JESUS AS THE INISIATOR AND THE FOUNDER OF THE CHURCH (Kisah Para Rasul 1)

1 08 2008

PENDAHULUAN

Dalam buku terbarunya, Left behind in a Megachurch World, ibu Ruth Tucker memberikan hasil survei yang sangat mencengangkan.  Ia mengatakan bahwa banyak Gereja di Amerika Serikat yang berpikir bahwa gereja yang mengalami revival adalah Gereja yang memiliki fasilitas gedung yang megah, dana ber-budget jutaan dolar serta aktivitas yang banyak.  Tapi apakah sungguh ini makna revival yang dimaksudkan oleh Alkitab?  Lewat bagian firman Tuhan ini kita akan melihat makna revival yang sejati yang menjadi penekanan Alkitab sendiri. 

Satu hal yang terpapar dengan jelas dalam bagian pendahuluan (prolog) dari kitab ini (1:1-5) adalah bahwa Lukas menuliskan bagian ini sebagai sebuah kesinambungan dengan kitab Injilnya. Ini tampak jelas dari frase “bukuku yang pertama” (proton logon = buku yang terdahulu; bukan “buku yang pertama”) yang dituliskan pada bagian pendahuluan dan nama Teofilus yang tidak asing bagi Injil Lukas.  Bahkan mayoritas sarjana Perjanjian Baru (PB) pun setuju bahwa kitab Injil Lukas dengan kitab Kisah Para Rasul merupakan satu kitab yang terdiri atas dua bagian yang tidak dapat dipisahkan.  Kalau Injil Lukas berintikan berita bahwa tentang Yesus yang datang memberitakan bahwa Kerajaan Allah sudah tiba bagi orang-orang tertindas dan bahwa tahun rahmat Tuhan telah tiba (Luk. 4:18-22), Kisah Para Rasul menceritakan bagaimana impak dari berita itu tercermin lewat lahirnya komunitas baru yang disebut Gereja dan bagaimana Tuhan terus bekerja dan menyertai serta memelihara komunitas yang Ia dirikan sendiri itu.  Tendensi Lukas yang sangat kuat mengaitkan antara Injilnya yang berfokus pada Yesus dalam Injilnya dengan Gereja pada Kisah Para Rasul mau tidak mau memberi kita satu pengertian rohani yang penting: Gereja tanpa Yesus dan berita Kerajaan Allah yang dibawa-Nya, bukanlah Gereja sejati.  Gereja yang disertai Yesus adalah Gereja yang senantiasa menghidupi dan mewartakan Yesus dan berita Kerajaan Allah itu. 

Ada satu kata penting yang terdapat dalam ayat 1 yang tidak dicatat dalam terjemahan LAI TB kita, yang membantu kita melihat hal ini lebih jelas.  Terjemahan versi NIV (dan terjemahan versi bahasa Inggris pada umumnya) mengatakan demikian:In my former book, Theophilus, I wrote about all that Jesus began to do and to teach.”  Kata penting yang saya maksudkan adalah kata “began” (mulai).   Versi BIS mungkin memberikan terjemahkan yang lebih baik terhadap ayat ini:

 

“Teofilus yang budiman, Di dalam bukuku yang pertama sudah kuterangkan semuanya yang dilakukan dan diajarkan oleh Yesus sejak Ia mulai pekerjaan-Nya.” 

 

Craig Keener dengan sangat jeli mengatakan bahwa Lukas secara khusus sengaja mencatat kata mulai (archeomai) di sini sebab ia ingin menunjukkan bahwa Yesus Kristus yang sudah memulai pekerjan-Nya di dalam dunia lewat apa yang dicatatnya dalam Injil Lukas, adalah Yesus yang terus bekerja dan terus berkarya di dalam dan melalui Gereja-Nya di dalam kitab Kisah Para Rasul.  Ini lagi-lagi menegaskan kepada setiap kita bahwa sejarah Gereja adalah sejarah Yesus dan di dalam arahan serta tuntunan Yesus; dan bahwa Gereja adalah soal Yesus Kristus.  Setiap Gereja yang benar adalah Gereja yang selalu memfokuskan hidupnya pada Yesus Kristus!  Tidak heran kalau fakta ini membuat banyak kalangan yang sebenarnya kurang sependapat kalau kitab ini diberi nama, “The Act of the Apostles” atau Kisah Para Rasul, sebab secara keseluruhan dalam kitab Kisah Para Rasul, termasuk lewat bagian pendahuluan kitab ini, Lukas justru memberikan penekanan dan penegasan yang kuat bahwa Yesuslah yang bekerja.  John Stott, seorang tokoh Kristen yang sangat terkenal, secara pribadi,  memberi judul untuk kitab ini: The Continuing Words and Deeds of Jesus by His Spirit through the Apostles.”  Dan sebenarnya kalau kita perhatikan ada dua kali dalam kitab Kisah Para Rasul dipaparkan bagaimana Yesus     secara eksplisit tetap berintervensi langsung; misalnya dalam kisah pertobatan Rasul Paulus (Pasal 9) dan bagaimana “Roh Yesus” melarang Paulus dan Silas untuk masuk ke wilayah Bitinia (16:7).  Saya kurang sependapat dengan pandangan trikotomis yang mengatakan bahwa di PL Bapalah yang bekerja, di PB Yesuslah yang bekerja, sedangkan di zaman Gereja, Roh Kuduslah yang bekerja.  Ada banyak ayat-ayat yang sebenarnya menunjukkan bahwa ketiga oknum ini tidak dapat dipisahkan dalam berkarya di setiap zaman yang ada.

 

Kalau kita kaitkan dengan soal revival yang terjadi dalam Gereja mula-mula, maka sebenarnya lewat kebenaran yang sudah saya paparkan tadi, Lukas hendak menyatakan kepada kita bahwa kebangunan rohani yang begitu spektakuler yang terjadi di masa itu tidak lain dan tidak bukan disebabkan karena para rasul dan para murid pertama itu dikembalikan untuk berfokus kepada Yesus dan agenda Yesus (lewat pengajaran dan pekerjaan-Nya) dan bukan agenda yang lain, yang bersumber dari keinginan pribadi.  Kenapa saya berkata demikian?  Sebab kalau kita pelajari dengan seksama masa-masa awal dari kebangkitan Tuhan, maka kita akan menjumpai bahwa para murid sebenarnya punya banyak agenda-agenda pribadi meskipun semasa Yesus melayani, mereka tinggal dan hidup bersama Dia.  Beberapa ayat yang jelas menunjukkan hal tersebut antara lain:

Lalu Yakobus dan Yohanes, anak-anak Zebedeus, mendekati Yesus dan berkata kepada-Nya: “Guru, kami harap supaya Engkau kiranya mengabulkan suatu permintaan kami!. . . .  Lalu kata mereka: “Perkenankanlah kami duduk dalam kemuliaan-Mu kelak, yang seorang lagi di sebelah kanan-Mu dan yang seorang di sebelah kiri-Mu” (Mrk. 10:35, 37).

 

Tetapi mereka diam, sebab di tengah jalan tadi mereka mempertengkarkan siapa yang terbesar di antara mereka (Mrk. 9:34)

 

Maka timbullah pertengkaran di antara murid-murid Yesus tentang siapakah yang terbesar di antara mereka. Tetapi Yesus mengetahui pikiran mereka. Karena itu Ia mengambil seorang anak kecil dan menempatkannya di samping-Nya (Luk. 9:46-47)

  

Lihat juga apa yang dipaparkan Lukas dalam Injilnya, pasal 24:13-35, kala dua orang murid berjalan menuju Emaus bersama Yesus.  Perhatikan secara khusus ayat 21 di mana terlihat jelas apa yang membuat kedua murid ini kecewa dan meninggalkan Yerusalem untuk kembali ke Emaus: “Padahal kami dahulu mengharapkan, bahwa Dialah yang datang untuk membebaskan bangsa Israel. . . .”  Dan tampaknya hal inilah yang terus menjadi obsesi para murid sebab Lukas kembali mengulas hal yang sama dalam kitabnya yang kedua pada pasal 1:6: “Maka bertanyalah mereka yang berkumpul di situ: “Tuhan, maukah Engkau pada masa ini memulihkan kerajaan bagi Israel?”  Yang menarik, kata kerja “bertanya” (erōtaō) dalam bahasa Yunani memiliki tense imperfek yang menekankan tindakan yang berulang-ulang dan terus-menerus dilakukan.  Dengan kata lain pertanyaan seputar kapan Yesus akan meneguhkan kerajaan Israel secara politik dan militeristik terus-menerus terlontar dari para murid yang notabene sebenarnya selama 3,5 tahun tahu betul apa yang menjadi motivasi Yesus datang ke dalam dunia (bdk. Mrk. 1:38).  Meskipun mereka mengajukan pertanyaan dan meminta dalam sikap yang penuh ketundukan dan kesopanan (kata tanya erōtaō berbeda dengan aiteō yang cenderung berarti meminta dalam sikap memaksa) namun pertanyaan mereka yang berulang-ulang menunjukkan bahwa hati mereka sebenarnya belum sepenuhnya melekat dengan hati Tuhan Yesus.

 

Mungkin satu hal yang perlu kita pikirkan dan yang akan membawa kita dengan baik memahami isu ini adalah berkenaan dengan konsep orang-orang Israel umumnya saat itu tentang pemulihan Israel atau kebangkitan Israel (restoration of Israel atau revival of Israel).  Apa yang dimaksud dengan pemulihan Israel?  Apakah konsep ini sama dengan konsep revival yang umum kita pahami sekarang? 

 

Sebelum menjawab pertanyaan ini, satu hal yang patut dan perlu kita ingat adalah bahwa Israel memiliki beberapa catatan kelam dalam sejarah mereka.  Setidaknya sebanyak 6 kali bangsa-bangsa kafir dan penyembah berhala adikuasa pernah menjajah dan memperhamba bangsa pilihan Allah ini: Mesir, Asyur, Babilonia baru, Media-Persia, Yunani dan terakhir Romawi.  Ini belum terhitung dengan bangsa-bangsa yang tidak terlalu besar yang ada di seputar Israel, yang juga sempat memperbudak bangsa ini; sebut saja: Filistin, Midian, Moab dan Edom.  Perlu kita ketahui bersama, penjajahan pada masa itu tidak sekadar memiliki tendensi invasi politis, melainkan juga invasi teologis.  Bagi bangsa yang berhasil dikalahkan oleh bangsa lain dalam sebuah pertempuran, secara otomatis akan muncul persepsi bahwa allah bangsa yang menang lebih kuat dari pada allah bangsa yang kalah dan dengan demikian bangsa yang takluk harus menyembah allah bangsa pemenang.  Tentu kita bisa memahami mengapa kemudian pengalaman-pengalaman ini menjadi hal yang sangat menyakitkan bagi Israel yang notabene memiliki Allah yang mereka daulat sebagai penguasa segala allah.  Pengalaman pahit inilah yang kemudian melahirkan sebuah semangat restorasi nasional: semangat untuk mengembalikan kejayaan Israel sebagai bangsa pilihan Allah yang memiliki Allah yang lebih superior daripada bangsa-bangsa kafir.  Dan sebaliknya, kalau Israel menjadi bangsa yang jaya, maka bangsa-bangsa kafir yang pernah menindas Israel, pada zaman akhir pasti akan mengalami kehancuran karena pembalasan dan penghakiman YHWH hadir atas mereka.  Howard Marshall dengan sangat baik memaparkan konsep apa yang ada dibalik harapan pemulihan atas Israel yang umum dianut orang-orang pada zaman itu lewat komentarnya pada ayat 6 ini:

 

This may reflect the Jewish hope that God would establish his rule in such a way that the people of Israel would be freed from their enemies (especially Romans) and established as a to which other peoples would be subservient.[1]

 

Dan semangat itu pulalah yang mereka sampaikan kepada Yesus yang setelah kebangkitan-Nya sungguh-sungguh menyadarkan para murid bahwa Ialah benar-benar utusan YHWH yang pernah dijanji-janjikan itu, yang dicatat dalam ayat 6 tadi.

 

Jawaban Tuhan dalam ayat 8 tentu sangat menampar dan menohok mereka sebab ternyata agenda Sang Mesias sangat berbeda dengan agenda politik mereka,  sebab alih-alih menjadi alat penghakiman Tuhan bagi bangsa-bangsa lain, kini mereka malah harus menjadi alat kasih Allah buat mereka yang dulunya merupakan musuh bebunyutan (semangat yang sama sebenarnya dapat terbaca juga dari salah satu teks PL, YUNUS).  Dan itu pulalah sebabnya mengapa para murid membutuhkan Roh Kudus; sebab adalah hal yang mustahil melakukan tugas tersebut dengan sebuah sejarah latar belakang yang demikian kelam; yang dapat dikatakan merupakan hal yang mustahil!  Dengan kekuatan dan kesanggupan manusia adalah hal yang mustahil untuk mengasihi dan menjadi alat kasih buat bangsa-bangsa lain yang dulunya pernah menindas, membunuh, memperkosa anggota keluarga dan bahkan merampok harta milik kita.  Dalam Kitab Kisah Para Rasul ini kata “kuasa” (power, dunamin) yang terdapat dalam ayat 8 ini muncul sepuluh kali; sebagian besar berkaitan dengan perbuatan-perbuatan ajaib/mukjizat saat Injil diberitakan (2:22; 3:12; 4:7; 8:13; 10:38; 19:11) dan beberapa yang lain berkaitan dengan kesanggupan untuk memberitakan Injil (4:33; 6:8).  Dalam perenungan saya pribadi, saya berkesimpulan tugas pemberitaan Injil dan misi yang dilakukan oleh para murid saat itu adalah tugas yang teramat sangat sulit dan terlampau berat, dan dibutuhkan “mukjizat” ilahi yang menyanggupkan seseorang sungguh-sungguh dapat melayani orang-orang yang sulit untuk dilayani.  Hanya lewat pertolongan Roh Kudus saja para murid sanggup melakukan mandat tersebut. 

 

Tapi semua ini tidak mungkin terjadi  tanpa terjadinya penanggalan setiap agenda-agenda pribadi yang dengan rela hati kita letakkan di bawah kaki Tuhan Yesus.  Dan yang dengan rela pula serta dalam sukacita ilahi mau mengambil agenda-agenda Kristus dan meletakkannya di dalam hati kita yang paling dalam.  Dan itulah yang terjadi dengan para murid!  Dan itu pulalah yang membuat pada akhirnya Roh Kudus berkenan untuk membimbing dan mengarahkan serta menyanggupkan mereka untuk melakukan hal-hal yang sangat spektakuler pada masa itu dan memberikan kebangunan yang sesungguhnya bagi Israel. 

 

Ada satu konsep yang sering disalahtafsirkan oleh banyak orang Kristen saat ini dan yang menurut saya sudah jauh melenceng dari makna yang sebenarnya, yaitu istilah “bertobat” atau “pertobatan” (metanoia).  Umumnya orang Kristen sekadar memandang konsep ini dari sudut etika dan moral.  Artinya kalau orang itu (sekadar) rajin beribadah, tidak memiliki gaya hidup bebas, tidak merokok, tidak hutang, tidak free-sex, ia adalah orang Kristen yang sudah “bertobat.”  Lebih parah lagi kalau ada orang Kristen yang berpandangan bahwa bertobat hanyalah sekadar mengucapkan sepenggal kalimat syahadat untuk percaya kepada Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, dengan iming-iming masuk surga!  Tolong jangan salah mengerti saya dan menganggap saya menolak 100% pengertian-pengertian ini.  Menurut saya konsep-konsep ini sangat parsial dan sangat sempit dalam memandang makna tobat; dan sebenarnya pengertian tobat yang sebenarnya disampaikan Yesus dulu jauh melampaui semua pemahaman-pemahaman tersebut.  Seorang ahli Perjanjian Baru Dr. N. T. Wright, lewat penyelidikannya terhadap seruan-seruan Yesus dalam kitab-kitab Injil (Mrk. 1:15 & Mat. 4:17) mengatakan bahwa sesuai konteksnya saat itu, seruan pertobatan yang diserukan oleh Yesus adalah seruan kepada segenap umat Allah untuk meninggalkan setiap agenda-agenda pribadi yang menggerogoti kerohanian mereka dan dengan hati yang terbuka membuka diri bagi agenda-agenda Yesus.  Seperti yang sudah saya paparkan di atas, kelompok-kelompok agama dalam Yudaisme seperti Farisi, Saduki, dan Essenit bukanlah kelompok-kelompok yang tidak bermoral dan tidak beretika.  Mereka adalah kelompok-kelompok yang sangat ketat dalam menjaga dan menjalankan syariat agama Yahudi saat itu.  Kesalahan mereka terletak pada agenda-agenda politik dan militeristik yang merasuk dalam agenda-agenda keagamaan mereka.  Dalam kepahitan-kepahitan sejarah yang ada mereka tidak lagi sanggup untuk melihat bahwa sejak semula, Allah memberikan janji kepada Abraham sebagai leluhur mereka bahwa kelak keturunannya akan menjadi terang dan berkat bagi bangsa-bangsa.  Kepahitan itu sedemikian menguasai mereka dan mengakibatkan Taurat dan kitab-kitab para nabi ditafsirkan dengan cara-cara yang sangat politis.  Dan tidak heran pula kalau pada akhirnya mereka berupaya melegalkan berbagai tindakan yang tidak benar dengan memakai hukum Taurat sebagai dasarnya.  Dan itulah sebabnya mengapa kalangan-kalangan yang menganggap diri paling saleh sekali pun saat itu harus bertobat, sebab dalam kesalehan pribadi yang mereka, ternyata mereka tidak sedang menempatkan Allah dan agenda-agenda Allah sebagai pusat dari hidup mereka.  Keinginan untuk populer, keinginan untuk terpandang di masyarakat, keinginan untuk tampil sebagai yang terbaik, keinginan untuk menjadi yang terhebat sedemikian kuat merasuk dalam benak setiap orang Yahudi saat itu; apalagi kebencian yang demikian kuat menjadi perekat yang makin mensahkan mereka untuk bertindak semau mereka sendiri.  Dr. Wright dengan mengutip pandangan ahli PB yang lain, E. P. Sanders mengatakan bahwa Yesus tidak meminta sebuah pertobatan dalam pengertian seperti yang dipahami oleh orang-orang Yahudi pada masa itu (legalisme-moral); sebaliknya yang ia maksudkan dengan pertobatan adalah sebuah panggilan dan seruan untuk mengikut Dia.[2] 

 

Dan inilah syarat mutlak yang diperlukan kalau kita semua ingin terjadi revival yang sejati baik dalam hidup kita pribadi maupun dalam hidup KTB, persekutuan kampus kita, gereja kita bahkan dunia.  Dan inilah yang para itu murid lakukan saat itu.  Mereka menanggalkan setiap agenda-agenda pribadi mereka dan mendaulat Kristus sebagai satu-satunya Tuhan dalam hati mereka.   

 

 

Jadi apakah kita semua di tempat ini mendambakan terjadinya kebangunan rohani dalam diri kita, kelompok-kelompok KTB kita dan dalam persekutuan kampus kita (atau Gereja kita)?  Tidak ada jalan lain: bertobat à tanggalkan agenda-agenda pribadi kita, buang itu jauh-jauh dan kenakan agenda-agenda Yesus yang sudah terpapar jelas dalam firman-Nya!  Sebelum itu kita lakukan, jangan pernah berharap bahwa di tengah-tengah kita akan terjadi kebangunan rohani yang sejati!

 

Jujur saja melihat kondisi kekristenan yang sangat mengkhawatirkan beberapa tahun belakangan saya hanya melihat bahwa akar masalah yang membuat semua ini terjadi karena orang-orang Kristen masa kini tidak mau lagi berfokus kepada Yesus Kristus.  Nama Yesus Kristus bukan lagi menjadi nama yang punya kuasa seperti yang pernah terjadi dengan zaman para Rasul, melainkan menjadi sekadar jargon-jargon rohani dan pemanis dari lagu-lagu pemuas emosi yang tidak ada bedanya dengan lagu-lagu dunia yang marak sekarang ini. 

 

Yang ditekankan melulu adalah soal metode, cara dan upaya bagaimana sebaik dan sebisa mungkin mencari banyak orang masuk dalam Gereja dan persekutuannya.  Tidak heran kalau pada akhirnya fokus dari kegiatan Gereja saat ini tidak lebih dari sekadar hal-hal yang berbau entertain.  Para pelayan Gereja tidak lebih dari selebritis-selebritis rohani.  Pada akhirnya revival yang terjadi adalah revival yang sementara dan sangat semu karena di balik semboyan-semboyan kristiani yang marak diteriakkan, tersembunyi motivasi buruk dan tidak berasal dari Yesus.

 

Ajith Fernando, seorang ahli kitab suci dan pelayan di kalangan kaum muda Sri Lanka mengatakan demikian, “Dalam zaman di mana banyak Gereja memakai teknik-teknik canggih untuk mencapai kesuksesan dalam pelayanan, Kitab Kisah Para Rasul menghadirkan sebuah Gereja yang bergantung sepenuhnya kepada Roh Kudus dan menekankan doa dan kekudusan sebagai prioritas utama [untuk mencapai kesuksesan].”[3] 

 

Menurut saya termasuk dengan kita yang terlibat dalam pelayanan-pelayanan kampus dan KTB-KTB yang ada.  Pertanyaannya, “Apa yang menjadi motivasi kita dalam terlibat pelayanan kampus dan KTB?” Adakah agenda-agenda pribadi yang tidak benar yang terselip dan bukan agenda Yesus?

 

Fokus dan orientasi para murid yang diubahkan, yang hanya mengacu kepada Kristus semata, tampak lewat apa yang Lukas paparkan dalam bagian selanjutnya.  Jelas tindakan para murid untuk pergi ke Yerusalem (ay. 12) adalah tindakan yang didasarkan atas ketaatan kepada perintah Tuhan Yesus yang dipaparkan dalam ayat 4.  Menurut saya, dari paparan latar yang sudah saya kemukakan tadi, tentu mentaati perintah Tuhan ini bukanlah hal yang mudah.  Sebab Roh Kudus yang akan diberikan kepada mereka sebenarnya tidak punya tujuan lain, selain membimbing dan mengarahkan mereka untuk menjadi saksi menyatakan tahun rahmat Tuhan bagi bangsa-bangsa yang dulunya sangat mereka benci (ay. 8).  Lagi-lagi pandangan ini sebenarnya menjungkirbalikkan pandangan beberapa kalangan yang melulu melihat Roh Kudus yang diberikan pada peristiwa Pentakosta sebagai sebuah manifestasi kuasa yang membawa keuntungan bagi diri pribadi.  Dengan demikian, sebenarnya peristiwa pencurahan Roh Kudus yang dialami para murid awal itu merupakan peristiwa yang penuh risiko dan menantang setiap orang yang menerimanya untuk mau keluar dari zona nyamannya, demi mentaati Kristus sebulat hati mereka, sesulit apa pun itu dan semahal apa pun harga yang harus di bayar. 

 

Aplikasi:

Saat menyelidiki bagian ini saya tiba-tiba teringat dengan komentar seorang ahli bahasa Yunani dari John Hopkins University, Gary Wills dalam bukunya, What Jesus Meant, tentang respons Maria ketika malaikat menyampaikan berita karunia kepada Maria yang dengan serta-merta membuatnya terkejut.  Saya yakin sikap terkejutnya di sini tentu lebih dari sekadar karena penampakan ajaib itu.  Sikap terkejutnya ini tentu lebih disebabkan karena berita yang dibawa oleh malaikat ini.  Itu terlihat dari frase “sehingga bertanya-tanya dalam hatinya apa maksud  salam itu.  Dari penyelidikannya terhadap kata “terkejut” pada bagian ini (diatarasso; Luk. 1:29) ia mengatakan bahwa sikap terkejut Maria sebenarnya timbul karena kesadarannya yang penuh atas fakta-fakta di dalam PL bahwa setiap orang yang “dikaruniani Tuhan” di saat yang sama biasanya juga adalah orang yang akan mengalami banyak penderitaan dalam hidupnya akibat mengikuti kehendak Tuhan itu.  Dan memang akhirnya itu dialami oleh Maria, terutama pada saat melihat anak yang dikasihinya itu terpaku di kayu salib.  Saat saya mendapatkan satu pemahaman ini saya tiba-tiba teringat dengan kondisi kekristenan yang saat ini sedang mengalami kondisi yang sangat ironis dan kritis.  Terlalu banyak orang Kristen yang tidak sadar bahwa panggilan kasih karunia Tuhan secara bersamaan sebenarnya adalah panggilan untuk menderita juga di tengah-tengah mengiring Dia.  Apakah kita sudah lupa dengan bagian dari surat Filipi yang berbunyi:

“Sebab kepada kamu dikaruniakan bukan saja untuk percaya kepada Kristus, melainkan juga untuk menderita untuk Dia” (1:29), yang sekali lagi menegaskan bahwa bukti dari hadirnya kasih karunia Allah yang sejati di dalam hidup kita sebenarnya hanya tampak lewat kebergantungan kita yang mutlak kepada Allah (itu arti percaya) dan kerelaan kita untuk menderita demi mengikut Dia.  Saya sungguh sedih sebab di zaman ini semakin sedikit orang-orang Kristen termasuk anak-anak muda yang militan dan mencintai Tuhan dengan segenap hati mereka dan rela bayar harga setinggi apa pun itu demi Kristus.

 

Kesimpulan saya:

Hanya jika hadir orang-orang seperti ini: yang rela bayar harga demi Kristus, yang mau mentaati Tuhan sesulit apa pun tantangannya, niscaya benih-benih kebangunan rohani akan hadir di tengah-tengah pribadi kita, KTB kita, Persekutuan Kampus kita, Gereja kita bahkan dalam bangsa kita.  Dan dalam perenungan saya dalam kamp ini, saya sungguh merasakan bahwa saat ini sebenarnya Tuhan sedang merancangkan sesuatu yang ajaib buat setiap kita yang hadir.  Hanya saja, maukah kita berani mengambil risiko seperti yang para murid pertama lakukan, keluar dari zona nyamannya, beranjak untuk lebih jauh masuk dalam proses pembentukan yang memang mungkin tidak mudah dan penuh tantangan.  Maukah kita menjadi bagian dari kebangunan rohani yang sejati itu? 



[1]Acts (TNTC; Leicester/Grand Rapids: Inter-Varsity/Eerdmans) 60.

[2]Jesus and the Victory of God (Minneapolis: Fortress, 1996) 247.

[3]Acts (NIVACNT; Grand Rapids: Zondervan, ) 40.


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: