Salib dan Misi

1 08 2008

Ada informasi menarik yang diberikan oleh Encarta Encyclopedia perihal salib.  Salib ternyata merupakan bagian yang sudah lazim dalam banyak budaya bangsa-bangsa purba.  Sebut saja Mesir yang memiliki salib bernama, ankh (Latin: ansata, berarti “salib dengan pegangan”).  Dalam budaya Malta bentuk salibnya mirip seperti salib yang kita kenal selama ini (salib Yunani), berbentuk simetris, hanya saja pada keempat bagian ujungnya terdapat pola berbentuk seperti huruf “V”.  Budaya Budhisme dan Hinduisme pun memilki salib yang dikenal dengan istilah “Swastika.” Swastika adalah salib yang pada setiap ujungnya diberikan tambahan yang dibengkokkan ke kanan.

Pada umumnya salib dalam budaya-budaya tersebut bukan sekadar sebuah ornamen pemanis ruangan, tapi lebih jauh menjadi simbol yang membawa makna tertentu.  Bagi kebanyakan orang-orang kuno saat itu, salib Yunani merupakan sebuah metafor untuk empat elemen yang tidak dapat dihancurkan: udara, tanah, api dan air.  Karena itu salib dianggap sebagai simbol dari permanensi.  Bagi orang Mesir salib dianggap sebagai simbol kehidupan.  Kombinasi salib dengan sebuah lingkaran merupakan simbol dari kekekalan.  Bagi kaum Budhis, Swastika melambangkan penyerahan diri kepada yang ilahi (resignation), sedangkan bagi Hinduisme dengan Swastika yang ujung-ujungnya bengkok ke kiri, ini menyimbolkan malam, kekuatan magis, dan dewa penghancur, Kali.  Kesimpulannya, “salib” tampaknya menjadi simbol yang memegang peran penting dalam kehidupan spritualitas agama-agama kuno dahulu kala.    

Dalam sebuah wawancara, Bernadine Barnes seorang pengajar dari Universitas Wake Forest di Winston-Salem, Karolina Utara mengutarakan satu pandangan menarik berkaitan dengan salib Mesir yang ternyata sudah berusia sangat tua: 2500 tahun sebelum masehi.  Salib bagi budaya Mesir ternyata berarti “kehidupan.”  Makna “kehidupan” yang dikandung oleh salib tampaknya menarik minat Gereja-gereja Koptik yang tumbuh subur di Mesir untuk menyandingkannya dengan makna salib Romawi yang lebih menekankan “perendahan dan penderitaan.”  Joel B. Green mengatakan lewat penderitaan dan perendahan, muncul pengharapan dan kehidupan.

Dalam Kekristenan, salib adalah kekristenan itu sendiri; atau kekristenan bukanlah kekristenan tanpa salib.  Tidak heran kalau teolog reformasi terkenal, Martin Luther mengatakan, “Christian theology is the theology of the cross rather than a theology of glory.”  Namun ada pergeseran makna yang cukup signifikan dari konsep Gereja mula-mula dengan konsep Gereja abad pertengahan (bahkan mungkin sampai hari ini) terhadap salib.  Simbol-simbol salib pada Gereja abad-abad pertengahan biasanya menyertakan tubuh Tuhan Yesus yang terpaku.  Simbol ini sangat bertolak belakang dengan apa yang dilakukan oleh Gereja abad pertama.  Simbol  salib yang digunakan oleh Gereja pada abad pertama biasanya tidak disertai dengan tubuh Yesus.  Ini terjadi karena dua alasan: pertama, dengan latar belakang yang tidak dapat dipisahkan dari Yudaisme, Gereja mula-mula ingin menjaga diri dari penyembahan berhala; kedua, namun lebih dari pada itu, kebiasaan ini sebenarnya berkaitan dengan isu paskah.  Dengan kata lain, simbol salib yang dipahami oleh Gereja mula-mula lebih menekankan kebangkitan Yesus daripada kematian-Nya.  Dan itulah yang menjadi sentralitas pemberitaan mereka tentang Injil Yesus Kristus.

Dalam artikel terbarunya di majalah Christianity Today yang merupakan sari dari buku terbarunya Suprised by Hope: Rethinking Heaven, the Resurrection and the Mission of the Church, “Heaven is Not Our Home,” uskup Durham N. T. Wright mengatakan bahwa misi Gereja tidak lain dan tidak bukan merupakan karya yang keluar, di dalam kuasa Roh Kudus, dari kebangkitan tubuh Yesus Kristus.  Misi kepada dunia ini merupakan antisipasi dari pengharapan pasti kita akan transformasi semesta yang sudah dikerjakan-Nya dan yang akan disempurkan-Nya ketika kemuliaan Allah hadir di tengah-tengah memenuhi bumi ini (Mzm. 57:5, 11; 72:19; 108:5; Yes. 6:3), bumi yang dengan amat sangat baik diciptakan-Nya (Kej. 1:31).  Kesalahan terbesar yang dibuat oleh kalangan Kristen dengan istilah misi adalah menyetarakan misi dengan sekadar keselamatan jiwa-jiwa.  Dunia kita adalah dunia yang tidak abstrak, dan disetiap area kehidupan kita kebangkitan tubuh Kristus yang memberi pengharapan dan solusi itu harus diberitakan.  Problem-problem yang terjadi di sekitar kita adalah problem-problem riil: kasus-kasus penculikan yang berujung pada trafficking, anak kecil yang bunuh diri karena tidak mampu bayar uang sekolah, ibu dan anak yang meninggal karena tidak punya uang untuk makan, bantuan buat korban bencana yang tidak pernah tepat sasaran. Di pihak lain para penguasa yang semestinya menjadi “gembala” bagi warga negara justru sibuk bersaing dengan agenda-agenda pilkadanya.  Sungguh, bumi yang diciptakan Allah dengan sangat amat baik ini telah dicemari dengan kenajisan dan kefasikan (Yeh. 36:17).  Gereja yang mengakui bahwa dengan kebangkitan Yesus, semesta ini telah menjadi Kerajaan-Nya haruslah menjadi inspirator dan inisiator yang membawa transformasi menyeluruh itu.  Saya sungguh terharu dengan perkataan Wright yang penuh dengan penghayatan yang sangat dalam, “. . . seluruh dunia kini adalah tanah kudus kepunyaan Allah, kita tidak boleh beristirahat sepanjang tanah kudus itu dicemari dan dinodai. Panggilan ini bukanlah tambahan pada misi Gereja.  Ini adalah pusat dari misi Gereja.”  Dengan demikian berita paskah hanya memiliki satu implikasi bagi mereka yang memercayai dan menghayatinya: tidak ada kata berhenti untuk bermisi di tengah-tengah dunia milik Allah ini.

 


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: