Kebangkitan Generasi Apolitik

19 12 2011

Kompas, 8 September 2011 memuat sebuah artikel berjudul Wajah Belia di Jerman. Artikel ini mengulas tentang partai baru, Pirate, yang didominasi oleh kaum muda dan langsung menembus empat besar di negara bagian Berlin. Partai ini berhasil merebut 15 kursi di parlemen. Menariknya, pemilih mayoritas mereka adalah kalangan muda apolitik yang biasanya golput dan senang berseluncur di dunia maya. Fenomena partai Pirate ini mengingatkan kita dengan Arab Springs, gelombang perubahan yang terjadi di Timur Tengah. Para penggerak utamanya justru kaum muda dan mahasiswa yang apolitik, maniak situs-situs jejaring sosial dan pecinta teknologi informasi. Banyak yang mengatakan mereka adalah Facebook Generation atau Net Generation tapi ada juga yang memuji mereka sebagai Miracle Generation.

Tren Generasi Apolitik

Jajak pendapat yang diadakan Litbang Kompas (21/3/2011) mengulas beberapa ciri kaum muda apolitik. Mereka cenderung konsumtif, berorientasi pada diri sendiri dan tak bergairah untuk terlibat dalam organisasi-organisasi kepemudaan. Disimpulkan pula bahwa jumlah mereka cenderung makin meningkat. Survei Litbang Kompas baru-baru ini (28/10/2011) kembali menegaskan kecenderungan generasi muda yang semakin individualis dan berorientasi pada kepentingan diri, yang juga berarti semakin apolitis. Namun jangan buru-buru mendiskreditkan mereka. Kita perlu memahami mengapa mereka menjadi apolitis. Setidaknya ada dua faktor kunci yang berandil melahirkan generasi apolitik: trauma politik dan anomali politik.

Trauma Politik

Thung Ju Lan, dalam buku Setelah Air Mata Kering: Masyarakat Tionghoa Pasca Peristiwa Mei 1998 (2010) menyatakan bahwa trauma politik masa lampau adalah pemicu utama lahirnya generasi apolitik. Ia menjelaskan bagaimana kaum keturunan Tionghoa, yang mengalami trauma berkepanjangan akibat stigma komunis yang dilekatkan pada mereka, cenderung menghindarkan diri untuk membicarakan apalagi terlibat dalam aktivitas-aktivitas yang berbau politik. Tidak mengherankan pula jika mereka memilih menyekolahkan anak-anak mereka ke bidang-bidang yang tidak ada kaitannya dengan politik atau kenegaraan. Situasi ini diperparah dengan perlakuan-perlakuan diskriminatif yang menimbulkan perasaan sebagai outsider dan bukan bagian dari bangsa ini. Namun trauma politik seperti ini tentu tidak hanya dialami oleh warga keturunan Tionghoa. Banyak kelompok masyarakat lain, baik kelompok suku maupun kelompok agama-kepercayaan yang turut mengalami penindasan politik, seperti Papua dan Ahmadiyah. Trauma politik juga tidak semata soal kepahitan sejarah akibat diskrimasi dan stigma ideologi yang dialami kelompok tertentu. Dalam tingkatan yang lebih umum ia juga hadir tatkala berbagai kebijakan ekonomi dan hukum lebih bernuansa politis dan tidak berpihak kepada kepentingan masyarakat serta menciderai rasa kemanusiaan. Dalam bukunya, Youth in a Suspect Society: Democracy or Disposability? (2006), Henry Giroux menjelaskan bagaimana politik yang berselingkuh dengan ekonomi neoliberal cenderung menghasilkan kebijakan-kebijakan opresif dan diskriminatif terhadap generasi muda. Pelayanan sosial, kesehatan, pendidikan dan ketersediaan lapangan kerja—semua sarana yang mestinya dinikmati secara bebas dan menjadi indikator penting dari sebuah negara demokrasi—telah tertawan oleh kepentingan ekonomi. Akibatnya tidak semua orang mendapatkan akses bebas ke sumber-sumber dasariah tersebut. Dampaknya mereka terabaikan, termarginalkan dan menjadi “sampah” masyarakat (disposal).

Anomali Politik

Era reformasi yang berhasil melengserkan rezim Orde Baru merupakan buah perjuangan generasi muda dan mahasiswa. Sayangnya, sudah empat rezim berganti namun perubahan tak kunjung tiba. Amanat reformasi yang dititipkan para mahasiswa bagi para pemimpin bangsa ini untuk menghadirkan sebuah transisi politik yang berpihak pada rakyat, berubah wujud menjadi politik transaksional dan perselingkuhan keji antar lembaga negara. Praktik mafia peradilan adalah contoh nyata dikhianatinya cita-cita reformasi. Semua anomali ini tentu dapat melunturkan semangat kaum muda untuk turut berkontribusi dalam persoalan-persoalan kebangsaan. Selain itu tersandungnya sejumlah politisi muda dalam kasus korupsi sangat mungkin membuat dunia politik makin bernilai negatif di mata generasi muda masa kini.

Kekuatan Baru yang Menakutkan

Namun yang menarik, ditunjang oleh teknologi informasi, kini generasi apolitik menjelma menjadi kekuatan baru yang amat ditakuti rezim-rezim otoritarian. Rezim-rezim ini sering salah tingkah dan tampak bodoh dengan berupaya membatasi dan memblokir komunikasi dunia maya; dunia yang paling digandrungi generasi apolitik. Namun di balik tampilan lahiriah yang apolitik, sebenarnya terdapat sebuah kebenaran paradoksal dalam diri mereka. Mereka memang pragmatis, bergerak bebas dan tak terkungkung oleh ideologi apa pun. Itu terjadi karena dunia politik memang gemar mempolitisasi ideologi dan menjadikannya slogan kosong belaka. Jika mereka memilih diam, itu bukan karena mereka tak peduli. Mereka hanya takut tercemar oleh kebusukan rezim korup yang memang enggan dan takut dengan perubahan. Bagi generasi apolitik satu-satunya ideologi yang hakiki adalah kemerdekaan hati nurani yang didorong oleh rasa kemanusiaan, kebenaran dan keadilan. Dalam sebuah wawancara dengan CBS News (13/2/2011), Wael Ghonim, tokoh utama di balik revolusi Mesir mengatakan, “Kita akan menang sebab kita tidak mengerti politik, sebab kita tidak mengerti permainan kotor mereka. Kita akan menang karena air mata kita keluar dari hati kita”. Semakin giat sebuah rezim membentuk generasi apolitik, semakin kuat pula kemungkinan ia akan diturunkan oleh generasi yang sama. Rezim yang berikhtiar melanggengkan kekuasaannya melalui politik yang melahirkan generasi apolitik, satu saat kelak akan bertemu dengan karmanya.





MERENUNG MAKNA KEBANGKITAN: MENGHADIRKAN ZAMAN BARU LEWAT KELEMAHAN, KEMISKINAN, KEHINAAN DAN KETERBATASAN

17 07 2010

Perihal kebangkitan tidak dapat dilepaskan dari perihal kematian sebagai negasinya. Perjanjian Baru (PB) berulang-ulang menegaskan kematian adalah musuh utama umat manusia (Ro. 5:12, 14; 1Kor.15:26;). Namun yang dimaksud dengan kematian oleh Alkitab bukanlah sekadar soal kehilangan nafas hidup dan jantung berhenti berdetak; dalam makna fisikal belaka. Kematian utamanya bicara soal mati, hilang dan sirnanya fungsi kita sebagai manusia yang seutuhnya, manusia yang semestinya dicipta mulia dan bermartabat; manusia yang harusnya hidup dalam nurani dan akhlak; manusia yang sejatinya dipanggil untuk selaras dan harmonis dengan Allah, sesama dan alam (bdk. Kej. 2:17; 3:10-19; Ef. 2:1-3, 5; Kol. 2:13). Melihat realitas dunia dan bangsa yang carut-marut, rusak serta korup ini, tidak ada alasan lain yang tepat untuk menggambarkan akar masalah semua ini selain kematian umat manusia dan berujung pada kematian dunia. Matinya hati nurani, matinya moral dan etika serta matinya perikemanusiaan dan bela rasa. Dengan demikian kebangkitan, tidak seperti pandangan kebanyakan orang Kristen sekarang, bukanlah sekadar bicara soal “kepastian” dan jaminan keselamatan setelah kematian (fisik) di surga kelak.

Sebaliknya kebangkitan juga bukan sekadar kabar baik bagi kaum agamis. Ia bukan pula wangsit abstrak bagi kaum spiritualis. Kebangkitan adalah kabar baik yang konkret sekaligus suara kontroversial buat seluruh semesta dan seisi dunia hari ini dan kini! Bahwa di tengah suramnya dunia, maraknya kemunafikan, meningkatnya angka kriminalitas dan genocide, ramainya retorika dan pepesan kosong dari para penguasa politik-oportunis yang memperkosa slogan “demi rakyat”, dunia punya harapan dan optimisme baru. Itulah sebabnya mengapa gereja mula-mula di tengah berbagai ancaman dan hambatan dari pemerintah politik kafir saat itu, tidak berdoa agar mereka dilepaskan dari semua bahaya itu dan segera pergi ke surga. Sebaliknya mereka berdoa agar mereka tetap di dalam dunia dan diberikan keberanian untuk memberitakan tentang Yesus yang bangkit (Kis. 4:24-31; bdk. 10:40-42; 17:3; 26:22-23; 2Tim. 2:8). Dan saya yakin itu pulalah yang membuat Yesus tidak berdoa agar murid-murid-Nya tidak diambil dari dalam dunia tetapi supaya mereka tetap ada di dalam dunia (Yoh. 17:15), tentu agar mereka menjadi alat Allah di tengah-tengah dunia yang tanpa harapan ini. Tapi bagaimana hal itu dapat terjadi di dalam Yesus? Dan bagaimana orang yang percaya dan dibangkitkan bersama Yesus adalah orang-orang yang dapat menjadi agen pembaruan dunia ini?

Sebelum menjawab pertanyaan ini kita perlu melihat sebentar perihal Kerajaan Allah yang sangat dekat dengan ide kebangkitan.

Dalam Perjanjian Baru, Kerajaan Allah (atau pemerintahan Allah yang dinamis atas semesta ini) adalah sesuatu yang sangat misterius dan terdengar aneh bagi orang-orang pada masa Yesus. Mengapa misterius dan aneh? Sebab bertolak belakang dari konsep “kerajaan” menurut dunia, Kerajaan Allah tidaklah didirikan di atas dasar kekuatan politik, milliter, uang (ekonomi) dan pengaruh. Sebaliknya Kerajaan Allah didirikan di atas dasar kemiskinan, kehinaan, kelemahan dan ketidakberdayaan! Berulang-ulang ayat-ayat dalam Injil menggemakan hal tersebut. “Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah karena merekalah yang empunya Kerajaan Surga” (Mat. 5:3); ” Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga” (Mat. 5:10); “. . . lalu berkata: ‘Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga.Sedangkan barangsiapa merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga'” (Mat. 18:3-4). Kerajaan Allah Yesus sangat misterius dan aneh karena banyak orang yang menganggap ide Yesus tidak masuk akal dan konyol. Itulah sebabnya banyak orang pada akhirnya menolak, kecewa dan meninggalkan Dia (Yoh. 6:66). Itulah sebabnya pula Yesus mengutarakan banyak perihal Kerajaan Allah dalam perumpamaan yang maknanya tersembunyi bagi banyak orang. Bukan karena mereka tidak mengerti tapi karena mereka “tidak mau dan tidak suka” untuk mengerti (Mat. 13:13-15). Kerajaan Allah seperti ini tidak mungkin diterima oleh mereka yang suka akan kemegahan dan kejayaan eksternal. Kerajaan Allah seperti ini hanya diterima oleh mereka yang diam-diam melihatnya dengan mata iman (Mat. 13:16-17).Saya yakin inilah yang menginsipirasi Paulus untuk mengatakan, “Tetapi jawab Tuhan kepadaku: “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.” Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku.Karena itu aku senang dan rela di dalam kelemahan, di dalam siksaan, di dalam kesukaran, di dalam penganiayaan dan kesesakan oleh karena Kristus. Sebab jika aku lemah, maka aku kuat” (2Kor. 12:9-10).

Tapi muncul satu pertanyaan penting yang perlu kita ajukan, “Mengapa Yesus menghadirkan Kerajaan Allah melalui kelemahan, kemiskinan, kehinaan dan ketidakberdayaan dan bukan lewat uang, kekuatan serta senjata?” Jawabannya sederhana. Lewat kerinduan akan kuasalah orang memanipulasi dan menghisap orang lain, uanglah yang menjadi biang dari semua kejahatan dan kekuatan militer “atas nama kebenaran”lah yang telah menghancurkan hidup dan masa depan umat manusia di sepanjang sejarah. Artinya, merupakan utopia dan mimpi di siang bolong untuk menghadirkan damai dan kesejahteraan lewat kuasa politik, uang dan kekuatan militer sebab justru karena semua itulah dunia ini kehilangan damai dan sejahtera. Itulah sebabnya Yesus mengatakan dalam Matius 20:25-27,”Tetapi Yesus memanggil mereka lalu berkata: “Kamu tahu, bahwa pemerintah-pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi dan pembesar-pembesar menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka.Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu.” Dan ia menutup bagian ini dengan rahasia sejati untuk menghadirkan Kerajaan Allah di atas bumi ini, “sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang” (Mat. 20:28).

Kebenaran inilah yang diberitakan dan dihidupi oleh Yesus, Kerajaan Allah hanya akan hadir lewat kelemahan, ketidakberdayaan, kemiskinan dan kehinaan. Namun Yesus tidak sekadar mengatakan berita itu tapi di dalam tubuh-Nya, Ia mengaktualisasikan berita itu, tubuh yang akhirnya mengalami penindasan, kesesakan, kemiskinan, ketidakberdayaan dan kehinaan akibat dosa-dosa dunia. Boleh dikata, di dalam Yesus Kerajaan Allah menjelma menjadi daging seperti kata Marcion, “In evangelio est Dei regnum Christus ipse.” Di dalam tubuh kemanusiaan-Nya, Ia turut merasakan getirnya akibat dosa yang dirasakan umat manusia oleh karena orang-orang yang haus dan takut kehilangan kekuasaan serta bertangan besi (seperti prajurit Romawi dan Pilatus), haus akan uang (Yudas dan orang-orang Herodian), mengejar pengaruh dan popularitas (para imam Bait Allah dan tua-tua). Artinya di dalam tubuh-Nya Yesus merasakan seluruh penderitaan yang diakibatkan oleh hal-hal pokok yang justru dianggap mampu memberikan jalan keluar atas berbagai problem yang dihadapi umat manusia (trias kekuatan sebuah bangsa: ekonomi, politik dan militer). Di dalam tubuh-Nya yang ditelanjangi, Yesus justru sedang menelanjangi secara bulat-bulat segala bentuk kemunafikan, kebohongan, sikap koruptif dan manipulasi busuk yang telah berabad-abad dipraktikkan para penguasa, tokoh agama, elite politik yang sebenarnya hanya mencari kepentingan pribadi dengan menawarkan janji-janji palsu dengan embel-embel “demi rakyat” dan “demi kebenaran.” Di dalam tubuh-Nya, Yesus sedang memperhadapkan para pemimpin sekaligus pemimpi dunia terhadap optimisme dan utopia semu yang mereka tawarkan lewat jalan-jalan mereka sekaligus menyadarkan mereka akan kematian mereka di tengah berbagai prestasi dan prestise hidup yang mereka nikmati.

Inilah cara Allah, Sang Empunya langit dan bumi menyelesaikan masalah-masalah dunia dan mendirikan Kerajaan-Nya di atas bumi ini–Kerajaan yang penuh dengan damai dan keadilan (Yes. 11:6-9)–yakni lewat jalan penderitaan dan salib. Salib menjadi simbol dari matinya keakuan cinta diri, matinya arogansi, sumpah serapah, benci dan dendam, matinya hasrat untuk kuasa dan keinginan untuk membalas kejahatan dengan kejahatan, matinya hasrat untuk menjadi terkenal dan populer, simbol dari kerinduan untuk hidup bagi Allah dan mati bagi dunia. Bukankah ini cara yang misterius dan sulit diterima akal sehat oleh dunia?

Setelah Yesus mati, banyak orang berpikir bahwa itu merupakan kekalahan Yesus sekaligus gugurnya semua asumsi Yesus tentang Kerajaan Allah versi-Nya. Dia yang sudah mengajarkan dan menghidupi apa yang dikatakan-Nya sebagai kebenaran Allah, mentaati Allah sebulat-bulat hati dihabisi dan tak berdaya dihadapan orang-orang jahat. Dan banyak orang yang akhirnya menganggap toh pada akhirnya kebenaran pasti kalah oleh kejahatan. Namun fakta kebangkitan menyangkal semua tuduhan itu. Kurang lebih 500 orang saksi siap dikonfirmasi untuk kebenaran kejadian itu (1Kor. 15:6).

Orang-orang Yahudi sendiri umumnya percaya akan fakta kebangkitan. Bagi komunitas Yahudi kebangkitan tidak sekadar dikaitkan dengan “jaminan” keselamatan individual. Kebangkitan bicara soal harapan kebangkitan bagi Israel–bangsa yang dipilih Allah untuk keselamatan dunia, yang terpuruk dan mati karena dosa dan pelanggaran mereka–yang sekaligus sebagai pertanda bahwa dunia pun akan dipulihkan dengan sempurna melalui pemulihan umat Allah (bdk. Yeh. 37, Dan. 12). Inilah yang juga digemakan oleh penulis PB. Paulus melihat kebangkitan Yesus (yang adalah the new Israel) sebagai awal dari rencana pemulihan Allah bagi dunia baru yang akan Allah hadirkan. Jadi kebangkitan bukan sekadar pembaruan pribadi tapi erat dengan transformasi holistik dari semesta ini (Ro. 6; 1Kor. 15:24-28; Kol. 1:15-23; 3). Menarik sekali apa yang dikemukakan N. T. Wright, “For renewed bodies we need a renewed cosmos , including a renewed earth. That is what the New Testament promises.”

Namun, sesuai Daniel 12:13, orang-orang Yahudi percaya bahwa  kebangkitan tidak akan terjadi sekarang (here and now, in the middle of history). Itu akan terjadi pada masa akhir zaman (bdk. perkataan Maria dalam Yoh. 11:24). Namun dalam kasus Yesus itu berbeda. Yesus dibangkitkan “in the middle of history“! Apa artinya ini? Jelas, sebuah transformasi holistik Allah bagi dunia tidak perlu menunggu sampai akhir zaman. Allah secara mengejutkan berintervensi langsung dalam sejarah dan memulai suatu zaman yang baru! Zaman yang penuh harapan. Kerajaan Allah atau pemerintahan Allah yang akan menghadirkan damai dan sukacita kekal itu, sudah dan sedang terjadi saat ini! Dan itu hadir lewat karya Yesus yang melayani dunia dengan cinta dan dalam kemiskinan, kelemahan, kehinaan dan keterbatasan. Kebangkitan menjadi bukti sah bahwa seluruh karya Yesus diperkenan dan dimuliakan oleh Allah. Kebangkitan juga menegaskan bahwa jalan Yesuslah satu-satunya jalan yang konkret dan utuh menuju transformasi itu.

Kini kita sedang hidup dalam zaman baru itu; zaman di mana kelak, “Serigala akan tinggal bersama domba dan macan tutul akan berbaring di samping kambing. Anak lembu dan anak singa akan makan rumput bersama-sama, dan seorang anak kecil akan menggiringnya.Lembu dan beruang akan sama-sama makan rumput dan anaknya akan sama-sama berbaring, sedang singa akan makan jerami seperti lembu.Anak yang menyusu akan bermain-main dekat liang ular tedung dan anak yang cerai susu akan mengulurkan tangannya ke sarang ular beludak” (Yes. 11:6-8). Hadirnya damai yang radikal, yang utuh dan penuh, sebab “. . . seluruh bumi penuh dengan pengenalan akan TUHAN, seperti air laut yang menutupi dasarnya” (Yes. 11:9).

Inilah panggilan buat kita yang rindu melihat hadirnya zaman baru yang Tuhan sedang hadirkan. Panggilan yang melintasi sekat-sekat agama dan asumsi teologi, pandangan politik, status sosial dan suku bangsa akan hadirnya zaman tanpa kemunafikan dan retorika politikus busuk, zaman tanpa air mata penindasan dan kesengsaraan akibat sengsara dan pemiskinan. Zaman di mana Allah akan menjadikan segalanya baru, di mana Ia yang jadi pemimpin kita. Namun Ia memanggil kita bukan hanya untuk menyaksikan dan menantikan masa itu. Ia juga memanggil kita untuk menjadi bagian dari rencana-Nya itu. Ia memanggil kita untuk menjadi agen-agen-Nya, demi menyaksikan kebesaran-Nya bukan lewat kekuatan ekonomi, kekuatan politik dan militer; melainkan lewat kehinaan, kemiskinan, kerendahan dan keterbatasan. Memang panggilan itu berat dan sulit, penuh dengan pengorbanan. Itulah sebabnya Yesus sudah mengingatkan sejak awal bahwa panggilan Kerajaan ini hanya bisa dipenuhi oleh mereka yang siap dan rela untuk menyangkal diri [menanggalkan agenda-agenda pribadi], memikul salib [lambang hina dan cela, rela dianggap aneh oleh dunia] dan mengikut Yesus [mengikut cara Yesus](Mrk.8:34). Panggilan itu memang membuat seseorang mati untuk dirinya, keakuannya, agenda-agendanya; namun seperti yang terjadi pada Yesus, kematian itulah awal dari kehidupan bagi dunia ini. Inilah yang dikatakan dalam Yohanes 12:24-25, “Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah.Barangsiapa mencintai nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, tetapi barangsiapa tidak mencintai nyawanya di dunia ini, ia akan memeliharanya untuk hidup yang kekal.”

Panggilan ini hanyalah bagi mereka yang mau bergumul secara serius, mempertimbangkan masak-masak, percaya dan akhirnya beriman secara diam-diam dalam hati bahwa memang hanya lewat dan melalui jalan salib Yesus yang hina dan miskinlah ada jalan dan pengharapan satu-satunya buat transformasi diri saya, sesama, alam ciptaan dan dunia ini. Maukah anda mempertimbangkan-Nya?





Iman yang Menyelamatkan

20 08 2009

Roma 3:21-30

 

I

Menurut pandangan saya, penyakit yang paling berbahaya dalam iman adalah legalisme. Inilah jugalah yang sebenarnya menjadi masalah yang sedang Paulus paparkan sebagai latar belakang teks yang baru kita baca tadi (pasal 2:18-3:20).  Legalisme adalah keimanan yang disandarkan pada status bukan kekudusan hidup; pada tradisi dan formalisme agamawi bukan relasi dengan Allah; pada ketaatan melakukan ritual-ritual lahiriah bukan pada perubahan karakter hidup.  Sebagai catatan orang-orang Yahudi adalah orang-orang yang sangat kagum dan bangga dengan identitas dan ritual ke-Yahudian mereka.  Mereka sangat bangga bahwa mereka adalah keturunan Abraham, di sunat, bangsa pilihan Allah, memiliki hari sabat dan tentu yang paling penting hukum Taurat.  Namun ada masalah yang lebih parah, yang muncul sebagai konsekuensi dari iman buta ini.  Karena mereka (orang-orang Yahudi) merasa bahwa mereka adalah bangsa pilihan Allah, punya sunat, anak Abraham dan memiliki sunat maka mereka beranggapan apa pun yang mereka lakukan—meskipun itu adalah segala perbuatan cemar yang penuh dengan kenajisan dan kejijikan di hadapan Allah—mereka tetap merasa bahwa mereka pasti akan diselamatkan oleh Allah. Coba kita lihat sebentar beberapa ayat dari Roma yang mengindikasikan hal ini:

Sebab walaupun mereka mengetahui tuntutan-tuntutan hukum Allah, yaitu bahwa setiap orang yang melakukan hal-hal demikian, patut dihukum mati, mereka bukan saja melakukannya sendiri, tetapi mereka juga setuju dengan mereka yang melakukannya (1:32).

tetapi murka dan geram kepada mereka yang mencari kepentingan sendiri, yang tidak taat kepada kebenaran, melainkan taat kepada kelaliman. Penderitaan dan kesesakan akan menimpa setiap orang yang hidup yang berbuat jahat, pertama-tama orang Yahudi dan juga orang Yunani, tetapi kemuliaan, kehormatan dan damai sejahtera akan diperoleh semua orang yang berbuat baik, pertama-tama orang Yahudi, dan juga orang Yunani. Sebab Allah tidak memandang bulu (2:8-11). Nah, khusus pada ayat 11 ini sebuah terjemahan bahasa Inggris memberikan alternatif yang baik sekali: “For God does not  show favoritism.” Perhatikan kata favoritism di situ.  Ini menegaskan bahwa Allah tidak punya anak favorit, Allah tidak punya anak emas. Semua sama di hadapan Allah.

  Baca entri selengkapnya »





Menjadi Garam dan Terang Dunia

25 05 2009

Matius 5:13-16, Galatia 4:4

 

Salah satu kesalahan terbesar saat melihat teks-teks Injil, termasuk Khotbah di Bukit ini adalah terjadinya rohanisasi teks.  Yang penulis maksud dengan rohanisasi teks adalah bahwa di dalam kita membaca teks-teks ini dan menafsirkannya kita membuang semua situasi “sosial-politik” yang terjadi saat Yesus menyampaikan hal ini dan kita menganggap bahwa Khotbah di Bukit ini adalah ajaran rohani abstrak yang tidak ada sangkut pautnya dengan konteks situasi saat itu.

Hal ini sebenarnya sangat jelas kalau kita melihat sebentar ke belakang ke pasal 2-4. Bagian ini jelas memberikan background sosial-politik yang terjadi saat itu dan yang berikutnya menjadi background untuk Khotbah di Bukit termasuk seluruh Injil Matius. Coba kita sekilas latar belakang ini.

Baca entri selengkapnya »





PASKAH SEBAGAI PERAYAAN POLITIK

29 04 2009

peace

Sebuah kebetulan yang istimewa bahwa tahun ini hari paling penting bagi umat Kristen, Paskah, akan dirayakan berdampingan dengan PEMILU, pesta demokrasi lima tahunan di negeri ini. Sekilas, kedua acara ini tidak punya hubungan kait-mengait satu dengan yang lain: yang satu adalah pesta rohani dan yang lain adalah pesta politik. Tapi benarkah demikian? 

Menurut tradisi Perjanjian Lama, paskah pertama kali dirayakan sebagai pengingatan atas karya ajaib Tuhan yang memerdekakan umat Yahudi dari belenggu perbudakan.  Menurut catatan sejarah Eusebius dari Kaisarea dan catatan Taurat, umat Yahudi ditindas oleh raja Firaun Ramses II selama 430 tahun. Jelas ini bukan sekadar berita yang bernada rohani belaka. Ini adalah sebuah berita politik, bahkan sebuah “perayaan politik” bahwa dibalik kemustahilan yang amat panjang dalam perjalanan hidup sebuah bangsa, ada secercah sinar harapan.

Dalam perkembangan selanjutnya, berita paskah tetap berdampingan erat dengan berita politik.  Lima ratus tahun kemudian (490 M), seorang imam, Ezra, kembali menyerukan perayaan massal Paskah sebagai ungkapan syukur karena bebasnya mereka dari pembuangan Babilonia Baru selama 50 tahun.

Bagaimana dengan Paskah menurut Injil dan Perjanjian Baru? 

Zaman Yesus merupakan zaman yang secara politik sangat carut marut dan sulit. Lagi-lagi Palestina ada di bawah penjajahan.  Saat itu Romawi menjajah Palestina dan menetapkan status imperial provinces; sebuah status yang diberikan untuk propinsi yang dianggap pembangkang dan mudah memberontak kepada Kaisar.  Zaman Yesus juga adalah zaman multipartai politik, tidak beda dengan kondisi negara kita saat ini. Terlepas dari motivasi keagamaan yang kuat yang mendorong partai-partai ini, sebenarnya masing-masing partai memperjuangkan kemerdekaan negaranya dari penjajahan Romawi dengan cara dan tujuannnya sendiri-sendiri.  

Sayap politik nasionalis yang dimotori kaum Zelot berupaya membebaskan kaum Yahudi dari kaum penjajah dengan kekuatan militer. Kelompok lain yang sangat berpengaruh adalah kelompok Farisi.  Kelompok ini memang awalnya merupakan gerakan sosial-keagamaan. Namun seiring perkembangan waktu dan perkembangan yang terjadi dalam kelompok ini, kelompok ini pun pada akhirnya merubah wujud menjadi kelompok (partai) politik bernafas keagamaan. 

Disamping dua kelompok di atas, yang merupakan kelompok yang dapat dianggap beroposisi dengan pemerintah dan penjajah Roma saat itu, ada dua kelompok lain yang merupakan kelompok politik pro-pemerintah berkuasa.  Yang pertama adalah kelompok Herodian.  Kelompok ini memang jarang disebutkan dalam Alkitab (lih. Mat. 22:16; Mrk. 3:6; 12:13). Namun dalam kenyataannya kelompok ini adalah kelompok yang kuat karena menjadi penyokong utama dinasti Herodes. Kelompok lainnya berasal dari kalangan agamawan, Saduki.  Kelompok ini adalah penguasa Bait Allah.  Kelompok ini sangat liberal dalam pengajaran dan sangat kompromistis dalam praktik hidup.  Sangat mungkin sikap liberal dan kompromistis mereka disebabkan oleh bantuan yang diberikan Herodes agung untuk merenovasi secara luar biasa Bait Allah saat itu.  Menurut sebuah sumber, Bait Allah yang direnovasi oleh Herodes ini diselesaikan dalam kurun waktu  83 tahun!

Partai-partai yang tetap punya unsur agama (selain Herodian) ini sebenarnya punya satu motivasi yang sama; mengusung teman: No King, but YHWH!” Mereka berjuang demi kemerdekaan dari penjajahan dan ditegakkannya Kerajaan Allah, namun sayangnya tujuan yang kelihatan mulia ini sebenarnya lahir dari motivasi haus akan kekuasaan dan yang akhirnya melegalkan berbagai intrik dan perselingkuhan politik tingkat tinggi.  Ajaran Kitab Suci tentang Kerajaan Allah pun diperkosa, dipelintir dan dianggap sama dengan memiliki kerajaan dunia.  Tidak heran mereka suka menggunakan cara “tangan besi” (bdk. Mrk. 10:42) dan kudeta berdarah-darah untuk mendirikan Kerajaan Allah versi mereka.

Dalam carut-marut politik inilah sebenarnya berita kebangkitan Kristus menggema.  Tuhan Yesus yang setia melakukan kehendak Bapa-Nya tanpa sedikit pun tergiur dengan godaan untuk menjadi relevan, populer, dan merengkuh pengaruh dan kekuasaan, akhirnya menjadi tumbal dari kompromi politik tingkat tinggi antara Pilatus, Herodes dan para pemimpin parpol-agama Yahudi. Dengan membunuh Yesus, Sang Mesias-utusan Allah yang terjanji, mereka yang hidupnya korup dan manipulatif ini menganggap kekuasaan mereka akan langgeng dan tidak akan mungkin terinterupsi lagi. Dengan kematian Yesus, masyarakat (termasuk para murid), akan berpikir: berakhirlah perjuangan kebenaran melawan kegelapan.  Selamanya kejahatan karena dosa ini akan menguasai bumi yang diciptakan Allah sungguh amat baik ini, dan untuk selamanya pula tidak akan ada harapan untuk pemulihan umat manusia sebab Anak Domba Allah sudah dikalahkan.

Namun kebangkitan membalikkan semua prediksi itu. Kebangkitan menjadi tanda awal dan penting bahwa Allah menghancurkan kematian sebagai senjata pamungkas kejahatan, seperti yang dikatakan  Tom Wright dengan sangat indah: “Death is the final weapon of the tyrant, or, for that matter for the anarchist, and resurrection indicates that this weapon doesn’t have the last word.” Kebangkitan juga menjadi tanda penting bahwa Allah sedang berurusan dan menantang semua kekuatan dan kuasa dunia ini yang merasa lebih tahu untuk membarui dunia ciptaan-Nya ini. Kebangkitan bukan hanya menyatakan bahwa kejahatan dan maut sebagai buahnya tidak punya kuasa apa-apa, tapi juga sekaligus memberikan harapan pasti bahwa satu kali kelak Allah akan sungguh-sungguh membebaskan, membarui dunia ini dan mengakhiri segala kejahatan yang ada di dalamnya.  Berita kebangkitan bukan hanya berita rohani.  Berita kebangkitan Kristus adalah berita politik yang memberitakan pembebasan kepada yang tertindas dan terjajah, sekaligus menantang semua bentuk penjajahan yang dilakukan orang-orang yang merasa berhak menguasai dan mengatur manusia kepunyaan Allah.

Pada akhirnya berita kebangkitan adalah berita kontroversial yang menantang setiap orang yang percaya kepada-Nya untuk berani bertindak dan berani bersikap. Berita yang menggemakan bahwa ada pengharapan akan pembebasan tuntas Allah untuk dunia ini seharusnyalah memberi kita sukacita dan asa untuk giat bekerja bagi Allah, tanpa takut, bukan hanya di balik tembok-tembok Gereja yang rohani, tapi juga di dalam semua sektor kehidupan bermasyarakat yang jauh dari kesan rohani.  Tempat-tempat gelap yang tidak berpengharapan itu membutuhkan kehadiran Kristus yang bangkit. Dunia yang sekarat dan tertindas ini membutuhkan berita kebangkitan Kristus dan membutuhkan saksi-saksi kebangkitan-Nya yang bukan hanya pandai bicara tapi juga yang berani hidup dalam kekudusan yang radikal, tanpa kompromi.





MEMAKNAI TAHUN BARU DALAM PERSPEKTIF ROSH-HASSANAH YAHUDI

1 02 2009

Imamat 23:23-25; Bilangan 10:10

chinese-new-year-in-singapore

I

Saya tertarik melihat kalender dalam kurun waktu penghujung tahun 2008 sampai awal tahun 2009.Setidak-tidaknya ada “tiga kali” tahun baru dalam waktu yang tidak terlalu berjauhan.Yang saya maksudkan dengan tiga kali tahun baru adalah Tahun Baru Muharram (Islam), Tahun Baru Masehi dan Tahun Baru Imlek (Cina).Luar Biasa!Artinya sangat mungkin ada manusia di bumi ini yang merayakan tahun baru lebih dari satu kali dan tentu bahkan ada yang dalam kurun waktu yang tidak terlalu panjang merayakan tiga kali tahun baru!

Budaya Alkitab (dalam hal ini yang terjadi dengan orang-orang Yahudi) pun punya budaya tahun baru.Salah satunya dijelaskan oleh dua teks di atas.

II

Dari konteksnya kita dapat mengerti bahwa teks ini sedang membicarakan perihal beberapa hari-hari raya penting orang Yahudi: Hari raya Paskah (ay. 5), Hari Raya Roti Tidak Beragi (ay. 6), Hari Raya meniup serunai (ay. 24), Hari Raya Pendamaian (ay. 28), dan Hari Raya Pondok Daun (ay. 34).Hari-hari raya ini dapat dikatakan sebagai hari-hari raya yang paling penting bagi orang Yahudi.Hari Raya yang pada akhirnya menjadi cikal bakal Hari Raya Tahun Baru (Rosh-Hassanah) bagi orang Yahudi adalah Hari Raya meniup Serunai.Hari tersebut (hari pertama bulan ketujuh) dianggap sebagai hari yang paling sakral dalam satu tahun sebab angka tujuh adalah angka yang sangat penting (angka Allah) bagi orang Israel.Itulah sebabnya oleh orang-orang Yahudi saat ini hari tersebut disebut sebagai Rosh-Hassanah (Rosh = head; kepala dan Hassanah = year; tahun) atau dapat dikatakan hari yang paling tinggi (pemuncak) dari satu tahun.

Bagi orang Yahudi sendiri Tahun Baru (Rosh-Hassanah) bukanlah hari untuk berfoya-foya seperti kebiasaan banyak orang saat merayakan malam pergantian tahun baru.Kalau kita perhatikan dengan seksama teks kita ini maka ada beberapa hal penting yang menjadi makna tahun baru bagi orang-orang Yahudi.

Makna pertama diberikan oleh simbol meniup serunai (ibr. showpaar).Dalam Bilangan 10:10, meniup nafiri/terompet dikaitkan dengan tindakan untuk “mengingatkan” Tuhan akan Perjanjian (kovenan) yang diikat-Nya dengan umat-Nya:

Juga pada hari-hari kamu bersukaria, pada perayaan-perayaanmu dan pada bulan-bulan barumu haruslah kamu meniup nafiri itu pada waktu mempersembahkan korban-korban bakaranmu dan korban-korban keselamatanmu; maksudnya supaya kamu diingat di hadapan Allahmu; Akulah TUHAN, Allahmu.

Istilah “mengingatkan” mungkin perlu sedikit kita klarifikasi.Istilah “mengingat” sendiri sebenarnya memiliki dua arti.Pertama, “mengingat” dapat diartikan sebagai sebuah aktivitas mental yang dilakukan oleh otak dengan mencoba untuk memanggil kembali informasi yang tersimpan di otak karena mungkin informasi tentang hal tersebut sudah tertumpuk dengan informasi yang baru.Bahasa praktisnya, “mengingat” terjadi karena lupa.Kedua, mengingat dapat diartikan sebagai sebuah tindakan “mengenang.”Contoh: Tugu pahlawan didirikan untuk mengingatkan kita akan jasa para pahlawan.

Dalam konteks Bilangan 10:10 ini tentu bukan definisi pertama ini yang dimaksudkan.Tuhan tentu tidak pelupa seperti manusia.Dalam Mzm. 103:2 (Ul. 6:12) pemazmur menghimbau jiwanya untuk tidak melupakan Tuhan.Dari mazmur ini kita tentu dapat mengerti bahwa “lupa” (pada Tuhan) pasti adalah sifat yang buruk yang pasti tidak ada pada Tuhan!Dalam konteks ini lebih cocok kita mengartikan mengingat di sini sebagai “mengenang.” Mengenang apa? Saya yakin “mengingat” di sini tentu berkaitan dengan mengenang ikatan perjanjian yang terjadi antara YHWH dengan Israel; ikatan perjanjian ajaib yang di satu sisi membuat Israel menjadi umat kesayangan tapi disisi lain ikatan ini sekaligus mengandung tanggung jawab bahwa Israel adalah bangsa yang dipilih TUHAN untuk memberitakan terang bagi bangsa-bangsa. Perhatikan pembaruan kovenan yang dilakukan Asa yang salah satu aktivitasnya adalah meniup serunai/nafiri (2Taw. 15:14) atau yang dilakukan Hizkia (2Taw. 20:26-28; bdk. Ezr. 3:10). Ikatan perjanjian ini adalah ikatan yang di dalamnya terdapat janji-janji Allah bahwa Ia akan memberkati, melindungi dan menaungi Israel namun sekaligus dibarengi perintah agar Israel setia untuk berpaut kepada Dia, mengasihi Dia dengan segenap hati, segenap jiwa dan segenap kekuatan, dan tidak menyembah ilah lain selain Dia. Itulah sebabnya saya lebih suka terjemahan versi bahasa Inggris untuk ayat ini, “. . . and they will be a memorial for you before your God. I am the LORD your God.”Artinya pada saat orang-orang Israel meniup nafiri atau serunai pada tahun baru mereka, mereka dihimbau—oleh Tuhan sendiri, demi janji-janji yang sudah Ia ikrarkan dalam ikatan kovenan—untuk memberanikan diri berseru meminta penyertaan Tuhan sesuai dengan janji-Nya, tanpa ragu dan tanpa takut.Tapi di sisi lain tindakan meniup serunai/nafiri ini sekaligus menantang mereka untuk berani mengoresi dan mengevaluasi secara kritis sikap mereka terhadap Allah.Betulkah hanya Allah yang mereka sembah?Betulkah Allah sungguh-sungguh mereka taati dan mereka kasihi dengan segenap hati, segenap jiwa dan dengan segenap kekuatan?Ataukah sebenarnya ada sesembahan lain, ilah lain, berhala lain yang secara diam-diam menyeruak masuk dalam hati dan hidup mereka dan mengambil bagian yang penting tanpa mereka sadari. Jangan-jangan tindakan meminta pertolongan kepada Tuhan hanyalah sebuah alternatif (bukan satu-satunya cara) yang kita lakukan untuk mencari pertolongan. Dalam Alkitab ada banyak tokoh-tokoh seperti ini diceritakan.Tentu kita tidak akan lupa dengan Saul.Pada satu sisi dia meminta pertolongan Tuhan tapi pada sisi lain ia juga datang kepada peramal.Atau dengan umat Israel pada masa Hakim-hakim.Pada saat seorang Hakim memerintah atas mereka, mereka begitu setia kepada Tuhan.Tapi ketika Hakim tersebut mati, seketika itu pula hati mereka beralih kepada berhala-berhala.

Pada saat saya merenungkan bagian ini saya saya melihat terdapat sebuah pengertian teologi “tahun baru” yang sangat indah dari kitab suci.Di satu sisi, pada tahun baru umat bukan hanya disarankan atau dihimbau untuk meminta pertolongan kepada Tuhan.Dari tradisi meniup serunai/nafiri, menurut saya, umat bahkan diharuskan oleh Tuhan untuk meminta pertolongan-Nya; umat diminta mengundang intervensi-Nya atas segala masalah dan pergumulan hidup yang dihadapi umat.Meminta pertolongan kepada Tuhan pada “tahun baru” bukanlah tindakan yang egois.Saya tegaskan di sini, meminta pertolongan kepada Tuhan pada tahun baru adalah tindakan yang sangat Alkitabiah, sebab Tuhan sendiri memintanya dari kita.Tetapi itu bukanlah seluruh kebenaran dari teologi “tahun baru” Alkitab.Di sisi lain, tradisi meniup serunai/nafiri untuk meminta tolong kepada Tuhan menurut saya adalah sebuah tindakan yang sangat berani.Berani, karena dengan meminta tolong kepada TUHAN Allah Israel berarti saya berani mengatakan bahwa tidak ada pertolongan lain yang lebih melegakan dan lebih sempurna selain yang dilakukan oleh DIA.Dan itu sekaligus secara otomatis berarti bahwa saya tidak akan pernah mencari pertolongan lain, bersandar kepada ilah/allah lain, semenarik apa pun dan semenjanjikan apa pun allah itu, kecuali kepada Tuhan; saya tidak akan pernah mencari jalan pintas untuk keluar dari pergumulan saya dengan menyembah ilah lain dan menyimpan sesuatu berhala.Saya mau tetap berharap kepada Tuhan meskipun kelihatannya jalan yang Ia tawarkan bukanlah jalan yang saya inginkan sambil tetap percaya bahwa apapun yang Ia berikan dan kerjakan dalam hidup saya adalah yang terbaik dan yang terindah!Inilah alasan saya mengatakan bahwa meminta tolong kepada Tuhan adalah sekaligus sebuah tindakan yang berani.

III

Saya tertarik dengan seorang penafsir yang memberi tema Bilangan 10 ini, The Signal For the Journey.Kalau kita perhatikan konteks dekat dari pasal 10 ini (yakni pasal 9:15-23) yang bercerita tentang tiang awan yang akan memimpin perjalanan musafir Israel dari Sinai ke Kanaan maka tampaknya teks pasal 9-10 ini memang secara khusus membahas persiapan-persiapan terakhir orang Israel sebelum melanjutkan perjalan dari Sinai ke Kanaan (perhatikan judul perikop 10:11-36).Dan tentu perjalanan yang akan mereka tempuh bukanlah perjalanan yang mudah.Bayangkan mereka adalah bangsa yang besar sebagai budak di Mesir (bukan prajurit) dan harus melakukan perjalanan penuh risiko di padang gurun yang kering kerontang, yang tentu penuh dengan banyak orang jahat.Dalam konteks tantangan dan risiko yang sangat besar yang sedang menanti di depan sanalah persiapan seperti inilah perihal meniup serunai/nafiri diberikan. Satu-satunya harapan mereka dalam kondisi seperti ini tentu hanya Tuhan, tidak ada yang lain.Dan memang inilah keinginan Tuhan.

 
Dalam kisah-kisah Israel selanjutnya, tradisi meniup serunai/nafiri tetap dilakukan, bukan hanya pada saat Israel menghadapi tantangan dan pergumulan (2Taw. 13:12, 14; 20:28) tapi juga dalam hal-hal yang tampaknya aman seperti dilakukan dalam ibadah (1Taw. 13:8; 15:28; 16:42; 2Taw. 7:6; Mzm. 98:6).Artinya, pengakuan kita kepada Tuhan bahwa hanya Ialah penolong yang setia bukan hanya pada saat-saat sulit tapi dalam setiap keadaan.




MENGAPA SAYA DITEMPATKAN DI MASA SUKAR?: SEBUAH REFLEKSI AWAL TAHUN

3 01 2009

helmet-of-peaceKalau bisa diberi tema, maka mungkin tema yang cocok untuk tahun 2008 adalah tahun  krisis.  Krisis BBM dan pangan yang sempat merebak di awal sampai pertengahan tahun, ditutup dengan gong krisis ekonomi global yang tidak sekadar memporak-porandakan struktur ekonomi dunia tapi juga merembet dan menciptakan krisis-krisis di sektor kehidupan yang lain.  Tahun ini (2009) kita juga dibuat was-was dengan konstelasi politik yang makin memanas jelang PEMILU legislatif dan Presiden, sebab fakta rusuh PILKADA di beberapa propinsi dan kabupaten tidak bisa dianggap perkara sepele. Yang paling merasakan imbasnya tentu rakyat kecil dan miskin yang makin hari makin bertambah banyak dan makin sedikit mendapatkan akses terhadap rasa keadilan yang menyejahterakan.  Kita tentunya bertanya-tanya mengapa Tuhan menempatkan kita untuk hidup di zaman yang serba sulit dan mengerikan seperti sekarang ini?

 

Kalau kita mau sebentar melihat sejarah maka sebenarnya keadaan dunia pada masa Yesus tidaklah sebaik saat ini.  Kondisi dunia saat itu bahkan mungkin jauh lebih buruk dan jauh lebih mengerikan.  Perlu diperhatikan saat itu belum ada badan dunia semacam PBB yang dapat mencegah timbulnya tindakan-tindakan pendzoliman satu negara terhadap negara lain; menciptakan dan mendorong perdamaian dunia.  Universal Declaration of Human Rights (Pernyataan Universal tentang HAM) yang menjamin hak-hak semua manusia secara setara sejak ia dilahirkan tanpa memandang SARA pun belum terbit.  Belum ada UU KDRT dan perlindungan anak yang menjamin kesetaraan gender dan mencegah tindakan anarkis kaum berkuasa terhadap kaum lemah. 

 

Pada zaman Yesus kondisi ekonomi di Palestina sangat buruk. 90 persen masyarakat hidup di bawah garis kemiskinan karena bekerja sebagai buruh kasar dan hanya sekelompok kecil  kaum elit menikmati kekayaan yang melimpah karena koneksi tingkat tinggi dengan politik (termasuk para imam Saduki di Bait Allah).  Belum lagi sistem cukai yang begitu korup, sangat mencekik hidup mayoritas rakyat jelata (ibrani: ‘am ha eretz) saat itu. Saat itu dunia dipimpin oleh Kerajaan yang (mungkin) paling besar sekaligus paling kejam sepanjang sejarah dunia, Roma. Para raja wilayah pun tidak kalah bengisnya.  Herodes Agung, si psikopat gila hormat dan suka negatif thinking ini tega membunuh 2 dari 10 istrinya, setidaknya 3 anak laki-lakinya tewas di tangannya, juga seorang ipar dan kakek seorang isterinya tewas dibantainya.  Bahkan ketika ia tahu bahwa menjelang ia mangkat banyak orang akan bersukacita atas kematiannya (karena bebas dari pemerintah tirannya), ia memerintahkan anggotanya untuk menangkap para pemimpin orang Yahudi saat itu dan membantai mereka di tempat umum.  Ia memang tahu bahwa tidak akan ada orang yang berduka atas kematiannya tapi  ingin supaya ada orang yang berduka pada saat ia mati, karena itulah ia melakukan tindakan gila ini.  Dalam Matius 2 kita juga tahu bahwa akhirnya Tuhan dan kedua orang tua jasmaniahnya pun terancam oleh raja gila ini! 

 

Tetapi menarik untuk memperhatikan apa yang dicatat Galatia 4:4, “Tetapi setelah genap waktunya, maka Allah mengutus Anak-Nya, yang lahir dari seorang perempuan dan takluk kepada hukum Taurat.” Kami suka dengan terjemahan LAI BIS, “Tetapi pada saatnya yang tepat, Allah mengutus Anak-Nya ke dunia. Anak-Nya itu dilahirkan oleh seorang wanita dan hidup di bawah kekuasaan hukum agama.”  Ada yang agak janggal di sini.  Kalimat awal yang menegaskan keterangan waktu tesebut menunjukkan bahwa Allah justru mengirimkan Anak-Nya yang tunggal, yang sangat dikasihi-Nya (Yoh. 1:14, 18; 3:18; 3:35; 5:20) dalam situasi yang paling sulit dan mungkin paling berat dalam sepanjang sejarah umat manusia, dan itu adalah waktu yang paling tepat!  Ya, seperti-Nya Allah sengaja menempatkan Anak-Nya dalam situasi yang sulit dan tidak mudah. Mengapa? Kami tertarik dengan ayat yang sangat terkenal dari Matius 20:28 yang menurut kami merupakan inti dari Injil Matius, “sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.”  Ya, Sang Kristus justru hadir dalam krisis sebab di sanalah banyak orang yang perlu dibebaskan, dimerdekakan, dipulihkan, disembuhkan dan mendengar kabar baik bahwa Allah tetap peduli dan mengasihi mereka (Luk. 4:18-19). 

 

Bagaimana dengan kita sebagai orang-orang yang terpanggil melayani Dia?  Kami teringat dengan Yohanes 12:26, “Barangsiapa melayani Aku, ia harus mengikut Aku dan di mana Aku berada, di situpun pelayan-Ku akan berada. Barangsiapa melayani Aku, ia akan dihormati Bapa.”  Ya, kalau di atas telah kita lihat bagaimana Bapa sengaja menempatkan Yesus di tengah krisis maka lewat ayat ini maka tampaknya Yesus pun sengaja ingin kita berada di tempat-tempat krisis.  Artinya, jika kita ingin melayani Dia, kita harus ikut ke mana pun Ia memimpin kita dan di tempat Dia berada (yang tentunya adalah tempat-tempat di mana krisis ada), di sana pulalah kita harus berada! Jadi, dalam masa krisis ada kebenaran paradoksal yang termuat.  Memang masa ini adalah masa yang sangat sulit dan membuat kita was-was namun masa krisis juga sekaligus merupakan “kesempatan emas” membawa dunia mengenal dan melihat Allah yang mengasihinya.  Selamat memasuki krisis dan selamat masuk dalam pelayanan yang sebenarnya. Selamat Tahun Baru, Tuhan memberkati kita!

 

 

 

 

Cor Meum Tibi Offero Domine,

Prompte et Sincere[1]


[1]Doa John Calvin yang artinya: “Kepada-Mu, Tuhan, kupersembahkan hatiku, dengan tepat dan tulus.”








Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.