MEMAKNAI TAHUN BARU DALAM PERSPEKTIF ROSH-HASSANAH YAHUDI

1 02 2009

Imamat 23:23-25; Bilangan 10:10

chinese-new-year-in-singapore

I

Saya tertarik melihat kalender dalam kurun waktu penghujung tahun 2008 sampai awal tahun 2009.Setidak-tidaknya ada “tiga kali” tahun baru dalam waktu yang tidak terlalu berjauhan.Yang saya maksudkan dengan tiga kali tahun baru adalah Tahun Baru Muharram (Islam), Tahun Baru Masehi dan Tahun Baru Imlek (Cina).Luar Biasa!Artinya sangat mungkin ada manusia di bumi ini yang merayakan tahun baru lebih dari satu kali dan tentu bahkan ada yang dalam kurun waktu yang tidak terlalu panjang merayakan tiga kali tahun baru!

Budaya Alkitab (dalam hal ini yang terjadi dengan orang-orang Yahudi) pun punya budaya tahun baru.Salah satunya dijelaskan oleh dua teks di atas.

II

Dari konteksnya kita dapat mengerti bahwa teks ini sedang membicarakan perihal beberapa hari-hari raya penting orang Yahudi: Hari raya Paskah (ay. 5), Hari Raya Roti Tidak Beragi (ay. 6), Hari Raya meniup serunai (ay. 24), Hari Raya Pendamaian (ay. 28), dan Hari Raya Pondok Daun (ay. 34).Hari-hari raya ini dapat dikatakan sebagai hari-hari raya yang paling penting bagi orang Yahudi.Hari Raya yang pada akhirnya menjadi cikal bakal Hari Raya Tahun Baru (Rosh-Hassanah) bagi orang Yahudi adalah Hari Raya meniup Serunai.Hari tersebut (hari pertama bulan ketujuh) dianggap sebagai hari yang paling sakral dalam satu tahun sebab angka tujuh adalah angka yang sangat penting (angka Allah) bagi orang Israel.Itulah sebabnya oleh orang-orang Yahudi saat ini hari tersebut disebut sebagai Rosh-Hassanah (Rosh = head; kepala dan Hassanah = year; tahun) atau dapat dikatakan hari yang paling tinggi (pemuncak) dari satu tahun.

Bagi orang Yahudi sendiri Tahun Baru (Rosh-Hassanah) bukanlah hari untuk berfoya-foya seperti kebiasaan banyak orang saat merayakan malam pergantian tahun baru.Kalau kita perhatikan dengan seksama teks kita ini maka ada beberapa hal penting yang menjadi makna tahun baru bagi orang-orang Yahudi.

Makna pertama diberikan oleh simbol meniup serunai (ibr. showpaar).Dalam Bilangan 10:10, meniup nafiri/terompet dikaitkan dengan tindakan untuk “mengingatkan” Tuhan akan Perjanjian (kovenan) yang diikat-Nya dengan umat-Nya:

Juga pada hari-hari kamu bersukaria, pada perayaan-perayaanmu dan pada bulan-bulan barumu haruslah kamu meniup nafiri itu pada waktu mempersembahkan korban-korban bakaranmu dan korban-korban keselamatanmu; maksudnya supaya kamu diingat di hadapan Allahmu; Akulah TUHAN, Allahmu.

Istilah “mengingatkan” mungkin perlu sedikit kita klarifikasi.Istilah “mengingat” sendiri sebenarnya memiliki dua arti.Pertama, “mengingat” dapat diartikan sebagai sebuah aktivitas mental yang dilakukan oleh otak dengan mencoba untuk memanggil kembali informasi yang tersimpan di otak karena mungkin informasi tentang hal tersebut sudah tertumpuk dengan informasi yang baru.Bahasa praktisnya, “mengingat” terjadi karena lupa.Kedua, mengingat dapat diartikan sebagai sebuah tindakan “mengenang.”Contoh: Tugu pahlawan didirikan untuk mengingatkan kita akan jasa para pahlawan.

Dalam konteks Bilangan 10:10 ini tentu bukan definisi pertama ini yang dimaksudkan.Tuhan tentu tidak pelupa seperti manusia.Dalam Mzm. 103:2 (Ul. 6:12) pemazmur menghimbau jiwanya untuk tidak melupakan Tuhan.Dari mazmur ini kita tentu dapat mengerti bahwa “lupa” (pada Tuhan) pasti adalah sifat yang buruk yang pasti tidak ada pada Tuhan!Dalam konteks ini lebih cocok kita mengartikan mengingat di sini sebagai “mengenang.” Mengenang apa? Saya yakin “mengingat” di sini tentu berkaitan dengan mengenang ikatan perjanjian yang terjadi antara YHWH dengan Israel; ikatan perjanjian ajaib yang di satu sisi membuat Israel menjadi umat kesayangan tapi disisi lain ikatan ini sekaligus mengandung tanggung jawab bahwa Israel adalah bangsa yang dipilih TUHAN untuk memberitakan terang bagi bangsa-bangsa. Perhatikan pembaruan kovenan yang dilakukan Asa yang salah satu aktivitasnya adalah meniup serunai/nafiri (2Taw. 15:14) atau yang dilakukan Hizkia (2Taw. 20:26-28; bdk. Ezr. 3:10). Ikatan perjanjian ini adalah ikatan yang di dalamnya terdapat janji-janji Allah bahwa Ia akan memberkati, melindungi dan menaungi Israel namun sekaligus dibarengi perintah agar Israel setia untuk berpaut kepada Dia, mengasihi Dia dengan segenap hati, segenap jiwa dan segenap kekuatan, dan tidak menyembah ilah lain selain Dia. Itulah sebabnya saya lebih suka terjemahan versi bahasa Inggris untuk ayat ini, “. . . and they will be a memorial for you before your God. I am the LORD your God.”Artinya pada saat orang-orang Israel meniup nafiri atau serunai pada tahun baru mereka, mereka dihimbau—oleh Tuhan sendiri, demi janji-janji yang sudah Ia ikrarkan dalam ikatan kovenan—untuk memberanikan diri berseru meminta penyertaan Tuhan sesuai dengan janji-Nya, tanpa ragu dan tanpa takut.Tapi di sisi lain tindakan meniup serunai/nafiri ini sekaligus menantang mereka untuk berani mengoresi dan mengevaluasi secara kritis sikap mereka terhadap Allah.Betulkah hanya Allah yang mereka sembah?Betulkah Allah sungguh-sungguh mereka taati dan mereka kasihi dengan segenap hati, segenap jiwa dan dengan segenap kekuatan?Ataukah sebenarnya ada sesembahan lain, ilah lain, berhala lain yang secara diam-diam menyeruak masuk dalam hati dan hidup mereka dan mengambil bagian yang penting tanpa mereka sadari. Jangan-jangan tindakan meminta pertolongan kepada Tuhan hanyalah sebuah alternatif (bukan satu-satunya cara) yang kita lakukan untuk mencari pertolongan. Dalam Alkitab ada banyak tokoh-tokoh seperti ini diceritakan.Tentu kita tidak akan lupa dengan Saul.Pada satu sisi dia meminta pertolongan Tuhan tapi pada sisi lain ia juga datang kepada peramal.Atau dengan umat Israel pada masa Hakim-hakim.Pada saat seorang Hakim memerintah atas mereka, mereka begitu setia kepada Tuhan.Tapi ketika Hakim tersebut mati, seketika itu pula hati mereka beralih kepada berhala-berhala.

Pada saat saya merenungkan bagian ini saya saya melihat terdapat sebuah pengertian teologi “tahun baru” yang sangat indah dari kitab suci.Di satu sisi, pada tahun baru umat bukan hanya disarankan atau dihimbau untuk meminta pertolongan kepada Tuhan.Dari tradisi meniup serunai/nafiri, menurut saya, umat bahkan diharuskan oleh Tuhan untuk meminta pertolongan-Nya; umat diminta mengundang intervensi-Nya atas segala masalah dan pergumulan hidup yang dihadapi umat.Meminta pertolongan kepada Tuhan pada “tahun baru” bukanlah tindakan yang egois.Saya tegaskan di sini, meminta pertolongan kepada Tuhan pada tahun baru adalah tindakan yang sangat Alkitabiah, sebab Tuhan sendiri memintanya dari kita.Tetapi itu bukanlah seluruh kebenaran dari teologi “tahun baru” Alkitab.Di sisi lain, tradisi meniup serunai/nafiri untuk meminta tolong kepada Tuhan menurut saya adalah sebuah tindakan yang sangat berani.Berani, karena dengan meminta tolong kepada TUHAN Allah Israel berarti saya berani mengatakan bahwa tidak ada pertolongan lain yang lebih melegakan dan lebih sempurna selain yang dilakukan oleh DIA.Dan itu sekaligus secara otomatis berarti bahwa saya tidak akan pernah mencari pertolongan lain, bersandar kepada ilah/allah lain, semenarik apa pun dan semenjanjikan apa pun allah itu, kecuali kepada Tuhan; saya tidak akan pernah mencari jalan pintas untuk keluar dari pergumulan saya dengan menyembah ilah lain dan menyimpan sesuatu berhala.Saya mau tetap berharap kepada Tuhan meskipun kelihatannya jalan yang Ia tawarkan bukanlah jalan yang saya inginkan sambil tetap percaya bahwa apapun yang Ia berikan dan kerjakan dalam hidup saya adalah yang terbaik dan yang terindah!Inilah alasan saya mengatakan bahwa meminta tolong kepada Tuhan adalah sekaligus sebuah tindakan yang berani.

III

Saya tertarik dengan seorang penafsir yang memberi tema Bilangan 10 ini, The Signal For the Journey.Kalau kita perhatikan konteks dekat dari pasal 10 ini (yakni pasal 9:15-23) yang bercerita tentang tiang awan yang akan memimpin perjalanan musafir Israel dari Sinai ke Kanaan maka tampaknya teks pasal 9-10 ini memang secara khusus membahas persiapan-persiapan terakhir orang Israel sebelum melanjutkan perjalan dari Sinai ke Kanaan (perhatikan judul perikop 10:11-36).Dan tentu perjalanan yang akan mereka tempuh bukanlah perjalanan yang mudah.Bayangkan mereka adalah bangsa yang besar sebagai budak di Mesir (bukan prajurit) dan harus melakukan perjalanan penuh risiko di padang gurun yang kering kerontang, yang tentu penuh dengan banyak orang jahat.Dalam konteks tantangan dan risiko yang sangat besar yang sedang menanti di depan sanalah persiapan seperti inilah perihal meniup serunai/nafiri diberikan. Satu-satunya harapan mereka dalam kondisi seperti ini tentu hanya Tuhan, tidak ada yang lain.Dan memang inilah keinginan Tuhan.

 
Dalam kisah-kisah Israel selanjutnya, tradisi meniup serunai/nafiri tetap dilakukan, bukan hanya pada saat Israel menghadapi tantangan dan pergumulan (2Taw. 13:12, 14; 20:28) tapi juga dalam hal-hal yang tampaknya aman seperti dilakukan dalam ibadah (1Taw. 13:8; 15:28; 16:42; 2Taw. 7:6; Mzm. 98:6).Artinya, pengakuan kita kepada Tuhan bahwa hanya Ialah penolong yang setia bukan hanya pada saat-saat sulit tapi dalam setiap keadaan.

Aksi

Information

One response

17 09 2009
debora cindhe

Syallum…

Ketujuh Hari Raya diatas memang wajib dirayakan. Sebagai Israel2 cangkokan, kita juga harus selalu mengarahkan pandangan ke Pohon Asli. Ikutlah Rayakan!

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: