DEI ET SALVATORIS NOSTRI IESU CHRISTI: SEBUAH APOLOGIA BAGI KEBERATAN KALANGAN KRISTEN TAUHID TERHADAP DOKTRIN TRINITAS

16 08 2008

I

 

Fenomena Kristen Tauhid adalah fenomena yang menarik untuk disimak.  Seolah mencoba memberi jalan tengah bagi kebuntuan diskusi dan diskursus teologis Islam-Kristen, Kristen Tauhid nampaknya berupaya memberikan sebuah solusi alternatif yang menarik bagi banyak orang.

 

Namun, seperti sudah dapat diduga sebagai bagian dari konsekuensi logis tujuan Kristen-Tauhid, maka tidak ada diskursus dogma baru dan segar yang dibangun oleh kelompok religius ini selain analisa dan argumentasi reaktif terhadap soal-soal kritis-krusial yang memang menjadi titik debat ”kekal” dan klasik antara Islam-Kristen, yakni: Tritunggal dan Keilahian Yesus.[1]  Berulang-ulang dalam buku ini termaktub makna/tujuan utama yang coba digagas oleh kelompok ini: demi damai Islam-Kristen.  Namun sayangnya—mengutip perkataan teman saya—”They sacrifice anything to loose everything!”  Ya, dengan gaya eklektik yang bisa langsung terasa saat membaca artikel-artikel atau buku-buku dari kalangan ini, mereka mencoba menyatukan dua konsepsi agama besar yang meskipun merupakan agama-agama Abrahamik namun punya world view yang sangat berbeda.  Keberbedaan world view yang ada di antara agama-agama ini diakui sendiri oleh seorang ahli Islam Tauhid, yang terang-terangan mengakui adanya eksklusifisme agama-agama yang mustahil untuk disatukan lewat kutipannya terhadap pandangan Max Weber, “Max Weber mengatakan tiap-tiap agama itu mempunyai sifat-sifat sendiri yang tidak dapat disamakan dengan yang lain”[2]

 

 

II

 

Klarifikasi Kristiani atas salah paham yang muncul terhadap doktrin Tritunggal tentu bisa diberikan dari berbagai aspek.  Oleh karenanya, penulis mencoba untuk menyempitkan klarifikasi atas salah paham ini pada sub pokok Kristologi yang menurut hemat penulis memiliki pengaruh yang paling signifikan dalam pokok Tritunggal.  Pentingnya Kristologi bagi doktrin Tritunggal ini ditunjukkan oleh pandangan teolog Jerman yang sangat terkenal, Jürgen Moltmann, yang bahkan melihat bahwa pokok Tritunggal menjadi isu penting justru karena adanya pokok Kristologi, ”As far as the order of perception is concerned, the doctrine of the Trinity we have expounded has Christology as its premise; for it is only Christology that makes the knowledge and concept of the triune God necessary.”[3]  Dengan demikian, sekali lagi, penulis dapat menarik kesimpulan logis bahwa pokok Kristologi adalah pokok yang sangat vital bagi pembahasan pokok Tritunggal dan keberatan serta sanggahan terhadap pokok Kristologi tidak sekadar berdampak pada pokok Kristologi itu sendiri tapi juga berdampak signifikan terhadap pokok Tritunggal yang dipegang sebagai kredo substansial oleh kekristenan tradisional sampai hari ini. 

 

Hal ini pulalah, yang menurut hemat penulis, menjadi akar mengapa pada akhirnya banyak pihak atau kalangan yang kurang sepakat, salah paham dan cenderung terburu-buru “menghakimi” pengakuan Kristen tentang pokok Trinitas, akan memulai argumentasi keberatan mereka dengan pokok Kristologi.  Penulis juga menjumpai hal ini dari apa yang dilakukan oleh kelompok Kristen Tauhid lewat pernyataan yang disampaikan oleh Frans Donald, “Demikian juga dengan ‘Doktrin Trinitas yang menyatakan bahwa Yesus adalah Allah Anak, adalah sebuah doktrin yang telah berumur ribuan tahun,’ siapa di antara pembaca yang mau dan berani menyelidiki, meneliti dan membongkarnya?”[4] 

 

Kristen-Tauhid?  Apa itu?[5]  Ellen Kristi seorang “teolog” Kristen-Tauhid mengatakan bahwa Kristen-Tauhid merupakan:

 

. . . kelompok-kelompok kecil [yang] . . . percaya kepada hanya satu Allah, yaitu Bapa, dan menolak Trinitas.  Mereka ingin kembali kepada iman Abraham yang diturunkan kepada bangsa Israel, ketauhidan Allah, Bapanya, kepada para rasul dan tidak ada satu pun kata Trinitas dalam Alkitab.  Mereka percaya bahwa jemaat Kristen mula-mula beriman kepada Allah yang esa.[6]

 

Dari definisi ini tersirat sebuah klaim dari kelompok Kristen-Tauhid bahwa merekalah kelompok yang memiliki keyakinan iman Kristen yang “paling Abrahamik,”[7] paling sesuai dengan akar monoteisme Yahudi[8] dan “paling rasuli”[9].  Selanjutnya, untuk mendukung klaim mereka bahwa merekalah kelompok yang “paling kristiani,” Kristi juga memberikan paparan tentang asal mula ajaran kelompok ini yang menurutnya juga berakar dalam sejarah Reformasi Protestan.[10]  Secara terang-terangan ia menyebutkan bahwa kelompok Kristen-Tauhid berasal dari kalangan Unitarianisme (yang dalam sejarah Gereja sebenarnya dicap sebagai bidat), yang terkenal dengan ajaran modalistiknya dan sangat menentang keras ajaran Tritunggal.[11] 

 

Bagi kalangan Kristen-Tauhid, doktrin Trinitas bukanlah doktrin yang diajarkan oleh Alkitab.  Bagi mereka doktrin Trinitas adalah doktrin yang dirumuskan secara politis oleh Gereja dan dengan kekuasan yang dipegang Gereja yang sangat besar saat itu, doktrin ini disebarluaskan dan diteruskan dari generasi ke generasi.[12]

 

Pada bab IV dari bukunya, Kristi mencoba mengupas dengan panjang lebar asal usul dogma Trinitas menurut kacamata Kristen-Tauhid.  Uraiannya ini banyak didasarkan pada pandangan dua tokoh liberal yakni Bernhard Lohse (lewat bukunya: Pengantar Sejarah Dogma Kristen) dan  Karen Amstrong (lewat bukunya: The History of God).  Menurut hemat penulis, lewat argumentasi yang cukup panjang dengan mengedepankan dialog dengan pandangan kedua tokoh liberal ini,[13]—padahal menurut hemat penulis, apa yang dilakukan Kristi ini adalah sebuah hal yang ironis sebab ia mencoba menyusun kerangka doktrin Kristiani yang diyakininya ortodoks justru dengan mencari dukungan dari pandangan kaum liberal—Kristi menyimpulkan dua hal tentang dogma Trinitas: pertama, dogma Trinitas bukanlah doktrin yang berasal dari tradisi Yudaisme.  Dogma Trinitas adalah produk dari orang-orang Yunani yang menerima pekabaran Injil dari para rasul, “Benih-benih dogma Trinitas ditaburkan dan dipupuk oleh orang-orang Yunani yang menjadi Kristen ini.”[14]  Pemikiran Yunani yang merasuk di dalam jantung kekristenan mula-mula yang berakar kuat dalam konsep Yudaisme, menurut Kristi, membuat Allah yang “tidak perlu dipertanyakan, apalagi dibuktikan, sebab Ia sudah nyata-nyata berkarya dalam sejarah,”[15] menjadi abstrak dan kabur.  Pada akhirnya Kristi menilai konsep Allah yang dirumuskan kekristenan saat ini sangat metafisik, sesuai dengan “alam pikir Yunani yang senang berpikir abstrak dan berspekulasi, membuat teori tentang hakikat (yang tak terlihat) dari kenyataan (yang kelihatan).”[16]  Jadi singkatnya, bagi Kristi, dogma Trinitas adalah produk kekristenan Yunani, bukan Yahudi.  Kedua,  bagi Kristi, kelahiran dogma Trinitas makin dimatangkan lewat konflik antar para teolog tentang substansi Kristus, khususnya antara Arius dan Athanasius yang pada akhirnya mencetuskan diadakannya konsili Nicea dan melahirkan Kredo Nicea yang sangat menekankan keilahian Yesus Kristus.  Singkatnya, bagi Kristi, dogma Trinitas sangat berbau politis dan ditujukan untuk mendukung kelanggengan takhta Kaisar Konstantinopel.  Perdebatan politis ini juga diteruskan sampai dengan lahirnya Kredo Kalsedon yang menyatakan bahwa Yesus 100% Allah dan 100% manusia.[17]   Menurut Kristi perdebatan-perdebatan yang ada menimbulkan pihak yang tidak puas dan terus berselisih.  Perselisihan ini diredam oleh Gereja yang pada akhirnya, menurut Kristi, tampil sebagai kekuatan politik.[18] Kesimpulan terakhir Kristi menggambarkan pandangannya yang tegas dan jelas bahwa dogma Trinitas dan Kristologi adalah buah dari pertarungan politik Gereja, “Dalam situasi seperti dogma Trinitas dan Kristologi ditancapkan secara mapan di kalangan orang Kristen.”[19]

 

III

 

Sebelum memberikan evaluasi dan sanggahan terhadap pandangan Kristen-Tauhid terhadap doktrin Trinitas, khususnya melalui klarifikasi Kristologis, penulis kagum sekaligus sangat menghargai upaya yang dilakukan rekan-rekan dari pihak Kristen-Tauhid.  Terlepas dari perbedaan pandangan yang penulis miliki dengan kalangan Kristen-Tauhid, penulis melihat pandangan Kristen-Tauhid minimal memberikan dua pokok penyadaran penting bagi umat Kristiani yang harus dipikirkan dengan serius dan matang:[20]

1.       Umat Kristen harus sungguh-sungguh menggumulkan dengan kritis namun komprehensif kontinuitas pokok monoteisme Yahudi dengan Kristologi Kristen.  Pokok ini penting sebab terkadang orang Kristen sering jatuh pada dua ekstrem: pertama, mengkristologisasi teks-teks yang tidak ada kaitannya dengan pokok Kristologi, terkhusus teks-teks Perjanjian Lama dan kedua, de-kristologisasi teks-teks, di mana pokok Kristologi sama sekali diabaikan dari dogmatika Gereja atau ditafsirkan berat sebelah.[21] 

2.       Gereja perlu menggumulkan secara serius dan bertanggung jawab cara-cara menjelaskan pokok Kristologis dan pokok Trinitas dengan pendekatan yang lebih biblis sambil menghindari kesenangan menggunakan metodologi yang melulu filsafat.  

 

Menurut hemat penulis, ada dua kelemahan utama yang dilakukan oleh kelompok Kristen Tauhid dalam mengevaluasi doktrin Tritunggal, khususnya doktrin Kristologi kekristenan-tradisional.  Kelemahan pertama terletak dalam sisi metodologi hermeneutik-nya.  Kalau kita telusuri dengan seksama maka kita akan menemukan bahwa metodologi penafsiran yang digunakan oleh kalangan Kristen-Tauhid dalam melihat pokok Kristologi melulu lewat pendekatan etimologi (yang malah cenderung menjurus ke sekadar word study) tanpa lebih jauh meninjau filosofi dan world view yang terdapat dibalik istilah atau kata itu.

 

Sebagai contoh adalah bagaimana mereka meninjau makna kata “Tuhan” yang digunakan dalam Alkitab.  Dan lihatlah kesimpulan apa yang mereka ambil:

 

Penting dipahami, bahwa di dalam Alkitab atau Bible berbahasa Indonesia, Allah pasti Tuhan tapi Tuhan belum tentu Allah.  Sebab, kata Tuhan yang sering muncul dalam Alkitab diterjemahkan dari adonay atau kurios alias lord, yang tidak selalu menunjuk kepada Allah (Elohim atau theos alias God).  Misalnya, tertulis bahwa Abraham (Ibrahim) oleh istrinya di sebut sebagai Tuhan.”  “. . . as Sarah obeyed Abraham, calling him lord” (1Pet. 3:6).  Sarah memanggil Ibrahim Tu(h)an, tapi jelas Abraham bukan Allah (God).[22]

 

Kristi, meskipun mencoba untuk menelusuri kelemahan pokok Tritunggal dari sisi teologi-sejarah (historical-theology), menurut hemat penulis, toh tetap jatuh pada analisis etimologi sempit saat meninjau doktrin Kristologi yang menjadi titik kritis keberatannya terhadap doktrin Tritunggal.[23]  Mengapa penulis mengatakan bahwa analisis etimologi yang diberikan oleh dua tokoh Kristen-Tauhid yang sudah berani mempublikasikan karya mereka ini sempit?  Karena mereka cenderung mengamati dan mencermati sebuah kata terminologi dari perspektif kekinian dan bukan dalam perspektif perspektif yang lebih luas, misalnya berdasarkan perspektif Yudaisme dan penulis kitab suci.

 

Menurut hemat penulis kesalahan utama yang sangat fatal yang dilakukan kelompok Kristen-Tauhid ialah saat menafsirkan makna keesaan Allah.  Kelompok Kristen-Tauhid yang mengatakan diri mereka berakar pada tradisi Judeo-Kristen cenderung menafsirkan terminologi ini dalam pemaknaan numeris.  Pertanyaan kristis yang perlu kita ajukan adalah, ”Apakah tradisi Judeo-Kristen sendiri memahami makna keesaan Allah itu dalam terminologi numeris?  Ataukah ada paradigma lain yang dimiliki oleh tradisi Judeo-Kristen tentang makna keesaan Allah?”  Tentu bukan suatu hal yang mudah dan tentu saja tidak ada jawaban pintas untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini, sebab pertanyaan-pertanyaan ini memiliki kaitan erat dengan relasi dinamis dan historis antara Allah dengan umat-Nya, Israel.  Penulis sangat yakin bahwa formulasi Shema Israel yang sangat terkenal dari Ulangan 6:4: ”YHWH itu Allah kita, YHWH itu esa,” yang juga menjadi daily prayer bagi penganut agama Yahudi sampai hari ini,[24] lahir sebagai bentuk pengakuan ultimat umat akibat pengalaman faktual yang dialami umat bersama dengan Allah, dan bukan sebagai bentuk kesepakatan intelektual yang dogmatis dan filosofis.[25]  Karena itu menurut hemat penulis sebelum menjawab pertanyaan-pertanyaan ini ada baiknya kita mengajukan pertanyaan yang lebih praktis namun penting, ”Bagi orang Yahudi, siapa Allah itu?”

 

N. T. Wright, seorang teolog Perjanjian Baru yang sangat terkenal saat ini mengatakan secara ringkas bahwa bagi orang-orang Yahudi, Allah dapat disimpulkan dalam satu kalimat pendek: creational and covenantal monotheism.[26]  Serupa dengan definisi Wright, Richard Bauckham, seorang teolog dari Universitas St. Andrew, mendefinisikannya sebagai God’s unique identity.  Baginya, orang Israel mengindentifikasikan Allah dalam dua identitas: identitas-Nya dalam relasi dengan Israel (God who make covenant) dan identitas-Nya dalam relasi dengan semesta (God who create).[27]  Dalam kaitannya dengan Israel, Allah telah menyatakan diri dan dikenal dengan sebutan YHWH, sebuah nama yang menyatakan kekhususan-Nya dalam sejarah Israel yang bertindak membawa mereka keluar dari perbudakan Mesir dan lewat karya-Nya yang ajaib, membentuk mereka sebagai yang kudus dan khusus bagi-Nya.[28]  Pada akhirnya Baukcham menyimpulkan pandangan orang Israel tentang Allah lewat kalimat yang sangat indah:

 

The acts of God and the character description of God combine to indicate a consistent identity of the One who acts graciously toward his people and can be expected to do so.  Through the consistency of his acts and character, the One called YHWH shows himself to be one and the same.[29]    

 

Sampai di sini penulis dapat menyimpulkan bahwa tampaknya bangsa Israel mengenal Allah lewat penyataan tindakan dan karakter Allah yang konsisten dan dapat mereka saksikan di sepanjang sejarah mereka.  Sampai di sini sebenarnya penulis sepakat dengan kesimpulan Ellen Kristi yang menyampaikan pandangan kritisnya terhadap konsepsi Allah Kristen yang menurutnya cenderung berbau helenistik sebab kental dengan pendefinisan, melulu mempersoalkan entitas, natur dan segala sesuatu yang berbau ontologis.  Singkatnya, bagi orang Israel Allah adalah realitas konkret yang mereka saksikan hidup dalam sejarah mereka; bukan sebuah konsep, teori dan pengetahuan yang harus diperdebatkan. 

 

Allah yang seperti inilah yang dipahami oleh orang Israel; Allah yang bertindak, berintervensi dan berkarya dalam sejarah mereka; Allah yang berbeda dari allah-allah bangsa lain.  Penulis sangat sepakat dengan apa yang dikatakan oleh Walter Brueggemann seorang teolog Perjanjian Lama yang sangat dihormati di dunia, yang memberikan sebuah definisi yang sangat indah tentang pemahaman orang Israel terhadap Allah, yang juga memberikan clue kepada kita tentang apa yang dimaknai orang Yahudi dengan monoteisme mereka:

 

“. . . it is enough to note that in the Bible this God makes a break with all cultural definitions and expectations and stands distant from the other gods who are preoccupied  with their rule, their majesty, their well-being in the plush silence of heaven. . . .  The primal disclosure of the Bible is that this God in heaven makes a move toward earth to identify a faithful covenant partner, responding to the groans of oppressed people. . . .  We say it is an irreversible move.  And the partner now embraced is identified as therabbleof slaves that no other god thought worthy.”[30]

 

Dari definisi ini terlihat dengan jelas bahwa orang Israel sangat ekslusif dengan Allah mereka; bagi mereka tidak ada Allah lain yang seperti YHWH, yang mau menebus mereka, membimbing mereka, menuntun mereka, memelihara mereka dan tetap setia kepada mereka bahkan di kala mereka tidak setia kepada-Nya.  Tidak ada Allah lain seperti YHWH.  Beberapa ayat Perjanjian Lama dapat memberikan klarifikasi ini kepada kita:

Akulah TUHAN, Allahmu, yang membawa engkau keluar dari tanah Mesir, dari tempat perbudakan.  Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku (Kel. 20:2-3)

 

Atau pernahkah suatu allah mencoba datang untuk mengambil baginya suatu bangsa dari tengah-tengah bangsa yang lain, dengan cobaan-cobaan, tanda-tanda serta mujizat-mujizat dan peperangan, dengan tangan yang kuat dan lengan yang teracung dan dengan kedahsyatan-kedahsy yang besar, seperti yang dilakukan TUHAN, Allahmu, bagimu di Mesir, di depan matamu? (Ul. 4:34-35)

 

Engkau diberi melihatnya untuk mengetahui, bahwa Tuhanlah Allah, tidak ada yang lain kecuali Dia (Ul. 4:39).

 

Tidak ada yang kudus seperti TUHAN, sebab tidak ada yang lain kecuali Engkau dan tidak ada gunung batu seperti Allah kita (1Sam. 2:2)

 

supaya segala bangsa di bumi tahu, bahwa Tuhanlah Allah, dan tidak ada yang lain (1Raj. 8:60)[31]

 

Janganlah gentar dan janganlah takut, sebab memang dari dahulu telah Kukabarkan dan Kuberitahukan hal itu kepadamu. Kamulah saksi-saksi-Ku! Adakah Allah selain dari pada-Ku? Tidak ada Gunung Batu yang lain, tidak ada Kukenal!” (Yes. 44:8)

 

Akulah TUHAN dan tidak ada yang lain; kecuali Aku tidak ada Allah. Aku telah mempersenjatai engkau, sekalipun engkau tidak mengenal Aku, supaya orang tahu dari terbitnya matahari sampai terbenamnya, bahwa tidak ada yang lain di luar Aku. Akulah TUHAN dan tidak ada yang lain (Yes. 45:5-6)[32]

 

Inilah inti pokok monoteisme Yahudi: tidak ada allah lain selain YHWH.  Allah lain selain YHWH bukanlah allah yang benar.  Mereka hanyalah rekaan manusia, buatan manusia, yang tidak hidup dan yang tidak sanggup memberi hidup seperti pengakuan pemazmur dalam Mazmur 135:15, ”Berhala bangsa-bangsa adalah perak dan emas, buatan tangan manusia.”  Monoteisme Yahudi bertentangan dengan politeisme bangsa-bangsa kafir bukan dalam pengertian sempit numeris bahwa allah benar kalau dia satu sedangkan kalau banyak (secara numeris) ia adalah allah palsu.  Ini tidak sesuai dengan pemikiran Allah orang Yahudi.  Bukankah ini juga merupakan cara pikir metafisik Yunani yang melulu memikirkan soal ontologis (substansi Allah)?  Orang Yahudi menganut paham monoteisme karena mereka meyakini bahwa hanya YHWH-lah satu-satunya (mono) Allah yang benar, Allah yang terbukti hidup dalam sejarah mereka dan yang menghancurkan ilah-ilah lain.  Dalam hal ini penulis setuju dengan pandangan Wright yang menyimpulkan monoteisme Yahudi sebagai, ”This monotheism was never, in our period, an inner analysis of the one God.  It was always a way of saying, frequently at great risk: our God is the true God, and your gods are worthless idols.”[33]

 

 

IV

Kembali kepada keberatan kalangan Kristen Tauhid, apakah konsep Kristologi yang menyetarakan Yesus dengan Allah adalah hasil rekayasa Gereja dan bukan merupakan kepercayaan yang turut dianut oleh para murid pertama, khususnya para penulis Perjanjian Baru?  Dalam hal ini Wright memberikan pandangan yang baik,

 

Whatever we say of latter theology, this [Jewish polemic has often suggested that the Trinity and the incarnation, those great pillars of patristic theology, are sheer paganization] is certainly not true of the New Testament. Long before the secular philosophy was invoked to describe the inner being of the one God (and the relation of this God to Jesus and to the Spirit), a vigorous and very Jewish tradition took the language and imagery of Spirit, Word, Law, Presence (and/or Glory), and Wisdom and developed them in relation to Jesus of Nazareth and the Spirit.[34]  

 

Lihat saja bagaimana Yohanes dengan sangat apik memaparkan teologi Firman yang bergantung sepenuhnya atas tradisi hikmat dari Perjanjian Lama.[35]  Atau lihat juga paparan Rasul Paulus dalam 1Korintus 8:6 yang dalam ayat yang jelas-jelas memuat semangat monoteisme Yahudi ini memberikan posisi yang setara antara Yesus dan Allah:[36]

 

namun bagi kita hanya ada satu Allah saja, yaitu Bapa, yang dari pada-Nya berasal segala sesuatu dan yang untuk Dia kita hidup, dan satu Tuhan saja, yaitu Yesus Kristus, yang oleh-Nya segala sesuatu telah dijadikan dan yang karena Dia kita hidup.

 

Demikian pula apa yang dicatat Paulus dalam Filipi 2:5-11.  Ayat 10-11 dari teks ini jelas mengutip apa yang dicatat nabi Yesaya dalam pasal 45:23 dari kitabnya; yang dari konteks ayat 22 jelas lahir dari semangat monoteisme yang kental:

 

supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku: “Yesus Kristus adalah Tuhan,” bagi kemuliaan Allah, Bapa! (Fil. 2:10-11)

 

Berpalinglah kepada-Ku dan biarkanlah dirimu diselamatkan, hai ujung-ujung bumi! Sebab Akulah Allah dan tidak ada yang lain.  Demi Aku sendiri Aku telah bersumpah, dari mulut-Ku telah keluar kebenaran, suatu firman yang tidak dapat ditarik kembali: dan semua orang akan bertekuk lutut di hadapan-Ku, dan akan bersumpah setia dalam segala bahasa (Yes. 45:22-23).

 

Jelas bagi rasul Paulus Yesus bukanlah figur biasa, melainkan ia menempatkan Yesus sedemikian rupa sehingga setara dengan Bapa.  Penulis sepakat dengan apa yang dikatakan oleh Wright berkenaan dengan kaitan antara kedua teks ini,

 

Isaiah has YHWH defeating the pagan idols and being enthroned over them; Paul has Jesus exalted to a position of equality with ‘the Father’ because he has done what, in Jewish tradition, only the one God can do.[37]

 

Fakta-fakta biblis ini jelas memberikan bukti bahwa sebenarnya dengan cara yang sangat apik dan dengan sangat hati-hati para penulis Perjanjian Baru berupaya menyampaikan bahwa Allah yang dulu bertindak dalam sejarah Israel dan yang terus bertindak dalam dunia yang dikasihi-Nya ini dalam keunikan-Nya kini menyatakan diri di dalam Yesus Kristus.  Ini dapat ditunjukkan dengan penggunaan beberapa gelar yang diberikan penulis Perjanjian Baru kepada Yesus.[38] 

 

Namun selain memaparkan fakta-fakta yang seolah terselubung tentang identitas Yesus, Perjanjian Baru juga memaparkan fakta-fakta eksplisit tentang siapa Yesus:

 

Tomas menjawab Dia: “Ya Tuhanku dan Allahku!” (Yoh. 20:28)—ho kurios mou kai ho theos mou

           

Mereka adalah keturunan bapa-bapa leluhur, yang menurunkan Mesias dalam keadaan-Nya sebagai manusia, yang ada di atas segala sesuatu. Ia adalah Allah yang harus dipuji sampai selama-lamanya. Amin! (Rm. 9:5).

 

dengan menantikan penggenapan pengharapan kita yang penuh bahagia dan penyataan kemuliaan Allah yang Mahabesar dan Juruselamat kita Yesus Kristus (Tit. 2:13).

 

Melihat fakta-fakta ini penulis hanya terheran-heran dengan kesimpulan sepihak, spekulatif dan terburu-buru dari kalangan Kristen-Tauhid yang mengatakan bahwa doktrin Kristologi adalah produk Gereja dan tidak berasal dari Perjanjian Baru.

 

 

 

 

 

 



[1]Inilah kesan yang penulis tangkap dari dua buku utama yang akan dijadikan referensi utama dari tulisan ini: Frans Donald, Allah dalam Alkitab dan Al-Qur’an: Sesembahan yang Sama atau Berbeda (Semarang: Sadar, 2005) dan

[2]El Muhammady, Ilmu Ke-Tuhanan Yang Maha Esa (Jakarta: Pustaka Agus Salim, 1963) 21 [penekanan oleh penulis].

[3]The Trinity and the Kingdom: The Doctrine of God (San Fransisco: Harper & Row, 1981) 97  (Penekanan oleh penulis).

[4]Allah dalam Alkitab dan Al-Qur’an, 41.  Lihat juga pandangan Ellen Kristi yang langsung mengaitkan secara langsung doktrin Trinitas dengan Kristologi, ”Seperti dua sisi mata uang, dogma Trinitas selalu berkaitan dengan dogma Kristologi (ilmu tentang Kristus).” (Bukan Allah Tapi Tuhan [Semarang: Sadar, 2005] 67).

[5]Penulis mengutip langsung kalimat pertama kata pengantar dari buku Kristi, Bukan Allah Tapi Tuhan vii.

[6]ibid.

[7]Abrahamik artinya kelompok ini tampaknya mengklaim bahwa jika ditelusuri maka kepercayaan mereka mengembalikan orang kepada keyakinan Abraham yang hakiki.

[8]Kristi menyatakan bahwa ajaran Kristen-Tauhid adalah ajaran yang berakar dalam tradisi Judeo-Kristen (Bukan Allah Tapi Tuhan x, 57-58).

[9]Rasuli maksudnya paling sesuai dengan ajaran para rasul (ibid. 58).

[10]Kristi, Bukan Allah Tapi Tuhan viii.

[11]Ibid.

[12]Kesan ini sangat terasa saat membaca uraian Kristi, “Seringkali ketika agama bermain mata dengan kekuasaan, membesarlah arogansi spiritualnya, sehingga ia mulai menindas agama atau keyakinan religius yang lain.  Akibatnya, umat diajar untuk tunduk bukan kepada Allah, melainkan kepada manusia dan berhala-berhala ciptaannya” (ibid. x).

[13]Menurut

[14]Ibid. 61.

[15]Ibid.

[16]Ibid. 60.

[17]Ibid. 69.

[18]Ibid.

[19]Ibid. 70.  Perhatikan bahwa pernyataan ini jelas menunjukkan keterkaitan yang erat antara isu Trinitas dengan isu Kristologi.

[20]Hal-hal lain yang penulis sangat kagumi dalam pembahasan Kristi adalah adanya analisis yang tajam dan kritis dalam menafsir Filipi 2:6.  Namun karena keterbatasan ruang maka penulis tidak akan menyanggah pandangan Kristi terhadap teks ini.  Tulisan yang menyajikan analisis eksegetikal tajam, kritis, dan teknis dari kalangan Protestan untuk menyangga pandangan seperti pikiran Kristi ini, lih. artikel C. F. D. Moule,  ”Further Reflections on Philippians 2:5-11,” [www.theologicalstudies.org.uk/pdf/ philippians_moule.pdf].  Diakses pada tanggal 3/7/2007 pkl. 18.00.

[21]Ini menjadi kekhawatiran penulis dengan pokok pengakuan iman yang dirumuskan oleh Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) lewat pernyataannya, ”Prinsip teologis-eklesiologis yang menjadi landasan adalah Gereja Bagi Orang Lain, yang di dasarkan atas prinsip kristologis, Yesus adalah Manusia Bagi Orang Lain.”  Jelas pernyataan ini mengandung pemahaman yang berat sebelah dalam memandang siapa Yesus.  Lihat brosur PGI tentang “Pengakuan dan Tujuan,” (dikeluarkan oleh PGI) 5.

[22]Allah dalam Alkitab dan Al-Qur’an, 21.  lih. bab 1 “Membedakan Pengertian Allah dan Tuhan,” Bukan Allah Tapi Tuhan 5).

[23]Lihat pendekatan yang ia lakukan pada bab 1 “Membedakan Pengertian Allah dan Tuhan,” Bukan Allah Tapi Tuhan 5).

[24]N. T. Wright, “The Divinity of Jesus,” dalam The Meaning of Jesus: Two Visions (New York: HarperSanFransisco, 1989) 159.  Lihat juga Richard Bauckham, God Crucified: Monotheism & Christology in the New Testament (Grand Rapids: Eerdmans, 1998) 6.

[25]Lihat buku Bauckham, God Crucified

[26]“The Divinity of Jesus,” 158.

[27] Bauckham, God Crucified 9.

[28]Ibid.

[29]Ibid. 

[30]A Social Reading of the Old Testament: Prophetic Approaches to Israel’s Communal Life (Minneapolis: Fortress, 1994) 44.

[31]Lih. juga ayat 23

[32]Lihat juga ayat 18, 21, 22; 46:9; Yl. 2:27.  Lihat juga Kel. 8:10; Ul. 32:39; 33:26; 2Sam. 7:22; lihat juga pengakuan indah seorang panglima perang kerajaan kafir, Naaman dalam 2Raja-raja 5:15.

[33]“The Divinity of Jesus,” 160.

[34]“The Divinity of Jesus,” 161.

[35]Wright membandingkan Yohanes 1:14 dengan Sirakh 24 (ibid).

[36] ibid.

[37]ibid.

[38]lihat buku C. F. D. Moule, The Origin of Christology (Cambridge: Cambridge University, 1977) 11-46.


Aksi

Information

7 responses

24 09 2008
hitapupondang

What a comprehensive analysis ! Terima kasih saudara telah ikut mengelaborasi perspektif kekeliruan teologi Frans Donald cs. Saya juga turut mengetengahkan masalah ini dalam posting “Contra Haereses Kristen Tauhid” saya di http://ourunity.blogspot.com atau di http://hitapupondang.wordpress.com. Sebagai bahan sharing maka masalah Trinitas adalah masalah kompleks namun sekaligus mudah untuk dipahami asalkan kita mencoba membiarkannya sebagaimana Dia adanya. Pihak Frans Donald cs menggunakan teknik idiosinkratik yang ketat dan kaku dalam menafsirkan Kitab Suci yang mana justru membawa mereka pada ambruknya iman. Teologi murni adalah sebuah kontemplasi kepada Sang Logos. Kalau Yesus dinyatakan sebagai Firman Allah [Bapa] dan sebaliknya Yesus oleh bidat Kristen Tauhid dinyatakan bukanlah Allah maka dengan apa lagi Bapa [Allah] menciptakan dunia ini ? Adakah Firman Allah yang lain ? Thanks. Leonard Tiopan Panjaitan.

26 09 2008
perdian

Thanks bang! Saya setuju dengan anda. Dan menurut saya metode penafsiran yang keliru, yang biasanya dipengaruhi oleh filsafat zaman ini, sangat mungkin pula terjadi dalam lingkup kekristenan ortodoks sekalipun. Seperti misalnya konsep “hidup kekal” saat ini yang menurut saya cenderung digerus oleh filsafat materialisme/hedonisme yang akhirnya ditafsirkan sempit sebagai “hidup berkelimpahan kenikmatan di sebuah tempat yang indah nun jauh di sana selama-lamanya.” Padahal jelas Yohanes 17:3 menyatakan bahwa hidup kekal bicara soal relasi yang intim dan kontinu (ginosko/yada) dengan Allah dan Yesus!

Biarlah kita makin mencintai firman-Nya di zaman yang sulit ini. Keep on fire, bang! Laus Dei!

15 10 2008
daniel

Kalimat dr “perdian” Padahal jelas Yohanes 17:3 menyatakan bahwa hidup kekal bicara soal relasi yang intim dan kontinu (ginosko/yada) dengan Allah dan Yesus!

Dengan Allah dan Yesus, berarti ada dua pribadi!
tolong jelaskan ini.

30 10 2008
perdian

Terima kasih untuk sanggahan saudara Daniel.

Memang pembicaraan tentang Tritunggal akan makin rumit tatkala kita tidak memahami terlebih dahulu soal konsep Allah menurut Alkitab. Menurut saya konsep ALlah di Alkitab unik dan berbeda dari konsep Allah di agama-agama lain. ALkitab (baik PL maupun PB) tidak melihat Allah dari perspektif ontologis saja, tapi menurut saya aspek yang paling penting ditonjolkan alkitab adalah aspek metafisik dari ALLAH (baca Richard Swinburne, The Christian God [Oxford: Clarendon, 1994]). Atau kalau memakai bahasa Richard Bauckham, Yudaisme maupun kekristenan cenderung lebih mengetengahkan aspek fungsional daripada ontologis (God Crucified:Monotheism & Christology in the New Testament [Grand Rapids: Eerdmans, 1994]). Praktisnya, bagi orang yahudi maupun Gereja mula-mula, pembicaraan soal Allah tidak pernah mengarah kepada pembicaraan soal “what divinity is” (ini lebih berbau helenistik), tetapi kepada “who YHWH is.” Itulah sebabnya pembicaraan yang berbau konseptual tentang Allah hampir tidak ada di dalam Alkitab. Umat mengenal Allah bukan lewat “konsep” tapi lewat apa yang Ia kerjakan, lakukan dan nyatakan kepada umat. Itulah sebabnya Allah memperkenalkan diri dengan formula, “Aku adalah Aku” (Kel. 3:13-14), “Akulah TUHAN, Allahmu yang membawa engkau keluar dari tanah Mesir (Kel. 20:2), dll.

Implikasinya bagi konsep monoteisme Yahudi: bagi mereka, kalau dikatakan bahwa Allah itu Esa, tidak bicara soal numeris (ontologis) tapi bicara soal bahwa DIALAH SATU-SATUNYA ALLAH dan tidak ada yang lain selain dia. Secara khusus coba baca Markus 12:32; 1Kor. 8:4 (Ul. 4:35, 39; 1Sam. 2:2; 1Raj. 8:60; Yes. 44:8; 45:5, 6, 14, 18, 21, 22; 46:9; Dan. 3:29; Yl. 2:27).

Dari pemahaman ini maka sebenarnya tidak ada masalah tentang doktrin Trinitas atau pembicaraan soal Allah dalam tiga pribadi yang unik pada dirinya masing-masing tetapi satu di dalam ke-ALLAHAN (Godhead) yang mutlak dan tiada duanya.

Salam

29 04 2009
yesusbukanallah

Syalom.
Mohon disimak juga dengan seksama buku Frans Donald yang judul “MENJAWAB DOKTRIN TRITUNGGAL Perihal Keallahan Yesus” (ada di toko buku). Di buku tsbt juga ada komentar teolog LEMBAGA ALKITAB INDONESIA yang tegas menolak Trinitas. Juga ada Romo yang berkata: Yesus bukan Allah!. Sebenarnya sudah banyak pendeta dan teolog gereja-gereja di Indonesia yang menolak doktrin Trinitas.
Yang belum baca buku tsbt sebaiknya silakan dibaca dulu dengan seksama dan teliti.
Syalom …

18 09 2010
acimz

Menurut saya pribadi..semua perbedaan yg terjadi adalah krn masalah kultural di mana Allah ingin dikenal tp tdk berbenturan dgn kultur suatu bangsa..konsep keesaan Allah oleh suku Israel akan berbeda dgn kultur Yunani,Media,Persia,Arab,dan bgs2 lain. Ketika suatu kultur bgs yg mengadopsi politeisme sbg bagian dr bgs tsb,maka Allah akan memperkenalkan diri-Nya dlm bentuk yg mudah dipahami ttp tdk menghilangkan keesaan-Nya..yaitu konsep :Trinitas..krn hanya ini cara utk menjangkau bgs2 spt yunani utk bisa mengenal Allah yg selama ini menyimpang dr ajaran mrk selama ini yaitu “politeisme”. Begitupun budaya Arab,pasti mengadopsi nama Allah mereka yg tdk berbenturan dgn kultur mrk yg selama ini mrk kenal (yg mgk bagi org Kristen berkata bhw nama Allah kan sebenarnya nama suatu “ilah” di tanah Arab yg diadopsi menjadi agama Islam). Byk kultur yg berbeda yg sesungguhnya akan mempengaruhi doktrin ttg keesaan Allah. Di budaya romawi mrk mengenal istilah “anak dewa” di mana dewa mrk layaknya manusia bisa mempunyai anak..nah pd zaman Yesus hidup,budaya romawi juga sgt kuat dlm kehidupan org Israel..krn ada byk pertukaran budaya,mk terjadilah perkawinan kebudayaan lokal dgn budaya asing..hal ini juga akan mempengaruhi doktrin yg diterima,shg muncul istilah “Anak Allah” yg mgk spesial maknanya bagi pengikut Yesus. Walaupun zaman dahulu sudah ada istilah “anak Allah” pd zaman PL,itu juga dikarenakan byknya peristiwa yg terjadi dlm sejarah umat Israel,dr perpindahan,pengasingan,pembuangan,penjajahan..dll. Semoga smp disini kita mengerti bhw Allah ingin juga dikenal oleh bgs2 lain dgn cara2 yg tidak berbenturan dgn kulturnya ttp juga tdk menghilangkan keesaan Allah. Penjelasan yg singkat ini mgk terdpt kekurangan,mohon dimaklumi,krn penjabaran keesaan sangatlah kompleks dan kita merasakan dampaknya smp berabad2 lamanya.thanks.

18 09 2010
acimz

Kolose 3:10 – 11 “ dan telah mengenakan manusia baru yang terus-menerus diperbarui untuk memperoleh (pengetahuan yang benar menurut gambar Penciptanya); dalam hal ini tidak ada lagi orang Yunani atau orang Yahudi, orang bersunat atau orang tak bersunat, orang Barbar atau orang Skit, budak atau orang merdeka, (tetapi Kristus adalah semua dan di dalam segala sesuatu).”

Semua perbedaan doktrin keyakinan dalam 3 agama samawi (Yahudi-Kristen-Islam) adalah proses kita dalam mencapai pengetahuan ttg Allah yang “sedang” menuju kesempurnaan.. “tritunggal agama” (maaf..saya menggunakan kata tritunggal utk 3 agama di atas,krn ini sbg “tanda” bhw nama Allah dlm satu akar sejarah tetap ada dlm 3 komunitas terbesar ini smp skr yg membedakan mrk dgn agama2 lain) yg ada saat ini perlu saling menghormati setiap budaya yg “tersisip” dlm setiap ajaran masing2 satu sama lain. Bayangkan saja jika 3 agama menjadi “esa” di dalam “kemahaesaan” Allah,dunia akan berubah total di setiap sendi2 kehidupan,mgk menjadi semacam eden di muka bumi..ttp itu semua perlu semacam kekuatan kasih yang “superkuat” untuk mengikat mrk satu dgn yg lainnya,namun kenyataan mmg tdk semudah konsep yg dibicarakan bukan?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: