Kekristenan dan Politik, Makna Mesias dan Injil: Upaya Menyatukan Surga dan Bumi

1 08 2008

 

Dan aku melihat kota yang kudus, Yerusalem yang baru, turun dari sorga, dari Allah, yang berhias bagaikan pengantin perempuan yang berdandan untuk suaminya

Wahyu 21:3

 

. . . datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga

Matius 6:10

 

 

 

KEKRISTENAN DAN POLITIK

“Politik itu kotor!”  “Gereja tidak boleh berpolitik!”

Demikianlah sekelumit komentar-komentar yang sering dan umum terlontar baik dari mulut kalangan rohaniwan dan para gerejawan, maupun mulut jemaat biasa.  Sedikit banyak komentar-komentar tersebut ada benarnya sebab harus diakui dalam banyak segi, sekarang ini kehidupan gereja marak diwarnai oleh budaya berpolitik.  Dari pemilihan pengurus organisasi intra gerejawi (atau komisi) sampai pemilihan Ketua Sinode, lazim terdengar penggunaan stratagem-stratagem politik.  Pemilihan para penatua dan diaken sebagai anggota kemajelisan jemaat pun dalam banyak gereja tidak lagi memperhatikan syarat-syarat yang ditetapkan oleh Paulus dalam 1 Timotius 3 dan Titus 1:5-9.  Tentu kita tidak perlu malu-malu mengakui, melainkan sudah “TST”: Tahu Sama Tahu, kalau sebenarnya syarat utama bagi anggota majelis adalah “STU”: Status (baca: jabatan), Tingkat Sosial dan Uang.  Pada akhirnya di gereja terbentuk kaum elit agamawi yang terpandang, tersohor dan tak tersentuh.  Bahkan saat jelas-jelas kaum elit tersebut terbukti melakukan dosa dan mempermalukan nama Tuhan, tidak ada disiplin atau siasat gerejawi diberikan.  Namun lain soal tatkala anggota jemaat biasa (baca: bukan elit) yang melakukan dosa.  Belum lagi dosanya terbukti, ia sudah menjadi bahan cemoohan dan gosip di seantero gereja.  Ironis, gereja yang selama ribuan tahun telah menjadi suar yang memancarkan terang pengharapan kepada dunia yang gelap, hampir karam dan butuh kasih, telah cenderung telah menjadi tempat di mana kaum marginal dan lemah makin dipinggirkan dan diabaikan.  Gereja telah menjadi tempat bercokolnya kaum elitis, politisi rohani, yang suka dengan  status quo dan bermental mediocre atau berpuas diri.  Mereka pandai menghibur jemaat miskin dengan embel-embel hidup kekal, hidup bahagia dan tentram di negeri nun indah di sana, namun mereka selalu menghabiskan waktu dengan liburan ke luar negeri nun indah di sana, bersikap hidup kapitalis-hedonis, mengutamakan pembangunan gereja dan sarana pendukung berbiaya milyaran,  tanpa peduli dengan sesama warga gereja yang makan hanya sekali sehari, hidup di bawah atap nipah, berlantai tanah dan berdinding gedhek dan berjamban (maaf) sepotong kayu bambu yang ditanam di tanah.  Perhatikan saja penggunaan dana-dana gereja dari persembahan.  Berapa persen sih jumlah dana-dana itu yang sungguh-sungguh menyentuh kehidupan jemaat secara kongkrit?[1]  Bukankah kebanyakan dipakai untuk menyediakan sarana transportasi, sarana ibadah yang lebih layak: pendingin ruangan, kursi yang lebih bagus, gedung yang lebih modern dan canggih, yang kesemuanya merupakan simbol-simbol kapitalis dan bentuk penyesuaian dengan gaya hidup kaum elitis sehingga kalau mereka masuk gereja mereka dapat merasa seperti di rumah sendiri?  Pernahkah kita bertanya-tanya bukankah ada banyak anggota jemaat yang jadi sungkan masuk gereja sangking lux-nya perabot-perabot yang ada di dalamnya?

Kondisi ini makin diperparah dengan maraknya rohaniwan yang nimbrung bangun karir dan popularitas lewat panggung politik praktis.[2]  Di Papua sendiri (tempat penulis sedang melayani saat ini), para pendeta ramai-ramai “bedol gereja ke DPR/DPRD.”  Dengan mengutip bolak-balik ayat-ayat Alkitab secara sembarangan tanpa memperhatikan konteks sosio-historisnya, banyak Pendeta yang akhirnya ikut-ikutan terjun ke dunia politik.  Dampaknya tentu sudah bisa kita duga bersama.  Pelayanan pastoral serta pelayanan katekisasi jemaat tidak terperhatikan sebab gembala sibuk kampanye dan melakukan lobi politik, mimbar gereja menjadi tempat kampanye dan sebaliknya mimbar kampanye menjadi tempat berkhotbah (nah lho!!), dan masih ada banyak lagi konsekuensi negatif yang terjadi dalam kehidupan berjemaat, terutama mengingat budaya politik negara kita yang belum dewasa.  Tidak heran penulis sering menjumpai kekecewaan jemaat-jemaat awam terhadap pelayanan gerejawi yang tidak berjalan dengan baik karena tugas penggembalaan yang terabaikan.  Penulis secara pribadi sangat tidak berkeberatan jikalau ada pendeta yang sungguh-sungguh terpanggil dalam dunia politik,[3] tapi mengingat konteks budaya politik negara kita, kondisi penatalayanan gereja yang harus diakui banyak kelemahan dan realitas penganiayaan gereja yang sangat buruk yang membutuhkan figur gembala sebagai penghibur dan stigma negatif dari jemaat terhadap rohaniwan yang telah terlibat dalam politik, maka ada baiknya kita mendengar nasihat bijak dari pengamat politik, J. Kristiadi, “Sebaiknya para pastor dan pendeta mengatur umat saja, tidak perlu terjun ke politik. Kalau terjun ke politik sebaiknya mereka melepas posisi sebagai gembala.”[4]

Tapi kenyataan yang menyedihkan dari munculnya banyak kaum elitis gereja dan rohaniwan yang “mempolitisasi gereja dan mengerejanisasi politik,” jangan sampai membuat kita akhirnya apatis dan ogah berbicara dan bergaul dengan realitas politik yang ada di sekitar kita,  sebab harus diakui bahwa Alkitab, firman Tuhan kita sebenarnya sangat bernuansa politik.[5]  Mohon para pembaca yang budiman tidak salah menafsir penulis dalam hal ini.  Lewat pernyataan barusan, penulis tidak bermaksud untuk mengatakan bahwa kekristenan adalah agama politik.[6]  Yang penulis maksudkan dengan pernyataan bahwa Alkitab sangat bernuansa politik adalah bahwa sejarah umat Allah yang tertulis dalam kurun waktu ribuan tahun tidak pernah lepas dari konteks politik bangsa-bangsa yang melingkupinya dan selama ribuan tahun itu pula umat Allah selalu menggumuli berita Alkitab bahwa hanya YHWH-lah satu-satunya Raja semesta dengan realitas silih bergantinya kuasa-kuasa politik mencengkram dunia.  Alkitab bukanlah sebuah buku yang berisi catatan-catatan pengalaman kerohanian-asketis seorang pertapa yang hidup jauh dari dunia nyata.  Ia merupakan kalam Allah yang memuat pergumulan rohani umat Allah di tengah-tengah dunia yang memiliki beragam realitas sosial dan politik. 

Sikap ogah dan pongah terhadap perihal realitas politik inilah yang menurut penulis, pada akhirnya memunculkan banyak model kekristenan dualistis-dikotomis bermental eskapis yang sangat menekankan spiritualitas pro me (demi saya) dan melakukan pengabaian terhadap kenyataan dunia sekitar.  Tidak heran novel karya Tim Lahaye dan Jerry Jenkins berjudul Left-Behind, yang berdasar pada teologi dispensasionalisme menjadi bestsellers.[7]  Dan tidak heran pula kekristenan gnostik mulai marak lewat karya novel Dan Brown, The Da Vinci Code dan penerjemahan Injil Yudas.[8]   Jargon-jargon Kristen seperti pengangkatan (rapture),[9] surga, hidup kekal,[10] laris manis di mana-mana dan diteriakkan di sana-sini sebagai bentuk penyelesaian singkat atas segala masalah yang terjadi di muka bumi.  Ini pulalah yang membuat peran kekristenan di luar tembok gereja nyaris tak terdengar karena gereja emoh bersentuhan dengan realitas-realitas itu.  Gereja terus sibuk dengan urusannya mempersiapkan diri menyambut “hidup kekal” itu tanpa peduli dunia ini terus terseret hanyut dibawa arus kebinasaan.  Ya, surga dikejar, dunia ditinggalkan.  Tapi, bukankah ini adalah dunia Bapa yang diciptakan “sungguh amat baik,” yang harus dikelola sebaik-baiknya?  Dan bukankah perintah itu belum pernah ditarik oleh Tuhan sampai hari ini? Lha, kenapa kok sekarang banyak orang Kristen yang sudah ingin kesusu segera ke surga? (Kej. 1:31).

Kita tentu tidak bisa mengabaikan banyaknya kisah opresi sosial yang dilakukan kalangan berkuasa kepada kaum lemah, kisah dominasi politik yang silih berganti dari negara-negara super power dan coup d’ état yang sering mewarnai suksesi kepemimpinan, perselingkuhan politik antara istana raja dan bait Allah pada zaman para nabi yang kesemuanya sangat bernuansa politik; dan jangan lupa dalam pelayanan-Nya,  Yesus sendiri banyak berhadapan dengan tantangan dari kelompok-kelompok religius-politis yang sangat kuat saat itu, seperti golongan Farisi, Saduki, Zelot, Herodian dan pemerintah Romawi.[11]  Disamping itu kita juga tidak bisa mengabaikan kenyataan bahwa ada banyak terminologi Alkitab yang selama ini selalu dianggap sebagai istilah “rohani” sebenarnya adalah terminologi yang lazim dipakai dalam dunia politik seperti, misalnya: Mesias[12] dan Kerajaan Allah.[13]  Bahkan ayat-ayat yang selama ini dianggap hanya berbicara soal keagamaan saja, sebenarnya punya nuansa politis yang kental:

 

 

Ia [Tuhan] menurunkan orang-orang yang berkuasa[14] dari takhtanya dan meninggikan orang-orang yang rendah (Lukas 1:52)

 

Jawab mereka: “Gambar dan tulisan Kaisar.” Lalu kata Yesus kepada mereka: “Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah” (Matius 22:21 dan par.).[15]

 

Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang.  Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi (Matius 5:13-14).[16]

               

 

Dengan demikian sebenarnya tidak ada pemisahan antara ranah rohani dengan ranah politik pada kehidupan keagamaan umat Tuhan di Alkitab. 

Dari analisis singkat ini penulis berkesimpulan bahwa sikap dualisme sempit kekristenan kontemporer yang memisahkan surga dan dunia merupakan ancaman yang serius bagi kekristenan.  Bukan saja karena ajaran ini tidak bersumber dari pengajaran alkitabiah yang menyejarah tapi juga karena dalam aplikasi praktisnya konsep ini mengebiri dan menyempitkan arti misi Kristen menjadi sekadar memindahkan jiwa-jiwa ke surga.[17]  Umat Kristen yang sejati harus mengupayakan agar surga dan bumi itu menyatu dalam harmoni yang indah karena itulah doa yang Yesus ajarkan, yang juga merupakan antisipasi terhadap realitas eskatologis yang akan kita nikmati kelak.

Dalam bagian berikutnya penulis mengajak pembaca untuk melihat makna Mesias dan Injil dan implikasinya bagi panggilan pemuridan.

                 

MAKNA MESIAS DAN INJIL

Telah kita bahas sebelumnya, kesalahan fatal yang dibuat oleh kekristenan kontemporer yang turut mengakibatkan kemandulan peran kristiani dalam berbagai realitas sosial-politik adalah pemisahan secara tegas berita-berita firman Tuhan dari realitas sosial-politik yang melingkupi dan menjadi bagian yang sebenarnya malah membentuk dan mempertajam sejarah umat Tuhan.  Tindakan “rohanisasi” (perohanian secara fatalistik) terhadap berita-berita Alkitab dan pemisahan perihal rohani dari perihal politik ini juga dilakukan terhadap Yesus dan berita Injil.  Tidak heran berabad-abad lalu timbul perpecahan antara kelompok Kristus Iman, yang melulu melihat Yesus sebagai figur spiritual-supranatural, dengan kelompok Yesus Sejarah, yang melulu melihat Yesus sebagai tokoh hikmat populer; seperti yang dikatakan Wright, “. . . it is  worse than futile to try to seperate theology from politics.  The tired old split between the Jesus of history and the Christ of faith was never more misleading than at this point” [upaya memisahkan teologi dari politik merupakan hal yang jauh lebih buruk dari sekadar sia-sia.  Pemisahan kuno yang membosankan antara Yesus sejarah dan Kristus iman tidak pernah lebih menyesatkan dibanding pada poin ini][18]  Karena itulah lewat bagian ini penulis mengajak pembaca untuk sejenak menengok ke belakang dan mencermati secara ringkas makna kemesiasan Yesus, berita Injil yang disampaikannya dan konsekuensi logisnya terhadap pemuridan Kristen.

Menjelang natal, seperti sekarang ini, banyak kidung natal yang mulai dikumandangkan dan dilantunkan.  Tidak sedikit dari kidung-kidung itu yang memuat kata penting yang akan  kita bicarakan, mesias.  Namun seperti yang penulis sudah kemukakan sebelumnya, kebanyakan orang Kristen langsung mengaitkan mesias dengan sosok ilahi, salah satu dari tiga oknum Tritunggal yang datang berinkarnasi menjadi manusia.[19]  Tentu saja pandangan ini tidak sepenuhnya keliru, tapi kita akan kehilangan makna utama dari kehadiran Kristus sebagai Sang Mesias kalau kita tidak memperhatikan konteks sosio-historis dan politis dalam mencari makna mesias yang sebenarnya, sebab pemahaman mesias ini sangat berbeda dengan konsep mesias Yudaisme yang berakar pada tradisi Perjanjian Lama (PL). 

Seperti yang juga sudah penulis paparkan sebelumnya, kata mesias pada zaman Yesus sangat kental dengan muatan politik.[20]  Ini bukan tanpa sebab.  Sejarah opresi dan penawanan bangsa kafir yang berulang kali dialami oleh bangsa Israel menyebabkan merebak idealisme mesianik yang diangkat dari nubuatan para nabi tentang sosok ideal penerus takhta Daud.[21]  Namun harus diingat, bagi bangsa Israel opresi bangsa-bangsa kafir tersebut memiliki makna yang jauh lebih dalam dari sekadar penderitaan fisik dan mental  yang mereka alami.  Satu hal yang tidak boleh kita lupa adalah bahwa bagi umat Israel sejarah mereka adalah His-story:  sejarah yang dibentuk, diarahkan dan dikendalikan sepenuh-Nya oleh YHWH sehingga bagi mereka tidak ada Raja lain selain YHWH.  Beberapa ayat PL berikut mungkin dapat menyegarkan ingatan kita tentang hal penting ini:

 

Sebab TUHAN, Yang Mahatinggi, adalah dahsyat, Raja yang besar atas seluruh bumi[22]

 

Sebab TUHAN adalah Allah yang besar, dan Raja yang besar mengatasi segala allah[23]

               

Tetapi TUHAN adalah Allah yang benar, Dialah Allah yang hidup dan Raja yang kekal. Bumi goncang karena murka-Nya, dan bangsa-bangsa tidak tahan akan geram-Nya[24]

 

Mereka yang pincang akan Kujadikan pangkal suatu keturunan, dan yang diusir suatu bangsa yang kuat, dan TUHAN akan menjadi raja atas mereka di gunung Sion, dari sekarang sampai selama-lamanya[25]

 

Maka TUHAN akan menjadi Raja atas seluruh bumi; pada waktu itu TUHAN adalah satu-satunya dan nama-Nya satu-satunya[26]

 

Sebab Aku ini Raja yang besar, firman TUHAN semesta alam, dan nama-Ku ditakuti di antara bangsa-bangsa[27]

               

Sebagai catatan tambahan, penulis mungkin perlu mengingatkan pembaca yang budiman bahwa dalam dunia timur dekat kuno pengkultusindividuan seorang raja adalah hal yang lazim terjadi.  Seorang raja yang bertakhta akan dianggap titisan dewa, setengah dewa, anaknya dewa atau bahkan dewa itu sendiri.  Di saat seorang raja berhasil menginvasi sebuah negara kecil, yang terjadi bukanlah sekadar penjajahan politik tapi juga penjajahan religius.[28]  Dan di saat raja tersebut berhasil menjajah negara lain, negara pemenang akan segera mengklaim bahwa allah (raja) mereka lebih powerful daripada allah-allah negara pecundang (bdk. 2Raj. 28-35; par. 2Taw. 32:10-17). 

                Dari sini penulis berkesimpulan bahwa sebenarnya pengharapan mesianik tidak pernah lahir dari hasrat individualistik yang egois untuk mendapatkan “hidup kekal” dan meninggalkan dunia untuk cepat-cepat ke surga yang tentram, nyaman, enak dan penuh damai, dengan rumah mewah berkamar banyak ber-furniture lux (bahkan punya rumah anjing segala!) dengan fasilitas garasi untuk beberapa mobil.[29]  Idealisme dan pengharapan mesianik justru lahir percampuran harmonik antara keyakinan bahwa YHWH-lah Raja satu-satunya di semesta ini dan bahwa YHWH akan membenarkan orang-orang yang percaya dan bersandar kepada-Nya dengan hasrat (zeal) yang menggelora agar segala illah lain sesembahan bangsa-bangsa kafir dihancurkan, disingkirkan dan dimusnahkan dari dunia milik YHWH ini.  Berita mesianik bukanlah berita damai picisan dan murahan yang memisahkan realitas surgawi dari fakta duniawi melainkan berita revolusioner yang menantang setiap orang untuk kembali melihat siapa Raja yang sesungguhnya di dunia ini dan mengajak setiap orang untuk berjuang menegakkan fakta biblis bahwa hanya YHWH-lah Raja di surga dan dibumi.  Orang-orang Yahudi meyakini bahwa melalui sang mesiaslah YHWH akan kembali hadir sebagai Raja yang akan menghancurkan dominasi bangsa-bangsa kafir bersama dengan ilah-ilahnya.[30] 

                Sejarah panjang ini pulalah yang pada akhirnya digenapi di dalam diri Yesus Kristus.  Melalui Kristus, YHWH hadir menyatakan diri dan kehendak-Nya, menyatakan belas kasihan dan pembelaan-Nya bagi orang-orang benar dan menyatakan kemerajaan-Nya atas semesta dan seisi dunia. 

                Perlu diingat pula bahwa pada masa Yesus ada raja dunia yang mencoba untuk mengklaim diri sebagai allah, sebut saja Kaisar Romawi.  Karena itulah fakta-fakta Alkitab dengan jelas berbicara bahwa sejak lahir sampai mati-Nya, Yesus selalu menjadi sosok yang sangat fenomenal sekaligus kontroversial di mana-mana (lih. nubuat Simeon dalam Lukas 2:34).  Berita kelahirannya yang sederhana dan terpencil dapat membuat raja sebesar Herodes Agung berang, gentar dan menghabisi anak-anak Betlehem di bawah dua tahun (Mat. 2:16-18); karya profetis dan supranatural-Nya membuat berbagai kelompok politik di Yerusalem terpecah-belah, di satu sisi ada sekalangan pemimpin yang menjadi percaya kepada-Nya (Yoh. 12:42; juga Nikodemus dan Yusuf Arimatea) namun tidak sedikit yang hendak menyalibkan dan menyingkirkan-Nya;  bahkan kematian-Nya merupakan buah konspirasi politik busuk tingkat tinggi antara Roma, bait Allah dan istana Herodes.  Jadi jelas berita kehadiran Yesus merupakan sebuah kabar baik (Injil) bagi mereka yang mau men-Tuhankan-Nya tapi merupakan kabar buruk bagi mereka yang ingin mengilahkan yang lain selain Allah.  Secara apik Wright menjelaskan bahwa pada dasarnya Injil (euanggelion) yang dimaknai oleh rasul Paulus selalu berbicara tentang dua hal: pertama, ditinjau dari sejarah Yahudi.  Dari sejarah Yahudi, Injil selalu dikaitkan dengan nubuatan dalam Yesaya 40:9 dan 52:7 tentang berakhirnya masa opresi bangsa-bangsa kafir dan hadirnya YHWH kembali sebagai Raja:[31]

 

Hai Sion, pembawa kabar baik, naiklah ke atas gunung yang tinggi! Hai Yerusalem, pembawa kabar baik, nyaringkanlah suaramu kuat-kuat, nyaringkanlah suaramu, jangan takut! Katakanlah kepada kota-kota Yehuda: “Lihat, itu Allahmu!”

Betapa indahnya kelihatan dari puncak bukit-bukit kedatangan pembawa berita, yang mengabarkan berita damai dan memberitakan kabar baik, yang mengabarkan berita selamat dan berkata kepada Sion: “Allahmu itu Raja!”

               

Wright berkata bahwa sang pembawa kabar baik itu adalah Ia, Yang Diurapi [Mesias] yang membawa kabar baik yang dinanti-nantikan oleh umat Tuhan yang merindukan kelepasan: Allah adalah Raja.  Kedua, ditinjau dari budaya Yunani, kata Injil selalu berhubungan dengan berita kemenangan.  Secara lebih khusus berita ini sering dikaitkan dengan berita kelahiran atau naik takhtanya seorang Kaisar.  Dengan demikian Injil merupakan berita sukacita bahwa umat Tuhan akan segera menyaksikan lawatan YHWH sendiri sebagai Raja dan sebagai konsekuensinya Ia akan menumbangkan segala kuasa yang dikendalikan oleh setan, yang selama ini mencengkeram dunia milik Allah ini dengan kuasanya.  Saat Ia datang, setan akan dihancurkan dan segala kuasa yang ada di langit, bumi dan di bawah bumi ini (disatukan) untuk tunduk takluk di bawah kaki-Nya dan mengakui bahwa hanya Dia, Yesus, Sang Mesias itu, Raja! (Fil.2:10-11).  Di dalam Yesus, surga dan bumi disatukan; Dialah Raja satu-satu.  Dari berita ini jelas umat Tuhan pun ditantang untuk meninggalkan segala bentuk kekafiran, kelaliman dan perilaku sesat bangsa-bangsa kafir di sekitarnya dan hanya menyembah YHWH. 

               

PENUTUP

Natal sudah dekat.  Tapi sadarkah kita bahwa berita natal sebenarnya tidaklah semanis yang kita bayangkan selama ini?  Ia bukanlah berita yang lembut dan teduh; sebaliknya ia adalah kabar kontroversial, kabar revolusioner yang menantang dengan tegap dan tegas setiap pihak yang berupaya mengklaim kekuasaan di dunia milik YHWH ini.

Dalam konteksnya, berita kelahiran Yesus adalah berita yang paling menggemparkan dan yang sangat mengejutkan.  Menggemparkan karena Raja ini adalah raja yang lain daripada yang lain.  Kalau raja-raja dunia berupaya menunjukkan kepongahannya akan kuasa yang sebenarnya tidak dimilikinya dengan bertindak lalim, otoriter, manipulatif-destruktif, Yesus sebaliknya.  Ia yang adalah Raja dan satu-satunya pemegang hak sah atas segala kuasa di semesta ini.  Namun Ia hadir dalam kerendahan, kehinaan dan kehambaan. Ia menantang orang-orang sok berkuasa itu tidak dengan cara-cara lalim, kejam, bengis, keji namun dengan kasih, kepedulian dan kesetiaan.  Ia menang bukan karena membunuh, bukan karena melukai, bukan karena menguasai.  Ia menang karena Ia mampu mengasihi di tengah berbagai alasan untuk membinasakan mereka yang patut dibinasakan, Ia mampu mengampuni di tengah berbagai alasan untuk mengutuk; seperti yang dengan indah dikemukakan Storkey tentang prinsip kemenangan menurut nubuat mesianik kitab Yesaya (khususnya Yesaya 53), “To win is to fight for others; the weak, the sick, and even the enemy.  To win is to lose, even one’s life, steady in love” [Kemenangan berarti berjuang bagi orang lain; orang-orang lemah, sakit, bahkan para musuh.  Kemenangan adalah untuk kehilangan, bahkan nyawa kita, namun kokoh dalam kasih].[32]  Ia patut menjadi Raja karena Ia tidak merengkuh (to grasp) kekuasaan melainkan memberi diri dan hidup (Fil. 2:6-8).

Berita itu juga mengejutkan karena ia menantang setiap orang yang terpanggil untuk hidup sepadan dengan Sang Raja: memberi diri, memberi hidup dan memberi totalitas agar dunia melihat bahwa hanya Dialah Raja.  Implikasi logisnya, setiap orang yang mengaku sebagai pengikut-Nya harus meninggalkan segala bentuk kekafiran, praktik-praktik kelaliman yang menjadi kebiasaan dunia, dan menghancurkan segala berhala dalam bentuk apa pun.  Dalam bahasa Yunaninya, kata berhala berasal dari akar kata eidos yang berarti penampilan eksternal.  Dengan demikian berhala adalah segala sesuatu yang secara eksternal sangat memikat, menarik dan membuat konsentrasi, pikiran dan waktu kita banyak tercurah atasnya.  Penulis tentu tidak perlu menguraikan satu demi satu hal itu tapi penulis sangat yakin setiap pembaca mengenal dengan jelas jenis ilah-ilah zaman modern ini.  Nah, berita natal adalah berita revolusioner agar setiap umat meninggalkan berhala-berhala hatinya dan berbalik kepada YHWH melalui Yesus Kristus dan dengan sikap hidup revolusioner yang meninggalkan berhala itu kita bersaksi kepada segala makhluk bahwa Yesus adalah Sang Raja.  Hanya dengan cara demikian surga dan bumi dapat bersatu kembali.

                Gema Natal dan Injil sepatutnya membuat kita terus berefleksi dan mengevaluasi diri, baik sebagai pribadi maupun sebagai gereja, “Peran apakah yang sudah saya (gereja saya) ambil untuk membuat surga dan bumi itu menyatu di mana Yesus tampak nyata sebagai Raja hidupku?” Apakah lewat studi saya, rekan-rekan saya melihat Yesus sebagai Raja?  Apakah profesi dan karir saya bangun dalam dasar yang benar?  Peran signifikan apa yang gereja saya ambil untuk mengantisipasi tibanya masa eskatologi di mana kelak surga dan bumi itu menjadi satu dan Ia datang sebagai Rajanya?  Sudahkah gereja bersentuhan dengan realitas sosial-politik di lingkungannya dan membawa berkat di sana?  Atau jangan-jangan selama ini kita hanya menjadi “jagoan kandang” yang selalu takut dan gentar (padahal Yesus sudah memberi kemenangan kepada kita) sambil berpuas diri dengan modal “paspor hidup kekal” di saku

kita?  Berhala apa yang masih kita jaga dan pelihara dengan baik? 

                Diakhir tulisan ini izinkan penulis mengutip beberapa larik pada bagian koor dari syair lagu Graham Kendrick, The Servant King sebagai hadiah natal yang perlu terus kita renungkan dan gumulkan bersama di bumi ciptaan Tuhan yang indah ini:

 

This is our God the Servant King

He call us now, to follow Him

To bring our life as a daily offering

Of worship to the Servant King

 


[1]Penulis sangat tertarik dengan kritik tajam, terbuka namun santun dan konstruktif dari Pdt. Maulinus Siregar terhadap realitas HKBP lewat tulisannya “Mengembalikan HKBP kepada Jatidirinya” (http://www.hkbpchurch.org/kumpulan_Cerita/Artikel/MengembalikanJatiDiri-Srgr.htm).

[2]Di Amerika Serikat sendiri rohaniwan Kristen yang masuk dalam panggung politik berjumlah sekitar 146 orang (“Clergy Politicians” [http://politicalgraveyard.com/occ/clergy.html]).

[3]Ada banyak tokoh-tokoh politik saleh yang berasal dari kalangan pendeta atau rohaniwan, misalnya: Charles Colson, Abraham Kuyper, Pat Robertson, John Witherspoon, Jean-Bertrand Aristide, Reinhold Niebuhr (lih. daftar lengkapnya di ensiklopedia elektronik Wikipedia, “List of Christian Pastors in Politics” [http://en.wikipedia.org/wiki/ List_of_Christian_pastors_in_politics]).

[4]“Keterlibatan Umat pada Persoalan Sosial” (http://www.sinarharapan.co.id/berita/0405/29/opi05.html).

[5][5]Bahkan dalam dunia biblika saat ini muncul satu metode penafsiran yang bernama political-hermeneutics.

[6]Banyak orang saat ini yang salah tafsir dengan menganggap bahwa Kristen adalah agama politik, terutama sejak kekaisaran Roma menjadi kekaisaran Kristen di bawah Kaisar Konstantinopel.  Harus diakui memang ada banyak kelemahan-kelemahan gereja yang perlu dikoreksi (Lih. catatan kesalahan yang dilakukan gereja dalam buku Alan Storkey, Jesus and Politics: Confronting Powers [Grand Rapids: Baker, 7-8]).  Tapi perlu diingat bahwa pada mulanya Gereja yang dibangun Yesus, dan seterusnya dilanjutkan oleh para rasul, bukanlah gerakan sosio-politik.  Ia lebih merupakan gerakan sosio-religius yang mengakar kuat dalam tradisi Yudaisme

[7]Nindyo Sasongko, Firdaus Yang Terhilang?:Suatu Studi Perbandingan Mengenai Kristologi Dan Imaji Penciptaan Baru Dalam Injil Yohanes Dan “Injil” Tomas.

[8]Ibid.

[9]Analisis yang baik tentang ajaran pengangkatan (rapture) lih. N. T. Wright, “Farewell to Rapture,” (http://www.ntwrightpage.com/Wright_BR_Farewell_Rapture.htm).

[10]Banyak orang Kristen kini yang salah menafsir hidup kekal yang diselalu diasumsikan sebagai hidup nyaman, tentram, adem-ayem di surga nan indah dan permai.  Hidup kekal merupakan terminologi yang tidak pernah dilepaskan dengan konsep Kerajaan Allah (bdk. Mat. 19:16 dengan ayat 23-24).  Penulis telah memaparkan panjang lebar tentang konsep Kerajaan Allah yang pada dasarnya tidak berbicara tentang tempat atau sebuah lokasi tapi lebih menunjuk kepada realitas kedaulatan mutlak Allah atas segala sesuatu dalam semi jurnal Disciple 3 (Juni 2006) 2-17. (bdk. juga dengan pendapat Donald Kraybill, Kerajaan yang Sungsang [terj; Jakarta: Gunung Mulia, 2002] 4-5)

[11]Untuk melihat sifat politis dari golongan-golongan ini lihat Storkey, Jesus and Politics 37-58.

[12]N. T. Wright, seorang teolog Perjanjian Baru dan sejarahwan Injili yang sangat terkenal saat ini mengatakan bahwa orang-orang Yahudi pada masa Yesus tidaklah mendefinisikan Mesias sebagai sosok atau figur ilahi.  Menurutnya, orang-orang pada zaman Yesus secara sederhana menafsirkan Mesias sebagai Sang Raja orang Yahudi, king of the Jews (Jesus and The Victory of God [Minneapolis: Fortress, 1996] 482).  Kita pasti sepakat bahwa raja adalah istilah gelar yang lazim dipakai dalam dunia politik.

[13]Pandangan menarik dikemukakan oleh Craig Evans, seorang teolog Injili yang merupakan pakar di bidang dokumen-dokumen laut mati.  Dalam transkrip wawancara dengan stasiun TV NBC ia mengatakan bahwa Yesus dan orang-orang Yahudi pada zaman-Nya, tidak memahami Kerajaan Allah dalam pengertian ranah rohani atau surgawi (spiritual or heavenly realm).  Mereka justru memandangnya sebagai sesuatu yang lebih duniawi sifatnya (worldly in mind); kehadiran dan pemerintahan dari Allah yang berdaulat atas sejarah dunia dan semesta. Marcus Borg seorang pakar Yesus mengatakan hal yang lebih menantang tentang definisi Kerajaan Allah, “And the Kingdom of God is  what life on earth  would be like if God were king, and those other guys weren’t” [Dan yang dimaksud dengan Kerajaan Allah adalah suatu bentuk kehidupan di dunia jika Allah adalah Rajanya dan bukannya raja-raja yang lain itu <Herodes dan Kaisar Roma>] (“NBC Dateline and Jesus: Scholars Explore History Behind Famous Story” [http://www.msnbc.msn.com/id/4315203/]). 

[14]Seorang penafsir, John Nolland, mengatakan bahwa penggunaan kata ini (Yun. dunástai) berkaitan dengan “orang-orang yang congkak hatinya” (ay. 51b) dan dengan “orang kaya” (ay. 53b) yang menindas dan tidak berlaku adil terhadap “orang-orang yang rendah” yang identik dengan “orang yang lapar” (ay. 53a) (Luke 1-9:20 [WBC; Dallas: Word, 1989]).  Jelas Magnificat Maria pun sangat bernuansa politis, di mana nyanyian ini menggambarkan sejarah realitas sosial-politik Israel  sampai pada masa itu.

[15]Secara terus terang Wright mengomentari ayat yang sering dipandang sekadar berbicara soal keagamaan padahal yang sebenarnya sangat bermuatan pesan-pesan politik ini, dengan berkata, “Jesus reply, likewise, should not be read simply as a cunning avoidance of the question, still less as a way of shifting the discussion from politics’ to ‘piety’ . . . .  The words Jesus said would, prima facie, have been heard as revolutionary” [Jawaban Yesus, tampaknya, tidak seharusnya dilihat sebagai sekadar sebuah pengalihan cerdik, atau paling tidak sebagai sebuah cara untuk mengalihkan diskusi dari soal politik kepada soal keagamaan.  Perkataan Yesus, pada dasarnya, merupakan sebuah pesan revolusioner] (Jesus 502).

[16]Lihat pandangan David Gushee tentang ayat ini yang menurutnya punya muatan politis, pada  bagian VII, bab 23 tentang Politics (Kingdom Ethics: Following Jesus in Contemporary Context [Downers Grove: InterVarsity, 2003] 468-473).

                [17]Ronald J. Sider, seorang sosiolog Injili mengatakan, “Terlalu sering, kaum Injili berpikir bahwa manusia pada hakikatnya adalah jiwa.  Bagian terpenting dari seseorang adalah jiwanya.  Tidak heran pada akhirnya kita mengartikan kegiatan penginjilan sebagai ‘menyelamatkan jiwa-jiwa.’  Pandangan ini sama sekali tidak alkitabiah.  Kita telah melihat bahwa Injil Yesus lebih jauh dari sekadar kabar baik bahwa jiwa-jiwa dapat memperoleh pengampunan dan berangkat ke surga.  Injil adalah kabar baik tentang Kerajaan Allah, dan bahwa Kerajaan itu mencakup aturan-aturan sosial baru di mana sekarang, di dalam kuasa Roh Kudus, hal itu nampak di dalam persekutuan murid-murid Kristus (The Scandal of the Evangelical Conscience [Grand Rapids: Baker, 2005] hal. 69-70).  Edisi bahasa Indonesia dari buku ini akan segera di terbitkan oleh Departemen Literatur Perkantas Jatim.

[18]Jesus 541.

[19]Ibid. 477, 485-86.

[20]Storkey berkomentar demikian terhadap sikap umum orang-orang Yahudi dalam menantikan mesias, “These comments show general popular expectations, crowd talk that makes the search for the political leader intrinsic to the times, almost like discussing who the next prime minister might be [Komentar-komentar ini menunjukkan harapan-harapan umum, yang membuat pencarian terhadap sang pemimpin politik menjadi hal yang penting saat itu, mirip seperti mendiskusikan siapa perdana menteri berikutnya] (Jesus and Politics 99).

[21]Artikel yang menurut penulis membahas sejarah perkembangan idealisme mesianik Yahudi dengan sangat baik adalah artikel yang ditulis oleh Craig Evans, “Messianic Hopes and Messianic Figures in Late Antiquity” Journal of Graeco-Roman Christianity and Judaisme 3 (2006) 9-40.

[22]Mzm. 47:3.

[23]Mzm. 95:3.

[24]Yer. 10:10.

[25]Mik. 4:7.

[26]Zak. 14:9.

[27]Mal.1:14.

[28]Kenyataan inilah yang dialami oleh keempat “orang-orang muda” (Ibr. yeled = children [King James Version] = anak-anak) dalam Daniel 1:7, ketika nama Ibrani mereka (yang erat dengan nama-nama Allah) diganti dengan nama-nama Babel yang dekat dengan nama dewa-dewa sesembahan rakyat Babel.

[29]Penulis sangat sedih melihat ada banyak hamba-hamba Tuhan yang saat ini suka mengumbar visi-visi surgawi yang bagi penulis lebih mirip dengan gambaran mall, department store atau kompleks real estate.  Tidak jelas dari mana mereka mendapat konsep yang tidak alkitabiah ini, yang membuat banyak jemaat disesatkan.  Penulis berdoa agar Tuhan segera mengembalikan mereka dari kesesatan ini dan mewartakan Injil yang sejati.

[30]Bukanlah hal yang mengherankan jika pada gilirannya semangat yang berkobar-kobar ini melahirkan banyak gerakan-gerakan mesianik yang cenderung mengarah pada kekerasan fisik.  Berita revolusioner ini ditanggapi oleh banyak kalangan Yahudi dengan cara yang sangat radikal dan ekstrem.  Sebut saja gerakan mesianik yang dipelopori oleh Menahem, Simon Bar Giora, Bar-Kochba, Yudas Makabeus, yang mendeklarasikan diri mereka sebagai mesias dan dengan cara-cara kekerasan berupaya untuk menumbangkan dominasi kekaisaran Romawi; termasuk kalangan Zelot.  Mereka memakai cara-cara dunia untuk menaklukkan dunia.

[31]“Gospel and Theology in Galatians” [http://www.ntwrightpage.com/Wright_Gospel_Theology_Galatians. pdf].

[32]Jesus and Politics 104


Aksi

Information

8 responses

14 08 2008
kukuh

Chayoo! Semangat ya!

13 10 2008
donald around mantiri

memang benar Dari apa dikatakan ka perdian bahwa sikap dualisme sempit kekristenan kontemporer sering memisahkan surga dan dunia, merupakan ancaman yang serius bagi kekristenan.Bukan saja karena ajaran ini tidak bersumber dari pengajaran alkitabiah tapi juga karena dalam aplikasi praktisnya konsep ini mengebiri dan menyempitkan arti misi Kristen yg menjadi sekadar memindahkan jiwa-jiwa ke surga.saya menjadi ingat apa yg di tuliskan oleh yonky karman tentang teologi kebangsaan :
“Agama dipropagandakan untuk mampu menyelesaikan persoalan bangsa. Umat didorong menjadi fanatik seolah fanatisme berkorelasi dengan kesejahteraan. Maraklah simbol-simbol dan pernak-pernik agama. Stan-stan promosi teologi keumatan bermunculan di ruang publik tanpa pintu dialog. Kesucian agama yang notabene ciptaan manusia diutamakan melebihi kesucian harkat kemanusiaan yang notabene ciptaan Tuhan”
suatu realita yg miris bagi Kekristenan di indonesia saat ini Pemimpinan Gereja sering menyalah artikan makna dari suara kenabian dengan ikut berkiprah dalam politik praktis ,mimbar gereja dipakai untuk kampanye terselubung, dengan jemaat sebagai basis massanya untuk kepentingan politik.semoga banyak jemaat gereja saat ini memiliki kepakaan didalam menanggapi hal2 tersebut.
new artikel :
http://suarapembaca.detik.com/read/2008/10/11/092654/1018477/471/optimalisasi-desa-tekan-urbanisasi

28 10 2008
Hutahaean, E

teriiimakasiiiiih

TYM

13 10 2014
Chandra Irvan Diky Simarmata, S.S.

Salam sejahtera,
Saya sangat tertarik dengan tulisan ini, terkhususnya ttg tulisan2 alan storkey yg menjadi referensi…
Apakah admin blog ataupun penulis artikel ini masih memiliki buku alan storkey?
Saya tertarik terhadap buku alan storkey,
thx

13 10 2014
13 10 2014
perdian

Halo bung Chandra. Tampaknya anda aktivis di Perkantas SUMUT? Saya pernah menjadi staf Perkantas Jatim (2007-2011) dan menjadi PC Jatim (2009-2011).

Buku Alan Storkey dulu saya dapatkan di Toko Buku Momentum (milik Lembaga Reformed Injili).

Terima kasih untuk endorse anda.

4 11 2014
Chandra Irvan Diky Simarmata, S.S.

Y bg Perdian, saya aktif diperkantas sumut, hanya uda berkurang sekarang dan fokus ke fakultas tempat saya dibina di awal.
Buku alan storkey termasuk buku lama kan bang Perdian, jd disini sulit sya dapati lagi, kira2 dimana yg masih ada y bang buku itu??

24 12 2014
Chandra Irvan Diky Simarmata, S.S.

Sampai saat ini saya belum dapat nih bg perdian buku alan storkey itu, apakah buku msh ada y bg?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: