga seringkali heran akan betapa banyaknya orang yang mengkritik rick warren. Saya terus mengingatkan diri bahwa sekalipun saya memiliki seluruh pengetahuan, tetapi tanpa kasih, maka semua itu sia-sia. terus berkarya ya. God bless,,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: