<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Servus Servorum Dei</title>
	<atom:link href="http://perdian.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://perdian.wordpress.com</link>
	<description>heart, soul and mind for truth</description>
	<lastBuildDate>Mon, 19 Dec 2011 06:52:21 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='perdian.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Servus Servorum Dei</title>
		<link>http://perdian.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://perdian.wordpress.com/osd.xml" title="Servus Servorum Dei" />
	<atom:link rel='hub' href='http://perdian.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Kebangkitan Generasi Apolitik</title>
		<link>http://perdian.wordpress.com/2011/12/19/kebangkitan-generasi-apolitik/</link>
		<comments>http://perdian.wordpress.com/2011/12/19/kebangkitan-generasi-apolitik/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 19 Dec 2011 06:42:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>perdian</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kehidupan Kristen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://perdian.wordpress.com/?p=383</guid>
		<description><![CDATA[Kompas, 8 September 2011 memuat sebuah artikel berjudul Wajah Belia di Jerman. Artikel ini mengulas tentang partai baru, Pirate, yang didominasi oleh kaum muda dan langsung menembus empat besar di negara bagian Berlin. Partai ini berhasil merebut 15 kursi di parlemen. Menariknya, pemilih mayoritas mereka adalah kalangan muda apolitik yang biasanya golput dan senang berseluncur [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=perdian.wordpress.com&amp;blog=4384315&amp;post=383&amp;subd=perdian&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kompas, 8 September 2011 memuat sebuah artikel berjudul Wajah Belia di Jerman. Artikel ini mengulas tentang partai baru, <em>Pirate</em>, yang didominasi oleh kaum muda dan langsung menembus empat besar di negara bagian Berlin. Partai ini berhasil merebut 15 kursi di parlemen. Me<a href="http://perdian.files.wordpress.com/2011/12/egypt-facebook.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-384" title="egypt-facebook" src="http://perdian.files.wordpress.com/2011/12/egypt-facebook.jpg?w=300&#038;h=201" alt="" width="300" height="201" /></a>nariknya, pemilih mayoritas mereka adalah kalangan muda apolitik yang biasanya golput dan senang berseluncur di dunia maya. Fenomena partai Pirate ini mengingatkan kita dengan <em>Arab Springs</em>, gelombang perubahan yang terjadi di Timur Tengah. Para penggerak utamanya justru kaum muda dan mahasiswa yang apolitik, maniak situs-situs jejaring sosial dan pecinta teknologi informasi. Banyak yang mengatakan mereka adalah <em>Facebook Generation</em> atau <em>Net Generation</em> tapi ada juga yang memuji mereka sebagai <em>Miracle Generation</em>.</p>
<p><strong>Tren Generasi Apolitik<br />
</strong></p>
<p>Jajak pendapat yang diadakan Litbang Kompas (21/3/2011) mengulas beberapa ciri kaum muda apolitik. Mereka cenderung konsumtif, berorientasi pada diri sendiri dan tak bergairah untuk terlibat dalam organisasi-organisasi kepemudaan. Disimpulkan pula bahwa jumlah mereka cenderung makin meningkat. Survei Litbang Kompas baru-baru ini (28/10/2011) kembali menegaskan kecenderungan generasi muda yang semakin individualis dan berorientasi pada kepentingan diri, yang juga berarti semakin apolitis. Namun jangan buru-buru mendiskreditkan mereka. Kita perlu memahami mengapa mereka menjadi apolitis. Setidaknya ada dua faktor kunci yang berandil melahirkan generasi apolitik: trauma politik dan anomali politik.</p>
<p><strong>Trauma Politik</strong></p>
<p>Thung Ju Lan, dalam buku <em>Setelah Air Mata Kering: Masyarakat Tionghoa Pasca Peristiwa Mei 1998</em> (2010) menyatakan bahwa trauma politik masa lampau adalah pemicu utama lahirnya generasi apolitik. Ia menjelaskan bagaimana kaum keturunan Tionghoa, yang mengalami trauma berkepanjangan akibat stigma komunis yang dilekatkan pada mereka, cenderung menghindarkan diri untuk membicarakan apalagi terlibat dalam aktivitas-aktivitas yang berbau politik. Tidak mengherankan pula jika mereka memilih menyekolahkan anak-anak mereka ke bidang-bidang yang tidak ada kaitannya dengan politik atau kenegaraan. Situasi ini diperparah dengan perlakuan-perlakuan diskriminatif yang menimbulkan perasaan sebagai outsider dan bukan bagian dari bangsa ini. Namun trauma politik seperti ini tentu tidak hanya dialami oleh warga keturunan Tionghoa. Banyak kelompok masyarakat lain, baik kelompok suku maupun kelompok agama-kepercayaan yang turut mengalami penindasan politik, seperti Papua dan Ahmadiyah. Trauma politik juga tidak semata soal kepahitan sejarah akibat diskrimasi dan stigma ideologi yang dialami kelompok tertentu. Dalam tingkatan yang lebih umum ia juga hadir tatkala berbagai kebijakan ekonomi dan hukum lebih bernuansa politis dan tidak berpihak kepada kepentingan masyarakat serta menciderai rasa kemanusiaan. Dalam bukunya, <em>Youth in a Suspect Society: Democracy or Disposability?</em> (2006), Henry Giroux menjelaskan bagaimana politik yang berselingkuh dengan ekonomi neoliberal cenderung menghasilkan kebijakan-kebijakan opresif dan diskriminatif terhadap generasi muda. Pelayanan sosial, kesehatan, pendidikan dan ketersediaan lapangan kerja—semua sarana yang mestinya dinikmati secara bebas dan menjadi indikator penting dari sebuah negara demokrasi—telah tertawan oleh kepentingan ekonomi. Akibatnya tidak semua orang mendapatkan akses bebas ke sumber-sumber dasariah tersebut. Dampaknya mereka terabaikan, termarginalkan dan menjadi “sampah” masyarakat (disposal).</p>
<p><strong>Anomali Politik</strong></p>
<p>Era reformasi yang berhasil melengserkan rezim Orde Baru merupakan buah perjuangan generasi muda dan mahasiswa. Sayangnya, sudah empat rezim berganti namun perubahan tak kunjung tiba. Amanat reformasi yang dititipkan para mahasiswa bagi para pemimpin bangsa ini untuk menghadirkan sebuah transisi politik yang berpihak pada rakyat, berubah wujud menjadi politik transaksional dan perselingkuhan keji antar lembaga negara. Praktik mafia peradilan adalah contoh nyata dikhianatinya cita-cita reformasi. Semua anomali ini tentu dapat melunturkan semangat kaum muda untuk turut berkontribusi dalam persoalan-persoalan kebangsaan. Selain itu tersandungnya sejumlah politisi muda dalam kasus korupsi sangat mungkin membuat dunia politik makin bernilai negatif di mata generasi muda masa kini.</p>
<p><strong>Kekuatan Baru yang Menakutkan</strong></p>
<p>Namun yang menarik, ditunjang oleh teknologi informasi, kini generasi apolitik menjelma menjadi kekuatan baru yang amat ditakuti rezim-rezim otoritarian. Rezim-rezim ini sering salah tingkah dan tampak bodoh dengan berupaya membatasi dan memblokir komunikasi dunia maya; dunia yang paling digandrungi generasi apolitik. Namun di balik tampilan lahiriah yang apolitik, sebenarnya terdapat sebuah kebenaran paradoksal dalam diri mereka. Mereka memang pragmatis, bergerak bebas dan tak terkungkung oleh ideologi apa pun. Itu terjadi karena dunia politik memang gemar mempolitisasi ideologi dan menjadikannya slogan kosong belaka. Jika mereka memilih diam, itu bukan karena mereka tak peduli. Mereka hanya takut tercemar oleh kebusukan rezim korup yang memang enggan dan takut dengan perubahan. Bagi generasi apolitik satu-satunya ideologi yang hakiki adalah kemerdekaan hati nurani yang didorong oleh rasa kemanusiaan, kebenaran dan keadilan. Dalam sebuah wawancara dengan <em>CBS News</em> (13/2/2011), Wael Ghonim, tokoh utama di balik revolusi Mesir mengatakan, “Kita akan menang sebab kita tidak mengerti politik, sebab kita tidak mengerti permainan kotor mereka. Kita akan menang karena air mata kita keluar dari hati kita”. Semakin giat sebuah rezim membentuk generasi apolitik, semakin kuat pula kemungkinan ia akan diturunkan oleh generasi yang sama. Rezim yang berikhtiar melanggengkan kekuasaannya melalui politik yang melahirkan generasi apolitik, satu saat kelak akan bertemu dengan karmanya.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/perdian.wordpress.com/383/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/perdian.wordpress.com/383/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/perdian.wordpress.com/383/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/perdian.wordpress.com/383/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/perdian.wordpress.com/383/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/perdian.wordpress.com/383/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/perdian.wordpress.com/383/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/perdian.wordpress.com/383/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/perdian.wordpress.com/383/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/perdian.wordpress.com/383/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/perdian.wordpress.com/383/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/perdian.wordpress.com/383/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/perdian.wordpress.com/383/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/perdian.wordpress.com/383/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=perdian.wordpress.com&amp;blog=4384315&amp;post=383&amp;subd=perdian&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://perdian.wordpress.com/2011/12/19/kebangkitan-generasi-apolitik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6989482ccfce6ac0bfed9796c9104aa9?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96" medium="image">
			<media:title type="html">perdian1234</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://perdian.files.wordpress.com/2011/12/egypt-facebook.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">egypt-facebook</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>MERENUNG MAKNA KEBANGKITAN: MENGHADIRKAN ZAMAN BARU LEWAT KELEMAHAN, KEMISKINAN, KEHINAAN DAN KETERBATASAN</title>
		<link>http://perdian.wordpress.com/2010/07/17/merenung-makna-kebangkitan-menghadirkan-zaman-baru-lewat-kelemahan-kemiskinan-kehinaan-dan-keterbatasan/</link>
		<comments>http://perdian.wordpress.com/2010/07/17/merenung-makna-kebangkitan-menghadirkan-zaman-baru-lewat-kelemahan-kemiskinan-kehinaan-dan-keterbatasan/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 17 Jul 2010 07:03:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>perdian</dc:creator>
				<category><![CDATA[teologi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://perdian.wordpress.com/?p=373</guid>
		<description><![CDATA[Perihal kebangkitan tidak dapat dilepaskan dari perihal kematian sebagai negasinya. Perjanjian Baru (PB) berulang-ulang menegaskan kematian adalah musuh utama umat manusia (Ro. 5:12, 14; 1Kor.15:26;). Namun yang dimaksud dengan kematian oleh Alkitab bukanlah sekadar soal kehilangan nafas hidup dan jantung berhenti berdetak; dalam makna fisikal belaka. Kematian utamanya bicara soal mati, hilang dan sirnanya fungsi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=perdian.wordpress.com&amp;blog=4384315&amp;post=373&amp;subd=perdian&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://perdian.files.wordpress.com/2010/07/kebangkitan.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-374" title="kebangkitan" src="http://perdian.files.wordpress.com/2010/07/kebangkitan.jpg?w=510" alt=""   /></a>Perihal kebangkitan tidak dapat dilepaskan dari perihal kematian sebagai negasinya. Perjanjian Baru (PB) berulang-ulang menegaskan kematian adalah musuh utama umat manusia (Ro. 5:12, 14; 1Kor.15:26;). Namun yang dimaksud dengan kematian oleh Alkitab bukanlah sekadar soal kehilangan nafas hidup dan jantung berhenti berdetak; dalam makna fisikal belaka. Kematian utamanya bicara soal mati, hilang dan sirnanya fungsi kita sebagai manusia yang seutuhnya, manusia yang semestinya dicipta mulia dan bermartabat; manusia yang harusnya hidup dalam nurani dan akhlak; manusia yang sejatinya dipanggil untuk selaras dan harmonis dengan Allah, sesama dan alam (bdk. Kej. 2:17; 3:10-19; Ef. 2:1-3, 5; Kol. 2:13). Melihat realitas dunia dan bangsa yang carut-marut, rusak serta korup ini, tidak ada alasan lain yang tepat untuk menggambarkan akar masalah semua ini selain kematian umat manusia dan berujung pada kematian dunia. Matinya hati nurani, matinya moral dan etika serta matinya perikemanusiaan dan bela rasa. Dengan demikian kebangkitan, tidak seperti pandangan kebanyakan orang Kristen sekarang, bukanlah sekadar bicara soal &#8220;kepastian&#8221; dan jaminan keselamatan setelah kematian (fisik) di surga kelak.</p>
<p>Sebaliknya kebangkitan juga bukan sekadar kabar baik bagi kaum agamis. Ia bukan pula wangsit abstrak bagi kaum spiritualis. Kebangkitan adalah kabar baik yang konkret sekaligus suara kontroversial buat seluruh semesta dan seisi dunia hari ini dan kini! Bahwa di tengah suramnya dunia, maraknya kemunafikan, meningkatnya angka kriminalitas dan <em>genocide</em>, ramainya retorika dan pepesan kosong dari para penguasa politik-oportunis yang memperkosa slogan &#8220;demi rakyat&#8221;, dunia punya harapan dan optimisme baru. Itulah sebabnya mengapa gereja mula-mula di tengah berbagai ancaman dan hambatan dari pemerintah politik kafir saat itu, tidak berdoa agar mereka dilepaskan dari semua bahaya itu dan segera pergi ke surga. Sebaliknya mereka berdoa agar mereka tetap di dalam dunia dan diberikan keberanian untuk memberitakan tentang Yesus yang bangkit (Kis. 4:24-31; bdk. 10:40-42; 17:3; 26:22-23; 2Tim. 2:8). Dan saya yakin itu pulalah yang membuat Yesus tidak berdoa agar murid-murid-Nya tidak diambil dari dalam dunia tetapi supaya mereka tetap ada di dalam dunia (Yoh. 17:15), tentu agar mereka menjadi alat Allah di tengah-tengah dunia yang tanpa harapan ini. Tapi bagaimana hal itu dapat terjadi di dalam Yesus? Dan bagaimana orang yang percaya dan dibangkitkan bersama Yesus adalah orang-orang yang dapat menjadi agen pembaruan dunia ini?</p>
<p>Sebelum menjawab pertanyaan ini kita perlu melihat sebentar perihal Kerajaan Allah yang sangat dekat dengan ide kebangkitan.</p>
<p>Dalam Perjanjian Baru, Kerajaan Allah (atau pemerintahan Allah yang dinamis atas semesta ini) adalah sesuatu yang sangat misterius dan terdengar aneh bagi orang-orang pada masa Yesus. Mengapa misterius dan aneh? Sebab bertolak belakang dari konsep &#8220;kerajaan&#8221; menurut dunia, Kerajaan Allah tidaklah didirikan di atas dasar kekuatan politik, milliter, uang (ekonomi) dan pengaruh. Sebaliknya Kerajaan Allah didirikan di atas dasar kemiskinan, kehinaan, kelemahan dan ketidakberdayaan! Berulang-ulang ayat-ayat dalam Injil menggemakan hal tersebut. &#8220;Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah karena merekalah yang empunya Kerajaan Surga&#8221; (Mat. 5:3); &#8221; Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga&#8221; (Mat. 5:10); &#8220;. . . lalu berkata: &#8216;Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga.Sedangkan barangsiapa merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga&#8217;&#8221; (Mat. 18:3-4). Kerajaan Allah Yesus sangat misterius dan aneh karena banyak orang yang menganggap ide Yesus tidak masuk akal dan konyol. Itulah sebabnya banyak orang pada akhirnya menolak, kecewa dan meninggalkan Dia (Yoh. 6:66). Itulah sebabnya pula Yesus mengutarakan banyak perihal Kerajaan Allah dalam perumpamaan yang maknanya tersembunyi bagi banyak orang. Bukan karena mereka tidak mengerti tapi karena mereka &#8220;tidak mau dan tidak suka&#8221; untuk mengerti (Mat. 13:13-15). Kerajaan Allah seperti ini tidak mungkin diterima oleh mereka yang suka akan kemegahan dan kejayaan eksternal. Kerajaan Allah seperti ini hanya diterima oleh mereka yang diam-diam melihatnya dengan mata iman (Mat. 13:16-17).Saya yakin inilah yang menginsipirasi Paulus untuk mengatakan, &#8220;Tetapi jawab Tuhan kepadaku: &#8220;Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.&#8221; Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku.Karena itu aku senang dan rela di dalam kelemahan, di dalam siksaan, di dalam kesukaran, di dalam penganiayaan dan kesesakan oleh karena Kristus. Sebab jika aku lemah, maka aku kuat&#8221; (2Kor. 12:9-10).</p>
<p>Tapi muncul satu pertanyaan penting yang perlu kita ajukan, &#8220;Mengapa Yesus menghadirkan Kerajaan Allah melalui kelemahan, kemiskinan, kehinaan dan ketidakberdayaan dan bukan lewat uang, kekuatan serta senjata?&#8221; Jawabannya sederhana. Lewat kerinduan akan kuasalah orang memanipulasi dan menghisap orang lain, uanglah yang menjadi biang dari semua kejahatan dan kekuatan militer &#8220;atas nama kebenaran&#8221;lah yang telah menghancurkan hidup dan masa depan umat manusia di sepanjang sejarah. Artinya, merupakan utopia dan mimpi di siang bolong untuk menghadirkan damai dan kesejahteraan lewat kuasa politik, uang dan kekuatan militer sebab justru karena semua itulah dunia ini kehilangan damai dan sejahtera. Itulah sebabnya Yesus mengatakan dalam Matius 20:25-27,&#8221;Tetapi Yesus memanggil mereka lalu berkata: &#8220;Kamu tahu, bahwa pemerintah-pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi dan pembesar-pembesar menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka.Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu.&#8221; Dan ia menutup bagian ini dengan rahasia sejati untuk menghadirkan Kerajaan Allah di atas bumi ini, &#8220;sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang&#8221; (Mat. 20:28).</p>
<p>Kebenaran inilah yang diberitakan dan dihidupi oleh Yesus, Kerajaan Allah hanya akan hadir lewat kelemahan, ketidakberdayaan, kemiskinan dan kehinaan. Namun Yesus tidak sekadar mengatakan berita itu tapi di dalam tubuh-Nya, Ia mengaktualisasikan berita itu, tubuh yang akhirnya mengalami penindasan, kesesakan, kemiskinan, ketidakberdayaan dan kehinaan akibat dosa-dosa dunia. Boleh dikata, di dalam Yesus Kerajaan Allah menjelma menjadi daging seperti kata Marcion, &#8220;<em>In evangelio est Dei regnum Christus ipse</em>.&#8221; Di dalam tubuh kemanusiaan-Nya, Ia turut merasakan getirnya akibat dosa yang dirasakan umat manusia oleh karena orang-orang yang haus dan takut kehilangan kekuasaan serta bertangan besi (seperti prajurit Romawi dan Pilatus), haus akan uang (Yudas dan orang-orang Herodian), mengejar pengaruh dan popularitas (para imam Bait Allah dan tua-tua). Artinya di dalam tubuh-Nya Yesus merasakan seluruh penderitaan yang diakibatkan oleh hal-hal pokok yang justru dianggap mampu memberikan jalan keluar atas berbagai problem yang dihadapi umat manusia (trias kekuatan sebuah bangsa: ekonomi, politik dan militer). Di dalam tubuh-Nya yang ditelanjangi, Yesus justru sedang menelanjangi secara bulat-bulat segala bentuk kemunafikan, kebohongan, sikap koruptif dan manipulasi busuk yang telah berabad-abad dipraktikkan para penguasa, tokoh agama, elite politik yang sebenarnya hanya mencari kepentingan pribadi dengan menawarkan janji-janji palsu dengan embel-embel &#8220;demi rakyat&#8221; dan &#8220;demi kebenaran.&#8221; Di dalam tubuh-Nya, Yesus sedang memperhadapkan para pemimpin sekaligus pemimpi dunia terhadap optimisme dan utopia semu yang mereka tawarkan lewat jalan-jalan mereka sekaligus menyadarkan mereka akan kematian mereka di tengah berbagai prestasi dan prestise hidup yang mereka nikmati.</p>
<p>Inilah cara Allah, Sang Empunya langit dan bumi menyelesaikan masalah-masalah dunia dan mendirikan Kerajaan-Nya di atas bumi ini&#8211;Kerajaan yang penuh dengan damai dan keadilan (Yes. 11:6-9)&#8211;yakni lewat jalan penderitaan dan salib. Salib menjadi simbol dari matinya keakuan cinta diri, matinya arogansi, sumpah serapah, benci dan dendam, matinya hasrat untuk kuasa dan keinginan untuk membalas kejahatan dengan kejahatan, matinya hasrat untuk menjadi terkenal dan populer, simbol dari kerinduan untuk hidup bagi Allah dan mati bagi dunia. Bukankah ini cara yang misterius dan sulit diterima akal sehat oleh dunia?</p>
<p>Setelah Yesus mati, banyak orang berpikir bahwa itu merupakan kekalahan Yesus sekaligus gugurnya semua asumsi Yesus tentang Kerajaan Allah versi-Nya. Dia yang sudah mengajarkan dan menghidupi apa yang dikatakan-Nya sebagai kebenaran Allah, mentaati Allah sebulat-bulat hati dihabisi dan tak berdaya dihadapan orang-orang jahat. Dan banyak orang yang akhirnya menganggap toh pada akhirnya kebenaran pasti kalah oleh kejahatan. Namun fakta kebangkitan menyangkal semua tuduhan itu. Kurang lebih 500 orang saksi siap dikonfirmasi untuk kebenaran kejadian itu (1Kor. 15:6).</p>
<p>Orang-orang Yahudi sendiri umumnya percaya akan fakta kebangkitan. Bagi komunitas Yahudi kebangkitan tidak sekadar dikaitkan dengan &#8220;jaminan&#8221; keselamatan individual. Kebangkitan bicara soal harapan kebangkitan bagi Israel&#8211;bangsa yang dipilih Allah untuk keselamatan dunia, yang terpuruk dan mati karena dosa dan pelanggaran mereka&#8211;yang sekaligus sebagai pertanda bahwa dunia pun akan dipulihkan dengan sempurna melalui pemulihan umat Allah (bdk. Yeh. 37, Dan. 12). Inilah yang juga digemakan oleh penulis PB. Paulus melihat kebangkitan Yesus (yang adalah <em>the new Israel</em>) sebagai awal dari rencana pemulihan Allah bagi dunia baru yang akan Allah hadirkan. Jadi kebangkitan bukan sekadar pembaruan pribadi tapi erat dengan transformasi holistik dari semesta ini (Ro. 6; 1Kor. 15:24-28; Kol. 1:15-23; 3). Menarik sekali apa yang dikemukakan N. T. Wright, &#8220;<em>For renewed bodies we need a renewed cosmos , including a renewed earth. That is what the New Testament promises</em>.&#8221;</p>
<p>Namun, sesuai Daniel 12:13, orang-orang Yahudi percaya bahwa  kebangkitan tidak akan terjadi sekarang (<em>here and now, in the middle of history</em>). Itu akan terjadi pada masa akhir zaman (bdk. perkataan Maria dalam Yoh. 11:24). Namun dalam kasus Yesus itu berbeda. Yesus dibangkitkan &#8220;<em>in the middle of history</em>&#8220;! Apa artinya ini? Jelas, sebuah transformasi holistik Allah bagi dunia tidak perlu menunggu sampai akhir zaman. Allah secara mengejutkan berintervensi langsung dalam sejarah dan memulai suatu zaman yang baru! Zaman yang penuh harapan. Kerajaan Allah atau pemerintahan Allah yang akan menghadirkan damai dan sukacita kekal itu, sudah dan sedang terjadi saat ini! Dan itu hadir lewat karya Yesus yang melayani dunia dengan cinta dan dalam kemiskinan, kelemahan, kehinaan dan keterbatasan. Kebangkitan menjadi bukti sah bahwa seluruh karya Yesus diperkenan dan dimuliakan oleh Allah. Kebangkitan juga menegaskan bahwa jalan Yesuslah satu-satunya jalan yang konkret dan utuh menuju transformasi itu.</p>
<p>Kini kita sedang hidup dalam zaman baru itu; zaman di mana kelak, &#8220;Serigala akan tinggal bersama domba dan macan tutul akan berbaring di samping kambing. Anak lembu dan anak singa akan makan rumput bersama-sama, dan seorang anak kecil akan menggiringnya.Lembu dan beruang akan sama-sama makan rumput dan anaknya akan sama-sama berbaring, sedang singa akan makan jerami seperti lembu.Anak yang menyusu akan bermain-main dekat liang ular tedung dan anak yang cerai susu akan mengulurkan tangannya ke sarang ular beludak&#8221; (Yes. 11:6-8). Hadirnya damai yang radikal, yang utuh dan penuh, sebab &#8220;. . . seluruh bumi penuh dengan pengenalan akan TUHAN, seperti air laut yang menutupi dasarnya&#8221; (Yes. 11:9).</p>
<p>Inilah panggilan buat kita yang rindu melihat hadirnya zaman baru yang Tuhan sedang hadirkan. Panggilan yang melintasi sekat-sekat agama dan asumsi teologi, pandangan politik, status sosial dan suku bangsa akan hadirnya zaman tanpa kemunafikan dan retorika politikus busuk, zaman tanpa air mata penindasan dan kesengsaraan akibat sengsara dan pemiskinan. Zaman di mana Allah akan menjadikan segalanya baru, di mana Ia yang jadi pemimpin kita. Namun Ia memanggil kita bukan hanya untuk menyaksikan dan menantikan masa itu. Ia juga memanggil kita untuk menjadi bagian dari rencana-Nya itu. Ia memanggil kita untuk menjadi agen-agen-Nya, demi menyaksikan kebesaran-Nya bukan lewat kekuatan ekonomi, kekuatan politik dan militer; melainkan lewat kehinaan, kemiskinan, kerendahan dan keterbatasan. Memang panggilan itu berat dan sulit, penuh dengan pengorbanan. Itulah sebabnya Yesus sudah mengingatkan sejak awal bahwa panggilan Kerajaan ini hanya bisa dipenuhi oleh mereka yang siap dan rela untuk menyangkal diri [menanggalkan agenda-agenda pribadi], memikul salib [lambang hina dan cela, rela dianggap aneh oleh dunia] dan mengikut Yesus [mengikut cara Yesus](Mrk.8:34). Panggilan itu memang membuat seseorang mati untuk dirinya, keakuannya, agenda-agendanya; namun seperti yang terjadi pada Yesus, kematian itulah awal dari kehidupan bagi dunia ini. Inilah yang dikatakan dalam Yohanes 12:24-25, &#8220;Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah.Barangsiapa mencintai nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, tetapi barangsiapa tidak mencintai nyawanya di dunia ini, ia akan memeliharanya untuk hidup yang kekal.&#8221;</p>
<p>Panggilan ini hanyalah bagi mereka yang mau bergumul secara serius, mempertimbangkan masak-masak, percaya dan akhirnya beriman secara diam-diam dalam hati bahwa memang hanya lewat dan melalui jalan salib Yesus yang hina dan miskinlah ada jalan dan pengharapan satu-satunya buat transformasi diri saya, sesama, alam ciptaan dan dunia ini. Maukah anda mempertimbangkan-Nya?</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/perdian.wordpress.com/373/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/perdian.wordpress.com/373/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/perdian.wordpress.com/373/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/perdian.wordpress.com/373/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/perdian.wordpress.com/373/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/perdian.wordpress.com/373/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/perdian.wordpress.com/373/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/perdian.wordpress.com/373/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/perdian.wordpress.com/373/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/perdian.wordpress.com/373/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/perdian.wordpress.com/373/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/perdian.wordpress.com/373/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/perdian.wordpress.com/373/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/perdian.wordpress.com/373/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=perdian.wordpress.com&amp;blog=4384315&amp;post=373&amp;subd=perdian&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://perdian.wordpress.com/2010/07/17/merenung-makna-kebangkitan-menghadirkan-zaman-baru-lewat-kelemahan-kemiskinan-kehinaan-dan-keterbatasan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6989482ccfce6ac0bfed9796c9104aa9?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96" medium="image">
			<media:title type="html">perdian1234</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://perdian.files.wordpress.com/2010/07/kebangkitan.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">kebangkitan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Iman yang Menyelamatkan</title>
		<link>http://perdian.wordpress.com/2009/08/20/iman-yang-menyelamatkan/</link>
		<comments>http://perdian.wordpress.com/2009/08/20/iman-yang-menyelamatkan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 20 Aug 2009 11:02:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>perdian</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kehidupan Kristen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://perdian.wordpress.com/?p=365</guid>
		<description><![CDATA[Roma 3:21-30   I Menurut pandangan saya, penyakit yang paling berbahaya dalam iman adalah legalisme. Inilah jugalah yang sebenarnya menjadi masalah yang sedang Paulus paparkan sebagai latar belakang teks yang baru kita baca tadi (pasal 2:18-3:20).  Legalisme adalah keimanan yang disandarkan pada status bukan kekudusan hidup; pada tradisi dan formalisme agamawi bukan relasi dengan Allah; [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=perdian.wordpress.com&amp;blog=4384315&amp;post=365&amp;subd=perdian&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;"><em>Roma 3:21-30</em></p>
<p align="center"><em> </em></p>
<p align="center"><strong>I</strong></p>
<p>Menurut pandangan saya, penyakit yang paling berbahaya dalam iman adalah legalisme. Inilah jugalah yang sebenarnya menjadi masalah yang sedang Paulus paparkan sebagai latar belakang teks yang baru kita baca tadi (pasal 2:18-3:20).  Legalisme adalah keimanan yang disandarkan pada status bukan kekudusan hidup; pada tradisi dan formalisme agamawi bukan relasi dengan Allah; pada ketaatan melakukan ritual-ritual lahiriah bukan pada perubahan karakter hidup.  Sebagai catatan orang-orang Yahudi adalah orang-orang yang sangat kagum dan bangga dengan identitas dan ritual ke-Yahudian mereka.  Mereka sangat bangga bahwa mereka adalah keturunan Abraham, di sunat, bangsa pilihan Allah, memiliki hari sabat dan tentu yang paling penting hukum Taurat.  Namun ada masalah yang lebih parah, yang muncul sebagai konsekuensi dari iman buta ini.  Karena mereka (orang-orang Yahudi) merasa bahwa mereka adalah bangsa pilihan Allah, punya sunat, anak Abraham dan memiliki sunat maka mereka beranggapan apa pun yang mereka lakukan—meskipun itu adalah segala perbuatan cemar yang penuh dengan kenajisan dan kejijikan di hadapan Allah—mereka tetap merasa bahwa mereka pasti akan diselamatkan oleh Allah. Coba kita lihat sebentar beberapa ayat dari Roma yang mengindikasikan hal ini:</p>
<p><em>Sebab walaupun mereka mengetahui tuntutan-tuntutan hukum Allah, yaitu bahwa setiap orang yang melakukan hal-hal demikian, patut dihukum mati, mereka bukan saja melakukannya sendiri, tetapi mereka juga setuju dengan mereka yang melakukannya</em> (1:32).</p>
<p><em>tetapi murka dan geram kepada mereka yang mencari kepentingan sendiri, yang tidak taat kepada kebenaran, melainkan taat kepada kelaliman. Penderitaan dan kesesakan akan menimpa setiap orang yang hidup yang berbuat jahat, pertama-tama orang Yahudi dan juga orang Yunani, tetapi kemuliaan, kehormatan dan damai sejahtera akan diperoleh semua orang yang berbuat baik, pertama-tama orang Yahudi, dan juga orang Yunani. Sebab Allah <span style="text-decoration:underline;">tidak memandang bulu</span> </em>(2:8-11). Nah, khusus pada ayat 11 ini sebuah terjemahan bahasa Inggris memberikan alternatif yang baik sekali: “<em>For God does not  show <span style="text-decoration:underline;">favoritism</span></em>.” Perhatikan kata favoritism di situ.  Ini menegaskan bahwa Allah tidak punya anak favorit, Allah tidak punya anak emas. Semua sama di hadapan Allah.</p>
<p> <span id="more-365"></span></p>
<p><em>Tetapi, jika kamu menyebut dirimu orang Yahudi dan bersandar kepada hukum Taurat, bermegah dalam Allah, dan tahu akan kehendak-Nya, dan oleh karena diajar dalam hukum Taurat, dapat tahu mana yang baik dan mana yang tidak, dan yakin, bahwa engkau adalah penuntun orang buta dan terang bagi mereka yang di dalam kegelapan,pendidik orang bodoh, dan pengajar orang yang belum dewasa, karena dalam hukum Taurat engkau memiliki kegenapan segala kepandaian dan kebenaran. Jadi, bagaimanakah engkau yang mengajar orang lain, tidakkah engkau mengajar dirimu sendiri? Engkau yang mengajar: &#8220;Jangan mencuri,&#8221; mengapa engkau sendiri mencuri? Engkau yang berkata: &#8220;Jangan berzinah,&#8221; mengapa engkau sendiri berzinah? Engkau yang jijik akan segala berhala, mengapa engkau sendiri merampok rumah berhala? Engkau bermegah atas hukum Taurat, mengapa engkau sendiri menghina Allah dengan melanggar hukum Taurat itu?</em>(2:17-23)</p>
<p> </p>
<p><em>Sunat memang ada gunanya, jika engkau mentaati hukum Taurat; tetapi jika engkau melanggar hukum Taurat, maka sunatmu tidak ada lagi gunanya</em> (2:25).</p>
<p> </p>
<p><em>Jika demikian, maka orang yang tak bersunat, tetapi yang melakukan hukum Taurat, akan menghakimi kamu yang mempunyai hukum tertulis dan sunat, tetapi yang melanggar hukum Taurat. Sebab yang disebut Yahudi bukanlah orang yang lahiriah Yahudi, dan yang disebut sunat, bukanlah sunat yang dilangsungkan secara lahiriah</em> (2:27-28).</p>
<p> </p>
<p>Itulah sebabnya mengapa kemudian dalam 3:9-10 Paulus menyimpulkan:</p>
<p><em>Jadi bagaimana? Adakah kita mempunyai kelebihan dari pada orang lain? Sama sekali tidak. Sebab di atas telah kita tuduh baik orang Yahudi, maupun orang Yunani, bahwa mereka semua ada di bawah kuasa dosa, seperti ada tertulis: &#8220;Tidak ada yang benar, seorangpun tidak.</em></p>
<p><em> </em></p>
<p>Dan dalam ayat 20 ia mengatakan, “Sebab tidak seorangpun yang dapat dibenarkan di hadapan Allah oleh karena melakukan hukum Taurat, karena justru oleh hukum Taurat orang mengenal dosa.”</p>
<p>Perhatikan ayat-ayat itu.  Fatal bukan? Mereka tetap merasa <em>ok</em> dan <em>fine-fine</em> saja tetap berbuat dosa, tetap hidup dalam kefasikan, tetap hidup berlawanan dengan kehendak Allah dengan alasan: <em>kami ‘kan umat pilihan Allah, kami ‘kan disunat, kami ‘kan punya Taurat, kami ‘kan anak Abraham</em>? Dan menurut saya ini jugalah penyakit yang banyak mampir dalam diri Gereja Tuhan masa kini.  Banyak orang Kristen menganggap bahwa karena dia sudah dibaptis, karena dia sudah di sidi, karena dia adalah anak pendeta, karena dia dari kecil (dan ortu serta nenek moyangnya adalah Kristen), karena dia rajin pelayanan, karena dia rajin ke Gereja dan karena dia selalu juara 1 lomba cerdas-cermat Alkitab serta rajin baca buku rohani dan hafal ayat-ayat Alkitab, maka otomatis keselamatan itu menjadi miliknya; dan Allah pastilah menjadikannya “anak favorit.” Apa pun yang dilakukannya, apa pun yang dipikirkannya, apa pun yang dikehendakinya—walaupun itu semua adalah hal-hal yang sangat dan paling dibenci oleh Allah—ia pasti akan tetap diselamatkan Allah dan Allah tidak pernah bermasalah dengan itu semua.  Saudara-saudaraku kalau sampai itu menjadi pandangan kekristenan kita hari ini, <em>i must tell you, you are standing in a very front of a </em><em>teribble</em><em> condition</em>!!!</p>
<p> </p>
<p align="center"><strong>II</strong></p>
<p>Namun mungkin pertanyaan yang perlu kita ajukan dan tanyakan lebih jauh (supaya kita bisa mengerti dengan baik masalah ini adalah), “Mengapa sampai banyak orang Yahudi pada zaman Paulus (termasuk orang-orang Kristen masa kini) yang punya pikiran yang demikian picik dan legalis? Apa penyebabnya?” Menurut saya penyebab pelencengan yang paling serius dan membuat banyak orang secara tidak sadar tergelincir (dan mungkin termasuk kita) dalam masalah yang serius adalah karena konsep dan pandangan kita yang keliru soal dosa.</p>
<p>Ketakutan saya kebanyakan orang Kristen saat ini (juga seperti orang-orang Yahudi) menganggap dosa melulu bicara soal perbuatan yang tidak pantas/tidak baik secara eksternal (sekadar bersifat moralis), mis: tidak berzinah (berhubungan kelamin), tidak mencuri, tidak berbohong, tidak membunuh (menghilangkan nyawa), dll.  Dengan kata lain dosa sekadar dikaitkan dengan seperangkat persoalan kriminal yang melanggar norma-norma susila masyarakat.  Asalkan saya tidak melakukan sesuatu yang merugikan masyarakat (apalagi ditambah saya rajin beribadah) pastilah saya bukanlah seorang pendosa, melainkan orang benar. Inilah konsepsi kebanyakan orang soal dosa. Karena itu, tidak mengherankan kalau seseorang punya pemahaman dosa seperti ini, ia pasti akan sangat mudah jatuh ke dalam jebak legalisme dan cukup puas dengan mendandani/memperbaiki kosmetik penampilan  persembahan rutin, tidak merokok dan bertato, tidak mencontek dan tidak mencuri; ikut katekisasi dan dibaptis/sidi pastilah saya tidak lagi dikategorikan sebagai orang berdosa. Tapi benarkah ini definisi dosa yang alkitabiah?</p>
<p>Menurut saya definisi yang paling baik dan lengkap tentang dosa diberikan Paulus di 1:18-19, 21, 23:</p>
<p><em>Sebab murka Allah nyata dari sorga atas segala kefasikan dan kelaliman manusia, yang menindas kebenaran dengan kelaliman. Karena apa yang dapat mereka ketahui tentang Allah nyata bagi mereka, sebab Allah telah menyatakannya kepada mereka</em><em>. . . . </em><em>Sebab sekalipun mereka mengenal Allah, mereka tidak memuliakan Dia sebagai Allah atau mengucap syukur kepada-Nya. Sebaliknya pikiran mereka menjadi sia-sia dan hati mereka yang bodoh menjadi gelap</em><em>. . . . </em><em>Mereka <span style="text-decoration:underline;">menggantikan kemuliaan Allah</span> yang tidak fana dengan gambaran yang mirip dengan manusia yang fana, burung-burung, binatang-binatang yang berkaki empat atau binatang-binatang yang menjalar</em>.</p>
<p>Ya, inilah <em>dosa</em>: menggeser atau menggantikan Allah yang sejati, yang semestinya menjadi pusat kepuasan dan tujuan hidup kita satu-satunya; dengan sesuatu yang lain yang kita anggap lebih cocok untuk dijadikan sebagai sumber kepuasan dan tujuan, bahkan sumber hidup kita yang utama. Dosa adalah membuang Allah, menyingkirkan Allah, meremehkan Allah dan tidak menganggapnya sebagai oknum yang layak berotoritas dan menjadi pusat hidup kita. Sampai di sini sepintas mungkin ada di antara rekan-rekan yang berpikir: <em>saya tidak pernah membuang Allah kok dari hidup saya</em>; <em>saya tidak pernah menyingkirkan Allah kok atau meremehkan apalagi tidak menganggap-Nya sebagai oknum yang berotoritas</em>. Tapi tunggu dulu, benarkah demikian??? Karena itu saya ingin sedikit menjelaskan makna “penyembahan berhala,” istilah lain untuk “menggantikan Allah dengan sesuatu yang lain.”</p>
<p>Dalam bahasa Yunani (bahasa asli Perjanjian Baru), kata “berhala” berasal dari kata “<em>eidolon</em>” yang berarti gambaran atau <em>image</em>. Akar kata dari kata ini adalah “<em>eidos</em>” yang secara hurufiah berarti <em>the external or outward appearance</em>. Dengan demikian berhala adalah segala sesuatu (apa pun itu) yang secara eksternal sangat memikat, mempesona dan membuat segala potensi kita (baik waktu, tenaga, pikiran, uang) terkuras. <em>That’s our very idol</em>! Jadi pertanyaannya, “Apakah penyembahan berhala hanya bicara soal menyembah sesosok patung, gambar atau benda-benda langit yang mati? Ataukah menyembah berhala berarti menyembah pepohonan atau binatang-binatang tertentu yang dikeramatkan?” Bagi Alkitab tidak! Terlalu banyak hal yang dapat menjadi berhala: pacar, uang, seks, video game, cita-cita/karir, ortu. Tentu saya tidak mengatakan bahwa semua itu (pacar, uang, seks, video game, cita-cita/karir, ortu) pada dasarnya adalah hal-hal dosa; tapi yang saya maksudkan adalah pada saat kita menganggap bahwa dengan semua itu kita akan menikmati kebahagiaan dan sukacita sejati dan bahwa semua hal itulah yang paling kita butuhkan dalam hidup (dan bukan Allah), di sanalah sebenar-benarnya “penyembahan berhala” sedang terjadi. Itulah sebabnya dalam Kolose 3:5, Paulus menyamakan percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat, dan keserakahan dengan penyembahan berhala!</p>
<p>Berhala sebenar-benarnya adalah hasil refleksi (cerminan) dari sebuah hasrat nafsu/keingingan manusia yang ingin bebas otonom dari Allah, yang merasa mampu hidup bahagia di luar Allah, dan merasa bahwa Allah hanyalah sosok kejam yang suka “mengatur-ngatur” hidupnya. Baginya “kebahagiaan hidup” berarti hidup bebas, lepas dari kontrol siapa pun (termasuk Allah), untuk memuaskan semua hasrat nafsu yang terpendam di dalam dirinya. Bahagia berarti: “<em>I have everything what I like, and I can do everything what I want</em>.” Semua benda-benda yang dijadikan berhala (tuhan) hanyalah sarana/alat yang harus cocok dengan keinginan dari orang tersebut.  Orang yang ingin kaya pastilah memilih berhala yang dianggapnya bisa membuatnya kaya (kebiasaan gunung kawi); orang yang memang haus dengan seks pastilah “menyembah” berhala yang setuju dengan pemuasan hawa nafsu seks (Kel. 32:6), dll. Dengan kata lain dalam penyembahan berhala manusialah yang jadi allah! Dan itulah yang sebenarnya yang dilakukan oleh Adam dan Hawa di Eden.  Dosa mereka bukanlah karena mereka makan buah tapi karena mereka dengan sadar dan sengaja ingin “menjadi allah” bagi diri mereka sendiri!</p>
<p>Dari definisi ini kita bisa melihat betapa seriusnya sebenarnya masalah dosa.  Dosa bukan hanya persoalan etis-moral belaka (itu sempit sekali). Dosa adalah tindakan baik secara terang-terangan maupun terselubung melawan, memberontak, ingin mengkudeta Allah sebagai Tuhan atas hidup kita dan sebagai pemelihara hidup kita yang paling setia, dan ingin menggantinya dengan diri kita sebagai tuhan atas hidup kita sendiri, persis seperti lagu <em>Bon Jovi</em>: <em>It’s My Life</em>! Dan itulah yang sebenarnya dicatat dan disimpulkan oleh Paulus dalam 3:10-11, 18:</p>
<p> </p>
<p>“seperti ada tertulis: &#8220;Tidak ada yang benar, seorangpun tidak. Tidak ada seorangpun yang berakal budi, tidak ada seorangpun yang mencari Allah. . . . rasa takut kepada Allah tidak ada pada orang itu.”</p>
<p> </p>
<p>“tidak seorang pun yang mengerti dan <em>tidak seorang pun yang menyembah Allah</em>. Semua orang sudah <em>menjauhkan diri</em> dari Allah; semuanya telah sesat. Tidak seorang pun berbuat yang benar; seorang pun tidak!. . . . dan tidak <em>menghormati</em> Allah” (<em>BIS</em>).</p>
<p>Dan ironisnya, banyak orang menghidupi semua ini tanpa disadari. Dan supaya mereka tetap bisa diselamatkan maka mereka membawa semua embel-embel dan simbol-simbol keagamaan mereka dan berusaha menenangkan hati mereka yang sebenarnya sedang resah sambil berkata, “tenanglah hai jiwaku, engkau pasti diselamatkan karena engkau rajin ibadah, rajin memberi persembahan, rajin pelayanan, rajin VG/PS, sudah disidi/dibaptis, dll. Coba kita sama-sama berpikir secara realistis: adakah bentuk kesalehan yang kita pikir mujarab, yang dapat dilakukan oleh manusia yang sudah melawan Allah dapat menyelamatkannya dari murka Allah? (bdk. Yes. 64:6)</p>
<p>Saya ingin sedikit memaparkan tentang sebuah fakta dosa dalam PL dan betapa seriusnya dosa itu (yang kadang-kadang, saya yakin kurang kita sadari).</p>
<p>Di dalam PL memang ada ritual pengampunan dosa lewat hewan-hewan kurban yang dipersembahkan di atas mezbah di Kemah Suci atau Bait Allah. Namun tampaknya banyak orang kurang memperhatikan jenis dosa yang bisa diampuni lewat hewan korban ini:</p>
<p> </p>
<p>&#8220;Katakanlah kepada orang Israel: Apabila seseorang <em><span style="text-decoration:underline;">tidak dengan sengaja</span></em> berbuat dosa dalam sesuatu hal yang dilarang TUHAN dan ia memang melakukan salah satu dari padanya” (Im. 4:2)</p>
<p>“Jikalau yang berbuat dosa dengan tak sengaja itu segenap umat Israel, dan jemaah tidak menyadarinya, sehingga mereka melakukan salah satu hal yang dilarang TUHAN, dan mereka bersalah” (Im. 4:13)</p>
<p>“Jikalau yang berbuat dosa itu seorang pemuka yang <em><span style="text-decoration:underline;">tidak dengan sengaja</span></em> melakukan salah satu hal yang dilarang TUHAN, Allahnya, sehingga ia bersalah” (Im. 4:22).</p>
<p>&#8220;Apabila seseorang berubah setia dan <em><span style="text-decoration:underline;">tidak sengaja berbuat dosa</span></em> dalam sesuatu hal kudus yang dipersembahkan kepada TUHAN, maka haruslah ia mempersembahkan kepada TUHAN sebagai tebusan salahnya seekor domba jantan yang tidak bercela dari kambing domba, dinilai menurut syikal perak, yakni menurut syikal kudus, menjadi korban penebus salah” (Im. 5:15).</p>
<p> </p>
<p>Perhatikan baik-baik jenis dosa tersebut. Ya, yang diampuni lewat hewan-hewan korban itu adalah dosa-dosa yang tidak disengaja. Nah, pertanyaannya bagaimana dengan dosa yang disengaja?</p>
<p> </p>
<p>Tetapi orang yang berbuat sesuatu <em><span style="text-decoration:underline;">dengan sengaja</span></em>, baik orang Israel asli, baik orang asing, orang itu menjadi penista TUHAN, ia harus dilenyapkan dari tengah-tengah bangsanya (Bil. 15:30).</p>
<p>Bagi dosa yang disengaja, tidak dapat pengampunan (apalagi seperti penyembahan berhala = sengaja menggeser Allah sebagai Tuhan dan menjadikan sesuatu yang lain, yang berasal dari hawa nafsu diri sebagai tuhan). Yang ada hanyalah penghukuman, pembuangan dan maut! Ini jelas menunjukkan betapa seriusnya dosa yang disengaja dan betapa tidak mampunya sebenarnya semua upaya manusia untuk mengatasi dosa ini, baik itu identitas keagamaan kita maupun tindakan-tindakan moral kita yang kita anggap cukup baik sehingga Allah akan melirik dan menyelamatkan kita. Seorang ahli Alkitab mengatakan demikian tentang dosa kita yang sangat serius: </p>
<p><em>Sin is the pit into which we have fallen, but it is too deep for us to escape. It is the quicksand into which we have foolishly blundered but from which we cannot extricate ourselves. It is the death we have entered but from which we cannot restore ourselves to life</em></p>
<p> </p>
<p>Saat melihat kondisi dosa yang amat sangat parah ini, saya sadar betul bahwa tindakan yang normal yang akan dilakukan Allah adalah membinasakan manusia dan meninggalkannya.</p>
<p> </p>
<p align="center"><strong>III</strong></p>
<p>Itulah sebabnya—karena tidak ada jalan dan cara untuk mengampuni dan menolong para pendosa (termasuk semua kesalehan, tradisi dan formalisme mereka yang hanyalah seperti “kain kotor” bagi Allah, dan hanya Allah yang dapat menyelamatkan manusia dari dosa separah ini)—Allah menyediakan keselamatan yang baru, yang ada di dalam Yesus Kristus. Melalui dan hanya melalui Kristus, Allah tidak melakukan tindakan yang sewajarnya Allah mestinya lakukan (seperti yang saya pikirkan tadi), malah sebaliknya Allah memberikan pengampunan dan jalan keluar yang tidak terduga lewat Kristus. Dan itu tampak jelas lewat kata awal dari ayat 21 “Tetapi sekarang. . . .”  Perhatikan kata “tetapi” itu; sebuah kontras dari kondisi manusia dengan respons Allah terhadap kondisi manusia! Bayang-bayang maut dan kebinasaan yang ada di benak umat manusia hilang dan diganti dengan sesuatu yang penuh sukacita. Lewat tindakan Allah di dalam Kristus, Allah tidak memperhitungkan lagi, menghapuskan, membiarkan dan semua pelanggaran dan bentuk-bentuk pemberontakan manusia. Di dalam Kristus dan lewat percaya kepada Kristus, kini para manusia malang yang tidak punya masa depan dan terancam di bawah kutuk Allah, disayangi kembali, dikasihi kembali dan dapat menikmati relasi yang intim kembali dengan Allah seperti Adan dam Hawa di Eden.  Inilah Injil atau kabar baik. Allah tidak menghukum dan membinasakan manusia (seperti yang sewajarnya dan sepantasnya mereka terima) tetapi sebaliknya Allah menyediakan jalan pengampunan dan pembenaran yang tuntas lewat Kristus agar orang-orang percaya kepada-Nya kembali bersatu dan dikasihi-Nya. Perhatikan: betapa limpahnya dan murahnya hati Allah buat para pendosa! Allah sungguh tahu bahwa tidak ada satu pun upaya yang dapat menyelamatkan manusia kecuali Ia sendiri datang, menjamah, memulihkan, mendamaikan manusia dengan diri-Nya, walaupun itu berarti ada pengorbanan luar biasa yang harus Ia lakukan.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/perdian.wordpress.com/365/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/perdian.wordpress.com/365/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/perdian.wordpress.com/365/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/perdian.wordpress.com/365/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/perdian.wordpress.com/365/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/perdian.wordpress.com/365/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/perdian.wordpress.com/365/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/perdian.wordpress.com/365/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/perdian.wordpress.com/365/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/perdian.wordpress.com/365/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/perdian.wordpress.com/365/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/perdian.wordpress.com/365/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/perdian.wordpress.com/365/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/perdian.wordpress.com/365/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=perdian.wordpress.com&amp;blog=4384315&amp;post=365&amp;subd=perdian&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://perdian.wordpress.com/2009/08/20/iman-yang-menyelamatkan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6989482ccfce6ac0bfed9796c9104aa9?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96" medium="image">
			<media:title type="html">perdian1234</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Menjadi Garam dan Terang Dunia</title>
		<link>http://perdian.wordpress.com/2009/05/25/menjadi-garam-dan-terang-dunia/</link>
		<comments>http://perdian.wordpress.com/2009/05/25/menjadi-garam-dan-terang-dunia/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 25 May 2009 03:23:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>perdian</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kehidupan Kristen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://perdian.wordpress.com/?p=363</guid>
		<description><![CDATA[Matius 5:13-16, Galatia 4:4   Salah satu kesalahan terbesar saat melihat teks-teks Injil, termasuk Khotbah di Bukit ini adalah terjadinya rohanisasi teks.  Yang penulis maksud dengan rohanisasi teks adalah bahwa di dalam kita membaca teks-teks ini dan menafsirkannya kita membuang semua situasi “sosial-politik” yang terjadi saat Yesus menyampaikan hal ini dan kita menganggap bahwa Khotbah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=perdian.wordpress.com&amp;blog=4384315&amp;post=363&amp;subd=perdian&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;"><em>Matius 5:13-16, Galatia 4:4</em></p>
<p style="text-align:center;"> </p>
<p>Salah satu kesalahan terbesar saat melihat teks-teks Injil, termasuk Khotbah di Bukit ini adalah terjadinya rohanisasi teks.  Yang penulis maksud dengan rohanisasi teks adalah bahwa di dalam kita membaca teks-teks ini dan menafsirkannya kita membuang semua situasi “sosial-politik” yang terjadi saat Yesus menyampaikan hal ini dan kita menganggap bahwa Khotbah di Bukit ini adalah ajaran rohani abstrak yang tidak ada sangkut pautnya dengan konteks situasi saat itu.</p>
<p>Hal ini sebenarnya sangat jelas kalau kita melihat sebentar ke belakang ke pasal 2-4. Bagian ini jelas memberikan <em>background</em> sosial-politik yang terjadi saat itu dan yang berikutnya menjadi <em>background</em> untuk Khotbah di Bukit termasuk seluruh Injil Matius. Coba kita sekilas latar belakang ini.</p>
<p><span id="more-363"></span>Penulis yakin teman-teman tentu mengenali dengan baik kisah tentang Orang Majus yang sangat terkenal di pasal 2:1-15. Tapi mungkin banyak orang yang kurang memperhatikan latar belakang sosial politik yang sangat mengerikan saat itu yang dicatat di ayat 1 dan ayat 16-18. Saat itu berkuasa Raja paling hebat yang pernah dimiliki Yudea: Herodes Agung, yang juga sekaligus merupakan raja paling bengis, kejam dan sadis.  Menurut catatan sejarah, Herodes Agung, si psikopat gila hormat dan suka <em>negatif thinking</em> ini tega membunuh 2 dari 10 istrinya, setidaknya 3 anak laki-lakinya tewas di tangannya, juga seorang ipar dan kakek seorang isterinya tewas dibantainya.  Bahkan ketika ia tahu bahwa menjelang ia mangkat banyak orang akan bersukacita atas kematiannya (karena bebas dari pemerintah tirannya), ia memerintahkan anggotanya untuk menangkap para pemimpin orang Yahudi saat itu dan membantai mereka di tempat umum.  Ia memang tahu bahwa tidak akan ada orang yang berduka atas kematiannya tapi  ingin supaya ada orang yang berduka pada saat ia mati, karena itulah ia melakukan tindakan gila ini.  Tentu setelah melihat konteks sejarah ini kita tidak akan terlalu heran saat membaca apa yang ditulis Matius dalam 2:16-18 di mana dia mengadakan <em>genocide</em> (pembunuhan massal dan sistematik) kepada anak-anak di bawah 2 tahun. Selanjutnya dalam ayat 22, setelah Yusuf, Maria, dan bayi Yesus kembali dari pengungsian-Nya di Mesir, dicatat di sana bahwa raja yang menggantikan Herodes Agung adalah Arkhelaus, raja yang juga sama bengisnya.</p>
<p>Tapi bukan hanya kondisi politik yang carut-marut dan korup saat itu.  Kondisi kerohanian umat pun tidak kalah hancurnya.  Coba kita lihat <em>background</em> kondisi ini yang dipaparkan dengan tegas oleh Yohanes Pembaptis di dalam 3:7-10.  Dengan tegas, Yohanes Pembaptis menegur golongan Farisi dan Saduki, dua kelompok keagamaan yang paling berkuasa dan paling terpandang pada zaman Yesus dan dianggap sebagai penuntun hidup umat, dengan teguran yang tidak main-main.  Mereka disebut sebagai “<em>ular beludak</em>!” Dalam Injil Matius istilah ini muncul tiga kali (ayat ini; 12:34; 23:33) dan kesemuanya mengarah kepada satu makna: kemunafikan! Ya. Umat saat itu dipimpin, digembalakan dan diarahkan oleh orang-orang yang lebih cocok untuk disebut sebagai seorang aktor: di mana orang-orang tersebut punya dua standar kehidupan. Di depan publik terlihat sangat saleh namun di area hidup pribadi mereka, mereka tidak bedanya dengan iblis!  Itulah sebabnya mengapa dalam Matius 9:36, Matius menyebut orang-orang banyak itu sebagai orang-orang yang lelah, terlantar, dan tidak bergembala.  Kata “terlantar” <em>rhipto</em> lebih tepat diterjemahkan “terbuang” karena tidak ada yang memperhatikan. </p>
<p>Masalah kemunafikan ini sebenarnya dipaparkan dengan cukup mendalam juga dalam bagian setelah teks tentang garam dan terang (5:17-48). Coba kita perhatikan sebentar.</p>
<p> Menurut penulis, inti utama dari pasal 5:17-48 diungkapkan oleh ayat 17-20 (khususnya ayat 20):</p>
<p>Maka Aku berkata kepadamu: Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga.</p>
<p> </p>
<p>Kata “hidup keagamaan” di sini berasal dari kata Yunani <em>dikaiosune</em> yang lebih tepat diterjemahkan <em>righteousness</em> atau kebenaran.  <em>Nah</em>, pertanyaannya adalah, “Kebenaran seperti apa yang Yesus maksudkan dengan kebenaran Farisi di sini?”  Penulis tertarik dengan klasifikasi yang dilakukan Metzger yang mengatakan bahwa kelompok Farisi pada masa Yesus terbagi dalam beberapa kelompok: </p>
<p>Farisi <em>the “wait-a-little”; </em>Farisi <em>the “bruised” atau “bleeding”</em>; Farisi <em>the “shoulder”; </em>Farisi <em>the “humped-back”; </em>Farisi <em>the “ever-reckoning”; </em>Farisi <em>the “god-fearing”; </em>Farisi <em>the “God-loving” </em>atau <em>“born” </em></p>
<p>Dari paparan ini terlihat bahwa mayoritas kelompok-kelompok Farisi ini menekankan kepada kebenaran yang bernilai dari sisi eksternal, dan inilah yang Yesus ingin kritisi dengan kehidupan keagamaan Farisi dan tokoh-tokoh agama Yahudi saat itu yang sekadar menitikberatkan kerohanian dangkal yang bersumber dari tradisi manusia dan tujuannya hanyalah untuk popularitas. Kalau boleh penulis istilahkan: “teologi pamer.” Sebaliknya Kristus menuntut para murid-Nya, warga Kerajaan Allah sebagai orang-orang yang memiliki kebenaran yang utuh; kebenaran yang berasal dari pembaruan hati dan mencuat keluar.  Dalam hal ini yang diutamakan adalah kejujuran dan ketulusan dihadapan Allah.  Dan menurut penulis kerohanian model ini termasuk sulit dicari pada masa kini.  Dan biasanya itu makin sulit tatkala seseorang itu makin senior dan makin mapan, makin dikagumi dan makin terpandang dalam sebuah pelayanan.  Ironisnya orang-orang model ini biasanya sulit untuk mengakui bahwa ia sedang terjebak dalam problem ini.</p>
<p>Saat memperhatikan hal ini penulis melihat akar masalah yang mungkin mirip dengan masalah kita di zaman ini.  Sebab bukankah di zaman kita ini juga ada banyak orang terbuang, lelah, jenuh dengan yang namanya agama dan sebenarnya jauh di lubuk hati mereka, mereka muak dengan agama karena para pemimpin agama mereka (bukan tidak cerdas dan pandai dalam berkata-kata) tapi karena punya hidup yang tidak konsisten dan tidak manunggal.  Dan inilah kebutuhan zaman ini teman-teman: dibutuhkan orang-orang yang mengasihi Tuhan dengan segenap hatinya, segenap kekuatannya dan segenap hidupnya.  Bukan hanya lewat pelayanan dan aktifitas-aktifitas rohani ia tampil saleh tapi dalam seluruh aspek kehidupannya, ia benar-benar memancarkan kasih Tuhan itu.   </p>
<p>Tentu domba-domba saat itu tidak terperhatikan karena gembala mereka bukannya merawat domba-dombanya dan berbagi hidup dengan mereka tapi justru sibuk membangun citra diri mereka sendiri.  Dan perhatikan dalam konteks pergumulan umat saat itu, yang dibutuhkan bukanlah seorang gembala (atau dalam konteks kita, kakak KTB) yang hebat, jago dalam berteologi, punya pengalaman organisasi dan jabatan-jabatan tertentu.  Yang dibutuhkan adalah seseorang yang mau memberi hidup, berbagi hidup dan hidupnya benar-benar di dalam Allah dan hanya menginginkan Allah, bukan yang lain.</p>
<p><strong>Perhatikan</strong>: Inilah kondisi riil yang melatarbelakangi tuntutan para murid saat itu untuk menjadi garam dan terang dunia.  Mengapa?  Karena dunia saat itu dipenuhi oleh orang-orang yang hanya pandai meneriakkan jargon-jargon rohani tanpa aksi-aksi yang konkret.  Dunia dipenuhi orang-orang yang punya standar hidup ganda: di pelayanan dan Gereja dia begitu saleh, tapi di bangku kuliah, di rumah orang tuanya dan di tempat kostnya, ia hidup tidak bedanya seperti orang-orang kafir.  Dan saat melihat semua ini, bukankah tidak salah kalau penulis mengatakan bahwa dunia seperti ini adalah dunia yang sangat gelap?  Tapi yang menarik Galatia 4:4 mengatakan bahwa dalam “setelah genap waktunya, maka Allah mengutus Anak-Nya. . . “  Setelah genap waktunya tentu bicara soal waktu yang tepat menurut Allah.  Tapi bukankah saat itu dunia ada dalam kegelapan dan tanpa pengharapan dan ada berbagai risiko yang mengancam orang-orang yang berani hidup berbeda?  Tapi inilah waktu yang tepat menurut Allah.  Mengapa?  Karena dunia seperti ini haus menantikan orang-orang yang benar-benar tulus dan murni di hadapan Allah.  </p>
<p>Kembali ke apa yang penulis sampaikan di awal tadi, sampai di sini penulis bisa mengatakan bahwa yang Yesus lakukan saat itu lewat Khotbah di Bukit adalah sebuah tindakan koreksi, memberikan masukan kritis dan membenahi kepada kehidupan <em>riil</em> umat Tuhan pada saat itu.  Artinya, khotbah di Bukit ini adalah khotbah yang memang berbicara dalam sebuah situasi yang konkret/nyata dan tidak abstrak.</p>
<p>Namun pertanyaan lebih jauh yang mungkin patut kita tanyakan adalah, “Kehidupan riil umat Tuhan seperti apa yang sebenarnya ingin dikritisi Yesus lewat pengajaran khotbah di bukit ini?”</p>
<p>Untuk menjawab pertanyaan ini penulis mengajak kita kembali melihat konteks dekat dari perikop kita pada pagi hari ini (5:1-12) <em></em></p>
<p>Pasal 5:1-12 terkenal dengan istilah ucapan bahagia (<em>beautitudes</em>; berasal dari kata latin: <em>beatus</em>; <em>blessed</em>).  Penulis tidak ingin panjang lebar tentang bagian ini tapi penulis ingin kita menangkap apa yang sebenarnya menjadi intisari ucapan bahagia ini.  Menurut penulis secara sederhana, ucapan bahagia merupakan pengajaran</p>
<p>Untuk menjawab pertanyaan ini penulis mengajak kita untuk melihat kata yang paling dominan muncul dalam bagian ini, ya, tentu saja kata, “Berbahagialah.”  Kata ini berasal dari kata Yunani <em>makarios</em>/<em>makarioi</em>. Penulis tertarik dengan analisis dari sebuah kamus kata yang mengatakan bahwa dalam dunia Yunani kuno kata ini sebenarnya merupakan kata bentukan dari kata “<em>makar</em>.”  <em>Nah</em>, kata <em>makar</em> sendiri sebenarnya dominannya merupakan kata yang diperuntukkan bagi para dewa.  Ada sebuah kata dalam bahasa Yunani <em>hoi makares</em> bahkan diterjemahkan <em>the gods</em>.  <em>Nah</em>, dari sini kita bisa menebak bahwa dalam dunia Yunani kuno kata ini dipakai untuk melukiskan sebuah makna kebahagiaan yang melampaui apa pun juga di dunia ini dan mengalami kebahagian yang dialami oleh para dewa.  Dalam PL sendiri, mayoritas ayat yang menggunakan kata ini menekankan kebahagiaan sebagai, “<em>. . . simply to the one who trusts in God, who hopes and waits for Him, who fears and loves Him</em>.” Kebahagiaan sama sekali tidak berfokus pada harta, materi, barang-barang dan kenikmatan-kenikmatan duniawi, tapi pada Tuhan.  Coba kita lihat beberapa ayat dari Mazmur ini:</p>
<p>Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh (1:1)</p>
<p>Berbahagialah orang, yang menaruh kepercayaannya pada TUHAN, yang tidak berpaling kepada orang-orang yang angkuh, atau kepada orang-orang yang telah menyimpang kepada kebohongan! (40:5)</p>
<p>Berbahagialah setiap orang yang takut akan TUHAN, yang hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya! (128:1)</p>
<p>Setiap hal yang berkaitan dengan berlimpahnya harta, dan banyaknya berkat fisik, selalu dimaknai sebagai pertanda bahwa Allah hadir dan memberkati:</p>
<p>Semoga anak-anak lelaki kita seperti tanam-tanaman yang tumbuh menjadi besar pada waktu mudanya; dan anak-anak perempuan kita seperti tiang-tiang penjuru, yang dipahat untuk bangunan istana! Semoga gudang-gudang kita penuh, mengeluarkan beraneka ragam barang; semoga kambing domba kita menjadi beribu-ribu, berlaksa-laksa di padang-padang kita! Semoga lembu sapi kita sarat; semoga tidak ada kegagalan dan tidak ada keguguran, dan tidak ada jeritan di lapangan-lapangan kita! (144:12-14)</p>
<p>Dan ini maknanya:</p>
<p>Berbahagialah bangsa yang demikian keadaannya! Berbahagialah bangsa yang Allahnya ialah TUHAN! (144:15)</p>
<p>Dan menurut penulis makna itu pula yang mau ditekankan Matius lewat bagian ini.  Konsisten dengan PL, kebahagiaan yang dimaksud oleh Yesus di sini adalah kebahagiaan yang tidak berdasar pada apa yang dianggap dunia sebagai sumber kebahagiaan dan sumber kehidupan.  Bagi orang benar, yang membuat hidupnya bahagia adalah karena ia turut ambil bagian dalam Kerajaan Allah itu dan bahwa ia senantiasa berada dekat dengan Allah yang adalah Raja dari Kerajaan itu.  Kalau kita cermati dengan seksama apa oleh 10 ucapan bahagia ini (mirip dengan 10 hukum Taurat Allah) paparkan tentang karakteristik dari mereka yang turut ambil bagian dalam Kerajaan Allah itu, maka kita akan berjumpa dengan gambaran yang paradoks dan terkesan bernada ironi.  Coba lihat gambaran-gambaran yang diberikan oleh ayat-ayat tersebut.  Bagaimana mungkin orang yang “miskin” (menekankan kerendahan) malah mendapat Kerajaan, bagaimana mungkin orang yang lemah lembut memiliki bumi.  Dan lebih ironis lagi, kalau kita perhatikan tiga ayat terakhir dari teks ini (ay. 10-12) yang disebut berbahagia adalah mereka yang disiksa, dianiaya dan difitnah.  Apa maksudnya ini?</p>
<p>Saat mencermati urut-urutan ucapan bahagia ini ada satu hal menarik yang penulis cermati.  Dari ayat 3-9, kalau mau digambarkan dalam bentuk grafik, maka kecenderungan yang terlihat adalah kecenderungan pertumbuhan rohaniyang progresif.  Namun kalau mencermati mulai ayat 10-12, grafik pertumbuhan rohani yang cenderung progresif tersebut malah membawa dampak sebaliknya, menurun. Lho, apa-apaan ini?  Bukankah mestinya kalau saya setia dan saya makin bertumbuh hidup saya makin berhasil, sukses, sejahtera dan lancar-lancar?  Tapi kok malah sebaliknya, makin setia, malah makin difitnah, makin suci, makin dibenci, makin lapar dan haus akan firman malah makin disesah, dianiaya dan disiksa. Penulis teringat dengan perkataan John Stott berkaitan dengan bagian ini, “Penderitaan adalah lencana kekristenan.”  Apa artinya?  Ya, hanya lewat penderitaanlah (masa-masa sukarlah), siapa sesungguhnya kita akan terlihat. Dan hanya lewat penderitaanlah akan terlihat sesungguh-sungguhnya apakah kebahagiaan kita bersumber dari Tuhan atau dari perkara-perkara duniawi.  Dan itu artinya jangan berharap bahwa makin setia dan makin sungguh-sungguh kita melayani akan makin harumnya nama kita; makin terjaminnya hidup kita; makin meningkatnya taraf hidup kita.  Justru dalam banyak kasus, makin seseorang melayani dengan setia, makin disalahmengertinya dia; makin dikhianatinya dia, makin dibuangnya dia, dll.  Namun bagi orang-orang percaya yang sejati, semua itu adalah kebahagiaan karena memang tidak ada lagi yang dijadikan sandaran dan harta yang paling berharga kecuali Kristus dan Kerajaan-Nya.</p>
<p>Seseorang yang kesukaannya adalah Tuhan dan harta yang paling berharganya adalah Tuhan akan melalui masa-masa kesesakan itu dengan sukacita sebab mereka tahu mereka mengambil bagian dalam penderitaan Kristus, seperti kata Kisah Rasul 5:41:</p>
<p>Rasul-rasul itu meninggalkan sidang Mahkamah Agama dengan gembira, karena mereka telah dianggap layak menderita penghinaan oleh karena Nama Yesus.</p>
<p>Dan itulah semangat Paulus dalam 2Korintus 4:16:</p>
<p>Sebab itu kami tidak tawar hati, tetapi meskipun manusia lahiriah kami semakin merosot, namun manusia batiniah kami dibaharui dari sehari ke sehari.</p>
<p><em><span style="text-decoration:underline;"> </span></em></p>
<p><em>Nah</em>, inilah konteks-konteks menyelubungi pokok bahasan soal garam dan terang.  Kalau bisa penulis simpulkan: tidak mungkin seseorang menjadi garam dan terang kalau kebahagiaan sejati satu-satunya dalam hatinya bukan Tuhan dan kalau kerohaniannya adalah kerohanian cap pamer.  Atau kalau bisa penulis balik: hanya orang yang hartanya Tuhan dan yang hatinya tuluslah yang dapat menjadi garam dan terang secara konsisten dan terus-menerus.  Itulah sebabnya mengapa perikop ini dibuka dengan satu kata Yunani yang sebenarnya sangat tegas, “<em>humeis</em>. . . ” (bdk. ay. 14).  Terjemahan lebih tepat dari kata ini adalah, “Kamu, ya hanya kamulah. . . .”  Kata ganti ini menegaskan dua tendensi utama: <em>pertama</em>,  menegaskan bahwa hanya orang-orang yang berkarakter tulus dan mencintai Tuhan yang dapat menjadi garam dan terang; namun <em>kedua</em>, menurut penulis Matius sengaja menggunakan kata yang tegas ini untuk menegaskan sebuah urgensitas yang tidak dapat ditawar-tawar: tanpa kehadiran garam dan terang itu dunia ini akan makin rusak dan makin gelap. Dan Yesus seolah-olah menegaskan bahwa satu-satunya harapan dari selamatnya dunia ini adalah kehadiran orang-orang yang merupakan warga Kerajaan Allah itu.  Penulis pernah membaca sebuah tulisan (kalau tidak salah John Stott) mengatakan, “Kalau dunia ini menjadi rusak dan busuk dan makin gelap, jangan salahkan dunianya.  Yang patut dipertanyakan adalah, ‘Di mana garamnya? Di mana terangnya?”</p>
<p>Kita sudah mendengar banyak khotbah dan ceramah tentang makna garam.  Dan memang ada sangat banyak makna yang bisa diberikan: memurnikan, mengawetkan, memberi kesuburan, simbol hikmat, bermakna korban/persembahan (Im. 2:13; Yeh. 43:24) dan kovenan (Bil. 18:19; Im. 2:13).  Penulis tidak mau lebih jauh menggali makna-makna ini dan memang keliru kalau kita mau menekankan salah satu saja karena sebenarnya makna garam di sini sangat luas dan dalam; tapi satu hal perlu kita ingat bahwa garam di sini, sederhananya, menekankan hal yang signifikan dan sangat dibutuhkan dunia, seperti sangat dibutuhkannya garam dalam kehidupan sehari-hari.  Artinya, kehadiran orang-orang Kristen sangat dibutuhkan dalam peristiwa-peristiwa riil masyarakat, dalam aspek-aspek yang tampaknya sepele tapi di situ ia mampu memberi penetrasi, dalam hal-hal sederhana tapi dilakukan dengan penuh kesetiaan.  Kehilangan <em>keasinan</em> erat kaitannya dengan dua konteks yang sudah kita bahas di atas.  Di dunia timur dekat kuno keasinan garam dapat hilang apabila garam tersebut bercampur dengan satu jenis senyawa kimia yang lain.  Apa artinya? Hilang keasinan merupakan simbol dari bergeser dan bercampurnya hidup kerohanian seseorang dengan dunia.  Kebahagiaan hidup yang sebelumnya hanya Tuhan berubah.  Kenikmatan dunia mulai memikat dirinya dan hatinya mulai tidak tulus lagi.</p>
<p>Dalam Alkitab “terang” merupakan sebuah kata metafor yang sangat penting. 1Yoh.1:5 mengatakan bahwa Allah adalah terang dan dalam Injil Yohanes, Kristus dinyatakan sebagai terang (8:12; 9:5).  Dalam PB, Paulus memperluas makna terang dan merujuk kepada orang-orang percaya (Ef. 5:8) dan Yesaya 42:6; 49:6 mengaitkan Israel sebagai terang yang harus bercahaya di hadapan orang-orang yang tidak mengenal Allah.  Sama seperti metafor garam, terang dalam konteks ini menjelaskan sesuatu yang amat sangat dibutuhkan dalam dunia yang gelap.<span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;margin:0 0 10pt;"><span style="font-family:Calibri;font-size:small;">Salah satu kesalahan terbesar saat melihat teks-teks Injil, termasuk Khotbah di Bukit ini adalah terjadinya rohanisasi teks.<span>  </span>Yang penulis maksud dengan rohanisasi teks adalah bahwa di dalam kita membaca teks-teks ini dan menafsirkannya kita membuang semua situasi “sosial-politik” yang terjadi saat Yesus menyampaikan hal ini dan kita menganggap bahwa Khotbah di Bukit ini adalah ajaran rohani abstrak yang tidak ada sangkut pautnya dengan konteks situasi saat itu. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;margin:0 0 10pt;"><span style="font-family:Calibri;font-size:small;">Hal ini sebenarnya sangat jelas kalau kita melihat sebentar ke belakang ke pasal 2-4. Bagian ini jelas memberikan <em>background</em> sosial-politik yang terjadi saat itu dan yang berikutnya menjadi <em>background</em> untuk Khotbah di Bukit termasuk seluruh Injil Matius. Coba kita sekilas latar belakang ini.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Calibri;">Penulis yakin teman-teman tentu mengenali dengan baik kisah tentang Orang Majus yang sangat terkenal di pasal 2:1-15. Tapi mungkin banyak orang yang kurang memperhatikan latar belakang sosial politik yang sangat mengerikan saat itu yang dicatat di ayat 1 dan ayat 16-18. Saat itu berkuasa Raja paling hebat yang pernah dimiliki Yudea: Herodes Agung, yang juga sekaligus merupakan raja paling bengis, kejam dan sadis.<span>  </span>Menurut catatan sejarah<span style="color:black;">, Herodes Agung, si psikopat gila hormat dan suka <em>negatif thinking</em> ini </span><span style="color:black;">tega membunuh 2 dari 10 istrinya, setidaknya 3 anak laki-lakinya tewas di tangannya, juga seorang ipar dan kakek seorang isterinya tewas dibantainya.<span>  </span>Bahkan ketika ia tahu bahwa menjelang ia mangkat banyak orang akan bersukacita atas kematiannya (karena bebas dari pemerintah tirannya), ia memerintahkan anggotanya untuk menangkap para pemimpin orang Yahudi saat itu dan membantai mereka di tempat umum.<span>  </span>Ia memang tahu bahwa tidak akan ada orang yang berduka atas kematiannya tapi<span>  </span>ingin supaya ada orang yang berduka pada saat ia mati, karena itulah ia melakukan tindakan gila ini.<span>  </span>Tentu setelah melihat konteks sejarah ini kita tidak akan terlalu heran saat membaca apa yang ditulis Matius dalam 2:16-18 di mana dia mengadakan <em>genocide</em> (pembunuhan massal dan sistematik) kepada anak-anak di bawah 2 tahun. Selanjutnya dalam ayat 22, setelah Yusuf, Maria, dan bayi Yesus kembali dari pengungsian-Nya di Mesir, dicatat di sana bahwa raja yang menggantikan Herodes Agung adalah Arkhelaus, raja yang juga sama bengisnya.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;margin:0 0 10pt;"><span style="color:black;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Calibri;">Tapi bukan hanya kondisi politik yang carut-marut dan korup saat itu.<span>  </span>Kondisi kerohanian umat pun tidak kalah hancurnya.<span>  </span>Coba kita lihat <em>background</em> kondisi ini yang dipaparkan dengan tegas oleh Yohanes Pembaptis di dalam 3:7-10.<span>  </span>Dengan tegas, Yohanes Pembaptis menegur golongan Farisi dan Saduki, dua kelompok keagamaan yang paling berkuasa dan paling terpandang pada zaman Yesus dan dianggap sebagai penuntun hidup umat, dengan teguran yang tidak main-main.<span>  </span>Mereka disebut sebagai “<em>ular beludak</em>!” Dalam Injil Matius istilah ini muncul tiga kali (ayat ini; 12:34; 23:33) dan kesemuanya mengarah kepada satu makna: kemunafikan! Ya. Umat saat itu dipimpin, digembalakan dan diarahkan oleh orang-orang yang lebih cocok untuk disebut sebagai seorang aktor: di mana orang-orang tersebut punya dua standar kehidupan. Di depan publik terlihat sangat saleh namun di area hidup pribadi mereka, mereka tidak bedanya dengan iblis!<span>  </span>Itulah sebabnya mengapa dalam Matius 9:36, Matius menyebut orang-orang banyak itu sebagai orang-orang yang lelah, terlantar, dan tidak bergembala.<span>  </span>Kata “terlantar” <em>rhipto</em> lebih tepat diterjemahkan “terbuang” karena tidak ada yang memperhatikan.<span>  </span></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;margin:0 0 10pt;"><span style="font-family:Calibri;font-size:small;">Masalah kemunafikan ini sebenarnya dipaparkan dengan cukup mendalam juga dalam bagian setelah teks tentang garam dan terang (5:17-48). Coba kita perhatikan sebentar.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Calibri;"><span> </span>Menurut penulis, inti utama dari pasal 5:17-48 diungkapkan oleh ayat 17-20 (khususnya ayat 20):</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0 0 0 36pt;"><span style="font-size:10pt;"><span style="font-family:Calibri;">Maka Aku berkata kepadamu: Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0;"><span style="line-height:150%;font-size:10pt;"><span style="font-family:Calibri;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Calibri;">Kata “hidup keagamaan” di sini berasal dari kata Yunani <em>dikaiosune</em> yang lebih tepat diterjemahkan <em>righteousness</em> atau kebenaran.<span>  </span><em>Nah</em>, pertanyaannya adalah, “Kebenaran seperti apa yang Yesus maksudkan dengan kebenaran Farisi di sini?”<span>  </span>Penulis tertarik dengan klasifikasi yang dilakukan Metzger yang mengatakan bahwa kelompok Farisi pada masa Yesus terbagi dalam beberapa kelompok:<span>  </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Calibri;">Farisi <em>the “wait-a-little”; </em>Farisi <em>the “bruised” atau “bleeding”</em>; Farisi <em>the “shoulder”; </em>Farisi <em>the “humped-back”; </em>Farisi <em>the “ever-reckoning”; </em>Farisi <em>the “god-fearing”; </em>Farisi <em>the “God-loving” </em>atau <em>“born” </em></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;margin:0 0 10pt;"><span style="font-family:Calibri;font-size:small;">Dari paparan ini terlihat bahwa mayoritas kelompok-kelompok Farisi ini menekankan kepada kebenaran yang bernilai dari sisi eksternal, dan inilah yang Yesus ingin kritisi dengan kehidupan keagamaan Farisi dan tokoh-tokoh agama Yahudi saat itu yang sekadar menitikberatkan kerohanian dangkal yang bersumber dari tradisi manusia dan tujuannya hanyalah untuk popularitas. Kalau boleh penulis istilahkan: “teologi pamer.” Sebaliknya Kristus menuntut para murid-Nya, warga Kerajaan Allah sebagai orang-orang yang memiliki kebenaran yang utuh; kebenaran yang berasal dari pembaruan hati dan mencuat keluar.<span>  </span>Dalam hal ini yang diutamakan adalah kejujuran dan ketulusan dihadapan Allah.<span>  </span>Dan menurut penulis kerohanian model ini termasuk sulit dicari pada masa kini.<span>  </span>Dan biasanya itu makin sulit tatkala seseorang itu makin senior dan makin mapan, makin dikagumi dan makin terpandang dalam sebuah pelayanan.<span>  </span>Ironisnya orang-orang model ini biasanya sulit untuk mengakui bahwa ia sedang terjebak dalam problem ini.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;margin:0 0 10pt;"><span style="color:black;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Calibri;">Saat memperhatikan hal ini penulis melihat akar masalah yang mungkin mirip dengan masalah kita di zaman ini.<span>  </span>Sebab bukankah di zaman kita ini juga ada banyak orang terbuang, lelah, jenuh dengan yang namanya agama dan sebenarnya jauh di lubuk hati mereka, mereka muak dengan agama karena para pemimpin agama mereka (bukan tidak cerdas dan pandai dalam berkata-kata) tapi karena punya hidup yang tidak konsisten dan tidak manunggal.<span>  </span>Dan inilah kebutuhan zaman ini teman-teman: dibutuhkan orang-orang yang mengasihi Tuhan dengan segenap hatinya, segenap kekuatannya dan segenap hidupnya.<span>  </span>Bukan hanya lewat pelayanan dan aktifitas-aktifitas rohani ia tampil saleh tapi dalam seluruh aspek kehidupannya, ia benar-benar memancarkan kasih Tuhan itu.<span>  </span><span> </span></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;margin:0 0 10pt;"><span style="color:black;"><span style="font-family:Calibri;font-size:small;">Tentu domba-domba saat itu tidak terperhatikan karena gembala mereka bukannya merawat domba-dombanya dan berbagi hidup dengan mereka tapi justru sibuk membangun citra diri mereka sendiri.<span>  </span>Dan perhatikan dalam konteks pergumulan umat saat itu, yang dibutuhkan bukanlah seorang gembala (atau dalam konteks kita, kakak KTB) yang hebat, jago dalam berteologi, punya pengalaman organisasi dan jabatan-jabatan tertentu.<span>  </span>Yang dibutuhkan adalah seseorang yang mau memberi hidup, berbagi hidup dan hidupnya benar-benar di dalam Allah dan hanya menginginkan Allah, bukan yang lain.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Calibri;"><strong>Perhatikan</strong>: Inilah kondisi riil yang melatarbelakangi tuntutan para murid saat itu untuk menjadi garam dan terang dunia.<span>  </span>Mengapa?<span>  </span>Karena dunia saat itu dipenuhi oleh orang-orang yang hanya pandai meneriakkan jargon-jargon rohani tanpa aksi-aksi yang konkret.<span>  </span>Dunia dipenuhi orang-orang yang punya standar hidup ganda: di pelayanan dan Gereja dia begitu saleh, tapi di bangku kuliah, di rumah orang tuanya dan di tempat kostnya, ia hidup tidak bedanya seperti orang-orang kafir.<span>  </span>Dan saat melihat semua ini, bukankah tidak salah kalau penulis mengatakan bahwa dunia seperti ini adalah dunia yang sangat gelap?<span>  </span>Tapi yang menarik Galatia 4:4 mengatakan bahwa dalam “setelah genap waktunya, maka Allah mengutus Anak-Nya. . . “<span>  </span>Setelah genap waktunya tentu bicara soal waktu yang tepat menurut Allah.<span>  </span>Tapi bukankah saat itu dunia ada dalam kegelapan dan tanpa pengharapan dan ada berbagai risiko yang mengancam orang-orang yang berani hidup berbeda?<span>  </span>Tapi inilah waktu yang tepat menurut Allah.<span>  </span>Mengapa? <span> </span>Karena dunia seperti ini haus menantikan orang-orang yang benar-benar tulus dan murni di hadapan Allah. <span> </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;margin:0 0 10pt;"><span style="font-family:Calibri;font-size:small;">Kembali ke apa yang penulis sampaikan di awal tadi, sampai di sini penulis bisa mengatakan bahwa yang Yesus lakukan saat itu lewat Khotbah di Bukit adalah sebuah tindakan koreksi, memberikan masukan kritis dan membenahi kepada kehidupan <em>riil</em> umat Tuhan pada saat itu.<span>  </span>Artinya, khotbah di Bukit ini adalah khotbah yang memang berbicara dalam sebuah situasi yang konkret/nyata dan tidak abstrak.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;margin:0 0 10pt;"><span style="font-family:Calibri;font-size:small;">Namun pertanyaan lebih jauh yang mungkin patut kita tanyakan adalah, “Kehidupan riil umat Tuhan seperti apa yang sebenarnya ingin dikritisi Yesus lewat pengajaran khotbah di bukit ini?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Calibri;">Untuk menjawab pertanyaan ini penulis mengajak kita kembali melihat konteks dekat dari perikop kita pada pagi hari ini (5:1-12) <em></em></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;margin:0 0 10pt;"><span style="font-family:Calibri;font-size:small;">Pasal 5:1-12 terkenal dengan istilah ucapan bahagia (<em>beautitudes</em>; berasal dari kata latin: <em>beatus</em>; <em>blessed</em>).<span>  </span>Penulis tidak ingin panjang lebar tentang bagian ini tapi penulis ingin kita menangkap apa yang sebenarnya menjadi intisari ucapan bahagia ini.<span>  </span>Menurut penulis secara sederhana, ucapan bahagia merupakan pengajaran</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;margin:0 0 10pt;"><span style="font-family:Calibri;font-size:small;">Untuk menjawab pertanyaan ini penulis mengajak kita untuk melihat kata yang paling dominan muncul dalam bagian ini, ya, tentu saja kata, “Berbahagialah.”<span>  </span>Kata ini berasal dari kata Yunani <em>makarios</em>/<em>makarioi</em>. Penulis tertarik dengan analisis dari sebuah kamus kata yang mengatakan bahwa dalam dunia Yunani kuno kata ini sebenarnya merupakan kata bentukan dari kata “<em>makar</em>.”<span>  </span><em>Nah</em>, kata <em>makar</em> sendiri sebenarnya dominannya merupakan kata yang diperuntukkan bagi para dewa.<span>  </span>Ada sebuah kata dalam bahasa Yunani <em>hoi makares</em> bahkan diterjemahkan <em>the gods</em>.<span>  </span><em>Nah</em>, dari sini kita bisa menebak bahwa dalam dunia Yunani kuno kata ini dipakai untuk melukiskan sebuah makna kebahagiaan yang melampaui apa pun juga di dunia ini dan mengalami kebahagian yang dialami oleh para dewa.<span>  </span>Dalam PL sendiri, mayoritas ayat yang menggunakan kata ini menekankan kebahagiaan sebagai, “<em>. . . simply to the one who trusts in God, who hopes and waits for Him, who fears and loves Him</em>.” Kebahagiaan sama sekali tidak berfokus pada harta, materi, barang-barang dan kenikmatan-kenikmatan duniawi, tapi pada Tuhan.<span>  </span>Coba kita lihat beberapa ayat dari Mazmur ini:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;margin:0 0 10pt 36pt;"><span style="line-height:150%;font-size:10pt;"><span style="font-family:Calibri;">Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh (1:1)</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;margin:0 0 10pt 36pt;"><span style="line-height:150%;font-size:10pt;"><span style="font-family:Calibri;">Berbahagialah orang, yang menaruh kepercayaannya pada TUHAN, yang tidak berpaling kepada orang-orang yang angkuh, atau kepada orang-orang yang telah menyimpang kepada kebohongan! (40:5)</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;margin:0 0 10pt 36pt;"><span style="line-height:150%;font-size:10pt;"><span style="font-family:Calibri;">Berbahagialah setiap orang yang takut akan TUHAN, yang hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya! (128:1)</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;margin:0 0 10pt;"><span style="font-family:Calibri;font-size:small;">Setiap hal yang berkaitan dengan berlimpahnya harta, dan banyaknya berkat fisik, selalu dimaknai sebagai pertanda bahwa Allah hadir dan memberkati:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;margin:0 0 10pt 36pt;"><span style="line-height:150%;font-size:10pt;"><span style="font-family:Calibri;">Semoga anak-anak lelaki kita seperti tanam-tanaman yang tumbuh menjadi besar pada waktu mudanya; dan anak-anak perempuan kita seperti tiang-tiang penjuru, yang dipahat untuk bangunan istana! Semoga gudang-gudang kita penuh, mengeluarkan beraneka ragam barang; semoga kambing domba kita menjadi beribu-ribu, berlaksa-laksa di padang-padang kita! Semoga lembu sapi kita sarat; semoga tidak ada kegagalan dan tidak ada keguguran, dan tidak ada jeritan di lapangan-lapangan kita! (144:12-14)</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;margin:0 0 10pt;"><span style="font-family:Calibri;font-size:small;">Dan ini maknanya:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;margin:0 0 10pt 36pt;"><span style="line-height:150%;font-size:10pt;"><span style="font-family:Calibri;">Berbahagialah bangsa yang demikian keadaannya! Berbahagialah bangsa yang Allahnya ialah TUHAN! (144:15)</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;margin:0 0 10pt;"><span style="font-family:Calibri;font-size:small;">Dan menurut penulis makna itu pula yang mau ditekankan Matius lewat bagian ini.<span>  </span>Konsisten dengan PL, kebahagiaan yang dimaksud oleh Yesus di sini adalah kebahagiaan yang tidak berdasar pada apa yang dianggap dunia sebagai sumber kebahagiaan dan sumber kehidupan.<span>  </span>Bagi orang benar, yang membuat hidupnya bahagia adalah karena ia turut ambil bagian dalam Kerajaan Allah itu dan bahwa ia senantiasa berada dekat dengan Allah yang adalah Raja dari Kerajaan itu.<span>  </span>Kalau kita cermati dengan seksama apa oleh 10 ucapan bahagia ini (mirip dengan 10 hukum Taurat Allah) paparkan tentang karakteristik dari mereka yang turut ambil bagian dalam Kerajaan Allah itu, maka kita akan berjumpa dengan gambaran yang paradoks dan terkesan bernada ironi.<span>  </span>Coba lihat gambaran-gambaran yang diberikan oleh ayat-ayat tersebut.<span>  </span>Bagaimana mungkin orang yang “miskin” (menekankan kerendahan) malah mendapat Kerajaan, bagaimana mungkin orang yang lemah lembut memiliki bumi.<span>  </span>Dan lebih ironis lagi, kalau kita perhatikan tiga ayat terakhir dari teks ini (ay. 10-12) yang disebut berbahagia adalah mereka yang disiksa, dianiaya dan difitnah.<span>  </span>Apa maksudnya ini?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;margin:0 0 10pt;"><span style="font-family:Calibri;font-size:small;">Saat mencermati urut-urutan ucapan bahagia ini ada satu hal menarik yang penulis cermati.<span>  </span>Dari ayat 3-9, kalau mau digambarkan dalam bentuk grafik, maka kecenderungan yang terlihat adalah kecenderungan pertumbuhan rohaniyang progresif.<span>  </span>Namun kalau mencermati mulai ayat 10-12, grafik pertumbuhan rohani yang cenderung progresif tersebut malah membawa dampak sebaliknya, menurun. Lho, apa-apaan ini?<span>  </span>Bukankah mestinya kalau saya setia dan saya makin bertumbuh hidup saya makin berhasil, sukses, sejahtera dan lancar-lancar?<span>  </span>Tapi kok malah sebaliknya, makin setia, malah makin difitnah, makin suci, makin dibenci, makin lapar dan haus akan firman malah makin disesah, dianiaya dan disiksa. Penulis teringat dengan perkataan John Stott berkaitan dengan bagian ini, “Penderitaan adalah lencana kekristenan.”<span>  </span>Apa artinya?<span>  </span>Ya, hanya lewat penderitaanlah (masa-masa sukarlah), siapa sesungguhnya kita akan terlihat. Dan hanya lewat penderitaanlah akan terlihat sesungguh-sungguhnya apakah kebahagiaan kita bersumber dari Tuhan atau dari perkara-perkara duniawi.<span>  </span>Dan itu artinya jangan berharap bahwa makin setia dan makin sungguh-sungguh kita melayani akan makin harumnya nama kita; makin terjaminnya hidup kita; makin meningkatnya taraf hidup kita.<span>  </span>Justru dalam banyak kasus, makin seseorang melayani dengan setia, makin disalahmengertinya dia; makin dikhianatinya dia, makin dibuangnya dia, dll.<span>  </span>Namun bagi orang-orang percaya yang sejati, semua itu adalah kebahagiaan karena memang tidak ada lagi yang dijadikan sandaran dan harta yang paling berharga kecuali Kristus dan Kerajaan-Nya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;margin:0 0 10pt;"><span style="font-family:Calibri;font-size:small;">Seseorang yang kesukaannya adalah Tuhan dan harta yang paling berharganya adalah Tuhan akan melalui masa-masa kesesakan itu dengan sukacita sebab mereka tahu mereka mengambil bagian dalam penderitaan Kristus, seperti kata Kisah Rasul 5:41:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;margin:0 0 10pt 36pt;"><span style="line-height:150%;font-size:10pt;"><span style="font-family:Calibri;">Rasul-rasul itu meninggalkan sidang Mahkamah Agama dengan gembira, karena mereka telah dianggap layak menderita penghinaan oleh karena Nama Yesus.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;margin:0 0 10pt;"><span style="font-family:Calibri;font-size:small;">Dan itulah semangat Paulus dalam 2Korintus 4:16:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0 0 0 36pt;"><span style="line-height:150%;font-size:10pt;"><span style="font-family:Calibri;">Sebab itu kami tidak tawar hati, tetapi meskipun manusia lahiriah kami semakin merosot, namun manusia batiniah kami dibaharui dari sehari ke sehari.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;margin:0 0 10pt;"><em><span style="text-decoration:underline;"><span style="text-decoration:none;"><span style="font-family:Calibri;font-size:small;"> </span></span></span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Calibri;"><em>Nah</em>, inilah konteks-konteks menyelubungi pokok bahasan soal garam dan terang.<span>  </span>Kalau bisa penulis simpulkan: tidak mungkin seseorang menjadi garam dan terang kalau kebahagiaan sejati satu-satunya dalam hatinya bukan Tuhan dan kalau kerohaniannya adalah kerohanian cap pamer.<span>  </span>Atau kalau bisa penulis balik: hanya orang yang hartanya Tuhan dan yang hatinya tuluslah yang dapat menjadi garam dan terang secara konsisten dan terus-menerus.<span>  </span>Itulah sebabnya mengapa perikop ini dibuka dengan satu kata Yunani yang sebenarnya sangat tegas, “<em>humeis</em>. . . ” (bdk. ay. 14).<span>  </span>Terjemahan lebih tepat dari kata ini adalah, “Kamu, ya hanya kamulah. . . .”<span>  </span>Kata ganti ini menegaskan dua tendensi utama: <em>pertama</em>,<span>  </span>menegaskan bahwa hanya orang-orang yang berkarakter tulus dan mencintai Tuhan yang dapat menjadi garam dan terang; namun <em>kedua</em>, menurut penulis Matius sengaja menggunakan kata yang tegas ini untuk menegaskan sebuah urgensitas yang tidak dapat ditawar-tawar: tanpa kehadiran garam dan terang itu dunia ini akan makin rusak dan makin gelap. Dan Yesus seolah-olah menegaskan bahwa satu-satunya harapan dari selamatnya dunia ini adalah kehadiran orang-orang yang merupakan warga Kerajaan Allah itu.<span>  </span>Penulis pernah membaca sebuah tulisan (kalau tidak salah John Stott) mengatakan, “Kalau dunia ini menjadi rusak dan busuk dan makin gelap, jangan salahkan dunianya.<span>  </span>Yang patut dipertanyakan adalah, ‘Di mana garamnya? Di mana terangnya?”</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;margin:0 0 10pt;"><span style="font-family:Calibri;font-size:small;">Kita sudah mendengar banyak khotbah dan ceramah tentang makna garam.<span>  </span>Dan memang ada sangat banyak makna yang bisa diberikan: memurnikan, mengawetkan, memberi kesuburan, simbol hikmat, bermakna korban/persembahan (Im. 2:13; Yeh. 43:24) dan kovenan (Bil. 18:19; Im. 2:13).<span>  </span>Penulis tidak mau lebih jauh menggali makna-makna ini dan memang keliru kalau kita mau menekankan salah satu saja karena sebenarnya makna garam di sini sangat luas dan dalam; tapi satu hal perlu kita ingat bahwa garam di sini, sederhananya, menekankan hal yang signifikan dan sangat dibutuhkan dunia, seperti sangat dibutuhkannya garam dalam kehidupan sehari-hari.<span>  </span>Artinya, kehadiran orang-orang Kristen sangat dibutuhkan dalam peristiwa-peristiwa riil masyarakat, dalam aspek-aspek yang tampaknya sepele tapi di situ ia mampu memberi penetrasi, dalam hal-hal sederhana tapi dilakukan dengan penuh kesetiaan.<span>  </span>Kehilangan <em>keasinan</em> erat kaitannya dengan dua konteks yang sudah kita bahas di atas.<span>  </span>Di dunia timur dekat kuno keasinan garam dapat hilang apabila garam tersebut bercampur dengan satu jenis senyawa kimia yang lain.<span>  </span>Apa artinya? Hilang keasinan merupakan simbol dari bergeser dan bercampurnya hidup kerohanian seseorang dengan dunia.<span>  </span>Kebahagiaan hidup yang sebelumnya hanya Tuhan berubah.<span>  </span>Kenikmatan dunia mulai memikat dirinya dan hatinya mulai tidak tulus lagi.</span></p>
<p><span style="line-height:115%;font-family:&quot;font-size:11pt;">Dalam Alkitab “terang” merupakan sebuah kata metafor yang sangat penting. 1Yoh.1:5 mengatakan bahwa Allah adalah terang dan dalam Injil Yohanes, Kristus dinyatakan sebagai terang (8:12; 9:5).<span>  </span>Dalam PB, Paulus memperluas makna terang dan merujuk kepada orang-orang percaya (Ef. 5:8) dan Yesaya 42:6; 49:6 mengaitkan Israel sebagai terang yang harus bercahaya di hadapan orang-orang yang tidak mengenal Allah.<span>  </span>Sama seperti metafor garam, terang dalam konteks ini menjelaskan sesuatu yang amat sangat dibutuhkan dalam dunia yang gelap.</span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/perdian.wordpress.com/363/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/perdian.wordpress.com/363/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/perdian.wordpress.com/363/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/perdian.wordpress.com/363/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/perdian.wordpress.com/363/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/perdian.wordpress.com/363/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/perdian.wordpress.com/363/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/perdian.wordpress.com/363/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/perdian.wordpress.com/363/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/perdian.wordpress.com/363/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/perdian.wordpress.com/363/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/perdian.wordpress.com/363/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/perdian.wordpress.com/363/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/perdian.wordpress.com/363/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=perdian.wordpress.com&amp;blog=4384315&amp;post=363&amp;subd=perdian&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://perdian.wordpress.com/2009/05/25/menjadi-garam-dan-terang-dunia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6989482ccfce6ac0bfed9796c9104aa9?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96" medium="image">
			<media:title type="html">perdian1234</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>PASKAH SEBAGAI PERAYAAN POLITIK</title>
		<link>http://perdian.wordpress.com/2009/04/29/paskah-sebagai-perayaan-politik/</link>
		<comments>http://perdian.wordpress.com/2009/04/29/paskah-sebagai-perayaan-politik/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 29 Apr 2009 03:42:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>perdian</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kehidupan Kristen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://perdian.wordpress.com/?p=358</guid>
		<description><![CDATA[Sebuah kebetulan yang istimewa bahwa tahun ini hari paling penting bagi umat Kristen, Paskah, akan dirayakan berdampingan dengan PEMILU, pesta demokrasi lima tahunan di negeri ini. Sekilas, kedua acara ini tidak punya hubungan kait-mengait satu dengan yang lain: yang satu adalah pesta rohani dan yang lain adalah pesta politik. Tapi benarkah demikian?  Menurut tradisi Perjanjian [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=perdian.wordpress.com&amp;blog=4384315&amp;post=358&amp;subd=perdian&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Calibri;"><img class="aligncenter size-full wp-image-361" title="peace" src="http://perdian.files.wordpress.com/2009/04/peace.jpg?w=510" alt="peace"   /></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Calibri;">Sebuah kebetulan yang istimewa bahwa tahun ini hari paling penting bagi umat Kristen, Paskah, akan dirayakan berdampingan dengan PEMILU, pesta demokrasi lima tahunan di negeri ini. Sekilas, kedua acara ini tidak punya hubungan kait-mengait satu dengan yang lain: yang satu adalah <em>pesta rohani</em> dan yang lain adalah <em>pesta politik</em>. Tapi benarkah demikian?<span>  </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:small;font-family:Calibri;">Menurut tradisi Perjanjian Lama, paskah pertama kali dirayakan sebagai pengingatan atas karya ajaib Tuhan yang memerdekakan umat Yahudi dari belenggu perbudakan.<span>  </span>Menurut catatan sejarah Eusebius dari Kaisarea dan catatan Taurat, umat Yahudi ditindas oleh raja Firaun Ramses II selama 430 tahun. Jelas ini bukan sekadar berita yang bernada rohani belaka. Ini adalah sebuah berita politik, bahkan sebuah “perayaan politik” bahwa dibalik kemustahilan yang amat panjang dalam perjalanan hidup sebuah bangsa, ada secercah sinar harapan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:small;font-family:Calibri;">Dalam perkembangan selanjutnya, berita paskah tetap berdampingan erat dengan berita politik.<span>  </span>Lima ratus tahun kemudian (490 M), seorang imam, Ezra, kembali menyerukan perayaan massal Paskah sebagai ungkapan syukur karena bebasnya mereka dari pembuangan Babilonia Baru selama 50 tahun.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Calibri;">Bagaimana dengan Paskah menurut Injil dan Perjanjian Baru?<span>  </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Calibri;">Zaman Yesus merupakan zaman yang secara politik sangat carut marut dan sulit. Lagi-lagi Palestina ada di bawah penjajahan.<span>  </span>Saat itu Romawi menjajah Palestina dan menetapkan status <em>imperial provinces</em>; sebuah status yang diberikan untuk propinsi yang dianggap pembangkang dan mudah memberontak kepada Kaisar.<span>  </span>Zaman Yesus juga adalah zaman multipartai politik, tidak beda dengan kondisi negara kita saat ini. Terlepas dari motivasi keagamaan yang kuat yang mendorong partai-partai ini, sebenarnya masing-masing partai memperjuangkan kemerdekaan negaranya dari penjajahan Romawi dengan cara dan tujuannnya sendiri-sendiri. <span> </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Calibri;">Sayap politik <em>nasionalis</em> yang dimotori kaum Zelot berupaya membebaskan kaum Yahudi dari kaum penjajah dengan kekuatan militer. Kelompok lain yang sangat berpengaruh adalah kelompok Farisi. <span> </span>Kelompok ini memang awalnya merupakan gerakan sosial-keagamaan. Namun seiring perkembangan waktu dan perkembangan yang terjadi dalam kelompok ini, kelompok ini pun pada akhirnya merubah wujud menjadi kelompok (<em>partai</em>) politik bernafas keagamaan.<span>  </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:small;font-family:Calibri;">Disamping dua kelompok di atas, yang merupakan kelompok yang dapat dianggap beroposisi dengan pemerintah dan penjajah Roma saat itu, ada dua kelompok lain yang merupakan kelompok politik pro-pemerintah berkuasa.<span>  </span>Yang pertama adalah kelompok Herodian.<span>  </span>Kelompok ini memang jarang disebutkan dalam Alkitab (lih. Mat. 22:16; Mrk. 3:6; 12:13). Namun dalam kenyataannya kelompok ini adalah kelompok yang kuat karena menjadi penyokong utama dinasti Herodes. Kelompok lainnya berasal dari kalangan agamawan, Saduki.<span>  </span>Kelompok ini adalah penguasa Bait Allah.<span>  </span>Kelompok ini sangat liberal dalam pengajaran dan sangat kompromistis dalam praktik hidup.<span>  </span>Sangat mungkin sikap liberal dan kompromistis mereka disebabkan oleh bantuan yang diberikan Herodes agung untuk merenovasi secara luar biasa Bait Allah saat itu.<span>  </span>Menurut sebuah sumber, Bait Allah yang direnovasi oleh Herodes ini diselesaikan dalam kurun waktu <span> </span>83 tahun!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:small;font-family:Calibri;">Partai-partai yang tetap punya unsur agama (selain Herodian) ini sebenarnya punya satu motivasi yang sama; mengusung teman: <em>No King, but YHWH</em>!” Mereka berjuang demi kemerdekaan dari penjajahan dan ditegakkannya Kerajaan Allah, namun sayangnya tujuan yang kelihatan mulia ini sebenarnya lahir dari motivasi haus akan kekuasaan dan yang akhirnya melegalkan berbagai intrik dan perselingkuhan politik tingkat tinggi.<span>  </span>Ajaran Kitab Suci tentang Kerajaan Allah pun diperkosa, dipelintir dan dianggap sama dengan memiliki kerajaan dunia.<span>  </span>Tidak heran mereka suka menggunakan cara “tangan besi” (bdk. Mrk. 10:42) dan kudeta berdarah-darah untuk mendirikan Kerajaan Allah versi mereka.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:small;font-family:Calibri;">Dalam carut-marut politik inilah sebenarnya berita kebangkitan Kristus menggema.<span>  </span>Tuhan Yesus yang setia melakukan kehendak Bapa-Nya tanpa sedikit pun tergiur dengan godaan untuk menjadi relevan, populer, dan merengkuh pengaruh dan kekuasaan, akhirnya menjadi tumbal dari kompromi<em> </em>politik tingkat tinggi antara Pilatus, Herodes dan para pemimpin parpol-agama Yahudi. Dengan membunuh Yesus, Sang Mesias-utusan Allah yang terjanji, mereka yang hidupnya korup dan manipulatif ini menganggap kekuasaan mereka akan langgeng dan tidak akan mungkin terinterupsi lagi. Dengan kematian Yesus, masyarakat (termasuk para murid), akan berpikir: berakhirlah perjuangan kebenaran melawan kegelapan.<span>  </span>Selamanya kejahatan karena dosa ini akan menguasai bumi yang diciptakan Allah sungguh amat baik ini, dan untuk selamanya pula tidak akan ada harapan untuk pemulihan umat manusia sebab Anak Domba Allah sudah dikalahkan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:small;font-family:Calibri;">Namun kebangkitan membalikkan semua prediksi itu. Kebangkitan menjadi tanda awal dan penting bahwa Allah menghancurkan kematian sebagai <em>senjata pamungkas kejahatan</em>, seperti yang dikatakan <span> </span>Tom Wright dengan sangat indah: “<em>Death is the final weapon of the tyrant, or, for that matter for the anarchist, and </em>resurrection indicates that this weapon doesn’t have the last word.” Kebangkitan juga menjadi tanda penting bahwa Allah sedang berurusan dan menantang semua kekuatan dan kuasa dunia ini yang merasa <em>lebih tahu</em> untuk membarui dunia ciptaan-Nya ini. Kebangkitan bukan hanya menyatakan bahwa kejahatan dan maut sebagai buahnya tidak punya kuasa apa-apa, tapi juga sekaligus memberikan harapan pasti bahwa satu kali kelak Allah akan sungguh-sungguh membebaskan, membarui dunia ini dan mengakhiri segala kejahatan yang ada di dalamnya. <span> </span>Berita kebangkitan bukan hanya berita rohani.<span>  </span>Berita kebangkitan Kristus adalah berita politik yang memberitakan pembebasan kepada yang tertindas dan terjajah, sekaligus menantang semua bentuk penjajahan yang dilakukan orang-orang yang merasa berhak menguasai dan mengatur manusia kepunyaan Allah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:small;font-family:Calibri;">Pada akhirnya berita kebangkitan adalah berita kontroversial yang menantang setiap orang yang percaya kepada-Nya untuk berani bertindak dan berani bersikap. Berita yang menggemakan bahwa ada pengharapan akan pembebasan tuntas Allah untuk dunia ini seharusnyalah memberi kita sukacita dan asa untuk giat bekerja bagi Allah, tanpa takut, bukan hanya di balik tembok-tembok Gereja yang rohani, tapi juga di dalam semua sektor kehidupan bermasyarakat yang jauh dari kesan rohani.<span>  </span>Tempat-tempat gelap yang tidak berpengharapan itu membutuhkan kehadiran Kristus yang bangkit. Dunia yang sekarat dan tertindas ini membutuhkan berita kebangkitan Kristus dan membutuhkan saksi-saksi kebangkitan-Nya yang bukan hanya pandai bicara tapi juga yang berani hidup dalam kekudusan yang radikal, tanpa kompromi.</span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/perdian.wordpress.com/358/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/perdian.wordpress.com/358/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/perdian.wordpress.com/358/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/perdian.wordpress.com/358/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/perdian.wordpress.com/358/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/perdian.wordpress.com/358/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/perdian.wordpress.com/358/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/perdian.wordpress.com/358/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/perdian.wordpress.com/358/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/perdian.wordpress.com/358/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/perdian.wordpress.com/358/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/perdian.wordpress.com/358/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/perdian.wordpress.com/358/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/perdian.wordpress.com/358/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=perdian.wordpress.com&amp;blog=4384315&amp;post=358&amp;subd=perdian&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://perdian.wordpress.com/2009/04/29/paskah-sebagai-perayaan-politik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6989482ccfce6ac0bfed9796c9104aa9?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96" medium="image">
			<media:title type="html">perdian1234</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://perdian.files.wordpress.com/2009/04/peace.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">peace</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>MEMAKNAI TAHUN BARU DALAM PERSPEKTIF ROSH-HASSANAH YAHUDI</title>
		<link>http://perdian.wordpress.com/2009/02/01/memaknai-tahun-baru-dalam-perspektif-rosh-hassanah-yahudi/</link>
		<comments>http://perdian.wordpress.com/2009/02/01/memaknai-tahun-baru-dalam-perspektif-rosh-hassanah-yahudi/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 01 Feb 2009 16:28:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>perdian</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kehidupan Kristen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://perdian.wordpress.com/?p=352</guid>
		<description><![CDATA[Imamat 23:23-25; Bilangan 10:10 I Saya tertarik melihat kalender dalam kurun waktu penghujung tahun 2008 sampai awal tahun 2009.Setidak-tidaknya ada “tiga kali” tahun baru dalam waktu yang tidak terlalu berjauhan.Yang saya maksudkan dengan tiga kali tahun baru adalah Tahun Baru Muharram (Islam), Tahun Baru Masehi dan Tahun Baru Imlek (Cina).Luar Biasa!Artinya sangat mungkin ada manusia [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=perdian.wordpress.com&amp;blog=4384315&amp;post=352&amp;subd=perdian&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em><span style="font-size:12pt;line-height:115%;"><span style="font-family:Calibri;">Imamat 23:23-25; Bilangan 10:10</span></span></em></p>
<p><em><span style="font-size:12pt;line-height:115%;"><span style="font-family:Calibri;"><img class="aligncenter size-medium wp-image-355" title="chinese-new-year-in-singapore" src="http://perdian.files.wordpress.com/2009/02/chinese-new-year-in-singapore.jpg?w=300&#038;h=195" alt="chinese-new-year-in-singapore" width="300" height="195" /><br />
</span></span></em></p>
<p><strong><span style="font-size:12pt;line-height:150%;">I</span></strong></p>
<p><span style="font-size:12pt;line-height:150%;">Saya tertarik melihat kalender dalam kurun waktu penghujung tahun 2008 sampai awal tahun 2009.Setidak-tidaknya ada “tiga kali” tahun baru dalam waktu yang tidak terlalu berjauhan.Yang saya maksudkan dengan tiga kali tahun baru adalah Tahun Baru <em>Muharram</em> (Islam), Tahun Baru Masehi dan Tahun Baru Imlek (Cina).Luar Biasa!Artinya sangat mungkin ada manusia di bumi ini yang merayakan tahun baru lebih dari satu kali dan tentu bahkan ada yang dalam kurun waktu yang tidak terlalu panjang merayakan tiga kali tahun baru!</span></p>
<p><span style="font-size:12pt;line-height:150%;">Budaya Alkitab (dalam hal ini yang terjadi dengan orang-orang Yahudi) pun punya budaya tahun baru.Salah satunya dijelaskan oleh dua teks di atas.</span></p>
<p><strong><span style="font-size:12pt;line-height:150%;">II</span></strong></p>
<p><span style="font-size:12pt;line-height:150%;">Dari konteksnya kita dapat mengerti bahwa teks ini sedang membicarakan perihal beberapa hari-hari raya penting orang Yahudi: Hari raya Paskah (ay. 5), Hari Raya Roti Tidak Beragi (ay. 6), Hari Raya meniup serunai (ay. 24), Hari Raya Pendamaian (ay. 28), dan Hari Raya Pondok Daun (ay. 34).Hari-hari raya ini dapat dikatakan sebagai hari-hari raya yang paling penting bagi orang Yahudi.Hari Raya yang pada akhirnya menjadi cikal bakal Hari Raya Tahun Baru (<em>Rosh-Hassanah</em>) bagi orang Yahudi adalah Hari Raya meniup Serunai.Hari tersebut (<em>hari pertama bulan ketujuh</em>) dianggap sebagai hari yang paling sakral dalam satu tahun sebab angka tujuh adalah angka yang sangat penting (angka Allah) bagi orang Israel.Itulah sebabnya oleh orang-orang Yahudi saat ini hari tersebut disebut sebagai <em>Rosh-Hassanah</em> (<em>Rosh</em> = <em>head</em>; kepala dan <em>Hassanah</em> = <em>year</em>; tahun) atau dapat dikatakan hari yang paling tinggi (pemuncak) dari satu tahun.</span></p>
<p><span style="font-size:12pt;line-height:150%;">Bagi orang Yahudi sendiri Tahun Baru (<em>Rosh-Hassanah</em>) bukanlah hari untuk berfoya-foya seperti kebiasaan banyak orang saat merayakan malam pergantian tahun baru.Kalau kita perhatikan dengan seksama teks kita ini maka ada beberapa hal penting yang menjadi makna tahun baru bagi orang-orang Yahudi.</span></p>
<p><span style="font-size:12pt;line-height:150%;">Makna pertama diberikan oleh simbol meniup serunai (ibr. <em>showpaar</em>).Dalam Bilangan 10:10, meniup nafiri/terompet dikaitkan dengan tindakan untuk “mengingatkan” Tuhan akan Perjanjian (kovenan) yang diikat-Nya dengan umat-Nya:</span></p>
<p><em>Juga pada hari-hari kamu bersukaria, pada perayaan-perayaanmu dan pada bulan-bulan barumu haruslah kamu meniup nafiri itu pada waktu mempersembahkan korban-korban bakaranmu dan korban-korban keselamatanmu; maksudnya supaya kamu diingat di hadapan Allahmu; Akulah TUHAN, Allahmu</em>.</p>
<p><span style="font-size:12pt;line-height:150%;">Istilah “mengingatkan” mungkin perlu sedikit kita klarifikasi.Istilah “mengingat” sendiri sebenarnya memiliki dua arti.<em>Pertama</em>, “mengingat” dapat diartikan sebagai sebuah aktivitas mental yang dilakukan oleh otak dengan mencoba untuk memanggil kembali informasi yang tersimpan di otak karena mungkin informasi tentang hal tersebut sudah tertumpuk dengan informasi yang baru.Bahasa praktisnya, “mengingat” terjadi karena lupa.<em>Kedua</em>, mengingat dapat diartikan sebagai sebuah tindakan “mengenang.”Contoh: Tugu pahlawan didirikan untuk mengingatkan kita akan jasa para pahlawan.</span></p>
<p><span style="font-size:12pt;line-height:150%;">Dalam konteks Bilangan 10:10 ini tentu bukan definisi pertama ini yang dimaksudkan.Tuhan tentu tidak pelupa seperti manusia.Dalam Mzm. 103:2 (Ul. 6:12) pemazmur menghimbau jiwanya untuk tidak <em>melupakan</em> Tuhan.Dari mazmur ini kita tentu dapat mengerti bahwa “lupa” (pada Tuhan) pasti adalah sifat yang buruk yang pasti tidak ada pada Tuhan!Dalam konteks ini lebih cocok kita mengartikan mengingat di sini sebagai “mengenang.” Mengenang apa? Saya yakin “mengingat” di sini tentu berkaitan dengan mengenang <em>ikatan perjanjian</em> yang terjadi antara YHWH dengan Israel; ikatan perjanjian ajaib yang di satu sisi membuat Israel menjadi umat kesayangan tapi disisi lain ikatan ini sekaligus mengandung tanggung jawab bahwa Israel adalah bangsa yang dipilih TUHAN untuk memberitakan terang bagi bangsa-bangsa. Perhatikan pembaruan kovenan yang dilakukan Asa yang salah satu aktivitasnya adalah meniup serunai/nafiri (2Taw. 15:14) atau yang dilakukan Hizkia (2Taw. 20:26-28; bdk. Ezr. 3:10). Ikatan perjanjian ini adalah ikatan yang di dalamnya terdapat janji-janji Allah bahwa Ia akan memberkati, melindungi dan menaungi Israel namun sekaligus dibarengi perintah agar Israel setia untuk berpaut kepada Dia, mengasihi Dia dengan segenap hati, segenap jiwa dan segenap kekuatan, dan tidak menyembah ilah lain selain Dia. Itulah sebabnya saya lebih suka terjemahan versi bahasa Inggris untuk ayat ini, “. . . <em>and they will be <strong>a memorial</strong> for you before your God. I am the LORD your God</em>.”Artinya pada saat orang-orang Israel meniup nafiri atau serunai pada tahun baru mereka, mereka dihimbau—<em>oleh Tuhan sendiri</em>, demi janji-janji yang sudah Ia ikrarkan dalam ikatan kovenan—untuk memberanikan diri berseru meminta penyertaan Tuhan sesuai dengan janji-Nya, tanpa ragu dan tanpa takut.Tapi di sisi lain tindakan meniup serunai/nafiri ini sekaligus menantang mereka untuk berani mengoresi dan mengevaluasi secara kritis sikap mereka terhadap Allah.Betulkah hanya Allah yang mereka sembah?Betulkah Allah sungguh-sungguh mereka taati dan mereka kasihi dengan segenap hati, segenap jiwa dan dengan segenap kekuatan?Ataukah sebenarnya ada sesembahan lain, ilah lain, berhala lain yang secara diam-diam menyeruak masuk dalam hati dan hidup mereka dan mengambil bagian yang penting tanpa mereka sadari. Jangan-jangan tindakan meminta pertolongan kepada Tuhan hanyalah sebuah alternatif (bukan satu-satunya cara) yang kita lakukan untuk mencari pertolongan. Dalam Alkitab ada banyak tokoh-tokoh seperti ini diceritakan.Tentu kita tidak akan lupa dengan Saul.Pada satu sisi dia meminta pertolongan Tuhan tapi pada sisi lain ia juga datang kepada peramal.Atau dengan umat Israel pada masa Hakim-hakim.Pada saat seorang Hakim memerintah atas mereka, mereka begitu setia kepada Tuhan.Tapi ketika Hakim tersebut mati, seketika itu pula hati mereka beralih kepada berhala-berhala.</span></p>
<p><span style="font-size:12pt;line-height:150%;">Pada saat saya merenungkan bagian ini saya saya melihat terdapat sebuah pengertian teologi “tahun baru” yang sangat indah dari kitab suci.Di satu sisi, pada tahun baru umat bukan hanya disarankan atau dihimbau untuk meminta pertolongan kepada Tuhan.Dari tradisi meniup serunai/nafiri, menurut saya, umat bahkan diharuskan <strong><em>oleh Tuhan</em></strong> untuk meminta pertolongan-Nya; umat diminta mengundang intervensi-Nya atas segala masalah dan pergumulan hidup yang dihadapi umat.Meminta pertolongan kepada Tuhan pada “tahun baru” bukanlah tindakan yang egois.Saya tegaskan di sini, meminta pertolongan kepada Tuhan pada tahun baru adalah tindakan yang sangat Alkitabiah, sebab Tuhan sendiri memintanya dari kita.Tetapi itu bukanlah seluruh kebenaran dari teologi “tahun baru” Alkitab.Di sisi lain, tradisi meniup serunai/nafiri untuk meminta tolong kepada Tuhan menurut saya adalah sebuah tindakan yang sangat berani.Berani, karena dengan meminta tolong kepada TUHAN Allah Israel berarti saya berani mengatakan bahwa tidak ada pertolongan lain yang lebih melegakan dan lebih sempurna selain yang dilakukan oleh DIA.Dan itu sekaligus secara otomatis berarti bahwa saya tidak akan pernah mencari pertolongan lain, bersandar kepada ilah/allah lain, semenarik apa pun dan semenjanjikan apa pun allah itu, kecuali kepada Tuhan; saya tidak akan pernah mencari jalan pintas untuk keluar dari pergumulan saya dengan menyembah ilah lain dan menyimpan sesuatu berhala.Saya mau tetap berharap kepada Tuhan meskipun kelihatannya jalan yang Ia tawarkan bukanlah jalan yang saya inginkan sambil tetap percaya bahwa apapun yang Ia berikan dan kerjakan dalam hidup saya adalah yang terbaik dan yang terindah!Inilah alasan saya mengatakan bahwa meminta tolong kepada Tuhan adalah sekaligus sebuah tindakan yang berani.</span></p>
<p><strong><span style="font-size:12pt;line-height:150%;">III</span></strong></p>
<p><span style="font-size:12pt;line-height:150%;">Saya tertarik dengan seorang penafsir yang memberi tema Bilangan 10 ini, <em>The Signal For the Journey</em>.Kalau kita perhatikan konteks dekat dari pasal 10 ini (yakni pasal 9:15-23) yang bercerita tentang tiang awan yang akan memimpin perjalanan musafir Israel dari Sinai ke Kanaan maka tampaknya teks pasal 9-10 ini memang secara khusus membahas persiapan-persiapan terakhir orang Israel sebelum melanjutkan perjalan dari Sinai ke Kanaan (perhatikan judul perikop 10:11-36).Dan tentu perjalanan yang akan mereka tempuh bukanlah perjalanan yang mudah.Bayangkan mereka adalah bangsa yang besar sebagai budak di Mesir (bukan prajurit) dan harus melakukan perjalanan penuh risiko di padang gurun yang kering kerontang, yang tentu penuh dengan banyak orang jahat.Dalam konteks tantangan dan risiko yang sangat besar yang sedang menanti di depan sanalah persiapan seperti inilah perihal meniup serunai/nafiri diberikan. Satu-satunya harapan mereka dalam kondisi seperti ini tentu hanya Tuhan, tidak ada yang lain.Dan memang inilah keinginan Tuhan.</span></p>
<address> </address>
<address><span style="font-size:12pt;line-height:150%;">Dalam kisah-kisah Israel selanjutnya, tradisi meniup serunai/nafiri tetap dilakukan, bukan hanya pada saat Israel menghadapi tantangan dan pergumulan (2Taw. 13:12, 14; 20:28) tapi juga dalam hal-hal yang tampaknya aman seperti dilakukan dalam ibadah (1Taw. 13:8; 15:28; 16:42; 2Taw. 7:6; Mzm. 98:6).Artinya, pengakuan kita kepada Tuhan bahwa hanya Ialah penolong yang setia bukan hanya pada saat-saat sulit tapi dalam setiap keadaan.</span></address>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/perdian.wordpress.com/352/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/perdian.wordpress.com/352/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/perdian.wordpress.com/352/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/perdian.wordpress.com/352/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/perdian.wordpress.com/352/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/perdian.wordpress.com/352/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/perdian.wordpress.com/352/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/perdian.wordpress.com/352/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/perdian.wordpress.com/352/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/perdian.wordpress.com/352/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/perdian.wordpress.com/352/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/perdian.wordpress.com/352/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/perdian.wordpress.com/352/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/perdian.wordpress.com/352/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=perdian.wordpress.com&amp;blog=4384315&amp;post=352&amp;subd=perdian&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://perdian.wordpress.com/2009/02/01/memaknai-tahun-baru-dalam-perspektif-rosh-hassanah-yahudi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6989482ccfce6ac0bfed9796c9104aa9?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96" medium="image">
			<media:title type="html">perdian1234</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://perdian.files.wordpress.com/2009/02/chinese-new-year-in-singapore.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">chinese-new-year-in-singapore</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>MENGAPA SAYA DITEMPATKAN DI MASA SUKAR?: SEBUAH REFLEKSI AWAL TAHUN</title>
		<link>http://perdian.wordpress.com/2009/01/03/mengapa-saya-ditempatkan-di-masa-sukar-sebuah-refleksi-awal-tahun/</link>
		<comments>http://perdian.wordpress.com/2009/01/03/mengapa-saya-ditempatkan-di-masa-sukar-sebuah-refleksi-awal-tahun/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 03 Jan 2009 06:48:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>perdian</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kehidupan Kristen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://perdian.wordpress.com/?p=345</guid>
		<description><![CDATA[Kalau bisa diberi tema, maka mungkin tema yang cocok untuk tahun 2008 adalah tahun  krisis.  Krisis BBM dan pangan yang sempat merebak di awal sampai pertengahan tahun, ditutup dengan gong krisis ekonomi global yang tidak sekadar memporak-porandakan struktur ekonomi dunia tapi juga merembet dan menciptakan krisis-krisis di sektor kehidupan yang lain.  Tahun ini (2009) kita [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=perdian.wordpress.com&amp;blog=4384315&amp;post=345&amp;subd=perdian&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Calibri;"><img class="alignleft size-full wp-image-347" title="helmet-of-peace" src="http://perdian.files.wordpress.com/2009/01/helmet-of-peace.jpg?w=510" alt="helmet-of-peace"   />Kalau bisa diberi tema, maka mungkin tema yang cocok untuk tahun 2008 adalah <em>tahun <span> </span>krisis</em>.<span>  </span>Krisis BBM dan pangan yang sempat merebak di awal sampai pertengahan tahun, ditutup dengan <em>gong</em> krisis ekonomi global yang tidak sekadar memporak-porandakan struktur ekonomi dunia tapi juga merembet dan menciptakan krisis-krisis di sektor kehidupan yang lain.<span>  </span>Tahun ini (2009) kita juga dibuat was-was dengan konstelasi politik yang makin memanas jelang PEMILU legislatif dan Presiden, sebab fakta rusuh PILKADA di beberapa propinsi dan kabupaten tidak bisa dianggap perkara sepele. Yang paling merasakan imbasnya tentu rakyat kecil dan miskin yang makin hari makin bertambah banyak dan makin sedikit mendapatkan akses terhadap rasa keadilan yang menyejahterakan.<span>  </span>Kita tentunya bertanya-tanya mengapa Tuhan menempatkan kita untuk hidup di zaman yang serba sulit dan mengerikan seperti sekarang ini?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Calibri;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Calibri;">Kalau kita mau sebentar melihat sejarah maka sebenarnya keadaan dunia pada masa Yesus tidaklah sebaik saat ini.<span>  </span>Kondisi dunia saat itu bahkan mungkin jauh lebih buruk dan jauh lebih mengerikan.<span>  </span>Perlu diperhatikan saat itu belum ada badan dunia semacam PBB yang dapat mencegah timbulnya tindakan-tindakan <em>pendzoliman</em> satu negara terhadap negara lain; menciptakan dan mendorong perdamaian dunia.<span>  </span><em>Universal Declaration of Human Rights</em> (Pernyataan Universal tentang HAM) yang menjamin hak-hak semua manusia secara setara sejak ia dilahirkan tanpa memandang SARA pun belum terbit.<span>  </span>Belum ada UU KDRT dan perlindungan anak yang menjamin kesetaraan <em>gender</em> dan mencegah tindakan anarkis kaum berkuasa terhadap kaum lemah.<span>  </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Calibri;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Calibri;">Pada zaman Yesus kondisi ekonomi di Palestina sangat buruk. 90 persen masyarakat hidup di bawah garis kemiskinan karena bekerja sebagai buruh kasar dan hanya sekelompok kecil <span> </span>kaum elit menikmati kekayaan yang melimpah karena koneksi tingkat tinggi dengan politik (termasuk para imam Saduki di Bait Allah).<span>  </span>Belum lagi sistem cukai yang begitu korup, sangat mencekik hidup mayoritas rakyat jelata (ibrani: <em>‘am ha eretz</em>) saat itu. Saat itu dunia dipimpin oleh Kerajaan yang (mungkin) paling besar sekaligus paling kejam sepanjang sejarah dunia, Roma. Para raja wilayah pun tidak kalah bengisnya.<span>  </span>Herodes Agung, si psikopat gila hormat dan suka <em>negatif thinking</em> ini <span>tega membunuh 2 dari 10 istrinya, setidaknya 3 anak laki-lakinya tewas di tangannya, juga seorang ipar dan kakek seorang isterinya tewas dibantainya.<span>  </span>Bahkan ketika ia tahu bahwa menjelang ia mangkat banyak orang akan bersukacita atas kematiannya (karena bebas dari pemerintah tirannya), ia memerintahkan anggotanya untuk menangkap para pemimpin orang Yahudi saat itu dan membantai mereka di tempat umum.<span>  </span>Ia memang tahu bahwa tidak akan ada orang yang berduka atas kematiannya tapi<span>  </span>ingin supaya ada orang yang berduka pada saat ia mati, karena itulah ia melakukan tindakan gila ini.<span>  </span>Dalam Matius 2 kita juga tahu bahwa akhirnya Tuhan dan kedua orang tua jasmaniahnya pun terancam oleh raja gila ini!<span>  </span></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Calibri;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Calibri;">Tetapi menarik untuk memperhatikan apa yang dicatat Galatia 4:4, “Tetapi setelah genap waktunya, maka Allah mengutus Anak-Nya, yang lahir dari seorang perempuan dan takluk kepada hukum Taurat.” Kami suka dengan terjemahan LAI BIS, “<em>Tetapi pada saatnya yang tepat</em>, Allah mengutus Anak-Nya ke dunia. Anak-Nya itu dilahirkan oleh seorang wanita dan hidup di bawah kekuasaan hukum agama.”<span>  </span>Ada yang agak janggal di sini.<span>  </span>Kalimat awal yang menegaskan keterangan waktu tesebut menunjukkan bahwa Allah justru mengirimkan Anak-Nya yang tunggal, yang sangat dikasihi-Nya (Yoh. 1:14, 18; 3:18; 3:35; 5:20) dalam situasi yang paling sulit dan mungkin paling berat dalam sepanjang sejarah umat manusia, dan itu adalah waktu yang paling tepat! <span> </span>Ya, seperti-Nya Allah <em>sengaja</em> menempatkan Anak-Nya dalam situasi yang sulit dan tidak mudah. Mengapa? Kami tertarik dengan ayat yang sangat terkenal dari Matius 20:28 yang menurut kami merupakan inti dari Injil Matius, “sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.&#8221;<span>  </span>Ya, Sang Kristus justru hadir dalam krisis sebab di sanalah banyak orang yang perlu dibebaskan, dimerdekakan, dipulihkan, disembuhkan dan mendengar kabar baik bahwa Allah tetap peduli dan mengasihi mereka (Luk. 4:18-19).<span>  </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Calibri;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Calibri;">Bagaimana dengan kita sebagai orang-orang yang terpanggil melayani Dia?<span>  </span>Kami teringat dengan Yohanes 12:26, “Barangsiapa melayani Aku, ia harus mengikut Aku dan di mana Aku berada, di situpun pelayan-Ku akan berada. Barangsiapa melayani Aku, ia akan dihormati Bapa.”<span>  </span>Ya, kalau di atas telah kita lihat bagaimana Bapa <em>sengaja</em> menempatkan Yesus di tengah krisis maka lewat ayat ini maka tampaknya Yesus pun <em>sengaja</em> ingin kita berada di tempat-tempat krisis.<span>  </span>Artinya, jika kita ingin melayani Dia, kita harus ikut ke mana pun Ia memimpin kita dan di tempat Dia berada (yang tentunya adalah tempat-tempat di mana krisis ada), di sana pulalah kita harus berada! Jadi, dalam masa krisis ada kebenaran paradoksal yang termuat.<span>  </span>Memang masa ini adalah masa yang sangat sulit dan membuat kita was-was namun masa krisis juga sekaligus merupakan “kesempatan emas” membawa dunia mengenal dan melihat Allah yang mengasihinya.<span>  </span><em>Selamat</em> memasuki krisis dan <em>selamat</em> masuk dalam pelayanan yang sebenarnya. Selamat Tahun Baru, Tuhan memberkati kita!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Calibri;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;text-align:justify;margin:0;"><em><span style="font-size:small;font-family:Calibri;"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;text-align:justify;margin:0;"><em><span style="font-size:small;font-family:Calibri;"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;text-align:justify;margin:0;"><em><span style="font-size:small;font-family:Calibri;"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;text-align:justify;margin:0;"><em><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Calibri;">Cor Meum Tibi Offero Domine,</span></span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;text-align:justify;margin:0;"><em><span style="font-size:small;font-family:Calibri;">Prompte et Sincere</span><a name="_ftnref1" href="http://perdian.wordpress.com/wp-admin/#_ftn1"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><strong><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&quot;">[1]</span></strong></span></span></span></a></em></p>
<div>
<hr size="1" />
<div id="ftn1">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-indent:36pt;margin:0;"><a name="_ftn1" href="http://perdian.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref1"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&quot;">[1]</span></span></span></span></a><span style="font-size:x-small;font-family:Calibri;">Doa John Calvin yang artinya: “<em>Kepada-Mu, Tuhan</em>, <em>kupersembahkan hatiku, dengan tepat dan tulus</em>.” </span></p>
</div>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/perdian.wordpress.com/345/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/perdian.wordpress.com/345/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/perdian.wordpress.com/345/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/perdian.wordpress.com/345/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/perdian.wordpress.com/345/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/perdian.wordpress.com/345/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/perdian.wordpress.com/345/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/perdian.wordpress.com/345/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/perdian.wordpress.com/345/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/perdian.wordpress.com/345/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/perdian.wordpress.com/345/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/perdian.wordpress.com/345/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/perdian.wordpress.com/345/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/perdian.wordpress.com/345/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=perdian.wordpress.com&amp;blog=4384315&amp;post=345&amp;subd=perdian&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://perdian.wordpress.com/2009/01/03/mengapa-saya-ditempatkan-di-masa-sukar-sebuah-refleksi-awal-tahun/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6989482ccfce6ac0bfed9796c9104aa9?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96" medium="image">
			<media:title type="html">perdian1234</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://perdian.files.wordpress.com/2009/01/helmet-of-peace.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">helmet-of-peace</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>KANON PERJANJIAN BARU DAN KEILAHIAN YESUS: SEBUAH RINGKASAN PERENUNGAN</title>
		<link>http://perdian.wordpress.com/2008/12/12/kanon-perjanjian-baru-dan-keilahian-yesus-sebuah-ringkasan-perenungan/</link>
		<comments>http://perdian.wordpress.com/2008/12/12/kanon-perjanjian-baru-dan-keilahian-yesus-sebuah-ringkasan-perenungan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 12 Dec 2008 07:13:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>perdian</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kehidupan Kristen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://perdian.wordpress.com/?p=329</guid>
		<description><![CDATA[  I   Iman orang Kristen tidak hanya berakar dari Perjanjian Lama (PL).  Orang-orang Kristen percaya bahwa kitab-kitab Perjanjian Baru (PB) sama berotoritasnya dengan PL.    Namun akhir-akhir ini ada banyak ajaran baru yang menghembuskan isu bahwa kekristenan yang hadir saat ini bukanlah kekristenan yang historical (menyejarah).  Artinya kekristenan saat ini adalah produk dari berbagai [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=perdian.wordpress.com&amp;blog=4384315&amp;post=329&amp;subd=perdian&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:0;" align="center"><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:small;"><img class="aligncenter size-full wp-image-343" title="gospels3" src="http://perdian.files.wordpress.com/2008/12/gospels3.jpg?w=510" alt="gospels3"   /> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:0;" align="center"><strong><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:small;">I</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:0;" align="center"><strong><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:small;"> </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:&quot;" lang="SV"><span style="font-size:small;">Iman orang Kristen tidak hanya berakar dari Perjanjian Lama (PL).<span>  </span>Orang-orang Kristen percaya bahwa kitab-kitab Perjanjian Baru (PB) sama berotoritasnya dengan PL.<span>  </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:&quot;" lang="SV"><span style="font-size:small;">Namun akhir-akhir ini ada banyak ajaran baru yang menghembuskan isu bahwa kekristenan yang hadir saat ini bukanlah kekristenan yang <em>historical</em> (menyejarah).<span>  </span>Artinya kekristenan saat ini adalah produk dari berbagai motivasi entah itu motivasi politik, sosial,<span>  </span>ekonomi dan budaya.<span>  </span>Kekristenan yang ada saat ini tidak orisinil lagi; ia tidak lagi berakar pada perihal religius yang menjadi motivasi utama kekristenan mula-mula.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:&quot;" lang="SV"><span style="font-size:small;">Ada dua isu utama yang menjadi keberatan dari kalangan-kalangan tersebut: soal kanon PB dan soal Yesus, yang keduanya seperti kepingan mata uang yang tidak dapat dipisahkan.<span>  </span>PB tidak akan pernah ada tanpa Yesus dan Yesus semakin efektif diberitakan dan diproklamasikan tanpa kanon PB.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:&quot;" lang="SV">Tulisan pendek ini merupakan rangkuman keprihatinan, pergumulan dan upaya penulis dalam memaknai isu-isu kontemporer tentang PB, khususnya isu tentang kanon Perjanjian Baru dan Yesus ketika sedang mengikuti studi orientasi staf</span><span style="font-family:&quot;"> Perkantas, Juni-Juli 2007,</span><span style="font-family:&quot;" lang="SV"> khususnya di kelas Pengantar Perjanjian Baru.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:&quot;" lang="SV"><span>            </span></span><span style="font-family:&quot;"></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:0;" align="center"><strong><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:small;">II</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:0;" align="center"><strong><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:small;"> </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:&quot;" lang="SV">Satu hal yang paling merisaukan saat ini bagi kekristenan adalah serangan-serangan terhadap Kanon PB. <span> </span>Ditemukannya Injil Yudas, misalnya, menjadi salah satu tren yang membuat banyak orang mulai memandang miring kanon-kanon PB yang diyakini Gereja purba sebagai kitab suci. </span><span style="font-family:&quot;" lang="EN-ID">Dampaknya, orang mulai menyangsikan kalau kanon yang dipercayai orang Kristen saat ini adalah yang juga dipercayai sebagai kanon oleh para rasul.<span>  </span>Contoh sederhananya adalah banyak orang yang mulai berpikir bahwa kitab-kitab Injil berasal dari tahun yang lebih muda (<em>late date</em>) dibanding dengan kitab-kitab Injil gnostik seperti Injil Thomas, Injil Barnabas dan Injil Yudas.<span>  </span>Namun mungkin orang-orang Kristen sekarang ini akan bertanya, ”Apa masalah yang terjadi kalau kitab-kitab Injil itu dimasukkan di dalam Kanon?”<span>  </span>Tentu saja substansi yang berbedalah yang membuat kitab-kitab gnostik tidak dimasukkan dalam Kanon.<span>  </span>Kitab-kitab gnostik sangat skeptis dengan natur ilahi dan kemanusiaan Yesus.<span>  </span>Namun serangan dari pihak yang pro Injil gnostik mengatakan bahwa Kanon Kristen yang ada sekarang ini adalah hasil rekayasa dan kesepakatan sepihak Gereja Roma yang dipakai bagi kepentingan politik, khususnya oleh Kaisar Konstantinopel untuk menjaga stabilitas politik dan keamanan negaranya.<span>  </span>Benarkah demikian adanya? Apakah memang pada awalnya komunitas Kristen purba sebenarnya juga turut mengakui kitab-kitab gnostik sebagai Kanon?<span>  </span>Apa sebenarnya standarisasi Kanon?<span>  </span>Apakah hasil keputusan konsili atau memang kitab-kitab tersebut sudah lama diakui sebagai otoritas oleh gereja purba?</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:&quot;" lang="EN-ID"><span style="font-size:small;">Pada dasarnya Yesus, Para Rasul dan orang-orang sezaman mereka mempercayai secara bulat bahwa PL adalah kitab suci dan kanon mereka.<span>  </span>Yesus sering mengutip PL dalam pengajaran-Nya (Mrk. 10:6-12; 12:36); bahkan Ia juga dengan lantang dan tegas menyatakan bahwa PL adalah kitab suci yang pasti tergenapi dan tidak mungkin gagal (Mat. 5:17-19; 26:54; Luk. 22:37; Yoh. 10:35).<span>  </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:&quot;" lang="EN-ID">Para Rasul pun mengakui hal yang sama.<span>  </span>Lihat saja Kisah Para Rasul 1:16 dan Roma 3:2 (Paulus); Kisah Para Rasul 7:38 (Stefanus); Yakobus 4:5 (Yakobus).<span>  </span>Baik Yesus, para rasul dan orang-orang Yahudi sezaman mereka melihat bahwa PL merupakan nubuatan bagi kehadiran seorang Mesias yang akan menggenapi seluruh isi PL itu sendiri.</span><span style="font-family:&quot;"></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:&quot;" lang="SV">Bagaimana dengan orang-orang Kristen awal?<span>  </span>Bagi orang-orang Kristen yang sudah menyaksikan karya Yesus, kematian dan kebangkita (baca: kemenangan) Yesus, otoritas satu-satunya bukanlah sekadar PL tapi Yesus Kristus yang telah mati, bangkit dan naik ke surga itu, yang merupakan penggenapan nubuatan PL. Lihat saja apa yang sering dikhotbahkan para rasul, bukan PL melainkan Yesus Kristus yang adalah penggenapan apa yang sudah disampaikan di dalam PL.<span>  </span></span><span style="font-family:&quot;" lang="EN-US">Bahkan Dr. Bruce Metzer, seorang teolog PB yang sangat dihormati di dunia mengatakan, ”<em>and who, in doing this, had given authoritative pronouncements concerning what is the true and most profound meaning of the Old Testament</em> (Matt. 5:21-28; Mark. 10:2).”<a name="_ftnref1" href="http://perdian.wordpress.com/wp-admin/#_ftn1"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="EN-US">[1]</span></span></span></span></a><span>  </span>Itulah sebabnya kita tidak perlu heran kalau pada akhirnya dalam kehidupan Gereja mula-mula perkataan Yesus sering disimpan dan dikutip, disandingkan dengan PL dan dianggap memiliki otoritas yang sama (bahkan lebih) daripada PL (Kis. 20:35; 1Kor. 7:10, 12; 9:14; 1Tim. 5:18). Serupa dengan ucapan-ucapan Yesus yang disimpan dan yang beredar itu, pengajaran dan penafsiran para rasul berkenaan dengan kehidupan, karya, pelayanan dan pribadi Yesus Kristus memiliki peran yang signifikan bagi Gereja mula-mula.<span>  </span>Itulah sebabnya mengapa perkataan-perkataan Yesus dan pengajaran para rasul menempati posisi yang istimewa dan berotoritas di kalangan jemaat mula-mula. Surat-surat para rasul ini bahkan sering dibacakan dalam kebaktian-kebaktian jemaat! (Kol. 4:16; 1Tes. 5:27; Why. 1:3).</span><span style="font-family:&quot;" lang="EN-ID"></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:&quot;" lang="SV">Fakta ini makin diperkuat oleh beberapa dokumen yang bernama <em>Apostolic Fathers</em>. <em>Apostolic Fathers</em> adalah tulisan-tulisan yang dibukukan oleh para pemimpin-pemimpin Gereja mula-mula paska para rasul dalam rangka mengajar dan mendidik jemaat.<span>  </span>Tulisan tertua dari <em>Apostolic Fathers</em> ini adalah karya Clement dari Roma, yang ditulis sekitar tahun 96 M.<span>  </span>Di dalamnya selain mengutip PL, Clement juga mengutip bagian dari surat pertama Paulus kepada jemaat di Korintus.<span>  </span>Ia juga menyinggung satu atau dua surat rasul Paulus yang lain.<span>  </span>Kutipan ini juga menunjukkan bahwa sebuah kopi dari surat Paulus yang telah ditulis pada akhir tahun 50-an di bagian Yunani telah adalah di Roma pada tahun 96!<span>  </span>Selain itu masih banyak <em>Apostolic Fathers </em>yang lain yang menunjukkan bahwa jauh sebelum konsili-konsili Gereja digelar, bagian-bagian PB yang sekarang ini menjadi kanon, telah diakui, disepadankan dan bahkan dianggap berotoritas sebagaimana PL oleh Gereja mula-mula (Surat kepada Barnabas [125 M]; Hermas, <em>The Shepherd</em> [abad 2-3 M]; Justinus Martir, <em>First Apology</em> [155 M]; Tatian, <em>Diatessaron</em> [170M]; Irenaeus,<span>  </span>Against Heresies).<span>  </span></span><span style="font-family:&quot;">Sebagai contoh, c</span><span style="font-family:&quot;" lang="SV">oba perhatikan kutipan surat yang ditulis oleh Polikarpus</span><span style="font-family:&quot;"> (69-155 M)</span><span style="font-family:&quot;" lang="SV">, seorang Uskup di Smirna</span><span style="font-family:&quot;">,</span><span style="font-family:&quot;" lang="SV"> kepada jemaat Filipi</span><span style="font-family:&quot;"> yang sangat mirip dengan pesan Paulus dalam 2Timotius 3:16:</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 0 36pt;"><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 0 36pt;"><em><span style="font-size:small;"><span style="font-family:&quot;" lang="SV">For neither I, nor any other such one, can come up to the wisdom of</span><span style="font-family:Times New Roman;"> the blessed and glorified <span>Paul</span>. He, when among you, accurately and stedfastly taught the word <span>of</span> truth in the presence <span>of</span> those who were then alive. And when absent from you, he wrote you a <span>letter</span> which, if you carefully study, you will find to be the means <span>of</span> building you up in that faith which has been given you, and which, being followed by hope, and preceded by love towards God, and Christ, and our neighbour, “is the mother <span>of</span> us all.”<span>        </span></span></span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><em><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:small;"> </span></span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:&quot;" lang="EN-US"><span style="font-size:small;">Sampai di sini kita dapat menyimpulkan bahwa kanon PB terbentuk secara sendirinya lewat sejarah yang panjang dari Gereja mula-mula, seperti yang dikatakan oleh William Barclay, ”<em>It is the simple truth to say that the New Testament books became canonical because no one could stop them doing so</em>.”</span><a name="_ftnref2" href="http://perdian.wordpress.com/wp-admin/#_ftn2"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="EN-US">[2]</span></span></span></span></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="text-decoration:underline;"><span style="font-family:&quot;"><span style="text-decoration:none;"><span style="font-size:small;"> </span></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="text-decoration:underline;"><span style="font-family:&quot;"><span style="text-decoration:none;"><span style="font-size:small;"> </span></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:0;" align="center"><strong><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:small;">III</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:0;" align="center"><strong><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:small;"> </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:&quot;" lang="SV"><span style="font-size:small;">Isu berikutnya yang sering menjadi perdebatan hangat adalah perihal Yesus.<span>  </span>Tidak kurang dari ajaran-ajaran saksi Yehuwa, Mormonisme, Kristen Tauhid dan kaum Liberal menolak fakta biblis bahwa Yesus adalah Allah.<span>  </span>Inti dari <em>problem of Jesus</em> akhir-akhir ini adalah gugatan terhadap keilahian-Nya.<span>  </span>Semangat pluralisme turut mendorong isu ini menjadi makin hangat.<span>  </span>Tidak heran kalau buku-buku <em>cetek</em> sejenis <em>The Da Vinci Code</em>-nya Dan Brown atau <em>Sejarah Tuhan</em>-nya Karen Amstrong laku keras.<span>  </span>Pembelaan mereka pada intinya sama saja: para rasul dan orang-orang Kristen mula-mula tidak pernah mengakui Yesus sebagai Tuhan. Bahkan ekstremnya, ada yang mengatakan bahwa Yesus sendiri tidak pernah mengakui diri-Nya sebagai Tuhan.<span>  </span>Konsepsi Kristologi seperti yang dipahami kekristenan sekarang ini adalah buah dari politik gereja.<span>  </span>Benarkah kesimpulan ini?</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:&quot;" lang="SV">Kembali kepada keberatan berbagai kalangan, apakah konsep Kristologi yang menyetarakan Yesus dengan Allah adalah hasil rekayasa Gereja dan bukan merupakan kepercayaan yang turut dianut oleh para murid pertama, khususnya para penulis Perjanjian Baru?<span>  </span></span><span style="font-family:&quot;" lang="EN-US">Dalam hal ini N. T. Wright memberikan pandangan yang baik, </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-family:&quot;" lang="EN-US"><span style="font-size:small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 0 36pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="EN-US">“<em>Whatever we say of latter theology, this</em> [<em>Jewish polemic has often suggested that the Trinity and the incarnation, those great pillars of patristic theology</em>, are sheer paganization] <em>is certainly not true of the New Testament</em>. <span style="text-decoration:underline;">Long before</span> <em>the secular philosophy was invoked to describe the inner being of the one God</em> (<em>and the relation of this God to Jesus and to the Spirit</em>), <span style="text-decoration:underline;">a vigorous and very Jewish tradition</span> <em>took the language and imagery of Spirit, Word, Law, Presence</em> (<em>and</em>/<em>or Glory</em>), <em>and Wisdom and developed them in relation to Jesus of Nazareth and the Spirit</em>.<a name="_ftnref3" href="http://perdian.wordpress.com/wp-admin/#_ftn3"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="EN-US">[3]</span></span></span></span></a><span>  </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:0;" align="center"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:&quot;" lang="EN-US"><span style="font-size:small;">Lihat saja bagaimana Yohanes dengan sangat apik memaparkan teologi Firman yang bergantung sepenuhnya atas tradisi hikmat dari Perjanjian Lama.</span><a name="_ftnref4" href="http://perdian.wordpress.com/wp-admin/#_ftn4"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="EN-US">[4]</span></span></span></span></a><span style="font-size:small;"><span>  </span>Atau lihat juga paparan Rasul Paulus dalam 1Korintus 8:6 yang dalam ayat yang jelas-jelas memuat semangat monoteisme Yahudi ini memberikan posisi yang setara antara Yesus dan Allah:</span><a name="_ftnref5" href="http://perdian.wordpress.com/wp-admin/#_ftn5"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="EN-US">[5]</span></span></span></span></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0 0 0 36pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0 0 0 36pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="EN-US">namun bagi kita hanya ada satu Allah saja, yaitu Bapa, yang dari pada-Nya berasal segala sesuatu dan yang untuk Dia kita hidup, dan satu Tuhan saja, yaitu Yesus Kristus, yang oleh-Nya segala sesuatu telah dijadikan dan yang karena Dia kita hidup.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-family:&quot;" lang="EN-US"><span style="font-size:small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-family:&quot;" lang="EN-US"><span style="font-size:small;">Demikian pula apa yang dicatat Paulus dalam Filipi 2:5-11.<span>  </span>Ayat 10-11 dari teks ini jelas mengutip apa yang dicatat nabi Yesaya dalam pasal 45:23 dari kitabnya; yang dari konteks ayat 22 jelas lahir dari semangat monoteisme yang kental:</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-family:&quot;" lang="EN-US"><span style="font-size:small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0 0 0 36pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="EN-US">supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku: “Yesus Kristus adalah Tuhan,” bagi kemuliaan Allah, Bapa! (Fil. 2:10-11)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-family:&quot;" lang="EN-US"><span style="font-size:small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0 0 0 36pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="EN-US">Berpalinglah kepada-Ku dan biarkanlah dirimu diselamatkan, hai ujung-ujung bumi! Sebab <em><span style="text-decoration:underline;">Akulah Allah dan tidak ada yang lain</span></em>.<span>  </span>Demi Aku sendiri Aku telah bersumpah, dari mulut-Ku telah keluar kebenaran, suatu firman yang tidak dapat ditarik kembali: dan semua orang akan bertekuk lutut di hadapan-Ku, dan akan bersumpah setia dalam segala bahasa (Yes. 45:22-23).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-family:&quot;" lang="EN-US"><span style="font-size:small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-family:&quot;" lang="EN-US"><span style="font-size:small;">Jelas bagi rasul Paulus Yesus bukanlah figur biasa, melainkan ia menempatkan Yesus sedemikian rupa sehingga setara dengan Bapa.<span>  </span>Penulis sepakat dengan apa yang dikatakan oleh Wright berkenaan dengan kaitan antara kedua teks ini, </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0 0 0 36pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 0 36pt;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="EN-US">Isaiah has YHWH defeating the pagan idols and being enthroned over them; Paul has Jesus exalted to a position of equality with ‘the Father’ </span></em><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="EN-US">because he has done what, in Jewish tradition, only the one God can do<em>.<a name="_ftnref6" href="http://perdian.wordpress.com/wp-admin/#_ftn6"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="EN-US">[6]</span></strong></span></span></span></a></em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-family:&quot;" lang="EN-US"><span style="font-size:small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-family:&quot;" lang="EN-US"><span style="font-size:small;">Fakta-fakta biblis ini jelas memberikan bukti bahwa sebenarnya dengan cara yang sangat apik dan dengan sangat hati-hati para penulis Perjanjian Baru berupaya menyampaikan bahwa Allah yang dulu bertindak dalam sejarah Israel dan yang terus bertindak dalam dunia yang dikasihi-Nya ini dalam keunikan-Nya kini menyatakan diri di dalam Yesus Kristus.<span>  </span>Ini dapat ditunjukkan dengan penggunaan beberapa gelar yang diberikan penulis Perjanjian Baru kepada Yesus.</span><a name="_ftnref7" href="http://perdian.wordpress.com/wp-admin/#_ftn7"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="EN-US">[7]</span></span></span></span></a><span style="font-size:small;"><span>  </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-family:&quot;" lang="EN-US"><span style="font-size:small;">Namun selain memaparkan fakta-fakta yang seolah terselubung tentang identitas Yesus, Perjanjian Baru juga memaparkan fakta-fakta eksplisit tentang siapa Yesus:</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-family:&quot;" lang="EN-US"><span style="font-size:small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0 0 0 36pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="EN-US">Tomas menjawab Dia: &#8220;Ya Tuhanku dan Allahku!&#8221; (Yoh. 20:28)—<em>ho kurios mou kai <span style="text-decoration:underline;">ho theos</span> mou</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-family:&quot;" lang="EN-US"><span style="font-size:small;"><span>            </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0 0 0 36pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="EN-US">Mereka adalah keturunan bapa-bapa leluhur, yang menurunkan Mesias dalam keadaan-Nya sebagai manusia, yang ada di atas segala sesuatu. <em><span style="text-decoration:underline;">Ia adalah Allah</span></em> yang harus dipuji sampai selama-lamanya. Amin! (Rm. 9:5).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0 0 0 36pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0 0 0 36pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="EN-US">dengan menantikan penggenapan pengharapan kita yang penuh bahagia dan penyataan kemuliaan <em><span style="text-decoration:underline;">Allah yang Mahabesar dan Juruselamat kita Yesus Kristus</span></em> (Tit. 2:13).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:&quot;" lang="EN-US"><span style="font-size:small;">Melihat fakta-fakta ini penulis hanya terheran-heran dengan kesimpulan sepihak, spekulatif dan terburu-buru dari berbagai kalangan yang mengatakan bahwa doktrin Kristologi adalah produk Gereja dan tidak berasal dari Perjanjian Baru.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:&quot;" lang="EN-US"><span> </span></span><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="EN-US"></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0 0 0 36pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-family:&quot;" lang="EN-US"><span style="font-size:small;"> </span></span></p>
<div>
<span style="font-size:small;"><br />
<hr size="1" /></span></p>
<div id="ftn1">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-indent:36pt;text-align:justify;margin:0;"><a name="_ftn1" href="http://perdian.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref1"><span class="MsoFootnoteReference"><span lang="EN-US"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="EN-US">[1]</span></span></span></span></span></a><span style="font-size:x-small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><em><span lang="EN-US">The New Testament</span></em><span lang="EN-US">:<em> Its Background, Growth and Content</em>,<em> 3<sup>rd</sup> ed</em>. (Nashville: Abingdon,<span>  </span>2003) 310.</span></span></span></p>
</div>
<div id="ftn2">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-indent:36pt;text-align:justify;margin:0;"><a name="_ftn2" href="http://perdian.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref2"><span class="MsoFootnoteReference"><span lang="EN-US"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="EN-US">[2]</span></span></span></span></span></a><span lang="EN-US"><span style="font-size:x-small;font-family:Times New Roman;">Ibid. 319. </span></span></p>
</div>
<div id="ftn3">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-indent:36pt;text-align:justify;margin:0;"><a name="_ftn3" href="http://perdian.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref3"><span class="MsoFootnoteReference"><span lang="EN-US"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="EN-US">[3]</span></span></span></span></span></a><span lang="EN-US"><span style="font-size:x-small;font-family:Times New Roman;">N. T. Wright, “The Divinity of Jesus,” dalam <em>The Meaning of Jesus: Two Visions</em> (New York: HarperSanFransisco, 1989) 161. </span></span></p>
</div>
<div id="ftn4">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-indent:36pt;text-align:justify;margin:0;"><a name="_ftn4" href="http://perdian.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref4"><span class="MsoFootnoteReference"><span lang="EN-US"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="EN-US">[4]</span></span></span></span></span></a><span lang="EN-US"><span style="font-size:x-small;font-family:Times New Roman;">Wright membandingkan Yohanes 1:14 dengan Sirakh 24 (ibid). </span></span></p>
</div>
<div id="ftn5">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-indent:36pt;text-align:justify;margin:0;"><a name="_ftn5" href="http://perdian.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref5"><span class="MsoFootnoteReference"><span lang="EN-US"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="EN-US">[5]</span></span></span></span></span></a><span lang="EN-US"><span style="font-size:x-small;font-family:Times New Roman;"> ibid.</span></span></p>
</div>
<div id="ftn6">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-indent:36pt;text-align:justify;margin:0;"><a name="_ftn6" href="http://perdian.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref6"><span class="MsoFootnoteReference"><span lang="EN-US"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="EN-US">[6]</span></span></span></span></span></a><span lang="EN-US"><span style="font-size:x-small;font-family:Times New Roman;">ibid. </span></span></p>
</div>
<div id="ftn7">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-indent:36pt;text-align:justify;margin:0;"><a name="_ftn7" href="http://perdian.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref7"><span class="MsoFootnoteReference"><span lang="EN-US"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="EN-US">[7]</span></span></span></span></span></a><span lang="EN-US"><span style="font-size:x-small;font-family:Times New Roman;">lihat buku C. F. D. Moule, <em>The Origin of Christology</em> (Cambridge: Cambridge University, 1977) 11-46. </span></span></p>
</div>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/perdian.wordpress.com/329/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/perdian.wordpress.com/329/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/perdian.wordpress.com/329/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/perdian.wordpress.com/329/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/perdian.wordpress.com/329/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/perdian.wordpress.com/329/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/perdian.wordpress.com/329/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/perdian.wordpress.com/329/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/perdian.wordpress.com/329/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/perdian.wordpress.com/329/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/perdian.wordpress.com/329/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/perdian.wordpress.com/329/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/perdian.wordpress.com/329/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/perdian.wordpress.com/329/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=perdian.wordpress.com&amp;blog=4384315&amp;post=329&amp;subd=perdian&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://perdian.wordpress.com/2008/12/12/kanon-perjanjian-baru-dan-keilahian-yesus-sebuah-ringkasan-perenungan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6989482ccfce6ac0bfed9796c9104aa9?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96" medium="image">
			<media:title type="html">perdian1234</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://perdian.files.wordpress.com/2008/12/gospels3.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">gospels3</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>PANGGILAN MEMBERITAKAN INJIL</title>
		<link>http://perdian.wordpress.com/2008/12/01/panggilan-memberitakan-injil/</link>
		<comments>http://perdian.wordpress.com/2008/12/01/panggilan-memberitakan-injil/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 01 Dec 2008 08:48:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>perdian</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kehidupan Kristen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://perdian.wordpress.com/?p=282</guid>
		<description><![CDATA[Yesaya 40:1-11; 44:1-8; 52:7; Ro. 1:1-5 I Sebenarnya ada konsep berbahaya yang sedang dianut oleh Gereja dan banyak orang Kristen saat ini berkenaan dengan konsep pemberitaan Injil, yang menurut penulis tidak memuat seutuhnya konsep Alkitabiah tentang pemberitaan Injil dan cenderung berat sebelah dalam melihat makna Injil. Gereja dan banyak orang Kristen saat ini cenderung mereduksi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=perdian.wordpress.com&amp;blog=4384315&amp;post=282&amp;subd=perdian&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:center;margin:0 0 10pt;" align="center"><em><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Calibri;"><a href="http://perdian.files.wordpress.com/2008/12/idolatry.jpg"></a>Yesaya 40:1-11; 44:1-8; 52:7; Ro. 1:1-5</span></span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:center;margin:0 0 10pt;" align="center"><em><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Calibri;"><a href="http://perdian.files.wordpress.com/2008/12/idolatry2.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-290" title="idolatry2" src="http://perdian.files.wordpress.com/2008/12/idolatry2.jpg?w=510" alt="idolatry2"   /></a></span></span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:center;margin:0 0 10pt;" align="center"><strong><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Calibri;">I</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:small;font-family:Calibri;">Sebenarnya ada konsep berbahaya yang sedang dianut oleh Gereja dan banyak orang Kristen saat ini berkenaan dengan konsep pemberitaan Injil, yang menurut penulis tidak memuat seutuhnya konsep Alkitabiah tentang pemberitaan Injil dan cenderung berat sebelah dalam melihat makna Injil. Gereja dan banyak orang Kristen saat ini cenderung mereduksi makna Injil yang dalam Alkitab sebenarnya memuat esensi berita “kabar baik” yang sangat agung dan mulia dan memiliki muatan restorasi yang holistik atas semesta ini sekadar menjadi “kabar baik” yang menurut penulis cenderung egoistik-ekslusifistik, bahkan terkesan bernada hedonisme-materialistik, yakni agar kelak kita mendapatkan “hidup kekal.”<span>  </span>Parahnya lagi (kalau tidak mau dikatakan konyol) konsep “hidup kekal” yang dimaksudkan di sini lagi-lagi tidak beranjak dari konsep yang alkitabiah melainkan sekadar menekankan “hidup yang nikmat, nyaman, enak dan penuh ketenangan, di surga nun jauh di sana.”<span>  </span>Dan parahnya juga, konsep surga yang seperti ini sebenarnya bukanlah konsep surga yang 100% alkitabiah.<span id="more-282"></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:small;font-family:Calibri;">Pada saat penulis sedang melayani selama dua bulan di satu kota, penulis sangat terkejut pada saat mendengar sebuah khotbah dari sebuah radio Kristen yang cukup terkenal di kota itu, yang disampaikan oleh seorang Pendeta yang mengaku pernah naik—turun surga dan mendapatkan penglihatan-penglihatan tentang surga. <span> </span>Ia mengatakan (kalau penulis tidak salah ingat) bahwa di surga apabila seseorang makin taat maka ia akan memiliki rumah yang luas, berperabot indah,<span>  </span>garasinya bisa untuk dua mobil; dan kalau ia selama di dunia punya anjing kesayangan maka di sana kelak ia pun akan punya rumah anjing.<span>  </span>Bukankah tidak salah kalau penulis mengatakan bahwa konsep surga tersebut bertendensi materialistik-hedonistik.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:small;font-family:Calibri;">Berkaitan dengan hal ini penulis ingin mengajak saudara untuk membuka dua ayat alkitab yang mungkin bisa mengklarifikasi pengertian kita tentang istilah-istilah Alkitab yang sangat agung dan cenderung diperkosa maknanya oleh orang-orang Kristen zaman modern ini: </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;text-align:justify;margin:0 0 10pt 36pt;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Calibri;"><em>Tidak ada seorangpun yang telah naik ke sorga, selain dari pada Dia yang telah turun dari sorga, yaitu Anak Manusia </em>(Yoh. 3:13).<span>  </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Calibri;">Dari ayat ini penulis takut apa yang diajarkan orang-orang yang mengaku bolak-balik naik-turun surga itu tidak benar!<em></em></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;text-align:justify;margin:0 0 10pt 36pt;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Calibri;"><em>Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka <span style="text-decoration:underline;">mengenal</span> Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan <span style="text-decoration:underline;">mengenal</span> Yesus Kristus yang telah Engkau utus </em>(Yoh. 17:3).</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Calibri;">Dalam satu ayat ini ada satu kata penting yang diulang dua kali yakni kata “mengenal.”<span>  </span>Dalam bahasa Yunani kata ini berasal dari kata <em>ginosk</em></span><em><span style="font-family:&quot;">ō</span></em><span style="font-family:&quot;">.<span>  </span></span><span style="font-family:Calibri;">Dalam bahasa Ibrani kata ini berasal dari kata <em>yada</em>.<span>  </span><em>Yada</em> (<em>to know</em>) bagi orang Yahudi bukanlah sekadar berarti sebuah aktifitas mental seseorang melainkan menggambarkan sebuah aktifitas relasi yang aktif dan intim.<span>  </span>Bahkan kata ini juga dapat diartikan sebagai hubungan intim (seksual) suami-istri.<span>  </span>Artinya bagi Alkitab istilah “hidup kekal” bukanlah melulu menunjuk ke konsep surga yang materialistik itu. Bagi Alkitab “hidup kekal” tidaklah menekankan soal kuantitas waktu seperti yang selama banyak ditekankan, melainkan soal kualitas hidup yang seperti Allah.<span>  </span>Hanya Allah yang kekal, dan orang yang memiliki relasi dengan Allah juga akan memiliki kualitas hidup seperti Allah.<span>  </span>Sebab itulah penulis berpikir keliru kalau sebagai orang Kristen tujuan kita menjadi Kristen adalah agar kita “sekadar pergi ke surga” (mohon jangan salah mengerti penulis).<span>  </span>Tujuan kita menjadi orang Kristen adalah agar kualitas hidup kita makin serupa seperti Allah kita, makin serupa seperti Yesus (bdk. Ro. 8:29; 2Kor. 3:18b; Fil. 3:10).</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;text-align:justify;margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:small;font-family:Calibri;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:center;margin:0 0 10pt;" align="center"><strong><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Calibri;">II</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:small;font-family:Calibri;">Kalau begitu, apa yang sebenarnya arti Injil menurut Alkitab, dan apa relevansinya bagi kehidupan kita sebagai orang-orang percaya dalam memberitakan Injil?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:small;font-family:Calibri;">Satu hal perlu kita ketahui bahwa istilah “Injil” bukanlah semata-mata istilah milik Perjanjian Baru.<span>  </span>Istilah ini sebenarnya sudah ada sejak Perjanjian Lama.<span>  </span>Coba kita perhatikan dua ayat dari Yesaya sudah kita baca di awal tadi:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;text-align:justify;margin:0 0 10pt 36pt;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Calibri;"><em>Hai Sion, pembawa <span style="text-decoration:underline;">kabar baik</span>, naiklah ke atas gunung yang tinggi! Hai Yerusalem, pembawa <span style="text-decoration:underline;">kabar baik</span>, nyaringkanlah suaramu kuat-kuat, nyaringkanlah suaramu, jangan takut! Katakanlah kepada kota-kota Yehuda: &#8220;Lihat, itu Allahmu!</em>&#8221; (Yes. 40:9).</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;text-align:justify;margin:0 0 10pt 36pt;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Calibri;"><em>Betapa indahnya kelihatan dari puncak bukit-bukit kedatangan pembawa berita, yang mengabarkan berita damai dan memberitakan <span style="text-decoration:underline;">kabar baik</span>, yang mengabarkan berita selamat dan berkata kepada Sion: &#8220;Allahmu itu Raja!&#8221;</em> (Yes. 52:7).</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Calibri;">Perhatikan dua ayat ini.<span>  </span>Jelas dua ayat ini memuat berita Injil <span> </span>atau kabar baik dan bukan hanya itu, dua ayat ini juga sekaligus memuat berita tentang “tugas pekabaran Injil” (perhatikan frase: “<em>pembawa kabar baik</em>” dalam Yes. 40:9 dan frase “pembawa berita” dalam Yes. 52:7; [LXX: <em>euanggelion</em>]).<span>  </span>Tapi perhatikan pula dua ayat itu: tidak satu pun berita Injil yang diberitakan oleh si pekabar Injil yang berkaitan dengan konsep-konsep “hidup kekal” ngawur dan surga yang materialistik seperti yang selama ini didengang-dengungkan!<span>  </span>Kalau begitu apa berita Injil yang disampaikan oleh kedua ayat ini? Kalau kita perhatikan dua ayat tadi maka jelas berita Injil atau kabar baik yang disampaikan oleh si pekabar Injil Yesaya adalah, “Lihat, itu Allahmu!” dan “Allahmu itu Raja.”<span>  </span>Namun kita tidak akan mengerti dengan baik berita Injil ini tanpa kita memahami sedikit latar belakang konteks Yesaya 40 dan 52 ini.<span>  </span>Pasal 40:1 memberikan sedikit <em>clue</em> (petunjuk) kepada kita tentang apa yang sebenarnya menjadi latar belakang dari teks ini.<span>  </span>Dari ayat 1 kita mengetahui bahwa berita ini erat kaitannya dengan peristiwa <em><span style="text-decoration:underline;">perhambaan</span></em> atau <em><span style="text-decoration:underline;">perbudakan</span></em> yang dialami Yehuda karena segala dosa yang mereka lakukan dan tampaknya ini mengacu kepada perbudakan yang dialami di Babel (586-538 SM).<span>  </span>Dan jangan lupa dalam peristiwa pembuangan tersebut ada satu hal yang sebenarnya sangat menyakitkan hati dan membuat orang-orang Yahudi masuk dalam kesedihan yang sangat dalam: Yerusalem dibumihanguskan dan Bait Allah, sebagai simbol kehadiran Allah di Sion diluluhlantakkan dan dijarah. Kesedihan mereka karena dibumihanguskannya Yerusalem dan dilululantakkannya Bait Allah, bukanlah karena sudah banyak anggaran yang dihabiskan untuk pembangunan dan seketika hancur sia-sia atau karena mereka kehilangan harta milik dan rumah mereka.<span>  </span>Tidak!<span>  </span>Kesedihan mereka erat kaitannya dengan keyakinan teologis umat Israel tentang Yerusalem dan Bait Allah sebagai simbol penting agama Yahudi.<span>  </span>Kehancuran Bait Allah dan Yerusalem (sebagai kota Allah) sebenarnya memberikan satu pertanda penting bagi mereka: <em><span style="text-decoration:underline;">Allah sudah meninggalkan mereka</span></em>!<span>  </span>Hal ini tergambar dengan jelas dalam Mazmur-mazmur ratapan (mis: Mazmur 137:1, 5-6 [yang dipopulerkan oleh Boney M]</span><span style="font-family:Wingdings;"><span>à</span></span><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&quot;"> </span><em><span style="line-height:150%;"><span style="font-family:Calibri;">Di tepi sungai-sungai Babel, di sanalah kita duduk sambil menangis, apabila kita mengingat Sion. . . . <span> </span>Jika aku melupakan engkau, hai Yerusalem, biarlah menjadi kering tangan kananku! Biarlah lidahku melekat pada langit-langitku, jika aku tidak mengingat engkau, jika aku tidak jadikan Yerusalem puncak sukacitaku</span></span></em><em><span style="line-height:150%;font-family:&quot;">!</span></em><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&quot;">).</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Calibri;">Dari latar belakang ini kita tentu bisa memahami bahwa “kabar baik” yang dimaksudkan di sini bicara soal kabar baik bahwa Allah yang telah meninggalkan umat karena keberdosaan mereka kini akan datang kembali untuk mengasihi bahkan memulihkan umat-Nya. Karena itulah ayat 3-5 dari Yesaya pasal 40 mengajak segenap umat untuk mempersiapkan jalan bagi Tuhan, karena Ia akan datang kembali dengan kasih-Nya yang ajaib dan yang akan memulihkan umat.<span>  </span>Dan perlu diperhatikan, berita tentang kembalinya TUHAN ke Sion ini adalah berita yang konsisten di sepanjang PL.<span>  </span>Coba bandingkan dengan Zefanya 3:14-20 dan Zakharia 9:9:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Calibri;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0 0 0 36pt;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Calibri;"><em>Bersorak-soraklah dengan nyaring, hai puteri Sion, bersorak-sorailah, hai puteri Yerusalem! Lihat, rajamu datang kepadamu; ia adil dan jaya. Ia lemah lembut dan mengendarai seekor keledai, seekor keledai beban yang muda</em> (Zak. 9:9).</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0 0 0 36pt;"><span style="font-size:small;font-family:Calibri;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Calibri;">Selanjutnya pada ayat 6-8 (yang bicara soal kesia-siaan dan kefanaan segala sesuatu), sang pekabar Injil memberikan paparan kepada umat bagaimana cara mereka seharusnya dalam mempersiapkan diri untuk menyambut TUHAN. Ya, mereka diminta untuk bertaut semata-mata kepada TUHAN dan firman-Nya dan meninggalkan segala sesuatu di dunia ini yang sia-sia dan yang sudah membuat mereka berdosa dan mengalami pembuangan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Calibri;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Calibri;">Dalam Alkitab sangat jelas diberitakan bahwa penyebab utama yang membuat umat yang sangat dikasihi Allah ini mengalami pembuangan adalah karena mereka menduakan TUHAN dengan berhala-berhala yang mereka nikmati.<span>  </span>Berhala-berhala itu sangat memikat hati mereka dan membuat mereka tidak manunggal mengasihi TUHAN.<span>  </span>Itulah sebabnya mengapa di sepanjang Yesaya 40-55 yang sebenarnya secara garis besar bicara soal <em>kabar baik </em>(Injil) bagi umat Allah, berulang-ulang muncul berita yang sama dan berulang: TUHAN akan kembali ke Sion, tetapi umat harus membuang segala berhala dan hanya men-Tuhankan DIA (lih. 40:18-20, 25-26; 44:7, 9-20, dst).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Calibri;">Dengan demikian, jelas tugas pekabaran Injil atau bersaksi bukanlah menyampaikan “surga-surga-an” materialistik seperti yang selama ini kita sering dengarkan tapi menjadi saksi lewat kata dan hidup yang penuh ketaatan bahwa TIDAK ADA TUHAN SELAIN ALLAH dan bahwa semua berhala adalah ilah palsu dan harus disingkirkan (bdk. 43:10-13). Dan sebenarnya berita Injil ini pulalah yang diberitakan oleh Paulus dalam Perjanjian Baru (Ro. 1:5).<span>  </span>Menyampaikan Injil artinya membawa dan mengantar orang lain untuk hanya men-Tuhankan Kristus, Allah yang sudah datang kembali untuk mengasihi dan menebus umat-Nya dan membawa mereka untuk membuang segala bentuk berhala kesia-siaan yang mereka miliki.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:center;margin:0;" align="center"><span style="font-size:small;font-family:Calibri;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:center;margin:0;" align="center"><strong><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Calibri;">III</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Calibri;">Berhala sendiri bukanlah sekadar menunjuk kepada patung atau gambaran-gambaran yang disembah manusia.<span>  </span>Dalam bahasa Yunani kata “berhala” berasal dari kata <em>eidolon</em> yang akar katanya adalah <em>eidō</em> (yang hurufiahnya berarti <em>the external or outward appearence</em>).<span>  </span>Ya, dan yang dari eksternal sangat menarik itu sangat memikat hati, menarik hati, memberi pengertian dan membuat kita sangat bergantung dan bahkan mengilahkannya).<span>  </span>Kasarnya, berhala adalah segala sesuatu yang membuat semua potensi, hati, arah hidup, cita-cita, dana dan waktu kita habis terkuras dan waktu kita menyelidikinya ternyata tidak ada TUHAN dalam semua itu!<span>  </span>Contoh: Keluaran 32:6 bdk. 1Kor. 10:7-8.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Calibri;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Calibri;">Seorang pemberita Injil adalah seorang yang berani menantang dirinya sendiri untuk menanggalkan berhala-berhalanya sebelum menantang orang lain menanggalkan berhala-berhala mereka!<span>  </span>Bagaimana dengan kita?</span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/perdian.wordpress.com/282/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/perdian.wordpress.com/282/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/perdian.wordpress.com/282/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/perdian.wordpress.com/282/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/perdian.wordpress.com/282/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/perdian.wordpress.com/282/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/perdian.wordpress.com/282/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/perdian.wordpress.com/282/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/perdian.wordpress.com/282/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/perdian.wordpress.com/282/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/perdian.wordpress.com/282/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/perdian.wordpress.com/282/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/perdian.wordpress.com/282/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/perdian.wordpress.com/282/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=perdian.wordpress.com&amp;blog=4384315&amp;post=282&amp;subd=perdian&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://perdian.wordpress.com/2008/12/01/panggilan-memberitakan-injil/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6989482ccfce6ac0bfed9796c9104aa9?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96" medium="image">
			<media:title type="html">perdian1234</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://perdian.files.wordpress.com/2008/12/idolatry2.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">idolatry2</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Perlukah Reformasi Jilid Dua?: Refleksi Singkat Terhadap Gerakan Reformasi Abad XVI</title>
		<link>http://perdian.wordpress.com/2008/11/20/perlukah-reformasi-jilid-dua-refleksi-singkat-terhadap-gerakan-reformasi-abad-xvi/</link>
		<comments>http://perdian.wordpress.com/2008/11/20/perlukah-reformasi-jilid-dua-refleksi-singkat-terhadap-gerakan-reformasi-abad-xvi/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 20 Nov 2008 04:58:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>perdian</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kehidupan Kristen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://perdian.wordpress.com/?p=277</guid>
		<description><![CDATA[Gerakan reformasi abad ke-16 adalah sebuah gerakan yang berdampak sangat luas.  Produk yang dihasilkan oleh gerakan ini sebenarnya bukan melulu berkaitan dengan soal doktrinal/pengajaran dan diskursus-diskursus teologi lainnya—seperti yang seringkali ditekankan banyak orang—tapi juga berkaitan dengan kehidupan kristiani yang riil (real Christian life). Malah, Roger Olson, seorang ahli sejarah Gereja, menjelaskan bahwa salah satu latar [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=perdian.wordpress.com&amp;blog=4384315&amp;post=277&amp;subd=perdian&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:small;"><a href="http://perdian.files.wordpress.com/2008/11/indulgences1.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-280" title="indulgences1" src="http://perdian.files.wordpress.com/2008/11/indulgences1.jpg?w=510" alt="indulgences1"   /></a>Gerakan reformasi abad ke-16 adalah sebuah gerakan yang berdampak sangat luas.<span>  </span>Produk yang dihasilkan oleh gerakan ini sebenarnya bukan melulu berkaitan dengan soal doktrinal/pengajaran dan diskursus-diskursus teologi lainnya—seperti yang seringkali ditekankan banyak orang—tapi juga berkaitan dengan kehidupan kristiani yang riil (<em>real</em> <em>Christian life</em>). Malah, Roger Olson, seorang ahli sejarah Gereja, menjelaskan bahwa salah satu latar belakang penting yang mendorong timbulnya gerakan reformasi adalah tidak berminatnya lagi banyak orang dengan teologi Kristen saat itu karena dianggap tidak relevan dengan kehidupan riil masyarakat. Dengan menyimpulkan pandangan Erasmus yang muak dengan teologi dan para teolog saat itu, ia mengatakan demikian tentang latar belakang Reformasi, “<em>The great Christian humanist Erasmus used theology as a synonim for pointless speculation and theologian for an ivory tower thinker who </em>had lost touch with reality.”</span><a name="_ednref1" href="http://perdian.wordpress.com/wp-admin/#_edn1"><span class="MsoEndnoteReference"><span><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&quot;">[i]</span></span></span></span></a><span style="font-size:small;"><span>  </span>Alister McGrath, yang cenderung memandang Reformasi sebagai sebuah gerakan intelektual mengatakan bahwa reformasi memang adalah sebuah gerakan keagamaan namun tidak bisa dilepaskan dengan pergulatan dimensi sosial, politik, dan ekonomi masyarakat pada abad ke-16.<span>  </span>Artinya bagi reformasi abad ke-16, gerakan keagamaan bukanlah gerakan yang lepas dari pergumulan riil masyarakat dan sekadar bicara soal <em>private religion</em>, “<em>It is perhaps inevitable that many modern western historians, familiar with a privatized religious ethos, will assume that religion has no role beyond the realm of personal spirituality. </em>Yet this was not the case in the sixteenth century. . . .”</span><a name="_ednref2" href="http://perdian.wordpress.com/wp-admin/#_edn2"><span class="MsoEndnoteReference"><span><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&quot;">[ii]</span></span></span></span></a><span style="font-size:small;"><span>  </span>Kita tidak boleh lupa bahwa fakta paling telanjang yang memicu <em>trigger</em> reformasi adalah proyek mercusuar rekonstruksi Basilika St. Petrus di Roma oleh Paus Leo X dan upaya <em>fund-raising </em>yang gencar oleh Johann Tetzel dengan menjual indulgensia (surat penghapus dosa) untuk mempercepat pembangunannya.<span>  </span>Dalam dalilnya yang ke-28—dari 95 dalil yang ia pakukan di pintu Gereja Wittenberg sebagai bentuk protesnya terhadap praktik korup Gereja saat itu—Luther jelas menyinggung hal ini, “</span></span><span style="font-size:small;"><em><span style="font-family:&quot;" lang="EN">It is certain that </span></em><span style="font-family:&quot;" lang="EN">when the penny jingles into the money-box<em>, gain and avarice can be increased, but the result of the intercession of the Church is in the power of God alone</em>.</span><span style="font-family:&quot;">”</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:small;"> <span id="more-277"></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:small;">Sejarah reformasi sebenarnya bukanlah milik Martin Luther dan para koleganya belaka pada abad ke-16.<span>  </span>Di dalam kisah-kisah narasi Alkitab yang berusia ribuan tahun, proses reformasi dan tuntutan reformasi berulang kali dan silih berganti dicatat.<span>  </span>Dan perlu kita ingat, semua seruan pembaruan (baca: reformasi) rohani di Alkitab ini dipicu oleh terjadinya pelencengan kehidupan riil umat Tuhan yang tidak sesuai dengan tindak-tanduk dan status rohani serta syariat-syariat keagamaan yang <em>setia</em> mereka lakukan.<span>  </span>Lihat saja beberapa ayat berikut: </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;text-align:justify;margin:0 0 0 36pt;"><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;text-align:justify;margin:0 0 0 36pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Aku membenci, Aku menghinakan perayaanmu dan Aku tidak senang kepada perkumpulan rayamu. Sungguh, apabila kamu mempersembahkan kepada-Ku korban-korban bakaran dan korban-korban sajianmu, Aku tidak suka, dan korban keselamatanmu berupa ternak yang tambun, Aku tidak mau pandang. Jauhkanlah dari pada-Ku keramaian nyanyian-nyanyianmu, lagu gambusmu tidak mau Aku dengar. Tetapi biarlah keadilan bergulung-gulung seperti air dan kebenaran seperti sungai yang selalu mengalir (Am. 5:21-24).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;text-align:justify;margin:0 0 0 36pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;text-align:justify;margin:0 0 0 36pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Sunatlah dirimu bagi TUHAN, dan jauhkanlah <em>kulit khatan hatimu</em>, hai orang Yehuda dan penduduk Yerusalem, supaya jangan murka-Ku mengamuk seperti api, dan menyala-nyala dengan tidak ada yang memadamkan, oleh karena perbuatan-perbuatanmu yang jahat! (Yer. 4:4)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;text-align:justify;margin:0 0 0 36pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Lalu Yesus masuk ke Bait Allah dan mengusir semua orang yang berjual beli di halaman Bait Allah. Ia membalikkan meja-meja penukar uang dan bangku-bangku pedagang merpati dan berkata kepada mereka: Ada tertulis: Rumah-Ku akan disebut rumah doa. Tetapi kamu menjadikannya sarang penyamun (Mat. 21:12-13).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;text-align:justify;margin:0 0 0 36pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;text-align:justify;margin:0 0 0 36pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi telah menduduki kursi Musa. Sebab itu turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu, tetapi janganlah kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka, karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya (Mat. 23:2-3).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:small;">Perlu diperhatikan bahwa semua seruan reformasi ini umumnya ditujukan justru kepada para rohaniwan, yang mengerti kitab suci, bukan kepada kaum awam.<span>  </span>Terlebih ayat yang terakhir.<span>  </span>Memang seruan Tuhan tersebut tidak hendak menyatakan bahwa Tuhan setuju dengan penafsiran Farisi terhadap Taurat (bdk. Mat. 9:10–11, 14; 12:1–2, 10–14; 15:1–20; 19:3–9; 16:6, 11–12), tetapi penulis sepakat dengan Donald Hagner yang mengatakan bahwa terlepas dari semua ketidaksetujuan Tuhan dengan penafsiran Farisi terhadap Taurat, ayat tersebut menegaskan kesetujuan Tuhan dengan komitmen Farisi yang teguh dan tidak diragukan terhadap kitab Taurat (<em>sola scriptura</em>?).<span>  </span>Ya, komitmen mereka kepada Taurat tidak diragukan, tapi hidup riil merekalah yang menjadi masalah!<em> </em></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:small;">Bagaimana dengan kondisi Gereja masa kini?<span>  </span>Sungguhkah Gereja ada pada <span> </span>garis terdepan yang berupaya menjaga agar slogan agung: <em>sola scriptura</em>, <em>sola gratia</em>, <em>sola fide</em>, <em>solus christus</em> dan <em>soli deo gloria</em> tetap diejawantahkan secara berintegritas dan tidak berat sebelah: sekadar menekankan sisi doktrinal-teologis sempit dan miskin implementasi dalam kehidupan riil?<span>  </span>Bagaimana dengan kegandrungan banyak gereja dan lembaga Kristen kini dengan proyek-proyek mercusuarnya dan pemotivasian jemaat untuk mendukung melalui khotbah-khotbah yang menggunakan teks-teks Alkitab? Cukup berperankah Gereja memperhatikan problem-problem sosial seperti masalah ketidakadilan ekonomi, kemiskinan, pengangguran, tingkat kriminalitas yang tinggi, pengrusakan lingkungan hidup dan <em>global warming</em> ataukah Gereja tidak menganggap itu sebagai bagian integratif dari <em>spirit</em> reformasi? Perlukah reformasi jilid dua?</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:small;"> </span></span></p>
<p><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&quot;">Spirit reformasi yang gemanya tetap terasa hingga hari ini sebenarnya dan sepantasnya senantiasa mengajak kita untuk berefleksi dan memberanikan diri mengoreksi bagian-bagian kehidupan bergereja kita yang tidak konsisten dan tidak integratif.<span>  </span>Berita reformasi mengonfirmasi kita bahwa hidup kekristenan dan bergereja kita sewaktu-waktu bisa keliru dan untuk itulah kita perlu terus-menerus terbuka dan mengalami <em>re</em>-<em>form </em>(pembentukan/pembaruan kembali). Selamat hari reformasi, <em>semper reformanda</em></span><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">!</span></p>
<div><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"></span></p>
<div id="edn1">
<p class="MsoEndnoteText" style="text-indent:36pt;line-height:normal;margin:0;"><a name="_edn1" href="http://perdian.wordpress.com/wp-admin/#_ednref1"><span class="MsoEndnoteReference"><span><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&quot;">[i]</span></span></span></span></a><span style="font-size:x-small;"><span style="font-family:Calibri;"><em>The Story of Christian Theology</em> (Downers Grove: InterVarsity, 1999) 369;<span>  </span>penekanan oleh penulis.</span></span></p>
</div>
<div id="edn2">
<p class="MsoEndnoteText" style="text-indent:36pt;margin:0 0 10pt;"><a name="_edn2" href="http://perdian.wordpress.com/wp-admin/#_ednref2"><span class="MsoEndnoteReference"><span><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&quot;">[ii]</span></span></span></span></a><span style="font-size:x-small;font-family:Calibri;"> <em>The Intellectual Origins of the European Reformation</em>,<em> 2nd ed</em> (Oxford: Blacwell, 2004) 2; penekanan oleh penulis.</span></p>
</div>
</div>
<hr size="1" />
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/perdian.wordpress.com/277/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/perdian.wordpress.com/277/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/perdian.wordpress.com/277/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/perdian.wordpress.com/277/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/perdian.wordpress.com/277/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/perdian.wordpress.com/277/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/perdian.wordpress.com/277/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/perdian.wordpress.com/277/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/perdian.wordpress.com/277/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/perdian.wordpress.com/277/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/perdian.wordpress.com/277/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/perdian.wordpress.com/277/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/perdian.wordpress.com/277/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/perdian.wordpress.com/277/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=perdian.wordpress.com&amp;blog=4384315&amp;post=277&amp;subd=perdian&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://perdian.wordpress.com/2008/11/20/perlukah-reformasi-jilid-dua-refleksi-singkat-terhadap-gerakan-reformasi-abad-xvi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6989482ccfce6ac0bfed9796c9104aa9?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96" medium="image">
			<media:title type="html">perdian1234</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://perdian.files.wordpress.com/2008/11/indulgences1.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">indulgences1</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
