Revival Requires Holiness (Kisah Para Rasul 5)

1 08 2008

 

 

Kalau kita mempelajari dengan seksama pasal 1-4 dari Kitab ini, maka sebenarnya gambaran revival yang terjadi dalam Gereja mula-mula bukanlah gambaran revival yang menyenangkan seperti konsep revival yang dianut banyak kalangan Kristen saat ini.  Dan jelas semakin lama semakin berat tantangan yang dihadapi Gereja berusia prematur ini, khususnya tantangan yang berasal dari luar: Saduki, Herodes & Pilatus.  Namun teks kita kali ini memaparkan bahwa tantangan dalam revival yang dialami oleh Gereja mula-mula itu tidak sekadar berasal dari luar Gereja, melainkan dari dalam Gereja sendiri.  Dan ini merupakan kisah yang saya yakin sangat pahit buat Gereja mula-mula saat itu.

 

 

 

Saya sangat yakin kisah ini adalah kisah yang tidak asing lagi buat kita.  Namun mungkin satu pertanyaan yang perlu kita ajukan saat membaca teks ini adalah, “Apa yang sebenarnya menjadi motivasi Ananias dan Safira sehingga mereka memberikan persembahan yang setengah hati itu dan yang kemudian mengakibatkan kematian tragis mereka?”

Kita tidak mungkin menjawab pertanyaan ini kalau kita tidak mengaitkan teks ini dengan teks sebelumnya; sebab kalau kita perhatikan dengan seksama alur teks ini, maka sebenarnya teks pasal 5 ini tidak terlepas dari bagian sebelumnya (4:32-37), khususnya 4:36-37.  Satu frase yang menurut saya menyatukan pasal 4:32-37 dengan 5:1-11 adalah frase, “mereka letakkan di depan kaki rasul-rasul” (4:35) yang tampaknya merupakan kebiasaan dari jemaat mula-mula itu yang kembali muncul pada 4:37, pada saat Barnabas menyerahkan harta kepunyaanya dan 5:2 (Ananias dan Safira). 

Dalam pasal 4:32-37 dikisahkan bagaimana jemaat mula-mula hidup dalam kasih yang luar biasa kepada sesamanya.  Disebutkan dalam ayat 32, “. . . tidak seorang pun yang berkata, bahwa sesuatu dari kepunyaanya adalah miliknya sendiri, tetapi segala sesuatu adalah kepunyaan mereka bersama.”  Kita perlu sadar bahwa semangat Gereja mula-mula ini tidak sama dengan semangat sosialisme-komunis yang punya konsep “sama rasa, sama rata.”  Mengapa?  Sebab dalam sistim sosialisme-komunis, konsep sama rasa, sama rata adalah konsep yang cenderung lahir dari pemaksaan.  Dan parahnya, dalam realitasnya, sistim ini sebenarnya hanya utopia belaka karena dalam semua negara komunis, justru jurang antara orang-orang kaya dengan orang-orang miskin sangat lebar.  Orang-orang kaya makin kaya dan hanya orang-orang miskin dan kecil yang dipaksa untuk menganut filsafat ini. 

Tapi semangat yang ditampilkan oleh Gereja mula-mula ini sangat berbeda.  Saya setuju dengan pandangan dari Bible Exposistion Commentary yang mengaitkan keberanian jemaat mula-mula untuk memberi ini dengan doa penuh keberanian mereka yang tercantum dalam bagian sebelumnya (4:23-31).   Dia ayat 24 dipaparkan bahwa mereka berdoa “bersama-sama.”  Terjemahan ini kurang tepat sebab memberi kesan bahwa mereka sekadar bersama-sama melakukan aktivitas doa tanpa bersama-sama bersatu dalam motivasi yang sama.  Kata homothumadon yang diterjemahkan “bersama-sama” oleh terjemahan LAI TB di sini semestinya berarti with one mind, with one passion, with one accord.  Ya, mereka tidak sekadar bersama-sama melakukan aktivitas doa, tapi dalam doa bersama mereka, hati mereka dipenuhi oleh pikiran dan hasrat/kerinduan (passion) yang sama yakni supaya semua orang tahu dan mengenal bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan dan Mesias yang hidup!  Satu hal yang menarik adalah dari 12 kali kemunculan kata homothumadon, 11 kali kata ini muncul di kitab Kisah Para Rasul.  Heidland, seorang ahli bahasa Yunani memberikan pandangan menarik seputar penggunaan kata ini dalam dunia Yunani sekuler.  Dia mengatakan bahwa kata ini tidak digunakan dalam tendensi sekadar perasaan simpati seseorang kepada orang lain, tapi justru digunakan dalam tendensi perhatian berbentuk material dalam tindakan konkret yang nyata.  Dengan kata lain pada saat kata ini digunakan dalam PB, yang mau ditekankan dalam kesehatian jemaat mula-mula bukanlah kesehatian yang abstrak, melainkan kesehatian yang dimaksudkan adalah kesehatian yang konkret, yang nyata dalam tindakan-tindakan yang dapat dilihat.  Dan itulah yang saya yakini menjadi penyebab dari tindakan memberi (giving) mereka yang tidak tanggung-tanggung dan tidak hitung-hitungan itu.  Dan menurut saya kalau sampai kata ini dipakai 11 kali dalam Kisah Para Rasul dari 12 kali kemunculannya dalam PB, maka sebenarnya Lukas hendak menekankan bahwa salah satu dampak dari revival sejati yang dikerjakan oleh Allah Roh Kudus adalah dihancurkannya keegoisan, sikap mementingkan diri sendiri dan tidak mau peduli dengan orang lain.  Kerohanian yang sejati yang mau diajarkan oleh Lukas lewat kitab Kisah Para Rasul di sini adalah bahwa kalau seseorang adalah orang Kristen sejati, satu ciri utama yang akan tampak dalam dirinya adalah keinginannya untuk berbagi dengan orang lain dan bukannya menumpuk materi untuk dirinya sendiri.  Orang Kristen yang sejati adalah orang Kristen yang akan selalu gelisah dan tidak sejahtera kalau ia makin diberkati Tuhan namun ia tidak berbagi dengan orang lain.  Mengapa?  Karena kalau ia sungguh-sungguh adalah anak Allah, ia akan selalu terharu dan termotivasi tatkala melihat bagaimana Bapa rela memberikan anak-Nya yang tunggal untuk dunia yang sebenarnya tidak pantas untuk dikasihi.  Dengan kata lain sungguh aneh dan mengherankan kalau ada orang Kristen yang sudah mengalami karya Kristus Yesus tapi tetap kikir, egois dan tidak mau berbagi dengan orang lain. 

Saudara, jangan pernah berpikir bahwa Gereja mula-mula itu hanya terdiri dari orang-orang Yahudi saja, sebab memang dalam pasal 2:9-10 disebutkan bahwa orang-orang yang akhirnya menjadi Kristen itu sebagian besar adalah orang-orang Yahudi yang datang untuk berziarah dalam rangka Pentakosta.  Tapi jangan lupa bahwa dalam pasal 2:11 di sana juga dicatat bahwa yang hadir di sana bukan sekadar orang Yahudi saja tapi juga orang-orang non-Yahudi yang sudah memeluk agama Yahudi, orang Kreta dan bahkan orang Arab!  Luar biasa! Mereka bahkan rela dalam sukacita ilahi berbagi dengan orang-orang yang tidak sesuku dengan mereka, yang mungkin dulunya sangat mereka benci dan tidak sukai!  Dan sebenarnya menurut saya inilah salah satu kekuatan yang sangat menonjol dari Gereja mula-mula yang membuat banyak orang tertarik pada kekristenan: tidak ada lagi pembeda-bedaan itu.  Tidak ada lagi kecurigaan-kecurigaan dan kepahitan-kepahitan rasial itu, sebab semuanya sudah dipulihkan oleh darah Yesus.  Tidak ada lagi kesombongan-kesombongan dan arogansi-arogansi ras yang membuat kita memandang rendah orang-orang dari suku lain. 

Bagi saya sangat aneh kalau ada seorang Kristen yang katanya sudah menerima Kristus tapi tetap hidup dalam kecurigaan-kecurigaan terhadap suku-suku tertentu.  Sebab jujur harus kita akui bahkan di tengah-tengah Gereja di Indonesia, trauma-trauma sosial dan kepahitan-kepahitan yang kita terima dari orang-orang tertentu yang kebetulan berasal dari suku tertentu membuat kita mengeneralisasi dan memberikan cap-cap tertentu kepada suku-suku itu.  Saya secara pribadi sangat tidak suka dengan pembedaan-pembedaan pribumi-non pribumi, wanatenglang, dll. 

Saudara, saya sempat menyelidiki secara pribadi apa yang sebenarnya menjadi akar konflik berdarah yang terjadi di banyak negara belakangan ini.  Dan setelah saya selidiki ternyata semua konflik itu berakar pada kebencian antar suku yang terus-menerus terpelihara.  Dan sebenarnya bukankah ini kesempatan kita menjadi saksi Kristus dan memberitakan kepada dunia bahwa di dalam Kristus ada rekonsiliasi yang sejati.  Bukankah kesaksian Gereja akan menjadi sangat kuat tatkala Gereja-gereja Tuhan bisa bergandengan tangan tanpa memandang perbedaan-perbedaan itu dan dengan sehati sejiwa mendeklarasikan bahwa Kristus adalah Mesias?  Jangan pernah pandang hitamnya kulit temanmu, tapi pandanglah bahwa Kristus sudah memutihkan hatinya!  Semangat inilah yang hendak Paulus tekankan kepada jemaat Galatia yang (mungkin merupakan jemaat paling rasis) dalam pasal 3:28.  Saudara perlu perhatikan dari bagian pendahuluan suratnya, surat Galatia adalah surat yang paling keras yang Paulus tulis, jauh melampaui surat kepada jemaat Korintus yang kita anggap adalah jemaat yang paling berdosa.  Saya sungguh tercengang dengan cara Paulus di sini sebab tampaknya Paulus ingin mengingatkan dengan keras bahwa rasisme adalah dosa besar sama seperti besarnya dosa perzinahan.  Sebab rasisme sebenarnya adalah tindakan pengingkaran terhadap karya Kristus di Golgota yang menyatukan semua bangsa.

Menariknya, setelah Lukas memaparkan pola hidup umum jemaat mula-mula saat itu yang penuh dengan kemurahan hati (ay. 32-35), pada ayat 36-37 Lukas langsung secara spesifik menyebutkan nama Barnabas dan tindakan memberinya yang dipandang positif.  Pencantuman nama Barbanas secara spesifik dalam tindakan memberinya ini tampaknya menjadi jembatan sebelum masuk menjelaskan tentang dosa Ananias dan Safira.  Dua contoh ini tampaknya sengaja dibandingkan oleh Lukas dengan jujur untuk menunjukkan bahwa di tengah-tengah semangat revival yang ada saat itu tetap saja ada ketidakmurnian yang muncul yang sangat mungkin menjadi potensi yang dapat menghancurkan gerak langkah pemberitaan Injil dan kesaksian jemaat saat itu.  Mungkin pertanyaan yang perlu kita tanyakan di sini adalah, “Perbandingan apa yang diberikan oleh Lukas berkenaan dengan dua contoh ini?

Kalau kita perhatikan ayat 36-37 itu maka kita menjumpai bahwa sebenarnya nama Barbanas bukanlah nama yang sebenarnya.  Nama sebenarnya dari contoh pertama ini adalah Yusuf.  Nama Barnabas kelihatannya adalah semacam nama julukan yang disematkan kepadanya oleh komunitas Gereja mula-mula saat itu sebagai penghargaan atas semua tindakan positif yang dilakukan oleh Yusuf.  Barnabas disebutkan berarti “anak penghiburan.”  Istilah lain yang dapat diartikan sama dengan anak penghiburan adalah “anak penyemangat,” sebab frase Yunani yang dipakai di sini adalah huios parakleseos, yang mana parakleseos dapat diterjemahakan encouragement/pendorong/penyemangat.  Tampaknya ia bukan seorang pengkhotbah yang populer seperti Petrus tapi tindakannya yang aktif dalam mendampingi orang lain serta kemurahhatiannya sangat memberikan impresi tersendiri bagi banyak orang saat itu.  Dan saya yakin pemberian julukan ini kepada Barnabas pastilah disebabkan karena popularitas Barnabas yang sangat mempengaruhi Gereja mula-mula saat itu.  Howard Marshall memberikan komentar demikian berkaitan dengan pemberian julukan Barnabas kepada Yusuf ini:

The example of generosity shown by Barnabas is singled out for special mention, possibly because it was an outstanding one, and certainly because Barnabas will appear later in the story as a Christian leader conspicuous for his sheer goodness (11:24).

Dengan kata lain pemberian nama lain ini sangat mungkin, tidak lain disebabkan karena karakter Barnabas yang sangat indah itu terpancar dan dinikmati oleh orang-orang di sekitarnya.  Dan karakter ini terus ditunjukkan secara konsisten oleh Barnabas tatkala ia membimbing Paulus paska pertobatannya, di tengah-tengah banyak orang tidak suka dan tidak mau menerima Paulus karena takut (9:27); atau pada saat ia menguatkan orang-orang Kristen Kristen di Anthiokia (11:23-24); atau pada saat ia membawa dan mencoba membimbing kembali Yohanes Markus yang sudah sangat mengesalkan Paulus (15:36). 

Nah, tampaknya keinginan untuk menjadi orang yang terpandang, terkenal, beken dan berpengaruh di dalam jemaat inilah yang juga pada akhirnya mendorong suami-istri Ananias dan Safira ini untuk membawa harta mereka kepada para rasul.  Asumsi saya ini berangkat dari kata de (“tetapi”) yang semestinya ada pada bagian awal pasal 5:1 namun tidak terdapat dalam terjemahan kita.  Kata ini jelas dipakai Lukas untuk mengontraskan Barnabas dari Ananias dan Safira. 

Dari struktur kalimat yang mirip (namun dalam penekanan yang berbeda) yang diungkapkan Lukas pada 5:2 dengan 4:34 & 37, maka tampaknya Lukas hendak menekankan adanya sikap yang berbeda antara apa yang dilakukan oleh Ananias dan Safira dengan sikap jemaat-jemaat Gereja mula-mula pada umumnya, termasuk Barnabas:

Dengan setahu isterinya ia menahan sebagian dari hasil penjualan itu dan sebagian lain dibawa dan diletakkannya di depan kaki rasul-rasul.

 

Bandingkan dengan ayat  34 dan ayat 37:

 

Sebab tidak ada seorangpun yang berkekurangan di antara mereka; karena semua orang yang mempunyai tanah atau rumah, menjual kepunyaannya itu, dan hasil penjualan itu mereka bawa

 

Ia menjual ladang, miliknya, lalu membawa uangnya itu dan meletakkannya di depan kaki rasul-rasul.

 

Ada satu kata penting yang ditonjolkan Lukas dalam 5:2 yang tidak terdapat dalam 4:34 & 37, yang membuat kedua contoh ini mirip tapi tak sama, yaitu kata menahan.  Darrell Bock mengatakan bahwa kata “menahan” (enosphisato) di sini berbentuk indirect refleksif yang kalau dapat diterjemahkan, “He kept for himself.”  Dalam terjemahan LXX (Septuaginta, Alkitab Ibrani berbahasa Yunani), kata ini dipakai untuk tindakan Akhan (Yos.7:1) yang menyembunyikan/mencuri harta jarahan yang semestinya dibasmi seluruhnya.  Tidak heran kalau kata ini, yang muncul dalam Titus 2:10 dalam versi NIV dan NLT, termasuk BIS menerjemahkannya dengan steal atau “mencuri.”  Dengan kata lain tindakan Ananias dan Safira di sini dapat disamakan dengan tindakan mencuri apa yang seharusnya tidak menjadi milik mereka! 

 

Teguran dari Petrus dalam ayat 3 sangat menarik untuk dicermati.  Di sini Petrus seolah-olah memiliki kemampuan untuk mengenali apa yang menjadi dosa Ananias dan Safira.  Ini membawa saya dalam satu pemahaman bahwa seseorang yang makin dekat dengan Tuhan akan diberikan sensitivitas tertentu (sebatas kehendak Tuhan) untuk mampu mengenali setiap motivasi-motivasi yang melekat dalam diri seseorang.  Karena itu setiap kakak KTB perlu terus dekat dengan Tuhan supaya ia sanggup mengamati setiap motivasi-motivasi yang tidak berkenan kepada Tuhan.  Kemampuan Petrus untuk membaca hati Ananias dan Safira juga menggambarkan bahwa Allah sedang ada di tengah-tengah mereka saat itu dan memakai Petrus untuk menyingkapkan apa yang menjadi dosa yang dapat menghancurkan komunitas Gereja tersebut.  Perkataan Petrus dalam ayat 4, “Engkau mendustai Allah dan bukan mendustai manusia” makin menguatkan asumsi saya bahwa saat itu Petrus sedang mewakili Tuhan yang hadir dan murka kepada Ananias dan Safira.

 

Berikutnya Petrus mengaitkan tindakan sepasang suami-istri (yang saling mengefektifkan dalam kejatuhan) ini sebagai tindakan yang dimulai oleh Iblis sebab Iblis adalah bapa dari para pendusta dan di dalamnya tidak ada kebenaran.  Dalam NASB, istilah “dikuasai Iblis” diterjemahkan “satan filled your heart.”  Frase ini mengambarkan keironisan sebab hati mereka dipenuhi Iblis di tengah-tengah suasana revival, di mana berulang-ulang ditekankan oleh Lukas bahwa para murid dan jemaat mula-mula itu filled by the Spirit.

 

Saat merenungkan kebenaran ini saya sungguh gentar dan sangat khawatir kalau-kalau kita dalam melayani Tuhan sering melakukan tindakan yang sama dengan Ananias dan Safira.  Kita berdusta dan mulai menganggap itu adalah hal yang wajar.  Saat kita diajak KTB kita membuat berbagai alasan untuk tidak hadir.  Lebih parah lagi kalau ada orang yang berdusta, mengatakan bahwa ia sudah melakukan yang terbaik buat Tuhan padahal pada kenyataanya, ia adalah orang yang paling malas.

 

Berapa banyak alasan yang kita buat saat orang-orang rohani yang ditempatkan disekitar kita memberikan teguran dan masukkan yang sangat rohani kepada kita.  Saya sangat sedih melihat kalau ada seseorang adik KTB yang diberi masukkan oleh kakak-kakak yang rohani suka ngeyel dan malah menyalahkan orang lain.  Ini mental buruk dan hati-hati saya sungguh takut kalau-kalau Iblis ada di dalam hatimu dan sedang menggerakkan hatimu tanpa engkau sadari untuk berdusta dan menghindar dari kesalahan!

 

Saat saya melihat lebih jauh teks ini saya mendapati bahwa sebenarnya tidak ada tuntutan dari para Rasul bahwa semua harta harus diberikan.  Indikasi itu sebenarnya dapat kita lihat dari tenses bahasa Yunani dari ayat 34.  Kata “menjual” (polountes) dan “bawa” (epheron) yang dipakai di situ berbentuk present participle yang berarti penjualan harta benda disitu terjadi secara gradual dan tidak once at a time atau seketika!  Marshall mengatakan penjualan itu berlangsung gradual sesuai dengan kebutuhan yang ada.  Ini makin ditegaskan oleh rasul Petrus pada ayat 4.  Memang yang agak berbeda adalah dengan apa yang dilakukan oleh Barnabas.  Tense kata menjual yang dipakai pada 4:37 di situ adalah aorist yang mengisyaratkan bahwa ia hanya sekali menjual seluruh hartanya itu.  Dan lagi-lagi tampaknya pujian yang diperoleh oleh Barnabas memunculkan motivasi busuk dalam hati kedua suami-istri ini untuk ikut-ikutan dengan cara Barnabas.  Ini memberi kita satu pelajaran penting bahwa dalam soal memberi pun kita harus bijaksana dan harus bergumul sungguh-sungguh di hadapan Tuhan, dan tidak cuma sekadar ikut-ikutan apalagi ikut-ikutan dengan motivasi yang tidak baik.  Intinya adalah, sikap tamak dari Ananias dan Safira ini berupaya mereka bungkus dengan pola hidup memberi yang kelihatannya luar biasa.

 

Nama Ananias dan Safira sebenarnya memiliki arti yang sangat bagus.  Ananias berarti God is gracious sedangkan Safira (Saphire) berarti elok atau cantik.  Ironisnya berbagai motivasi yang tidak baik merupakan keindahan nama mereka.


Aksi

Information

One response

10 09 2008
hisar sihombing

mohon di bahas lebih dalam bahwa ananias dan safira di kisah fasal 5 langsung meninggal

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: