SEMANGAT FINKENWALDE: SEBUAH UPAYA MEMERANGI EKSISTENSI DIRI

16 08 2008

 

When Christ calls a man He bids him come and die.

(Dietrich Bonhoeffer)

 

PENDAHULUAN

Beberapa bulan lalu (21/09/2005) Bapak Nicholas Kurniawan, ketua Departemen Literatur SAAT, memberi penulis sebuah artikel pendek dari majalah BusinessWeek bertajuk: Kerajaan Duniawi: Bagaimana Gereja-gereja Kristen Evangelis Mengadopsi Strategi Bisnis?.  Penulis sangat tertarik dengan artikel ini sebab: pertama, artikel ini membahas tentang gereja-gereja Injili yang lagi “laris manis” dan “naik daun,” yang mana penulis pun termasuk salah satu penganut di dalamnya; kedua, artikel ini tidak dimuat dalam sebuah majalah kristiani melainkan sebuah majalah sekuler dengan pangsa pasar kalangan bisnis.  Melalui dua informasi tersebut penulis kira pembaca yang budiman sudah dapat menebak, kira-kira mau dibawa kemana cerita dalam artikel tersebut.  Ya, anda tepat.  Artikel tersebut sedang mengkritik keberadaan gereja-gereja Injili Amerika Serikat yang sedang nikmat di dalam lingkaran korporasi yang sangat menggiurkan (bahkan kabarnya sekarang ini sedang ada bisnis franchise gereja model McDonald dan KFC).  Apa kesimpulan yang ditarik Businessweek?  Menurut majalah ini, gereja-gereja Injili di Amerika Serikat memakai metode-metode bisnis dalam mengembangkan pelayanan rohaninya, “Terang-terangan mereka mengaku sukses meniru dunia bisnis.  Mereka meminjam ‘alat’ mulai dari pemasaran untuk niche market sampai merekrut lulusan M.B.A guna mendongkrak ‘pangsa pasar’ di AS” (h. 43).

Anda pasti terkejut kalau Businessweek menyebutkan beberapa nama seperti: Bill Hybels, dengan gereja Willow Creek Community Church-nya,  yang sudah tidak asing di telinga kita, bukan?  Atau Joel Osteen dari Lakewood Church, seorang pendeta muda ganteng nan kaya, yang memiliki program TV dengan pemirsa lebih dari tujuh juta orang per minggu.

 

Saat membaca artikel tersebut, satu pertanyaan melintas di dalam benak penulis, “Apa standar sukses tidaknya sebuah pelayanan?  Apakah ia dinilai dari gedung yang megah, memiliki menara yang menjulang atau berbentuk velodrome dengan kapasitas belasan bahkan puluhan ribu tempat duduk?  Sumber dana yang melimpah?  Partisipan dan anggota yang makin bertambah pesat?  Sistem yang mapan?  Memiliki banyak departemen? Atau hamba-hamba Tuhan yang fasih lidah dan bergelar doktor?”

           

BONHOEFFER: KARIR VS PANGGILAN

 

Melihat realitas ini, penulis tertarik untuk mencermati kehidupan seorang teolog bermasa depan cerah, Dietrich Bonhoeffer, yang hidupnya harus berakhir di tiang gantung kamp konsentrasi Flossenburg pada 9 April 1945.

 

Bonhoeffer lahir dari pasangan terpelajar dan terpandang di Berlin.  Ayahnya adalah profesor psikiatri dan neurologi di Universitas Berlin. Sedangkan ibunya, meskipun lebih banyak berperan sebagai ibu rumah tangga, adalah seorang penggemar seni. Kakeknya von Hase adalah seorang pendeta Kaisar Jerman.  Kakek buyutnya, Carl von Hase adalah seorang sejarahwan gereja yang terpandang di Jerman.  Secara genetik, mengalir “darah sukses” dalam diri Bonhoeffer.

 

Menariknya, Ia memiliki sikap hati yang berbeda dari “takdir sukses” yang sudah mengakar kuat dalam keluarganya.  Sejak sangat muda Bonhoeffer justru rindu untuk terlibat dalam pendidikan teologi dan pelayanan gerejawi meskipun saat itu kondisi gereja sangat menyedihkan.  Kondisi gereja yang menyedihkan ini terlontar dari komentar keluarganya saat mencela Bonhoeffer yang hendak masuk pendidikan teologi, a poor, feeble, boring, petty burgeouis institution.”  Kontras dengan sikap skeptik dan sinis keluarganya terhadap gereja, Bonhoeffer justru punya keinginan kuat untuk menjadi seorang Pendeta.  Stanley Grenz dan Roger Olson mengatakan bahwa Bonhoeffer bahkan sudah tertarik belajar teologi sejak usia dua belas tahun. 

 

Di saat orang tua dan keluarganya sangat berharap agar ia turut mengikuti jejak intelektualisme keluarga, dan meninggalkan impian kosongnya untuk melayani di dalam lingkup gerejawi yang tidak menjanjikan dibanding talenta yang ia miliki, dengan penuh tantangan ia menjawab, “In that case, I shall reform it.”

 

Dari sini penulis melihat bahwa sejak kecil Bonhoeffer sudah menunjukkan perjuangannya melawan eksistensi diri.  Trah ningrat dan tradisi intelektualitas yang sangat menjanjikan bagi masa depan pribadinya tidak membuat ia berpuas diri, nyaman dan menduakan panggilan Tuhan dalam dirinya.

 

Semangat ini pun terus terbawa tatkala Bonhoeffer memasuki karir akademik.  Ia adalah pemuda yang sangat cerdas.  Pada usia dua puluh empat tahun (1930) ia telah menjadi seorang profesor teologi sistematika di Universitas Berlin.  Karena kecerdasan dan kelihaiannya dalam menulis, Bonhoeffer memiliki prospek karier akademik yang sangat cemerlang.  Union Theological Seminary—salah satu seminari besar di Amerika Serikat—sangat kepincut dengan anak muda ini.  Bahkan tatkala Jerman sedang bergolak karena partai Nazi, ia adalah tokoh yang paling banyak ditawari pekerjaan dan jabatan di luar negeri, bahkan jika dibandingkan dengan dua teolog kaliber dunia Karl Barth dan Paul Tillich sekalipun.  Namun, lagi-lagi, Bonhoeffer gigih menantang eksistensi diri yang dapat menjebaknya untuk tidak taat pada Tuhan.  G. Leibholz berkomentar:

A splendid career in the realm of theological scholarship lay thus open before him.  In the light of his achievement and in the prospect of what he might have achieved, his death is a great tragedy.  But worldly standards cannot measure the loss adequately.  For God had chosen him to perform the highest task a Christian can undertake.  He has become a martyr.

 

FINKENWALDE DAN DEKONSTRUKSI BAIT ALLAH


Salah satu tempat yang menurut hemat penulis sangat penting bagi kehidupan Bonhoeffer adalah Finkenwalde.  Finkenwalde adalah tempat pelatihan ilegal bagi calon-calon hamba Tuhan yang didirikan oleh Confessional Church[1] yang merupakan persekutuan pemimpin-pemimpin gereja Jerman yang menolak politik Aryan Clause[2] Hitler.  Awal mulanya, tempat pelatihan ini berlokasi di Pomerania dan didirikan pada tahun 1935. 

 

Tujuan pendirian seminari ini bukanlah untuk ikut-ikutan tren seminari-seminari lain berkaliber dunia dan telah eksis selama ratusan tahun, seperti Universitas Tübingen atau Universitas Berlin, yang tentu saja sulit tertandingi.  Tujuan Bonhoeffer, sebagai pemimpin kelompok ini, sangat sederhana: menciptakan kehidupan persekutuan dan persaudaraan dalam kasih Kristiani yang orisinil melalui kerangka pemuridan,  tidak muluk-muluk. 

 

Finkenwalde adalah tempat yang sangat berkesan sebab di sinilah dua buku best seller Bonhoeffer: Life Together dan The Cost of Discipleship, tercipta.  Life Together ditulis tatkala seminari ini baru dan sedang berjalan; sedangkan The Cost of Discipleship dirampungkan sesaat setelah seminari ini ditutup oleh GESTAPO.  Seperti sudah diduga, eksistensi “seminari liar” ini tidak panjang.  Bulan September 1937, Gestapo menutup seminari ini dan bulan November dan seluruh peserta seminari dipenjara.

 

Apa yang dapat kita pelajari dari sekelumit kisah singkat antara Finkenwalde-nya Bonhoeffer dengan gereja-gereja di Jerman?  Ya, sebuah kisah dialektik tragis dalam kekristenan; tesis dan antitesis antara dua golongan yang sama-sama mengaku sebagai gereja Tuhan.  Gereja-gereja Jerman sebagai sosok mapan, merasa puas diri karena dapat tetap bertahan, eksis bahkan bertumbuh di tengah huru-hara dunia yang berdarah-darah. Mereka betul-betul save in the arm of Hitler, bukan save in the arm of Jesus.  Sedangkan Finkenwalde?  Seminari kecil, berumur jagung yang bahkan belum sempat menghasilkan alumnus ini, harus terlunta-lunta dan sirna tanpa eksistensi.  Upaya mereka untuk berespons terhadap panggilan sang Kristus di tengah zaman yang bengkok ini tampaknya menemui kegagalan total, tanpa ada empati sedikit pun dari gereja-gereja besar di Jerman yang sibuk bersolek, mendandani wajah munafik mereka.  Hal ini tidak perlu mengherankan kita sebab bisa jadi eksistensi mereka pun akan musnah seperti Finkenwalde.  Perjuangan mereka adalah perjuangan menegakkan eksistensi diri, bukan menegakkan kerajaan Kristus.

 

Realitas yang ditunjukkan gereja-gereja di Jerman saat itu mengingatkan penulis dengan komentar sinis dan tidak simpatik dari seorang pimpinan sinode sebuah gereja established yang cukup besar di tanah air.  Dengan membanggakan eksistensi gerejanya yang tetap berdiri (sambil asap terus mengepul dari mulutnya, bak lokomotif kereta api), ia berkata (kalau penulis tidak salah ingat), “Gereja kita tidak dianiaya sebab kita cerdik seperti ular, tidak hanya tulus seperti merpati.  Gereja-gereja yang dibakar dan dihancurkan adalah gereja-gereja yang kurang berstrategi atau kurang cerdik seperti ular.”  Tampaknya ia berupaya melegalisasi pandangannya dengan mengutip Matius 10:16.  Sayang ia lupa untuk terus membaca perikop ini hingga ayat 18-20 yang mencatat prediksi Yesus bahwa anak-anak Tuhan pasti akan dihakimi dengan tidak adil atau ayat 21 bahwa orang beriman akan dibunuh bahkan oleh sanak keluarga sendiri dan ayat 22-23 di mana orang yang mengasihi Tuhan akan dibenci semua orang.  Jelas sekali ayat ini ada dalam konteks penderitaan.  Dengan demikian ayat ini tidak bermaksud menghilangkan konsekuensi penderitaan seorang percaya sebagai satu paket pemuridan Yesus (ay. 24-25) melainkan menasihati para murid agar dalam melakukan tugas pelayan yang berat, mereka dapat memanfaatkan karunia akal budi (phronimos) yang telah Tuhan berikan.[3]  Jadi, Yesus tetap menekankan bahwa cepat atau lambat, gereja sejati pasti dianiaya.  Mereka yang tidak menderita pastilah tidak termasuk kawanan domba Kristus tapi gerombolan serigala si iblis.

 

Mencermati realitas bahwa banyak gereja dan institusi Kristen pada akhirnya terjebak dalam ”virus” eksistensi diri, penulis tertarik dengan pandangan Melba Padilla Maggay, seorang tokoh pergerakan sosial politik Filipina, yang merupakan orang Injili tulen, yang dalam bukunya Transformasi Masyarakat mengkritisi pola pikir dikotomi terhadap penginjilan (rohani dan sosial) dan sikap takut-takut gereja Injili Filipina untuk berperan lebih jauh dalam masyarakat dan tampaknya menjadi akar penyakit eksistensi diri:

 

“Mungkingkah Anda bicara dengan integritas tanpa menyebut sama sekali isu-isu sosio-politis?. . . .  Dan berbicara mengenai isu sosial-politik risikonya memang besar, malah dapat membuat kita dilarang mengabarkan Injil sama sekali.  Paling tidak, itu jadi alasan umum kalangan Injili untuk mendukung rejim Marcos [bukankah ini mirip dengan realitas yang dihadapi Bonhoeffer dan kita saat ini?] ketika pembangkangan terhadap pemerintah merupakan pilihan berbahaya.  Penulis curiga kecenderungan gereja untuk bersikap apolitis sebagian besar disebabkan oleh ancaman terhadap keberlangsungan hidup institusi dan usaha penginjilannya” (tambahan dan penekanan oleh penulis).[4]

 

 

Maggay berkesimpulan bahwa aktivitas rohani, seperti penginjilan, sangat berpeluang menjadi eksistensi diri yang hendak dijaga dan dipertahankan.  Bukankah ini sesuatu yang sangat menyedihkan?  Sayangnya, hal ini seringkali disangkali oleh gereja dengan jargon andalannya “kita harus bersikap hati-hati dan bijaksana.”  Kata “bijaksana” terlalu sering dilontarkan bahkan sudah menjadi yel-yel sebagian besar gereja untuk menghindar dari pengurbanan yang seharusnya ia berikan bagi Kristus.  Kata “bijaksana” menjadi slogan kosong dan tanpa makna sebab dibalik itu hadir jiwa pengecut yang timbul dari keinginan untuk mempertahankan eksistensi diri.   

 

Pertanyaan yang harus dilontarkan oleh setiap gereja dan organisasi Kristen saat ini adalah, “Apa faktor yang paling menentukan bagi eksistensi pelayanan kita?  Sosok pimpinan yang sangat kita kagumi (bahkan seolah-olah menjadi manusia setengah dewa yang tanpa cacat)?  Metode pelayanan yang selama ini menjadi ciri khas dan trade mark yang membuat pelayanan kita laris manis?  Simbol-simbol organisasi dan kekuatan finansial?  Bahan pembinaan yang sudah mentradisi dan rangkaian program ber-budget “M-m”-an?  Singkirkan semua itu, ganti dengan Kristus!  Dengan penuh tangisan, penulis hanya dapat meratap saat melihat bahwa gereja tidak lagi memiliki dimensi spiritualitas yang tangguh dan kokoh di tengah-tengah zaman ini untuk menjadi model bagi dunia.  Gereja sekarang justru terjebak dalam pola pikir dan pola hidup dunia sebab kriteria gereja yang sehat dan berhasil selalu ditinjau dari kemajuan fisik dan materi. 

 

Di tengah realitas ini, Finkenwalde memberi inspirasi yang sangat berharga bagi gereja masa kini untuk melakukan dekonstruksi makna gereja yang sudah kehilangan esensinya di tengah-tengah dunia yang makin gelap ini.          

 

Dalam kitab-kitab Injil kita menemukan realitas yang sama.  Orang-orang Farisi, para ahli Taurat dan sebagian besar umat saat masa Yesus memaknai kehadiran Tuhan di Bait Allah sebatas urusan ritualisme, sekelompok syariat dan kemegahan fisik.  Menghadapi penyakit eksistensi yang mulai menggerogoti umat, Yesus bersikap tegas: dekonstruksi.  Ia menubuatkan dekonstruksi Bait Allah dan memberi makna Bait Allah yang sejati dengan memproklamirkan diri sebagai Bait Allah itu sendiri.  Kebangkitan-Nya dari antara orang mati menegaskan pentahbisan tubuh-Nya sebagai Bait Allah yang sejati.  Mulai saat itu pusat penyembahan dan peribadatan umat adalah Yesus.  Segenap potensi dan hasrat diri harus diarahkan untuk mengikuti Yesus dan kehendak-Nya.  Tidak boleh ada yang menggantikan diri Yesus. 

 

Benar saja, sebab tahun 70 M pasukan Titus menghancurkan Bait Allah.  Bangunan itu tidak berdiri lagi sampai saat ini. Ironisnya, umat Israel tidak pernah belajar dari sejarah.  Peristiwa kehancuran Bait Allah pada masa Babel diikuti oleh exile seharusnya menjadi pelajaran berharga bagi umat.  Sayangnya, gereja kembali mengulang kesalahan yang sama.

 

Penulis teringat dengan satu ayat dari Yoh. 12:25, “Barangsiapa mencintai nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, tetapi barangsiapa tidak mencintai  nyawanya di dunia ini, ia akan memeliharanya untuk hidup yang kekal.”  Ayat pendek ini memuat paradoks yang sangat indah.  Raymond E. Brown memberikan terjemahan yang lebih hurufiah untuk ayat ini, “Barangsiapa yang mencintai nyawanya, ia justru akan menghancurkannya; tetapi barangsiapa yang membenci nyawanya di dunia ini, justru menyimpannya untuk hidup yang kekal.”   

 

Kalau penulis boleh memparafrasekan ayat ini yang sangat sesuai dengan tema kita, maka penulis akan berkata, “Barangsiapa yang mencintai eksistensinya, ia justru akan menghancurkannya; tetapi barangsiapa yang membenci eksistensinya di dunia ini, justru menyimpannya untuk hidup yang kekal.”[5]

 

Brown menyatakan bahwa ayat ini adalah kesimpulan yang ditarik dari konteks dekat pasal 11-13.  Pasal 11 berbicara tentang tujuan mujizat Lazarus yakni pemuliaan Anak Allah sedangkan pasal 12:23 bicara tentang penggenapannya telah tiba.[6]  Pemuliaan Anak Allah, yang akan membuat banyak orang datang kepada Yesus lewat kebangkitan-Nya, akan segera dimulai.  Epik agung yang dirancangkan oleh Trinitas sejak permulaan zaman akan segera dilantunkan: Yesus akan menapaki via dolorosa, ditinggikan (di atas salib) dan menyerahkan nyawa-Nya (baca: eksistensi diri-Nya) kepada sang Bapa.  Klimaks pemuliaan Yesus adalah salib, tempat di mana sang Raja semesta merelakan eksistensi-Nya dirampas lewat olok-olok, ludah, tinju, mahkota duri dan akhirnya salib.

 

N. T. Wright, seorang Jesus Scholar Injili yang sangat terkenal saat ini, menyatakan dengan sangat indah makna pemuliaan Anak Allah di atas salib:

 

What does it mean that the Son of Man must be “lifted up”?  At one level, it

clearly refers to the cross.  On the cross, Jesus is lifted up above the earth, lifted up in the place of shame, of hard and bitter agony, the place and posture which symbolize a world gone wrong.  But at another level this “lifting up” refers once more to glory. . . .  On the cross, Jesus is lifted up as the true revelation of God, lifted up in the supreme work of love, of gentle and heartfelt compassion, the place and posture which now symbolize the yearning love of the creator for his lost and self-destructive world.[7] 

 

Di sini Wright dengan sangat tepat ingin menggambarkan bahwa satu-satunya cara untuk membawa new creation kepada dunia yang sudah rusak dan korup ini adalah melalui penyerahan dan pengorbanan eksistensi diri.[8]

 

Ayat ini ada dalam kisah seputar masa-masa akhir hidup Yesus yang banyak dihabiskan di Yerusalem, khususnya Bait Allah.  Yang menarik adalah kisah pembersihan Bait Allah diletakkan justru di depan (pasal 2), tidak seperti Injil-injil Sinoptik yang menempatkannya di dalam pasal-pasal akhir menjelang penyaliban Yesus.  Tampaknya hal ini disengaja oleh Yohanes untuk menjelaskan sebuah klimaks kisah Injilnya bahwa Yesuslah Bait Allah yang sebenarnya, seperti yang dikatakan Wright, “John constantly says and implies that Jesus thought and acted as though he were some kind of replacement for the temple[9]  Intensi ini juga tampil dalam tindakan-tindakan Yesus yang mendekonstruksi eksistensi tradisi-tradisi Yahudi: pasal 7, 2, 6 dan 12-19.  Dengan demikian, intensi Yohanes tidak menempatkan kisah ini dibagian akhir adalah ingin memfokuskan seutuhnya kisah akhir ini sebagai klimaks bahwa Yesus-lah sang Bait Allah itu. 

 

Jikalau sang Anak Manusia saja rela melepaskan eksistensi diri, mengapa kita tidak?  Sebab, yang dapat disebut sebagai pengikut-Nya hanyalah mereka yang sudah melepaskan eksistensi diri mereka demi Kristus (12:26).

 

FINKENWALDE DAN KEBERHASILANNYA

 

Eksistensi fisik Finkenwalde memang hancur.  Tapi eksistensi rohani yang dicanangkan Bonhoeffer melaluinya tidak akan pernah lekang oleh waktu.  John Piper mencatat kesan salah satu dari dua puluh lima orang mahasiswa Finkenwalde, saat sekolah mereka masih berlokasi di Pomerania:

 

Bonhoeffer wanted a genuine, natural community in the Preacher’s Seminary, and this community was practiced in play, in walks through the richly wooded and beautiful district of Pomerania, during evenings spent in listening to someone reading . . .  in making music and singing, and last not least in worship together and holy communion.  He kept entreating us to live together naturally and not to make worship an exception.  He rejected all false and hollow sentiment.[10]

 

Sampai hari ini banyak orang dari berbagai kalangan terus mengenang Dietrich Bonhoeffer, bukan hanya sebagai seorang teolog tapi juga sebagai seorang penulis, gembala dan terutama martir: seorang yang rela menyerahkan eksistensinya demi Kristus, Rajanya.  Untuk hal itu, Bonhoeffer pernah berkata,

 

And seekest thou great things for thyself?  Seek them not.  For behold, I Will bring evil upon all flesh; but thy life will I give unto thee for a prey in all places whither thou goest.  I cannot get away from Jeremiah 45.

 

Berbagai forum seminar dibuat, artikel dan buku-buku diterbitkan, web site internet di-launching dan bahkan terbentuk pula perkumpulan pengagum Bonhoeffer yang semuanya menggambarkan ketajaman dan relevansi dari pemikiran dan refleksi-refleksi teologis Bonhoeffer, yang tetap terasa sampai saat ini.

 

Di samping itu, Finkenwalde telah menghasilkan dua maha karya Bonhoeffer: The Cost of Discipleship dan Life Together, yang sangat mempengaruhi dunia, bahkan mungkin bernilai kekal.

 

Lalu bagaimana dengan gereja sendiri? 

 

Sebuah data menarik tentang kondisi gereja-gereja Injili dipaparkan oleh Ronald J. Sider dalam buku terbarunya, The Scandal of Evangelical Conscience.[11]  Dari berbagai penelitian yang dikumpulkan, Sider menemukan bahwa gereja Injili di Amerika Serikat (yang penulis percaya dapat merepresentasikan keadaan di seluruh dunia, termasuk Indonesia) adalah kelompok agama yang paling rasis, materialistis dan hedonis, bermasalah dalam pernikahan dan perihal seksualitas.  Sebagai contoh,ditemukan bahwa orang-orang Injili adalah golongan orang Kristen yang paling “kikir”.  Hanya enam persen yang rutin memberi persepuluhan.  Padahal jika semua orang Injili mengumpulkan persepuluhan mereka, dapat dihasilkan dana yang sangat besar, US$ 143 juta.  Sider membandingkan jumlah ini dengan kebutuhan pendidikan dan kesehatan di seluruh negara-negara miskin menurut data PBB.  Dari data diketahui bahwa kebutuhan tersebut hanya berkisar US$ 70-80 juta.  Dengan demikian, masih ada sisa sekitar lebih dari US$ 60-70 juta yang dapat digunakan untuk penginjilan.[12] 

 

Mengapa hal ini terjadi?  Sebab orang-orang Kristen sibuk membangun eksistensi diri.  Faktanya?  BusinessWeek memaparkan bahwa gereja Willow Creek Community Church-Nya Bill Hybels memiliki budget per tahun yang luar biasa besar, US$ 48 juta dan dengan aset bersih US$ 143 juta.  Bahkan BusinessWeek memaparkan bahwa harga simbol-simbol gerejawi seperti Alkitab, kaca berwarna dan salib diruangan kebaktian, bernilai US$ 72 juta (h. 47). Tragis, harga yang begitu mahal untuk sebuah simbol, bahkan setara dengan harga pendidikan dan kesehatan milyaran manusia di muka bumi ini  Penulis yakin dan percaya bahwa gereja-gereja di Indonesia pun mengalami hal yang sama; hanya saja kita “malu-malu kucing” untuk mengakuinya, benar ‘kan?!

 

Fakta yang menyedihkan itu juga diamati oleh seorang pakar statistik Kristen di Amerika, George Barna.  Ia bahkan menyimpulkan realitas yang menyakitkan ini dengan berkata, “Every day, the church is becoming more like the world it allegedly seeks to change.”[13]

 

Bercermin dari Finkenwalde dan semangat anti-eksistensi diri Bonhoeffer, penulis merasa risih melihat realitas gereja dan seminari saat ini.  Yang digembar-gemborkan institusi-institusi ini hanyalah semangat pembangunan raganya bukan jiwanya, fisiknya bukan semangatnya.  Bukannya penulis anti pembangunan, tapi menurut hemat penulis kalau pembangunan itu tidak diselaraskan dengan semua konteks zaman yang ada, pembangunan tersebut tidak lebih dari sekadar upaya untuk membangun sebuah eksistensi diri, sebab ia seperti terlepas dari konteks ril di mana ia berada.  Bayangkan saja, penulis pernah mendengar suatu kenyataan bahwa ada sebuah gereja yang menggalang dana untuk mendukung pembangunan sebuah seminari milyaran rupiah di saat ada anggota jemaatnya yang tidak dapat melanjutkan studi karena tidak punya biaya?  Ironis bukan?  Atau apakah kita tega untuk menghambur-hamburkan dana puluhan juta demi natal seremonial dan membangun Seminari puluhan milyar rupiah di kala ada jemaat dalam Sinode gereja yang sama, ternyata tinggal di rumah yang berlantaikan tanah, berdinding gedhek dan beratapkan genteng bocor?  Lebih luas lagi, tidak merasa berdosakah kita saat berlutut dan berdoa dengan penuh semangat dan air mata untuk mega-proyek milyaran rupiah tatkala baru-baru ini anak-anak Tuhan di Yahukimo, Papua, harus berdoa dengan perut lapar sambil memohon kepada Tuhan demi sesuap nasi dan seteguk air yang secukupnya?  Doa siapakah yang akan dijawab oleh Tuhan?  Di mana hari nurani kita saat mendoakan sarana dan prasarana kebaktian nan spektakuler di kala wabah busung lapar mendera saudara-saudara seiman di Alor, NTT?

 

 



[1]Gerakan ini dicetuskan sebagai sikap tegas untuk menolak kecenderungan gereja-gereja di Jerman saat itu yang pro-Hitler.  Draf utama gerakan ini dinamai The Pastor’s Emergency League yang isinya antara lain, sebagai berikut, “According to the confession of our church, the teaching office of the church is bound up with a call to the ministry of the church and with that call alone. The ‘Aryan Clause’ of the new enactment concerning offices in the church puts forward a principle which contradicts this basic clause of the confession” (Ed. Edwin Robertson, Dietrich Bonhoeffer: Selected Writings [London: Fount, 1995] 54)

[2]Gerakan ini dicetuskan Hitler pada tanggal 7 April 1933.  Gerakan ini membatasi peran-peran kaum Yahudi di pemerintahan.  Dampak dari gerakan ini pada akhirnya terasa hingga ke dalam gereja.  Gereja di Jerman menjadi “kacung” Hitler.  Mendewa-dewakan Hitler dan turut mendukung diskriminasi ras Hitler.

[3]Menarik untuk disimak bahwa Yesus menggunakan phronimos (akal sehat dasar yang membuat seseorang disebut manusia—lebih tepat diterjemahkan “pikiran”; bdk. Mat. 7:24; 24:45; 25:4) bukan sophia (hikmat intelektualitas).  Dengan demikian Yesus tidak sedang berbicara tentang kapasitas intelektualitas superior  (seperti strategi yang canggih) yang harus dimiliki di kala para murid berada di tengah-tengah serigala.

[4](terj.; Jakarta: Cultivate, 2004) 6 [tambahan oleh penulis].

[5]Penulis memberanikan diri menerjemahkan demikian sebab kata “nyawa” dalam bagian ini tidak menunjuk kepada makna dikotomi: jiwa dan tubuh, seperti yang banyak dipahami dalam teologi Kristen.  Raymond Brown menyatakan bahwa antropologi Yahudi tidak mengenal dualisme.  “Nyawa” (Yun. Psychē) mengacu kepada hidup fisik.  Brown menambahkan bahwa kata ini dapat diterjemahkan “diri” (one’s self).  Dasar ini membuat penulis berkesimpulan bahwa kata ini sinonim dengan kata “eksistensi”. (The Gospel According to John I-XII [AB; New York: Doubleday, 1966] 467).  

[6]Ibid., 469.

[7]Following Jesus: Biblical Reflections on Discipleship (Grand Rapids: Eerdmans, 1994) 36 [penekanan oleh penulis].

[8]Ibid., 37.

[9]Ibid., 38.

[10]Helping Each Other Endure to the End (Hebrew 3:12-14) [http ://www. Soundofgrace.com/ piper84/011584m.htm]

[11]Grand Rapids: Baker, 2005.

[12]Ibid., 21-22.

[13]Ibid., 13.


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: