PASTORAL LEADERSHIP: SEBUAH KEBUTUHAN KEPEMIMPINAN DALAM PELAYANAN MAHASISWA

1 08 2008

 

 

KRISIS DALAM DUNIA MAHASISWA

Abbie Smith, seorang hamba Tuhan dalam Pelayanan Mahasiswa, dalam artikelnya Transition, memberikan wawasan demikian tentang masa transisi seorang siswa dari Sekolah Menengah Umum (SMU)  ke Perguruan Tinggi (PT):

 

Selalu ada dua sikap anak SMU saat akan bertransisi ke tingkat PT: tipe yang pertama mencintai SMU dan takut untuk beranjak ke kampus, sedangkan tipe yang lain adalah mereka yang muak dengan SMU dan siap untuk tantangan baru. . . .  Namun bagi keduanya, masa transisi ini akan menandakan sebuah perubahan yang sangat besar.  Anda tidak akan keluar sebagai pribadi yang sama dengan saat anda masuk.  Dunia kampus akan mengendalikan segala sesuatu tanpa pernah dapat anda bayangkan.  Anda akan sering mendengar lebih banyak ”isme-isme” (pluralisme, satanisme, individualisme) yang belum pernah anda dengar sebelumnya dan berhadapan dengan lebih banyak kecanduan (obat-obatan, alkohol, pornografi, pola makan).[1]

 

Jimmy Long, seorang staf Senior InterVarsity Christian Fellowship (Perkantas Amerika Serikat)—mengutip pandangan Os Guiness dalam bukunya The Gravediggers File—mengatakan bahwa ada tiga filsafat utama yang mempengaruhi dunia dan masyarakat, termasuk dunia kampus dan para mahasiswa di dalamnya, saat ini:[2]

1.      Sekularisasi

Pluralisasi merupakan sebuah proses yang mana hampir semua bagian dari masyarakat kita telah dipisahkan dari pengaruh nilai-nilai ke-Tuhanan.  Seorang teolog Belanda, C. A.van Peursen mengatakan demikian tentang definisi Sekularisasi, “Sekularisasi adalah sebuah pembebasan manusia pertama-tama dari agama lalu kemudian dari kontrol metafisik  (hal-hal spiritual) atas akal budi dan tutur katanya.”[3]. Harvey Cox menyambung demikian terhadap sekularisasi, “Sekularisasi merupakan peniadaan dunia dari agama dan dari pemahaman kemunafikan agama yang memang ada pada dirinya, pengusiran terhadap semua pandangan yans sempit, penghancuran terhadap semua mitos-mitos supranatural dan simbol-simbol sakral.”[4].  Pandangan sekularisasi membuat orang tidak pusing lagi dengan persoalan-persoalan spiritual. Pembentukan karakter dan spiritualitas dikotakkan dan berupaya disempitkan ruang geraknya.  Bahkan tanpa disadari hal ini terjadi dalam banyak Universitas-universitas Kristen, termasuk di Indonesia.  Arthur Holmes, seorang teolog dan filsuf kristen terkenal, menyatakan bahwa moralitas dan etika yang berakar dari tradisi kekristenan merupakan dasar utama dalam pengembangan kurikulum perguruan-perguruan tinggi di Amerika pada abad XIX.[5] Namun secara perlahan-lahan, seiring dengan perkembangan waktu, nilai-nilai moral yang memaknai dan menjadi nafas utama dalam kurikulum dan di setiap kegiatan akademis kampus, tereduksi dan dibungkus rapi dalam kotak baru bernama jurusan studi filsafat dan agama.[6] Artinya, pendirian jurusan studi agama dan pembentukan biro-biro kerohanian dalam universitas-universitas sebenarnya merupakan ekses dari filosofi sistematik untuk menyingkirkan aspek moralitas dan nilai dari pendidikan. Parahnya, pola ini diadopsi dan lebih disistematiskan (bahkan disistemikkan) dalam universitas-universitas yang “ber-label” Kristen.

2.      Pluralisasi

Pluralisasi merupakan proses multiplikasi yang sangat cepat dari pilihan-pilihan.  Dengan banyaknya pilihan, kita tidak tahu mana yang benar. Semua kebenaran menjadi sesuatu yang relatif. Karena kita tidak tahu mana yang benar secara mutlak, kita kemudian akan mengurangi komitmen kita pada apa pun atau siapa pun.  Pada akhirnya kita menjadi orang-orang tanpa iman, tanpa prinsip hidup, tanpa pendirian yang tegas. 

3.      Privatisasi

Gabungan antara Sekularisasi dan Pluralisasi menghasilkan Privatisasi. Privatisasi adalah sebuah tindakan di mana orang tidak lagi mau melihat orang lain. Berkebalikan dengan hal ideal yang kita lakukan, kita balik mencintai diri sendiri dan mengumpulkan materi-harta untuk kepentingan sendiri.  Pada akhirnya kita menjadi orang-orang yang tanpa kasih bagi orang lain.  

Pengaruh dari tiga pandangan ini, menurut Jimmy Long, juga sangat terasa dalam kehidupan Gereja dan orang-orang Kristen masa kini.  Perhatikan saja apa yang terjadi dengan orang-orang Kristen saat ini.  Di satu sisi mereka begitu peduli dan mementingkan keselamatan pribadi (masuk sorga) namun di sisi lain mereka hidup tanpa peduli dengan orang lain di sekitar mereka.  Lihat juga apa yang diajarkan oleh teologi kemakmuran dan penekanan yang dilakukan terhadap karunia-karunia rohani. 

Satu buku yang semestinya menempelak hidup banyak orang-orang Kristen Injili saat ini adalah buku Ronald  J. Sider, The Scandal of the Evangelical Conscience.[7]  Dalam buku ini Sider menyingkapkan berbagai fakta skandal yang dilakukan oleh orang-orang Kristen ”Injili,” yang justru sudah lahir baru dan menerima keselamatan, di Amerika Serikat.  Salah satu fakta skandal yang paling ironis adalah kenyataan bahwa orang-orang yang katanya sudah menerima keselamatan ini adalah orang-orang yang paling kikir.  Pada tahun 2002, Barna mendapati bahwa hanya 6 persen orang-orang Injili yang hidup dalam negara dengan pendapatan perkapita US$ 42.409 ini, memberi persepuluhan!  Data Bank Dunia pada tahun yang sama menyingkapkan bahwa ada 1,2 milyar orang-orang termiskin di dunia yang berjuang untuk bertahan hidup hanya dengan US$ 1 setiap hari.  Data dari Sylvia Ronsvalles (2003:12) menyebutkan bahwa jika semua orang Kristen Amerika memberikan persepuluhan saja akan terhimpun dana US$ 143 milyar; dan ini sanggup untuk mencukupkan kebutuhan hidup orang-orang termiskin di dunia tersebut, sebab ternyata dana tambahan yang dibutuhkan untuk kebutuhan pelayanan paling mendasar seperti kesehatan dan pendidikan per tahun untuk mereka (menurut PBB) hanyalah US$ 70-80 milyar![8]  Apa kesimpulan Sider melihat hal ini? ”Sembari kita bertambah kaya dan makin kaya, orang-orang Injili memilih untuk menghabiskan lebih banyak uang untuk diri mereka sendiri dan makin memberi sedikit untuk gereja.”[9]  Adalah hal yang sangat mungkin, tren yang sama juga dihidupi oleh orang-orang Kristen di Indonesia.

Apa dampak dari semua pandangan hidup (woldview) di atas dengan para mahasiswa?  Penulis tertarik untuk menyimak pandangan dari Jimmy Long, “Universitas adalah tempat di mana hampir semua nilai-nilai filosofis, politik, ekonomi dan moral yang ada di masyarakat kita terbentuk.  Di dalam ruang-ruang kelas dan klinik-klinik penelitian universitaslah, teori-teori yang memberi pengaruh kepada semua segmen masyarakat terbentuk, didiskusikan, diuji dan diterima.  Apapun bentuk dari filsafat moral yang baru atau teori ekonomi baru, asal mulanya biasanya ditemukan dalam universitas.  Kebanyakan mahasiswa merampungkan filosofi dan gaya hidup mereka ketika mereka di dalam kampus.  Sebelum masuk kampus, para mahasiswa dipengaruhi oleh orang tua dan sahabat mereka.  Namun sewaktu di kampus, para mahasiswa terbuka dengan ide-ide dan pengaruh-pengaruh baru.  Bagi sebagian besar, pilihan nilai yang mereka buat di kampus akan tetap mereka anut untuk seterusnya.  Setelah keluar dari kampus, merupakan hal yang sulit untuk mengubah nilai-nilai itu.”[10]

Abbie Smith menyimpulkan pandangannya tentang kondisi dunia kampus yang penuh dengan filsafat dan kecanduan dengan kalimatnya yang penulis yakin lahir dari refleksi kritisnya, ”Sesuatu yang penulis ragu akan anda lihat [dalam kampus] adalah kecanduan kepada Allah.  Ini mungkin terdengar aneh, namun penulis yakin anda akan mendapatkan sedikit mahasiswa yang bersungguh-sungguh bagi Kristus atau yang melayani sampai jauh malam.[11]  Dan itulah yang terjadi.  Amati saja rasio (perbandingan) mahasiswa Kristen yang terlibat Persekutuan entah di dalam maupun luar kampus, dengan yang tidak mau ikut semua bentuk kegiatan kerohanian apa pun.  Penulis yakin 100%, golongan kedua pasti lebih mayoritas di kampus manapun.

Kesimpulan penulis terhadap semua ini adalah bahwa sebenarnya sadar atau tidak, kampus merupakan tempat yang sangat penting dan titik kritis yang tidak dapat dielakkan dan yang paling menentukan di mana seseorang kelak berada: Surga atau Neraka!  Krisis ini semestinya membukakan mata kita betapa pentingnya pelayanan mahasiswa dan betapa pentingnya kehadiran pada pemimpin yang memahami situasi ini.  Bagi penulis, kebutuhan konkret yang dibutuhkan pelayanan kampus saat ini adalah hadirnya banyak pemimpin rohani yang mau mengarahkan para mahasiswa untuk menemukan makna hidup mereka di dalam Kristus di tengah kompleksitas zaman ini.

 MODEL KEPEMIMPINAN SEPERTI APA YANG DIBUTUHKAN SAAT INI?

Fakta yang tidak bisa kita pungkiri adalah bahwa di sepanjang Alkitab kata pemimpin atau kepemimpinan muncul sangat sedikit, khususnya di Perjanjian Baru. Dalam terjemahan Indonesia memang kata pemimpin muncul sangat banyak, kurang lebih 251 kali.  Menurut penulis terjadi banyak kekeliruan terjemahan dalam bahasa Indonesia karena kelihatannya terjemahan Indonesia mengadakan generalisasi untuk istilah-istilah bagi jabatan/pangkat dalam pemerintahan, dengan istilah pemimpin.  Misalnya dalam Keluaran 18:21, kata pemimpin di situ dalam versi New International Version (NIV) diterjemahkan officials (New Living Translation [NLT]: judges; New Revised Standard Version [NRSV]: officers.  Bahasa Ibraninya sar: penguasa).  Kemudian dalam Keluaran 34:31 kata pemimpin di situ (nasi’) kebanyakan diterjemahkan prince (Kej. 17:20).  Ini juga sama dengan kata archon seperti yang tercatat di Kis. 7:25; 23:5 (yang biasa diterjemahkan ruler atau prince).  Atau archegos (Kis. 5:31).

Hal yang lebih menarik adalah bahwa di Perjanjian Lama kata ”memimpin” (to lead) berasal dari kata kerja nahal yang sebenarnya berarti memberikan ketenangan, memimpin dengan penuh perhatian, membimbing ke tempat peristirahatan, memberikan kesegaran baru.  

Menariknya dalam terjemahan Indonesia kata ini juga sering diterjemahkan membimbing atau menuntun

 

Mereka tidak menjadi lapar atau haus; angin hangat dan terik matahari tidak akan menimpa mereka, sebab Penyayang mereka akan memimpin mereka dan akan menuntun mereka ke dekat sumber-sumber air (Yes. 49:10; NRSV dan NLT memakai terjemahan yang sama tapi King James Version [KJV] dan NIV memakai terjemahan to guide).

 

Seperti seorang gembala Ia menggembalakan kawanan ternak-Nya dan menghimpunkannya dengan tangan-Nya; anak-anak domba dipangku-Nya, induk-induk domba dituntun-Nya dengan hati-hati (Yes. 40:11; NLT, NIV, KJV, NRSV menerjemahkan to lead.  Untuk terjemahan yang memakai kata “menuntun” lihat Kel. 15:13).

Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang (Mzm. 23:2; hampir semua terjemahan Inggris menerjemahkan kata ini dengan kata to lead).

Kata ini dipakai selalu dalam kaitan seseorang yang membimbing dan mengarahkan orang lain.  Yang paling menarik adalah bahwa kata ini dipakai dalam dua ayat berikut ini: 

Lalu mereka membawa ternaknya kepada Yusuf dan Yusuf memberi makanan kepada mereka ganti kuda, kumpulan kambing domba dan kumpulan lembu sapi dan keledainya, jadi disediakannyalah bagi mereka makanan ganti segala ternaknya pada tahun itu (Kej. 47:17; NIV: And he brought them through that year with food; NRSV: he supplied them with food).

 

Dan orang-orang yang ditunjuk dengan disebut namanya bangkit, lalu menjemput para tawanan itu. Semua orang yang telanjang mereka berikan pakaian dari rampasan itu. Orang-orang itu diberi pakaian, kasut, makanan dan minuman. Mereka diurapi dengan minyak dan semua yang terlalu payah untuk berjalan diangkut dengan keledai, dan dibawa ke Yerikho, ke kota pohon korma, dekat saudara-saudara mereka. Sesudah itu orang Israel itu pulang ke Samaria (2Taw. 28:15).             

Jadi kira-kira kata apa yang dipakai untuk menerjemahkan kata nahal di sini?  Ya, pada Kej. 47:17 itu kata nahal diterjemahkan disediakannyalah.  Kata ini semestinya berbentuk aktif jadi semestinya diterjemahkan ”. . . jadi ia menyediakan bagi mereka. . . .”  Untuk 2Tawarikh 28:15 kata ini juga semestinya berbentuk aktif.  Penulisngnya, kata ini diterjemahkan kurang baik di sini, diangkut, sebab kesan yang timbul dari kata ini adalah dibawa sekadarnya dan tak terurus (apalagi dengan bentuknya yang pasif!).  Dalam beberapa terjemahan Inggris kata ini diterjemahkan: KJV: carried; NRSV: carrying.  Menarik sekali melihat dua kasus ini.  Dalam kasus ini memimpin diartikan memberi makan dan membawa orang-orang yang lemah ke tempat yang baik untuk beristirahat.

Selain kata nahal, kosa kata Yahudi juga memiliki beberapa kata yang dapat diterjemahkan memimpin: nahah (Kel. 13:21; Mzm. 23:3; 31:3); nahaq (Kel. 3:1; Yes. 63:14—perhatikan konteks ayat ini di mana Roh Tuhan disebut membawa mereka ke tempat perhentian; dalam bahasa Inggris: the spirit of the Lord gave them rest) dan semuanya bertendensi sama dengan nahal (mungkin karena juga memiliki kemiripan akar kata).

Di Perjanjian Baru kata-kata yang merujuk kepada makna memimpin juga bertendensi sama dengan yang terdapat di PL:

 

Biarkanlah mereka itu. Mereka orang buta yang menuntun orang buta. Jika orang buta menuntun orang buta, pasti keduanya jatuh ke dalam lobang (Mat. 15:14.  Kata ini berasal dari kata hodēgeō yang berasal dari dua kata: hodos: jalan & hegeomai: berjalan di depan.  NIV, KJV dan NLT menerjemahkan dengan lead. Kata yang sama muncul di dalam Yoh. 16:13.  (Mungkin) semua terjemahan Inggris dari kata ini memakai kata guide.  Lihat juga Kis. 8:31 dan Why. 7:17).           

Dari sini penulis mengambil kesimpulan bahwa dalam firman Tuhan makna kepemimpinan pertama-tama dan utama tidaklah bicara soal pengaruh (apalagi status, jabatan dan posisi), seperti yang sekarang ini lazim dipakai dalam teori-teori kepemimpinan, tapi soal perhatian, kepedulian, pembimbingan, kasih dan pengurbanan diri.  Dan menarik sekali bahwa kamus sekuler, Mirriam-Webster, mendefinisikan demikian tentang makna memimpin, ”to guide on a way” [membimbing pada jalan].  Sebenarnya sadar atau tidak dan suka atau tidak, aspek inilah yang hilang dari seni kepemimpinan saat ini.  Teori-teori kepemimpinan banyak mengarahkan orang dengan berbagai cara dan strategi untuk mendapatkan massa supaya dengan demikian tujuan mereka, yang bagi penulis kurang tulus, tercapai: mendapatkan pengaruh.  Mungkin karena alasan ini pulalah penulis Alkitab jarang sekali memakai kata pemimpin/kepemimpinan yang bertendensi jabatan atau status saat menuliskan kitabnya.  Perlu dicatat pula bahwa dalam kepemimpinan-Nya salah besar apabila kita menafsir bahwa Yesus mengejar pengaruh.  Tidak! Visi Yesus dalam kepemimpinan-Nya sangat jelas, dan prinsip ini pula yang Ia ingin para murid-Nya lakukan:

 

Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi yang terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hamba untuk semuanya. Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang (Mrk. 10:43-45). 

Ini juga mengantar penulis pada kesimpulan berikutnya bahwa sangat mungkin krisis yang sedang terjadi di dalam banyak aspek saat ini muncul karena tipe-tipe kepemimpinan yang banyak dikembangkan adalah tipe-tipe kepemimpinan yang tidak berakar pada prinsip firman Tuhan; yang ditonjolkan adalah keahlian (atau mungkin kelihaian) dalam berkata-kata mempersuasi orang lain, skill memimpin rapat, mind-mapping, analisa SWOT, dan lain-lain. 

Bukankah negara kita tidak kurang dengan orang-orang yang pandai yang menjadi pejabat?  Tetapi mengapa negara kita tidak kunjung maju dan mapan?  Bukankah karena pejabat yang memiliki hati yang penuh kepedulian, kasih dan perhatian itu langka saat ini?

Yang diperlukan sekarang adalah seorang pemimpin yang mau memberi hati, pikiran, tenaga bahkan segenap diri dan hidupnya untuk menuntun orang lain yang lemah, membimbing orang lain yang terlunta dan mencari orang-orang yang terhilang, termasuk dalam dunia mahasiswa. 

Dari analisa singkat ini penulis menemukan bahwa sebenarnya Alkitab sudah memberikan begitu banyak hal yang sangat indah tentang bagaimana dan ke mana seharusnya model kepemimpinan itu dikembangkan.

 

APA YANG HARUS KITA LAKUKAN SEKARANG?

Jadi bagaimana kita dapat menjadi pemimpin yang alkitabiah?  Penulis tertarik untuk mengajak kita membahas sebentar apa yang ditulis Matius dalam pasal 23:10: 

Janganlah pula kamu disebut pemimpin, karena hanya satu Pemimpinmu, yaitu Mesias.

Lho apa maksud ayat ini?  Apakah ini berarti bahwa Tuhan tidak ingin ada pemimpin?  Tentu saja bukan itu yang dimaksud terutama kalau kita memperhatikan 1Korintus 12:28.  Kita perlu mempelajari konteks ayat ini dengan baik.  Kalau kita perhatikan dengan seksama maka kita dapat melihat dengan jelas konteks dekat dari ayat ini.  Dari konteksnya ayat ini ada dalam tema besar Matius tentang kritik Tuhan terhadap orang-orang Farisi yang tercatat di sepanjang pasal 23:1-39.  Dari perikop ini tentu jelas terlihat bahwa Yesus menegur keras perilaku orang Farisi yang suka untuk membuat orang terkesan dan memuji mereka serta suka dengan posisi-posisi terhormat dan perhargaan manusia.  Bagian kunci dari teks ini sebenarnya terletak pada ayat 8 sebagai bagian pivot (titik tumpu) yang mengontraskan antara sikap orang-orang Farisi dengan sikap yang sepatutnya dipunyai seorang murid Yesus.  Mengapa Yesus memberikan pelajaran ini?  Karena orang Kristen pun, terutama para pemimpin Kristen, rentan dengan prestise, popularitas dan pujian.  Dunia mengejar semua itu tapi murid Kristus yang menjadi pemimpin harus secara radikal berani meninggalkan semua itu.  Hanya dengan demikian kita ini menjadi murid-murid sejati dari Guru dan Tuhan yang agung itu (Donald Hagner, 1998).

Karena itu penulis memiliki pemikiran bahwa kepemimpinan Kristen yang sejati dan yang dibutuhkan dalam dunia mahasiswa adalah seperti berikut:

  1. Berfokus kepada Allah dan kuasa-Nya, yang memiliki aspek-aspek:

q  Doa

q  Firman Allah

q  Disiplin Rohani

  1. Obyeknya adalah sesama, yang memiliki aspek-aspek:

q  Kerendahan hati dan jiwa melayani

q  Kerja Keras dan integritas

q  Cinta Kasih dan pengorbanan diri


[1]Can You Keep Your Faith in College (Sisters: Multnomah, 2006) 13.

[2]The InterVarsity Chapter Leaders’ Handbook [http://www.intervarsity.org/chapters/handbooks/ chaplead/chapter1_3.html].

[3]Harvey Cox, The Secular City (New York: MacMillan, 1968) 2.

[4]Ibid. 

[5]Shaping Character: Moral Education the Christian College (Grand Rapids: Eerdmans, 1991) vii.

[6] Ibid.

[7]Telah diterjemahkan dan diterbitkan oleh Departemen Literatur Perkantas Jatim dengan judul: Skandal Hati Nurani Kaum  Injili.

[8]The Scandal of the Evangelical Conscience (Grand Rapids: Baker, 2006) 21-22.

[9]Ibid.

[10]The InterVarsity Chapter Leaders’ Handbook.

[11]Can You Keeps 13.

About these ads

Aksi

Information

2 tanggapan

4 09 2008
Elia Fredrik Rawar, SE

Sebelumnya, aku ucapkan salut untuk anda.
penulisan anda sangat berpotensi untuk membangun pemahaman yang baik bagi pemuda-pemudi Kristen setanah air secara khususnya bagi para mahasiswa yang merupakan tulang punggung Gereja dan Negara kita tercinta ini. aku sangat mendukung sekali penulisan ini semoga Tuhan Yesus akan memberikan hikmat yang luar biasa kepada anda seperti Raja Salomo untuk mengubah Prinsip2 Hidup manusia yang kosong dan tidak berarti

31 10 2008
perdian

Trims bang! Saya juga berdoa semoga Tuhan memakai anda bagi pekerjaan-pekerjaan mulia yang Dia sediakan bagi anak-anak muda bangsa ini. Semoga generasi penerus bangsa ini hidup dalam kebenaran!

Salam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: