Menjadi Garam dan Terang Dunia

25 05 2009

Matius 5:13-16, Galatia 4:4

 

Salah satu kesalahan terbesar saat melihat teks-teks Injil, termasuk Khotbah di Bukit ini adalah terjadinya rohanisasi teks.  Yang penulis maksud dengan rohanisasi teks adalah bahwa di dalam kita membaca teks-teks ini dan menafsirkannya kita membuang semua situasi “sosial-politik” yang terjadi saat Yesus menyampaikan hal ini dan kita menganggap bahwa Khotbah di Bukit ini adalah ajaran rohani abstrak yang tidak ada sangkut pautnya dengan konteks situasi saat itu.

Hal ini sebenarnya sangat jelas kalau kita melihat sebentar ke belakang ke pasal 2-4. Bagian ini jelas memberikan background sosial-politik yang terjadi saat itu dan yang berikutnya menjadi background untuk Khotbah di Bukit termasuk seluruh Injil Matius. Coba kita sekilas latar belakang ini.

Penulis yakin teman-teman tentu mengenali dengan baik kisah tentang Orang Majus yang sangat terkenal di pasal 2:1-15. Tapi mungkin banyak orang yang kurang memperhatikan latar belakang sosial politik yang sangat mengerikan saat itu yang dicatat di ayat 1 dan ayat 16-18. Saat itu berkuasa Raja paling hebat yang pernah dimiliki Yudea: Herodes Agung, yang juga sekaligus merupakan raja paling bengis, kejam dan sadis.  Menurut catatan sejarah, Herodes Agung, si psikopat gila hormat dan suka negatif thinking ini tega membunuh 2 dari 10 istrinya, setidaknya 3 anak laki-lakinya tewas di tangannya, juga seorang ipar dan kakek seorang isterinya tewas dibantainya.  Bahkan ketika ia tahu bahwa menjelang ia mangkat banyak orang akan bersukacita atas kematiannya (karena bebas dari pemerintah tirannya), ia memerintahkan anggotanya untuk menangkap para pemimpin orang Yahudi saat itu dan membantai mereka di tempat umum.  Ia memang tahu bahwa tidak akan ada orang yang berduka atas kematiannya tapi  ingin supaya ada orang yang berduka pada saat ia mati, karena itulah ia melakukan tindakan gila ini.  Tentu setelah melihat konteks sejarah ini kita tidak akan terlalu heran saat membaca apa yang ditulis Matius dalam 2:16-18 di mana dia mengadakan genocide (pembunuhan massal dan sistematik) kepada anak-anak di bawah 2 tahun. Selanjutnya dalam ayat 22, setelah Yusuf, Maria, dan bayi Yesus kembali dari pengungsian-Nya di Mesir, dicatat di sana bahwa raja yang menggantikan Herodes Agung adalah Arkhelaus, raja yang juga sama bengisnya.

Tapi bukan hanya kondisi politik yang carut-marut dan korup saat itu.  Kondisi kerohanian umat pun tidak kalah hancurnya.  Coba kita lihat background kondisi ini yang dipaparkan dengan tegas oleh Yohanes Pembaptis di dalam 3:7-10.  Dengan tegas, Yohanes Pembaptis menegur golongan Farisi dan Saduki, dua kelompok keagamaan yang paling berkuasa dan paling terpandang pada zaman Yesus dan dianggap sebagai penuntun hidup umat, dengan teguran yang tidak main-main.  Mereka disebut sebagai “ular beludak!” Dalam Injil Matius istilah ini muncul tiga kali (ayat ini; 12:34; 23:33) dan kesemuanya mengarah kepada satu makna: kemunafikan! Ya. Umat saat itu dipimpin, digembalakan dan diarahkan oleh orang-orang yang lebih cocok untuk disebut sebagai seorang aktor: di mana orang-orang tersebut punya dua standar kehidupan. Di depan publik terlihat sangat saleh namun di area hidup pribadi mereka, mereka tidak bedanya dengan iblis!  Itulah sebabnya mengapa dalam Matius 9:36, Matius menyebut orang-orang banyak itu sebagai orang-orang yang lelah, terlantar, dan tidak bergembala.  Kata “terlantar” rhipto lebih tepat diterjemahkan “terbuang” karena tidak ada yang memperhatikan. 

Masalah kemunafikan ini sebenarnya dipaparkan dengan cukup mendalam juga dalam bagian setelah teks tentang garam dan terang (5:17-48). Coba kita perhatikan sebentar.

 Menurut penulis, inti utama dari pasal 5:17-48 diungkapkan oleh ayat 17-20 (khususnya ayat 20):

Maka Aku berkata kepadamu: Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga.

 

Kata “hidup keagamaan” di sini berasal dari kata Yunani dikaiosune yang lebih tepat diterjemahkan righteousness atau kebenaran.  Nah, pertanyaannya adalah, “Kebenaran seperti apa yang Yesus maksudkan dengan kebenaran Farisi di sini?”  Penulis tertarik dengan klasifikasi yang dilakukan Metzger yang mengatakan bahwa kelompok Farisi pada masa Yesus terbagi dalam beberapa kelompok: 

Farisi the “wait-a-little”; Farisi the “bruised” atau “bleeding”; Farisi the “shoulder”; Farisi the “humped-back”; Farisi the “ever-reckoning”; Farisi the “god-fearing”; Farisi the “God-loving” atau “born”

Dari paparan ini terlihat bahwa mayoritas kelompok-kelompok Farisi ini menekankan kepada kebenaran yang bernilai dari sisi eksternal, dan inilah yang Yesus ingin kritisi dengan kehidupan keagamaan Farisi dan tokoh-tokoh agama Yahudi saat itu yang sekadar menitikberatkan kerohanian dangkal yang bersumber dari tradisi manusia dan tujuannya hanyalah untuk popularitas. Kalau boleh penulis istilahkan: “teologi pamer.” Sebaliknya Kristus menuntut para murid-Nya, warga Kerajaan Allah sebagai orang-orang yang memiliki kebenaran yang utuh; kebenaran yang berasal dari pembaruan hati dan mencuat keluar.  Dalam hal ini yang diutamakan adalah kejujuran dan ketulusan dihadapan Allah.  Dan menurut penulis kerohanian model ini termasuk sulit dicari pada masa kini.  Dan biasanya itu makin sulit tatkala seseorang itu makin senior dan makin mapan, makin dikagumi dan makin terpandang dalam sebuah pelayanan.  Ironisnya orang-orang model ini biasanya sulit untuk mengakui bahwa ia sedang terjebak dalam problem ini.

Saat memperhatikan hal ini penulis melihat akar masalah yang mungkin mirip dengan masalah kita di zaman ini.  Sebab bukankah di zaman kita ini juga ada banyak orang terbuang, lelah, jenuh dengan yang namanya agama dan sebenarnya jauh di lubuk hati mereka, mereka muak dengan agama karena para pemimpin agama mereka (bukan tidak cerdas dan pandai dalam berkata-kata) tapi karena punya hidup yang tidak konsisten dan tidak manunggal.  Dan inilah kebutuhan zaman ini teman-teman: dibutuhkan orang-orang yang mengasihi Tuhan dengan segenap hatinya, segenap kekuatannya dan segenap hidupnya.  Bukan hanya lewat pelayanan dan aktifitas-aktifitas rohani ia tampil saleh tapi dalam seluruh aspek kehidupannya, ia benar-benar memancarkan kasih Tuhan itu.   

Tentu domba-domba saat itu tidak terperhatikan karena gembala mereka bukannya merawat domba-dombanya dan berbagi hidup dengan mereka tapi justru sibuk membangun citra diri mereka sendiri.  Dan perhatikan dalam konteks pergumulan umat saat itu, yang dibutuhkan bukanlah seorang gembala (atau dalam konteks kita, kakak KTB) yang hebat, jago dalam berteologi, punya pengalaman organisasi dan jabatan-jabatan tertentu.  Yang dibutuhkan adalah seseorang yang mau memberi hidup, berbagi hidup dan hidupnya benar-benar di dalam Allah dan hanya menginginkan Allah, bukan yang lain.

Perhatikan: Inilah kondisi riil yang melatarbelakangi tuntutan para murid saat itu untuk menjadi garam dan terang dunia.  Mengapa?  Karena dunia saat itu dipenuhi oleh orang-orang yang hanya pandai meneriakkan jargon-jargon rohani tanpa aksi-aksi yang konkret.  Dunia dipenuhi orang-orang yang punya standar hidup ganda: di pelayanan dan Gereja dia begitu saleh, tapi di bangku kuliah, di rumah orang tuanya dan di tempat kostnya, ia hidup tidak bedanya seperti orang-orang kafir.  Dan saat melihat semua ini, bukankah tidak salah kalau penulis mengatakan bahwa dunia seperti ini adalah dunia yang sangat gelap?  Tapi yang menarik Galatia 4:4 mengatakan bahwa dalam “setelah genap waktunya, maka Allah mengutus Anak-Nya. . . “  Setelah genap waktunya tentu bicara soal waktu yang tepat menurut Allah.  Tapi bukankah saat itu dunia ada dalam kegelapan dan tanpa pengharapan dan ada berbagai risiko yang mengancam orang-orang yang berani hidup berbeda?  Tapi inilah waktu yang tepat menurut Allah.  Mengapa?  Karena dunia seperti ini haus menantikan orang-orang yang benar-benar tulus dan murni di hadapan Allah.  

Kembali ke apa yang penulis sampaikan di awal tadi, sampai di sini penulis bisa mengatakan bahwa yang Yesus lakukan saat itu lewat Khotbah di Bukit adalah sebuah tindakan koreksi, memberikan masukan kritis dan membenahi kepada kehidupan riil umat Tuhan pada saat itu.  Artinya, khotbah di Bukit ini adalah khotbah yang memang berbicara dalam sebuah situasi yang konkret/nyata dan tidak abstrak.

Namun pertanyaan lebih jauh yang mungkin patut kita tanyakan adalah, “Kehidupan riil umat Tuhan seperti apa yang sebenarnya ingin dikritisi Yesus lewat pengajaran khotbah di bukit ini?”

Untuk menjawab pertanyaan ini penulis mengajak kita kembali melihat konteks dekat dari perikop kita pada pagi hari ini (5:1-12)

Pasal 5:1-12 terkenal dengan istilah ucapan bahagia (beautitudes; berasal dari kata latin: beatus; blessed).  Penulis tidak ingin panjang lebar tentang bagian ini tapi penulis ingin kita menangkap apa yang sebenarnya menjadi intisari ucapan bahagia ini.  Menurut penulis secara sederhana, ucapan bahagia merupakan pengajaran

Untuk menjawab pertanyaan ini penulis mengajak kita untuk melihat kata yang paling dominan muncul dalam bagian ini, ya, tentu saja kata, “Berbahagialah.”  Kata ini berasal dari kata Yunani makarios/makarioi. Penulis tertarik dengan analisis dari sebuah kamus kata yang mengatakan bahwa dalam dunia Yunani kuno kata ini sebenarnya merupakan kata bentukan dari kata “makar.”  Nah, kata makar sendiri sebenarnya dominannya merupakan kata yang diperuntukkan bagi para dewa.  Ada sebuah kata dalam bahasa Yunani hoi makares bahkan diterjemahkan the godsNah, dari sini kita bisa menebak bahwa dalam dunia Yunani kuno kata ini dipakai untuk melukiskan sebuah makna kebahagiaan yang melampaui apa pun juga di dunia ini dan mengalami kebahagian yang dialami oleh para dewa.  Dalam PL sendiri, mayoritas ayat yang menggunakan kata ini menekankan kebahagiaan sebagai, “. . . simply to the one who trusts in God, who hopes and waits for Him, who fears and loves Him.” Kebahagiaan sama sekali tidak berfokus pada harta, materi, barang-barang dan kenikmatan-kenikmatan duniawi, tapi pada Tuhan.  Coba kita lihat beberapa ayat dari Mazmur ini:

Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh (1:1)

Berbahagialah orang, yang menaruh kepercayaannya pada TUHAN, yang tidak berpaling kepada orang-orang yang angkuh, atau kepada orang-orang yang telah menyimpang kepada kebohongan! (40:5)

Berbahagialah setiap orang yang takut akan TUHAN, yang hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya! (128:1)

Setiap hal yang berkaitan dengan berlimpahnya harta, dan banyaknya berkat fisik, selalu dimaknai sebagai pertanda bahwa Allah hadir dan memberkati:

Semoga anak-anak lelaki kita seperti tanam-tanaman yang tumbuh menjadi besar pada waktu mudanya; dan anak-anak perempuan kita seperti tiang-tiang penjuru, yang dipahat untuk bangunan istana! Semoga gudang-gudang kita penuh, mengeluarkan beraneka ragam barang; semoga kambing domba kita menjadi beribu-ribu, berlaksa-laksa di padang-padang kita! Semoga lembu sapi kita sarat; semoga tidak ada kegagalan dan tidak ada keguguran, dan tidak ada jeritan di lapangan-lapangan kita! (144:12-14)

Dan ini maknanya:

Berbahagialah bangsa yang demikian keadaannya! Berbahagialah bangsa yang Allahnya ialah TUHAN! (144:15)

Dan menurut penulis makna itu pula yang mau ditekankan Matius lewat bagian ini.  Konsisten dengan PL, kebahagiaan yang dimaksud oleh Yesus di sini adalah kebahagiaan yang tidak berdasar pada apa yang dianggap dunia sebagai sumber kebahagiaan dan sumber kehidupan.  Bagi orang benar, yang membuat hidupnya bahagia adalah karena ia turut ambil bagian dalam Kerajaan Allah itu dan bahwa ia senantiasa berada dekat dengan Allah yang adalah Raja dari Kerajaan itu.  Kalau kita cermati dengan seksama apa oleh 10 ucapan bahagia ini (mirip dengan 10 hukum Taurat Allah) paparkan tentang karakteristik dari mereka yang turut ambil bagian dalam Kerajaan Allah itu, maka kita akan berjumpa dengan gambaran yang paradoks dan terkesan bernada ironi.  Coba lihat gambaran-gambaran yang diberikan oleh ayat-ayat tersebut.  Bagaimana mungkin orang yang “miskin” (menekankan kerendahan) malah mendapat Kerajaan, bagaimana mungkin orang yang lemah lembut memiliki bumi.  Dan lebih ironis lagi, kalau kita perhatikan tiga ayat terakhir dari teks ini (ay. 10-12) yang disebut berbahagia adalah mereka yang disiksa, dianiaya dan difitnah.  Apa maksudnya ini?

Saat mencermati urut-urutan ucapan bahagia ini ada satu hal menarik yang penulis cermati.  Dari ayat 3-9, kalau mau digambarkan dalam bentuk grafik, maka kecenderungan yang terlihat adalah kecenderungan pertumbuhan rohaniyang progresif.  Namun kalau mencermati mulai ayat 10-12, grafik pertumbuhan rohani yang cenderung progresif tersebut malah membawa dampak sebaliknya, menurun. Lho, apa-apaan ini?  Bukankah mestinya kalau saya setia dan saya makin bertumbuh hidup saya makin berhasil, sukses, sejahtera dan lancar-lancar?  Tapi kok malah sebaliknya, makin setia, malah makin difitnah, makin suci, makin dibenci, makin lapar dan haus akan firman malah makin disesah, dianiaya dan disiksa. Penulis teringat dengan perkataan John Stott berkaitan dengan bagian ini, “Penderitaan adalah lencana kekristenan.”  Apa artinya?  Ya, hanya lewat penderitaanlah (masa-masa sukarlah), siapa sesungguhnya kita akan terlihat. Dan hanya lewat penderitaanlah akan terlihat sesungguh-sungguhnya apakah kebahagiaan kita bersumber dari Tuhan atau dari perkara-perkara duniawi.  Dan itu artinya jangan berharap bahwa makin setia dan makin sungguh-sungguh kita melayani akan makin harumnya nama kita; makin terjaminnya hidup kita; makin meningkatnya taraf hidup kita.  Justru dalam banyak kasus, makin seseorang melayani dengan setia, makin disalahmengertinya dia; makin dikhianatinya dia, makin dibuangnya dia, dll.  Namun bagi orang-orang percaya yang sejati, semua itu adalah kebahagiaan karena memang tidak ada lagi yang dijadikan sandaran dan harta yang paling berharga kecuali Kristus dan Kerajaan-Nya.

Seseorang yang kesukaannya adalah Tuhan dan harta yang paling berharganya adalah Tuhan akan melalui masa-masa kesesakan itu dengan sukacita sebab mereka tahu mereka mengambil bagian dalam penderitaan Kristus, seperti kata Kisah Rasul 5:41:

Rasul-rasul itu meninggalkan sidang Mahkamah Agama dengan gembira, karena mereka telah dianggap layak menderita penghinaan oleh karena Nama Yesus.

Dan itulah semangat Paulus dalam 2Korintus 4:16:

Sebab itu kami tidak tawar hati, tetapi meskipun manusia lahiriah kami semakin merosot, namun manusia batiniah kami dibaharui dari sehari ke sehari.

 

Nah, inilah konteks-konteks menyelubungi pokok bahasan soal garam dan terang.  Kalau bisa penulis simpulkan: tidak mungkin seseorang menjadi garam dan terang kalau kebahagiaan sejati satu-satunya dalam hatinya bukan Tuhan dan kalau kerohaniannya adalah kerohanian cap pamer.  Atau kalau bisa penulis balik: hanya orang yang hartanya Tuhan dan yang hatinya tuluslah yang dapat menjadi garam dan terang secara konsisten dan terus-menerus.  Itulah sebabnya mengapa perikop ini dibuka dengan satu kata Yunani yang sebenarnya sangat tegas, “humeis. . . ” (bdk. ay. 14).  Terjemahan lebih tepat dari kata ini adalah, “Kamu, ya hanya kamulah. . . .”  Kata ganti ini menegaskan dua tendensi utama: pertama,  menegaskan bahwa hanya orang-orang yang berkarakter tulus dan mencintai Tuhan yang dapat menjadi garam dan terang; namun kedua, menurut penulis Matius sengaja menggunakan kata yang tegas ini untuk menegaskan sebuah urgensitas yang tidak dapat ditawar-tawar: tanpa kehadiran garam dan terang itu dunia ini akan makin rusak dan makin gelap. Dan Yesus seolah-olah menegaskan bahwa satu-satunya harapan dari selamatnya dunia ini adalah kehadiran orang-orang yang merupakan warga Kerajaan Allah itu.  Penulis pernah membaca sebuah tulisan (kalau tidak salah John Stott) mengatakan, “Kalau dunia ini menjadi rusak dan busuk dan makin gelap, jangan salahkan dunianya.  Yang patut dipertanyakan adalah, ‘Di mana garamnya? Di mana terangnya?”

Kita sudah mendengar banyak khotbah dan ceramah tentang makna garam.  Dan memang ada sangat banyak makna yang bisa diberikan: memurnikan, mengawetkan, memberi kesuburan, simbol hikmat, bermakna korban/persembahan (Im. 2:13; Yeh. 43:24) dan kovenan (Bil. 18:19; Im. 2:13).  Penulis tidak mau lebih jauh menggali makna-makna ini dan memang keliru kalau kita mau menekankan salah satu saja karena sebenarnya makna garam di sini sangat luas dan dalam; tapi satu hal perlu kita ingat bahwa garam di sini, sederhananya, menekankan hal yang signifikan dan sangat dibutuhkan dunia, seperti sangat dibutuhkannya garam dalam kehidupan sehari-hari.  Artinya, kehadiran orang-orang Kristen sangat dibutuhkan dalam peristiwa-peristiwa riil masyarakat, dalam aspek-aspek yang tampaknya sepele tapi di situ ia mampu memberi penetrasi, dalam hal-hal sederhana tapi dilakukan dengan penuh kesetiaan.  Kehilangan keasinan erat kaitannya dengan dua konteks yang sudah kita bahas di atas.  Di dunia timur dekat kuno keasinan garam dapat hilang apabila garam tersebut bercampur dengan satu jenis senyawa kimia yang lain.  Apa artinya? Hilang keasinan merupakan simbol dari bergeser dan bercampurnya hidup kerohanian seseorang dengan dunia.  Kebahagiaan hidup yang sebelumnya hanya Tuhan berubah.  Kenikmatan dunia mulai memikat dirinya dan hatinya mulai tidak tulus lagi.

Dalam Alkitab “terang” merupakan sebuah kata metafor yang sangat penting. 1Yoh.1:5 mengatakan bahwa Allah adalah terang dan dalam Injil Yohanes, Kristus dinyatakan sebagai terang (8:12; 9:5).  Dalam PB, Paulus memperluas makna terang dan merujuk kepada orang-orang percaya (Ef. 5:8) dan Yesaya 42:6; 49:6 mengaitkan Israel sebagai terang yang harus bercahaya di hadapan orang-orang yang tidak mengenal Allah.  Sama seperti metafor garam, terang dalam konteks ini menjelaskan sesuatu yang amat sangat dibutuhkan dalam dunia yang gelap. 

Salah satu kesalahan terbesar saat melihat teks-teks Injil, termasuk Khotbah di Bukit ini adalah terjadinya rohanisasi teks.  Yang penulis maksud dengan rohanisasi teks adalah bahwa di dalam kita membaca teks-teks ini dan menafsirkannya kita membuang semua situasi “sosial-politik” yang terjadi saat Yesus menyampaikan hal ini dan kita menganggap bahwa Khotbah di Bukit ini adalah ajaran rohani abstrak yang tidak ada sangkut pautnya dengan konteks situasi saat itu.

Hal ini sebenarnya sangat jelas kalau kita melihat sebentar ke belakang ke pasal 2-4. Bagian ini jelas memberikan background sosial-politik yang terjadi saat itu dan yang berikutnya menjadi background untuk Khotbah di Bukit termasuk seluruh Injil Matius. Coba kita sekilas latar belakang ini.

Penulis yakin teman-teman tentu mengenali dengan baik kisah tentang Orang Majus yang sangat terkenal di pasal 2:1-15. Tapi mungkin banyak orang yang kurang memperhatikan latar belakang sosial politik yang sangat mengerikan saat itu yang dicatat di ayat 1 dan ayat 16-18. Saat itu berkuasa Raja paling hebat yang pernah dimiliki Yudea: Herodes Agung, yang juga sekaligus merupakan raja paling bengis, kejam dan sadis.  Menurut catatan sejarah, Herodes Agung, si psikopat gila hormat dan suka negatif thinking ini tega membunuh 2 dari 10 istrinya, setidaknya 3 anak laki-lakinya tewas di tangannya, juga seorang ipar dan kakek seorang isterinya tewas dibantainya.  Bahkan ketika ia tahu bahwa menjelang ia mangkat banyak orang akan bersukacita atas kematiannya (karena bebas dari pemerintah tirannya), ia memerintahkan anggotanya untuk menangkap para pemimpin orang Yahudi saat itu dan membantai mereka di tempat umum.  Ia memang tahu bahwa tidak akan ada orang yang berduka atas kematiannya tapi  ingin supaya ada orang yang berduka pada saat ia mati, karena itulah ia melakukan tindakan gila ini.  Tentu setelah melihat konteks sejarah ini kita tidak akan terlalu heran saat membaca apa yang ditulis Matius dalam 2:16-18 di mana dia mengadakan genocide (pembunuhan massal dan sistematik) kepada anak-anak di bawah 2 tahun. Selanjutnya dalam ayat 22, setelah Yusuf, Maria, dan bayi Yesus kembali dari pengungsian-Nya di Mesir, dicatat di sana bahwa raja yang menggantikan Herodes Agung adalah Arkhelaus, raja yang juga sama bengisnya.

Tapi bukan hanya kondisi politik yang carut-marut dan korup saat itu.  Kondisi kerohanian umat pun tidak kalah hancurnya.  Coba kita lihat background kondisi ini yang dipaparkan dengan tegas oleh Yohanes Pembaptis di dalam 3:7-10.  Dengan tegas, Yohanes Pembaptis menegur golongan Farisi dan Saduki, dua kelompok keagamaan yang paling berkuasa dan paling terpandang pada zaman Yesus dan dianggap sebagai penuntun hidup umat, dengan teguran yang tidak main-main.  Mereka disebut sebagai “ular beludak!” Dalam Injil Matius istilah ini muncul tiga kali (ayat ini; 12:34; 23:33) dan kesemuanya mengarah kepada satu makna: kemunafikan! Ya. Umat saat itu dipimpin, digembalakan dan diarahkan oleh orang-orang yang lebih cocok untuk disebut sebagai seorang aktor: di mana orang-orang tersebut punya dua standar kehidupan. Di depan publik terlihat sangat saleh namun di area hidup pribadi mereka, mereka tidak bedanya dengan iblis!  Itulah sebabnya mengapa dalam Matius 9:36, Matius menyebut orang-orang banyak itu sebagai orang-orang yang lelah, terlantar, dan tidak bergembala.  Kata “terlantar” rhipto lebih tepat diterjemahkan “terbuang” karena tidak ada yang memperhatikan. 

Masalah kemunafikan ini sebenarnya dipaparkan dengan cukup mendalam juga dalam bagian setelah teks tentang garam dan terang (5:17-48). Coba kita perhatikan sebentar.

 Menurut penulis, inti utama dari pasal 5:17-48 diungkapkan oleh ayat 17-20 (khususnya ayat 20):

Maka Aku berkata kepadamu: Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga.

 

Kata “hidup keagamaan” di sini berasal dari kata Yunani dikaiosune yang lebih tepat diterjemahkan righteousness atau kebenaran.  Nah, pertanyaannya adalah, “Kebenaran seperti apa yang Yesus maksudkan dengan kebenaran Farisi di sini?”  Penulis tertarik dengan klasifikasi yang dilakukan Metzger yang mengatakan bahwa kelompok Farisi pada masa Yesus terbagi dalam beberapa kelompok: 

Farisi the “wait-a-little”; Farisi the “bruised” atau “bleeding”; Farisi the “shoulder”; Farisi the “humped-back”; Farisi the “ever-reckoning”; Farisi the “god-fearing”; Farisi the “God-loving” atau “born”

Dari paparan ini terlihat bahwa mayoritas kelompok-kelompok Farisi ini menekankan kepada kebenaran yang bernilai dari sisi eksternal, dan inilah yang Yesus ingin kritisi dengan kehidupan keagamaan Farisi dan tokoh-tokoh agama Yahudi saat itu yang sekadar menitikberatkan kerohanian dangkal yang bersumber dari tradisi manusia dan tujuannya hanyalah untuk popularitas. Kalau boleh penulis istilahkan: “teologi pamer.” Sebaliknya Kristus menuntut para murid-Nya, warga Kerajaan Allah sebagai orang-orang yang memiliki kebenaran yang utuh; kebenaran yang berasal dari pembaruan hati dan mencuat keluar.  Dalam hal ini yang diutamakan adalah kejujuran dan ketulusan dihadapan Allah.  Dan menurut penulis kerohanian model ini termasuk sulit dicari pada masa kini.  Dan biasanya itu makin sulit tatkala seseorang itu makin senior dan makin mapan, makin dikagumi dan makin terpandang dalam sebuah pelayanan.  Ironisnya orang-orang model ini biasanya sulit untuk mengakui bahwa ia sedang terjebak dalam problem ini.

Saat memperhatikan hal ini penulis melihat akar masalah yang mungkin mirip dengan masalah kita di zaman ini.  Sebab bukankah di zaman kita ini juga ada banyak orang terbuang, lelah, jenuh dengan yang namanya agama dan sebenarnya jauh di lubuk hati mereka, mereka muak dengan agama karena para pemimpin agama mereka (bukan tidak cerdas dan pandai dalam berkata-kata) tapi karena punya hidup yang tidak konsisten dan tidak manunggal.  Dan inilah kebutuhan zaman ini teman-teman: dibutuhkan orang-orang yang mengasihi Tuhan dengan segenap hatinya, segenap kekuatannya dan segenap hidupnya.  Bukan hanya lewat pelayanan dan aktifitas-aktifitas rohani ia tampil saleh tapi dalam seluruh aspek kehidupannya, ia benar-benar memancarkan kasih Tuhan itu.   

Tentu domba-domba saat itu tidak terperhatikan karena gembala mereka bukannya merawat domba-dombanya dan berbagi hidup dengan mereka tapi justru sibuk membangun citra diri mereka sendiri.  Dan perhatikan dalam konteks pergumulan umat saat itu, yang dibutuhkan bukanlah seorang gembala (atau dalam konteks kita, kakak KTB) yang hebat, jago dalam berteologi, punya pengalaman organisasi dan jabatan-jabatan tertentu.  Yang dibutuhkan adalah seseorang yang mau memberi hidup, berbagi hidup dan hidupnya benar-benar di dalam Allah dan hanya menginginkan Allah, bukan yang lain.

Perhatikan: Inilah kondisi riil yang melatarbelakangi tuntutan para murid saat itu untuk menjadi garam dan terang dunia.  Mengapa?  Karena dunia saat itu dipenuhi oleh orang-orang yang hanya pandai meneriakkan jargon-jargon rohani tanpa aksi-aksi yang konkret.  Dunia dipenuhi orang-orang yang punya standar hidup ganda: di pelayanan dan Gereja dia begitu saleh, tapi di bangku kuliah, di rumah orang tuanya dan di tempat kostnya, ia hidup tidak bedanya seperti orang-orang kafir.  Dan saat melihat semua ini, bukankah tidak salah kalau penulis mengatakan bahwa dunia seperti ini adalah dunia yang sangat gelap?  Tapi yang menarik Galatia 4:4 mengatakan bahwa dalam “setelah genap waktunya, maka Allah mengutus Anak-Nya. . . “  Setelah genap waktunya tentu bicara soal waktu yang tepat menurut Allah.  Tapi bukankah saat itu dunia ada dalam kegelapan dan tanpa pengharapan dan ada berbagai risiko yang mengancam orang-orang yang berani hidup berbeda?  Tapi inilah waktu yang tepat menurut Allah.  Mengapa?  Karena dunia seperti ini haus menantikan orang-orang yang benar-benar tulus dan murni di hadapan Allah.  

Kembali ke apa yang penulis sampaikan di awal tadi, sampai di sini penulis bisa mengatakan bahwa yang Yesus lakukan saat itu lewat Khotbah di Bukit adalah sebuah tindakan koreksi, memberikan masukan kritis dan membenahi kepada kehidupan riil umat Tuhan pada saat itu.  Artinya, khotbah di Bukit ini adalah khotbah yang memang berbicara dalam sebuah situasi yang konkret/nyata dan tidak abstrak.

Namun pertanyaan lebih jauh yang mungkin patut kita tanyakan adalah, “Kehidupan riil umat Tuhan seperti apa yang sebenarnya ingin dikritisi Yesus lewat pengajaran khotbah di bukit ini?”

Untuk menjawab pertanyaan ini penulis mengajak kita kembali melihat konteks dekat dari perikop kita pada pagi hari ini (5:1-12)

Pasal 5:1-12 terkenal dengan istilah ucapan bahagia (beautitudes; berasal dari kata latin: beatus; blessed).  Penulis tidak ingin panjang lebar tentang bagian ini tapi penulis ingin kita menangkap apa yang sebenarnya menjadi intisari ucapan bahagia ini.  Menurut penulis secara sederhana, ucapan bahagia merupakan pengajaran

Untuk menjawab pertanyaan ini penulis mengajak kita untuk melihat kata yang paling dominan muncul dalam bagian ini, ya, tentu saja kata, “Berbahagialah.”  Kata ini berasal dari kata Yunani makarios/makarioi. Penulis tertarik dengan analisis dari sebuah kamus kata yang mengatakan bahwa dalam dunia Yunani kuno kata ini sebenarnya merupakan kata bentukan dari kata “makar.”  Nah, kata makar sendiri sebenarnya dominannya merupakan kata yang diperuntukkan bagi para dewa.  Ada sebuah kata dalam bahasa Yunani hoi makares bahkan diterjemahkan the gods.  Nah, dari sini kita bisa menebak bahwa dalam dunia Yunani kuno kata ini dipakai untuk melukiskan sebuah makna kebahagiaan yang melampaui apa pun juga di dunia ini dan mengalami kebahagian yang dialami oleh para dewa.  Dalam PL sendiri, mayoritas ayat yang menggunakan kata ini menekankan kebahagiaan sebagai, “. . . simply to the one who trusts in God, who hopes and waits for Him, who fears and loves Him.” Kebahagiaan sama sekali tidak berfokus pada harta, materi, barang-barang dan kenikmatan-kenikmatan duniawi, tapi pada Tuhan.  Coba kita lihat beberapa ayat dari Mazmur ini:

Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh (1:1)

Berbahagialah orang, yang menaruh kepercayaannya pada TUHAN, yang tidak berpaling kepada orang-orang yang angkuh, atau kepada orang-orang yang telah menyimpang kepada kebohongan! (40:5)

Berbahagialah setiap orang yang takut akan TUHAN, yang hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya! (128:1)

Setiap hal yang berkaitan dengan berlimpahnya harta, dan banyaknya berkat fisik, selalu dimaknai sebagai pertanda bahwa Allah hadir dan memberkati:

Semoga anak-anak lelaki kita seperti tanam-tanaman yang tumbuh menjadi besar pada waktu mudanya; dan anak-anak perempuan kita seperti tiang-tiang penjuru, yang dipahat untuk bangunan istana! Semoga gudang-gudang kita penuh, mengeluarkan beraneka ragam barang; semoga kambing domba kita menjadi beribu-ribu, berlaksa-laksa di padang-padang kita! Semoga lembu sapi kita sarat; semoga tidak ada kegagalan dan tidak ada keguguran, dan tidak ada jeritan di lapangan-lapangan kita! (144:12-14)

Dan ini maknanya:

Berbahagialah bangsa yang demikian keadaannya! Berbahagialah bangsa yang Allahnya ialah TUHAN! (144:15)

Dan menurut penulis makna itu pula yang mau ditekankan Matius lewat bagian ini.  Konsisten dengan PL, kebahagiaan yang dimaksud oleh Yesus di sini adalah kebahagiaan yang tidak berdasar pada apa yang dianggap dunia sebagai sumber kebahagiaan dan sumber kehidupan.  Bagi orang benar, yang membuat hidupnya bahagia adalah karena ia turut ambil bagian dalam Kerajaan Allah itu dan bahwa ia senantiasa berada dekat dengan Allah yang adalah Raja dari Kerajaan itu.  Kalau kita cermati dengan seksama apa oleh 10 ucapan bahagia ini (mirip dengan 10 hukum Taurat Allah) paparkan tentang karakteristik dari mereka yang turut ambil bagian dalam Kerajaan Allah itu, maka kita akan berjumpa dengan gambaran yang paradoks dan terkesan bernada ironi.  Coba lihat gambaran-gambaran yang diberikan oleh ayat-ayat tersebut.  Bagaimana mungkin orang yang “miskin” (menekankan kerendahan) malah mendapat Kerajaan, bagaimana mungkin orang yang lemah lembut memiliki bumi.  Dan lebih ironis lagi, kalau kita perhatikan tiga ayat terakhir dari teks ini (ay. 10-12) yang disebut berbahagia adalah mereka yang disiksa, dianiaya dan difitnah.  Apa maksudnya ini?

Saat mencermati urut-urutan ucapan bahagia ini ada satu hal menarik yang penulis cermati.  Dari ayat 3-9, kalau mau digambarkan dalam bentuk grafik, maka kecenderungan yang terlihat adalah kecenderungan pertumbuhan rohaniyang progresif.  Namun kalau mencermati mulai ayat 10-12, grafik pertumbuhan rohani yang cenderung progresif tersebut malah membawa dampak sebaliknya, menurun. Lho, apa-apaan ini?  Bukankah mestinya kalau saya setia dan saya makin bertumbuh hidup saya makin berhasil, sukses, sejahtera dan lancar-lancar?  Tapi kok malah sebaliknya, makin setia, malah makin difitnah, makin suci, makin dibenci, makin lapar dan haus akan firman malah makin disesah, dianiaya dan disiksa. Penulis teringat dengan perkataan John Stott berkaitan dengan bagian ini, “Penderitaan adalah lencana kekristenan.”  Apa artinya?  Ya, hanya lewat penderitaanlah (masa-masa sukarlah), siapa sesungguhnya kita akan terlihat. Dan hanya lewat penderitaanlah akan terlihat sesungguh-sungguhnya apakah kebahagiaan kita bersumber dari Tuhan atau dari perkara-perkara duniawi.  Dan itu artinya jangan berharap bahwa makin setia dan makin sungguh-sungguh kita melayani akan makin harumnya nama kita; makin terjaminnya hidup kita; makin meningkatnya taraf hidup kita.  Justru dalam banyak kasus, makin seseorang melayani dengan setia, makin disalahmengertinya dia; makin dikhianatinya dia, makin dibuangnya dia, dll.  Namun bagi orang-orang percaya yang sejati, semua itu adalah kebahagiaan karena memang tidak ada lagi yang dijadikan sandaran dan harta yang paling berharga kecuali Kristus dan Kerajaan-Nya.

Seseorang yang kesukaannya adalah Tuhan dan harta yang paling berharganya adalah Tuhan akan melalui masa-masa kesesakan itu dengan sukacita sebab mereka tahu mereka mengambil bagian dalam penderitaan Kristus, seperti kata Kisah Rasul 5:41:

Rasul-rasul itu meninggalkan sidang Mahkamah Agama dengan gembira, karena mereka telah dianggap layak menderita penghinaan oleh karena Nama Yesus.

Dan itulah semangat Paulus dalam 2Korintus 4:16:

Sebab itu kami tidak tawar hati, tetapi meskipun manusia lahiriah kami semakin merosot, namun manusia batiniah kami dibaharui dari sehari ke sehari.

 

Nah, inilah konteks-konteks menyelubungi pokok bahasan soal garam dan terang.  Kalau bisa penulis simpulkan: tidak mungkin seseorang menjadi garam dan terang kalau kebahagiaan sejati satu-satunya dalam hatinya bukan Tuhan dan kalau kerohaniannya adalah kerohanian cap pamer.  Atau kalau bisa penulis balik: hanya orang yang hartanya Tuhan dan yang hatinya tuluslah yang dapat menjadi garam dan terang secara konsisten dan terus-menerus.  Itulah sebabnya mengapa perikop ini dibuka dengan satu kata Yunani yang sebenarnya sangat tegas, “humeis. . . ” (bdk. ay. 14).  Terjemahan lebih tepat dari kata ini adalah, “Kamu, ya hanya kamulah. . . .”  Kata ganti ini menegaskan dua tendensi utama: pertama,  menegaskan bahwa hanya orang-orang yang berkarakter tulus dan mencintai Tuhan yang dapat menjadi garam dan terang; namun kedua, menurut penulis Matius sengaja menggunakan kata yang tegas ini untuk menegaskan sebuah urgensitas yang tidak dapat ditawar-tawar: tanpa kehadiran garam dan terang itu dunia ini akan makin rusak dan makin gelap. Dan Yesus seolah-olah menegaskan bahwa satu-satunya harapan dari selamatnya dunia ini adalah kehadiran orang-orang yang merupakan warga Kerajaan Allah itu.  Penulis pernah membaca sebuah tulisan (kalau tidak salah John Stott) mengatakan, “Kalau dunia ini menjadi rusak dan busuk dan makin gelap, jangan salahkan dunianya.  Yang patut dipertanyakan adalah, ‘Di mana garamnya? Di mana terangnya?”

Kita sudah mendengar banyak khotbah dan ceramah tentang makna garam.  Dan memang ada sangat banyak makna yang bisa diberikan: memurnikan, mengawetkan, memberi kesuburan, simbol hikmat, bermakna korban/persembahan (Im. 2:13; Yeh. 43:24) dan kovenan (Bil. 18:19; Im. 2:13).  Penulis tidak mau lebih jauh menggali makna-makna ini dan memang keliru kalau kita mau menekankan salah satu saja karena sebenarnya makna garam di sini sangat luas dan dalam; tapi satu hal perlu kita ingat bahwa garam di sini, sederhananya, menekankan hal yang signifikan dan sangat dibutuhkan dunia, seperti sangat dibutuhkannya garam dalam kehidupan sehari-hari.  Artinya, kehadiran orang-orang Kristen sangat dibutuhkan dalam peristiwa-peristiwa riil masyarakat, dalam aspek-aspek yang tampaknya sepele tapi di situ ia mampu memberi penetrasi, dalam hal-hal sederhana tapi dilakukan dengan penuh kesetiaan.  Kehilangan keasinan erat kaitannya dengan dua konteks yang sudah kita bahas di atas.  Di dunia timur dekat kuno keasinan garam dapat hilang apabila garam tersebut bercampur dengan satu jenis senyawa kimia yang lain.  Apa artinya? Hilang keasinan merupakan simbol dari bergeser dan bercampurnya hidup kerohanian seseorang dengan dunia.  Kebahagiaan hidup yang sebelumnya hanya Tuhan berubah.  Kenikmatan dunia mulai memikat dirinya dan hatinya mulai tidak tulus lagi.

Dalam Alkitab “terang” merupakan sebuah kata metafor yang sangat penting. 1Yoh.1:5 mengatakan bahwa Allah adalah terang dan dalam Injil Yohanes, Kristus dinyatakan sebagai terang (8:12; 9:5).  Dalam PB, Paulus memperluas makna terang dan merujuk kepada orang-orang percaya (Ef. 5:8) dan Yesaya 42:6; 49:6 mengaitkan Israel sebagai terang yang harus bercahaya di hadapan orang-orang yang tidak mengenal Allah.  Sama seperti metafor garam, terang dalam konteks ini menjelaskan sesuatu yang amat sangat dibutuhkan dalam dunia yang gelap.


Aksi

Information

3 tanggapan

6 10 2009
Holy

Salam,

saya sedang berselancar mencari artikel ttg Garam dan Terang utk pelayanan ‘dadakan’ di Gereja saya dan menemukan tulisan ini. Ternyata penulisnya staf Perkantas Jatim tokh:).. Pantes.. :).

Saya jg dulu staf Perkantas Jkt, tp hanya 1,5 thn utk pelayanan siswa.

Minta izin menggunakan sebagian dari materi ini utk saya bagikan di Gereja yah.. Terima kasih dan salam kenal.

7 10 2009
perdian

Hai salam kenal juga. O tentu, silakan digunakan. Salam untuk jemaat anda. Gbu

20 03 2013
Djal

Hai Pak! lagi browsing utk tema ini, eh nemu blog P Per malah ^^. Keep up, Pak! :)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: