Mengapa Saya Menjadi Kristen??

29 10 2008

Filipi 3:1-11; Kisah Para Rasul 26 

 

 

 

 

Pendahuluan

Menurut penulis pada umumnya ada tiga alasan utama mengapa orang mau menjadi Kristen.  Dua pandangan penulis ambil dari buku John Stott, Why I am a Christian? dan pandangan terakhir adalah pandangan penulis pribadi. 

 

Dalam buku terbarunya, Why I am a Christian? (Mengapa Saya Seorang Kristen?), John Stott, seorang penulis, pengkhotbah dan salah satu pemimpin Kristen dunia yang sangat terkenal memaparkan bahwa dua alasan utama orang menjadi Kristen :

 

Jawaban yang pertama biasanya bernuansa primordial-sektarian, misalnya: karena memang sejak kecil saya adalah seorang Kristen; lahir dari keluarga Kristen, memilki ayah-ibu, kakek-nenek seorang Kristen dan sejak kecil saya sudah mengenal Gereja dan pelayanan. Bersekolah di sekolah Kristen dan lahir di daerah yang mayoritas penduduknya adalah Kristen.  Satu sisi jawaban ini ada benarnya, namun di sisi lain banyak tidak benarnya. Sebab terlalu banyak fakta yang terungkap bahwa banyak orang-orang yang terlahir dan bertumbuh dalam lingkungan Kristen yang justru meninggalkan kepercayaannya.

 

Jawaban kedua biasanya lebih bersifat rohani dan penuh dengan nuansa testimonial.  Mungkin orang-orang ini akan berkomentar bahwa saya menjadi  Kristen karena dulu, pada tanggal, bulan dan tahun ini saya pernah secara pribadi berdoa dan meminta Tuhan Yesus  untuk menjadi Tuhan dan Juruselamat saya pribadi. 

 

Sekali lagi ini tidak salah sepenuhnya tapi Stott mengatakan mengandung satu sisi kebenaran saja.  Mengapa?  Karena kalau kita cermati dengan seksama dua pandangan ini maka sebenarnya faktor yang paling penting yang membuat seseorang menjadi seorang Kristen ternyata adalah lingkungan (orang tua, guru, teman, pendeta, dll) atau karena keputusan diri sendiri.  Tapi penulis setuju dengan Stott, dan penulis ingin menegaskan di awal renungan ini bahwa kita tidak mungkin menjadi seorang Kristen kalau, “Yesus tidak datang mengejar (kita) dengan tanpa lelah bahkan ketika kita berlari menjauh dari diri-Nya untuk menjalani keinginan hati (kita) sendiri.”

 

Jawaban ketiga, menurut penulis ada kaitan dengan fenomena kekristenan yang lagi in di Indonesia saat ini, yaitu kekristenan yang menganut paham teologi sukses. Teologi sukses (prosperity gospel) adalah pandangan teologi yang mengajarkan bahwa kemakmuran dan sukses dalam bisnis adalah tanda-tanda eksternal bahwa yang bersangkutan dikasihi Allah. Penganjur ajaran ini mengajarkan bahwa Allah menginginkan agar orang Kristen sukses dalam segala hal, khususnya dalam segi keuangan mereka.  Ya, orang menjadi Kristen karena alasan kecukupan finansial dan kenyamanan hidup yang diyakininya berasal dari Tuhan.

Pembahasan

Dua bagian firman Tuhan yang akan kita pelajari berikut ini berisi kesaksian Paulus tentang alasan utamanya menjadi seorang Kristen.  Dan menarik kalau kita perhatikan, tidak satu pun alasan-alasan di atas disebutkan oleh Paulus. Apalagi kalau kita memperhatikan salah satu latar belakang kitab ini, kitab ini ditulis oleh Paulus pada saat ia ada di dalam penjara, coba kita perhatikan beberapa ayat berikut:

 

Memang sudahlah sepatutnya aku berpikir demikian akan kamu semua, sebab kamu ada di dalam hatiku, oleh karena kamu semua turut mendapat bagian dalam kasih karunia yang diberikan kepadaku, baik pada waktu aku dipenjarakan, maupun pada waktu aku membela dan meneguhkan Berita Injil (1:7).

 

sehingga telah jelas bagi seluruh istana dan semua orang lain, bahwa aku dipenjarakan karena Kristus. Dan kebanyakan saudara dalam Tuhan telah beroleh kepercayaan karena pemenjaraanku untuk bertambah berani berkata-kata tentang firman Allah dengan tidak takut (1:13-14).

 

tetapi yang lain karena kepentingan sendiri dan dengan maksud yang tidak ikhlas, sangkanya dengan demikian mereka memperberat bebanku dalam penjara (1:17).

 

Yang lebih luar biasa lagi, dalam kondisi terpenjarakan dan tersiksa seperti ini, ia 16 kali menuliskan kata “bersukacita” atau “sukacita” (joy; yun. khara; 1:4, 25; 2:2, 29; 4:1) dan rejoice (yun. khairō; 1:18; 2:17, 18, 28; 3:1; 4:4, 10)!  Aneh bukan!  Terpenjara, terbelenggu dan biasanya orang kalau dalam keadaan seperti ini mengumpat, memaki-maki, menggerutu dan mengeluh, Paulus malah sebaliknya.  Dalam kondisi yang semestinya ia dihibur oleh orang-orang yang ada di luar penjara, ia justru menjadi penghibur dan penyemangat jemaat Filipi yang notabene hidup bebas tanpa terbelenggu dalam penjara yang dingin dan mengerikan!

 

Penulis yakin 100% kalau sampai Paulus percaya kepada Yesus, itu tentu bukan karena ia percaya kepada doktrin teologi sukses.  Sebab kondisi yang dialami oleh Paulus bukanlah sekadar ia tidak punya uang atau bisnis lagi seret dan omset usaha menurun, melainkan ia sedang ada dalam kondisi yang sangat ekstrem, kebebasannya direnggut dan ia masuk dalam satu situasi perendahan dan penghinaan yang luar biasa mengerikan.  Perlu kita ketahui pula Paulus sebenarnya dipenjarakan bukan hanya sekali. Perhatikan apa yang dituliskannya di dalam 2Korintus 11:23: ”. . . lebih sering di dalam penjara. . . .”  Frase “lebih sering” dalam ayat ini adalah kata yang menurut penulis tidak sekadar menunjuk kepada seringnya Paulus keluar-masuk penjara (frekuensi/kuantitas) tapi lebih dari itu, frase yang berasal dari kata Yunani perissoteros ini sebenarnya lebih menekankan kualitas penderitaan dan kengerian yang makin intens yang dialaminya (coba bandingkan penggunaan kata ini dalam 2Kor. 2:4 [“tetapi supaya kamu tahu betapa semakin besarnya kasihku kepada kamu semua”]; 7:15, 12:15 [“Jadi jika aku semakin mengasihi kamu. . . .”].  Tentu yang dimaksud dengan semakin besarnya kasih di sini bukanlah soal kuantitas/frekuensi kasihnya tapi kualitas kasihnya).  Bukan itu saja sebenarnya fakta kesesakan yang sebenarnya dihadapi Paulus dalam pemenjaraannya.  Dalam Kisah Para Rasul 23:29; 25:25-27 jelas para raja wilayah pun tidak mendapati sedikit pun kesalahan dalam diri Paulus yang setara dengan derita yang harus ia alami.  Artinya, Paulus mengalami ketidakadilan yang luar biasa.  Inilah kondisi ekstrem yang penulis ingin paparkan dari kondisi yang dialami Paulus.  Ia sangat menderita dan mengalami ketidakadilan yang luar biasa.  Penulis yakin 100% pastilah orang Kristen yang sekadar jadi Kristen karena mengharapkan ini dan itu dari Tuhan pasti sudah lama murtad kalau mereka mengalami kondisi seperti yang dialami Paulus.  Dan penulis yakin pula orang-orang yang percaya karena dipengaruhi orang tua, pendeta, lingkungan, yang sudah dari sononya kristen dan karena sekadar karena keputusannya sendiri untuk ikut Yesus dan menjadi Kristen pasti akan serius mempertimbangkan ulang kepercayaannya kepada Kristus.  Tapi itu sama sekali tidak terjadi dengan Paulus.  Malahan mungkin kita akan lebih terheran-heran lagi kalau membaca ayat-ayat seperti ini:

 

            Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan (1:21).

 

Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus (3:8)

 

Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku (4:13).

 

Ya, dalam penderitaan yang amat sangat dan ketidakadilan yang luar biasa yang dialaminya, ia bukannya meninggalkan Yesus dan kekristenan yang telah membuatnya seperti itu tapi malah sebaliknya, ia makin giat, makin percaya, makin teguh dan makin tidak tergoyahkan.  Mengapa Paulus bisa seperti ini?  Apa alasan yang membuatnya mau percaya kepada Yesus dan menjadi seorang pengikut Kristus yang sejati?

 

Sebelum menjawab pertanyaan ini dan membahas lebih jauh teks Filipi 3:1-11 ini, kita perlu melihat sebentar latar belakang dari bagian ini yang menurut penulis sangat penting.

 

Pada ayat 1-3 kita menemukan nada kalimat Paulus yang sangat tegas.  Mohon jangan salah tafsir, dalam bagian ini Paulus tidak sedang memaki dengan menggunakan kata “anjing.”  Dalam Matius 7:6 dan Matius 15:26 Yesus sendiri menggunakan istilah ini.  Istilah ini juga kembali muncul dalam 2Petrus 2:22, mengutip perkataan Yesus dari Matius 7:6.  Jelas penggunaan kata ini bukan dalam konteks hendak memaki tapi memang istilah ini adalah istilah yang lazim digunakan oleh orang-orang Yahudi.  Dalam tradisi keyahudian, kata ini sering ditujukan untuk merujuk kepada orang-orang non-Yahudi yang dianggap najis.  Namun sebenarnya tidak demikian.  Kalau kita membaca Amsal 26:11 anjing adalah istilah yang digunakan untuk merujuk kepada orang bebal, orang yang sudah tahu hal yang benar tapi tetap melakukan hal yang fasik.  Dan di sini Paulus mengenakan istilah ini untuk sekelompok orang  yang sangat maniak dan fanatik buta dengan perihal tradisi Taurat dan keyahudian, yang disebutkannya sebagai orang-orang yang mementingkan “hal-hal lahiriah.”  Perhatikan, frase ini diulang 3 kali.  Teguran Paulus yang sangat keras jelas menunjukkan bahwa orang-orang ini tampaknya adalah racun yang sangat mematikan bagi Gereja.  Mengapa? Problem sebenarnya bukanlah terletak pada ketekunan orang-orang ini dalam melakukan Taurat dan syariat keagamaan mereka.  Problemnya terletak pada motivasi dan tujuan mereka melakukan tuntutan keagamaan mereka.  Ada satu ayat penting yang mungkin perlu kita perhatikan berkenaan dengan bagian ini:

 

Kamu tahu, bahwa tidak seorangpun yang dibenarkan oleh karena melakukan hukum Taurat, tetapi hanya oleh karena iman dalam Kristus Yesus. Sebab itu kamipun telah percaya kepada Kristus Yesus, supaya kami dibenarkan oleh karena iman dalam Kristus dan bukan oleh karena melakukan hukum Taurat. Sebab: “tidak ada seorangpun yang dibenarkan” oleh karena melakukan hukum Taurat (Gal. 2:16)

 

Dari ayat ini jelas terpapar bahwa terjadi pergeseran orientasi pusat keselamatan yang bukan Allah lagi tapi hukum Taurat dan semua ritual tradisi keagamaan mereka.  Apalagi kalau kita perhatikan ayat 3 ada frase “menaruh percaya.”  Dalam beberapa terjemahan Inggris, frase ini diterjemahkan “put confidence” yang kalau diterjemahkan secara hurufiah berarti “menjadi yakin” dan dengan demikian ini bicara soal apa yang menjadi sandaran utama.  Dan ini problemnya!  Golongan Yahudi fanatik ini menganggap bahwa Tauratlah yang menyelamatkan dan dapat dijadikan sandaran, bukan Tuhan.  Padahal jelas Yesaya 33:22 berkata, “Sebab TUHAN ialah Hakim kita, TUHAN ialah yang memberi hukum bagi kita; TUHAN ialah Raja kita, Dia akan menyelamatkan kita.”  Intinya, mereka melakukan syariat keagamaan tanpa Allah di dalamnya; bukankah ini racun yang mematikan?  Sebab mereka mengganti Allah dan memberhalakan Taurat dan ritual-ritual keagamaan.  Ya, pada akhirnya agama hanyalah sebuah tradisi dan kebiasaan rutin tanpa makna.  Dan bukankah model kekristenan seperti ini yang banyak terdapat negara kita saat ini: kekristenan tradisi?  Karena saya Kristen, maka tiap hari minggu harus ke Gereja;  karena saya Kristen, maka saya harus punya Alkitab; karena saya Kristen, maka saya harus berdoa, merayakan natal, dan lain-lain!  Penulis ingin mengingatkan: jangan pernah berpikir kita otomatis menjadi Kristen hanya karena kita terlahir dari orang tua Kristen dan bertumbuh dalam lingkungan Kristen.  Camkan apa yang dikatakan seorang tokoh reformasi, Marthin Luther, “Kekristenan bukanlah agama; kekristenan adalah sebuah relasi.”  Penulis ingat dan tercengang saat membaca komentar John Stott tentang Saulus sebelum percaya Yesus, “Saulus percaya pada Allah, namun ia tidak mengenal-Nya.”  Dan menurut penulis inilah yang akan terjadi dengan orang yang sekadar beragama. Yang dipentingkannya bukanlah Allah melainkan bagaimana ia sanggup memenuhi tuntutan norma-norma agama tersebut secara benar dan tepat.  Dan hal inilah yang diistilahkan Paulus dengan frase “hal-hal lahiriah.”  Camkan dan renungkan sungguh-sungguh:  Mengapa saya menjadi kristen sekarang ini?  Karena tradisikah?  Sekadar faktor lingkungankah?  Sungguhkah saya punya relasi dengan Yesus secara pribadi saat ini?

 

Lebih jauh Paulus memberi contoh dari keagamaan cap tradisi ini dengan sunat.  Jelas golongan Yahudi ini menitikberatkan pada sunat fisik sebagai tanda perjanjian dengan Tuhan.  Setiap orang yang diselamatkan selain percaya Kristus harus disunat! Betulkah itu?  Tentu tidak, sebab PL sendiri pun, sebagai kitab suci pegangan orang Yahudi justru menekankan sunat hati: (bdk. Yer. 4:4; Yeh. 44:7; bdk. Juga dengan Im. 26:41; Ul. 10:16; 30:6).

 

Inilah latar belakang dari bagian ini.  Di dalam jemaat Filipi ada orang-orang yang mengaku diri sebagai orang Kristen namun sebenarnya lebih memikirkan perkara-perkara lahiriah dan bukan sekadar itu;  mereka juga membanggakannya.

 

Pada bagian berikutnya (ay. 4-6) Paulus sedikit flashback dan menceritakan “hidup lamanya” yang sebenarnya sangat bergelimang dengan berbagai kebanggaan yang diidam-idamkan sekelompok Kristen-Yahudi fanatik ini.  Coba kita cermati siapa sosok Paulus yang lama.

 

disunat pada hari ke delapan” = Paulus hendak menyatakan bahwa ia disunat tepat sesuai tuntutan hukum (Kej. 17:12; Im. 12:3; bdk. Luk. 1:59; 2:21).  Ismail disunat pada usia 13 tahun (Kej. 17:25; bdk. dengan 21:4).  Ia juga tidak seperti kaum proselit yang disunat pada saat mereka telah dewasa.  Di sini ia hendak menyampaikan bahwa sejak lahirnya ia adalah orang Yahudi yang taat!

 

dari bangsa Israel = ia tidak menggunakan istilah bangsa Yahudi tapi Israel.  Ini tentu mengingatkan orang-orang terhadap sebuah bangsa yang penuh dengan karya penyertaan Tuhan di dalam sepanjang sejarahnya.

 

suku Benyamin” = hanya benyamin yang lahir di tanah perjanjian (Kej. 35:9-19); Raja pertama yang sah secara hukum (1Sam. 9:1-2à yang mana namanya menjadi asal nama Saulus); Yerusalem dan Bait Allah berada pada teritori suku Benyamin (Hak. 1:21); Suku Benyamin (bersama-sama dengan Yehuda) adalah suku yang tetap setia kepada keturunan Daud setelah kerajaan Israel terpecah dua (1Raj. 12:21); Mordekai, seorang yang terlibat dalam karya penyelamatan YHWH bagi orang Israel berasal dari suku Benyamin (Est. 2:5); Suku Benyamin selalu menempati post terhormat dalam peperangan (Hak. 5:14; Hos. 5:8); Benyamin mempertahankan jalan masuk yang dibuat bagi orang-orang kafir di antar suku-suku Israel dan mereka tetap ”murni.”

 

Orang Ibrani Asli” = semestinya ”Hebrew of Hebrews.”  Mengapa?  Orang tuanya adalah orang-orang yang asli, tidak bercampur.  Selain itu tampaknya ia juga menyatakan bahwa ia adalah orang yang terlahir dengan berbahasa ibu Yahudi dan tidak tercampur dengan budaya-budaya Yunani; tidak seperti orang-orang Yahudi lain yang meskipun berasal dari orang tua asli Yahudi, sudah terbiasa dengan budaya Yunani (Kis. 6:1; 22:2; 2Kor. 11:22).  Selain itu, dari kesaksiannya dalam Kis. 23:6, ia bukan hanya orang Farisi tapi ia juga lahir dari orang tua Farisi! 

 

”kegiatan” à zeal for God.  Ia menganiaya jemaat karena ingin menjaga kemurnian ke-Yahudian dari kekafiran!

 

Dari paparan tentang masa lalunya ini maka kita bisa menebak bahwa Paulus sebenarnya dapat dianggap sebagai seorang selebriti dan tokoh papan atas di kalangan agamawan Yahudi.  Dan penulis yakin, banyak orang Yahudi yang ingin seperti Paulus lama.  Namun menarik melihat apa yang ia paparkan di ayat 7.   Setelah di dalam Yesus, ia justru melihat segala sesuatu yang dulunya sebagai hal yang sangat berharga sebagai kerugian, bahkan sampah (ay. 8).  Kata ”kuanggap” (yun. hegeomai) menurut Gerald F Hawthorne berarti ”to think, consider, regard.”  Artinya tindakan yang diambil Paulus untuk meninggalkan semuanya benar-benar adalah tindakan yang sudah dipikir secara matang dan tidak main-main (Luk. 14:31).  Dan perlu diperhatikan, kata yang dipakai untuk zemia yang kalau dalam Kis. 27:10 dan 21 bisa juga diterjemahkan damage (kerusakan).  Artinya sesuatu yang lampau itu bukan hanya merugikan dirinya, tapi juga justru merupakan hal-hal yang sangat membahayakan, sebab semua itu menjauhkan dirinya dari Allah, Sang Sumber kehidupan.  Penulis senang sekali dengan kalimat dari Hawthrone untuk bagian ini:

 

Paul had to abandon his past advantages precisely because they were the very things that kept him from coming to God. They kept him from surrendering to Christ, who is the only way to God. 

 

 

Paulus yang lama adalah sosok yang sangat agamawi.  Ia taat kepada tuntutan-tuntutan keagamannya.  Ia berjuang demi agamanya, namun tanpa Tuhan.  Namun penulisng, semakin semangat ia melakukan semua aktivitas-aktivitas itu, semakin ia jauh dari Tuhan, semakin frustasi dia dan semakin ia terhilang.  Namun puji Tuhan!  Ia adalah Tuhan yang mencari.  Ia tidak meninggalkan Paulus.  Ia mencari Paulus tanpa jemu dan menemukannya.  Itulah sebabnya tidak ada yang berharga selain Dia.

 

 

About these ads

Aksi

Information

2 tanggapan

30 10 2008
surya medis

kak wanto, buat tulisan dong yng berhubungan dengan surat yakobus….
Surya tertarik kak surya tunggu ya. gbu kak

9 11 2008
chanly

Artikel di atas menjadi suatu pembelajaran bagi saya secara pribadi, ni dapat menjadi bahan untuk menginjil, saya tuggu tulisan tentan bagaimana menginjili yang beragama Islam, agak susah saya menjelaskan bagi mereka, palagi saya kurang paham dengan ajaran Agama Islam. Saya tunggu ya… tau kirim ke alamat e-mail saya : chanlyharefa@yahoo.com.id, tanks GBU.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: