Iman yang Menyelamatkan

20 08 2009

Roma 3:21-30

 

I

Menurut pandangan saya, penyakit yang paling berbahaya dalam iman adalah legalisme. Inilah jugalah yang sebenarnya menjadi masalah yang sedang Paulus paparkan sebagai latar belakang teks yang baru kita baca tadi (pasal 2:18-3:20).  Legalisme adalah keimanan yang disandarkan pada status bukan kekudusan hidup; pada tradisi dan formalisme agamawi bukan relasi dengan Allah; pada ketaatan melakukan ritual-ritual lahiriah bukan pada perubahan karakter hidup.  Sebagai catatan orang-orang Yahudi adalah orang-orang yang sangat kagum dan bangga dengan identitas dan ritual ke-Yahudian mereka.  Mereka sangat bangga bahwa mereka adalah keturunan Abraham, di sunat, bangsa pilihan Allah, memiliki hari sabat dan tentu yang paling penting hukum Taurat.  Namun ada masalah yang lebih parah, yang muncul sebagai konsekuensi dari iman buta ini.  Karena mereka (orang-orang Yahudi) merasa bahwa mereka adalah bangsa pilihan Allah, punya sunat, anak Abraham dan memiliki sunat maka mereka beranggapan apa pun yang mereka lakukan—meskipun itu adalah segala perbuatan cemar yang penuh dengan kenajisan dan kejijikan di hadapan Allah—mereka tetap merasa bahwa mereka pasti akan diselamatkan oleh Allah. Coba kita lihat sebentar beberapa ayat dari Roma yang mengindikasikan hal ini:

Sebab walaupun mereka mengetahui tuntutan-tuntutan hukum Allah, yaitu bahwa setiap orang yang melakukan hal-hal demikian, patut dihukum mati, mereka bukan saja melakukannya sendiri, tetapi mereka juga setuju dengan mereka yang melakukannya (1:32).

tetapi murka dan geram kepada mereka yang mencari kepentingan sendiri, yang tidak taat kepada kebenaran, melainkan taat kepada kelaliman. Penderitaan dan kesesakan akan menimpa setiap orang yang hidup yang berbuat jahat, pertama-tama orang Yahudi dan juga orang Yunani, tetapi kemuliaan, kehormatan dan damai sejahtera akan diperoleh semua orang yang berbuat baik, pertama-tama orang Yahudi, dan juga orang Yunani. Sebab Allah tidak memandang bulu (2:8-11). Nah, khusus pada ayat 11 ini sebuah terjemahan bahasa Inggris memberikan alternatif yang baik sekali: “For God does not  show favoritism.” Perhatikan kata favoritism di situ.  Ini menegaskan bahwa Allah tidak punya anak favorit, Allah tidak punya anak emas. Semua sama di hadapan Allah.

  Baca entri selengkapnya »





Menjadi Garam dan Terang Dunia

25 05 2009

Matius 5:13-16, Galatia 4:4

 

Salah satu kesalahan terbesar saat melihat teks-teks Injil, termasuk Khotbah di Bukit ini adalah terjadinya rohanisasi teks.  Yang penulis maksud dengan rohanisasi teks adalah bahwa di dalam kita membaca teks-teks ini dan menafsirkannya kita membuang semua situasi “sosial-politik” yang terjadi saat Yesus menyampaikan hal ini dan kita menganggap bahwa Khotbah di Bukit ini adalah ajaran rohani abstrak yang tidak ada sangkut pautnya dengan konteks situasi saat itu.

Hal ini sebenarnya sangat jelas kalau kita melihat sebentar ke belakang ke pasal 2-4. Bagian ini jelas memberikan background sosial-politik yang terjadi saat itu dan yang berikutnya menjadi background untuk Khotbah di Bukit termasuk seluruh Injil Matius. Coba kita sekilas latar belakang ini.

Baca entri selengkapnya »





PASKAH SEBAGAI PERAYAAN POLITIK

29 04 2009

peace

Sebuah kebetulan yang istimewa bahwa tahun ini hari paling penting bagi umat Kristen, Paskah, akan dirayakan berdampingan dengan PEMILU, pesta demokrasi lima tahunan di negeri ini. Sekilas, kedua acara ini tidak punya hubungan kait-mengait satu dengan yang lain: yang satu adalah pesta rohani dan yang lain adalah pesta politik. Tapi benarkah demikian? 

Menurut tradisi Perjanjian Lama, paskah pertama kali dirayakan sebagai pengingatan atas karya ajaib Tuhan yang memerdekakan umat Yahudi dari belenggu perbudakan.  Menurut catatan sejarah Eusebius dari Kaisarea dan catatan Taurat, umat Yahudi ditindas oleh raja Firaun Ramses II selama 430 tahun. Jelas ini bukan sekadar berita yang bernada rohani belaka. Ini adalah sebuah berita politik, bahkan sebuah “perayaan politik” bahwa dibalik kemustahilan yang amat panjang dalam perjalanan hidup sebuah bangsa, ada secercah sinar harapan.

Dalam perkembangan selanjutnya, berita paskah tetap berdampingan erat dengan berita politik.  Lima ratus tahun kemudian (490 M), seorang imam, Ezra, kembali menyerukan perayaan massal Paskah sebagai ungkapan syukur karena bebasnya mereka dari pembuangan Babilonia Baru selama 50 tahun.

Bagaimana dengan Paskah menurut Injil dan Perjanjian Baru? 

Zaman Yesus merupakan zaman yang secara politik sangat carut marut dan sulit. Lagi-lagi Palestina ada di bawah penjajahan.  Saat itu Romawi menjajah Palestina dan menetapkan status imperial provinces; sebuah status yang diberikan untuk propinsi yang dianggap pembangkang dan mudah memberontak kepada Kaisar.  Zaman Yesus juga adalah zaman multipartai politik, tidak beda dengan kondisi negara kita saat ini. Terlepas dari motivasi keagamaan yang kuat yang mendorong partai-partai ini, sebenarnya masing-masing partai memperjuangkan kemerdekaan negaranya dari penjajahan Romawi dengan cara dan tujuannnya sendiri-sendiri.  

Sayap politik nasionalis yang dimotori kaum Zelot berupaya membebaskan kaum Yahudi dari kaum penjajah dengan kekuatan militer. Kelompok lain yang sangat berpengaruh adalah kelompok Farisi.  Kelompok ini memang awalnya merupakan gerakan sosial-keagamaan. Namun seiring perkembangan waktu dan perkembangan yang terjadi dalam kelompok ini, kelompok ini pun pada akhirnya merubah wujud menjadi kelompok (partai) politik bernafas keagamaan. 

Disamping dua kelompok di atas, yang merupakan kelompok yang dapat dianggap beroposisi dengan pemerintah dan penjajah Roma saat itu, ada dua kelompok lain yang merupakan kelompok politik pro-pemerintah berkuasa.  Yang pertama adalah kelompok Herodian.  Kelompok ini memang jarang disebutkan dalam Alkitab (lih. Mat. 22:16; Mrk. 3:6; 12:13). Namun dalam kenyataannya kelompok ini adalah kelompok yang kuat karena menjadi penyokong utama dinasti Herodes. Kelompok lainnya berasal dari kalangan agamawan, Saduki.  Kelompok ini adalah penguasa Bait Allah.  Kelompok ini sangat liberal dalam pengajaran dan sangat kompromistis dalam praktik hidup.  Sangat mungkin sikap liberal dan kompromistis mereka disebabkan oleh bantuan yang diberikan Herodes agung untuk merenovasi secara luar biasa Bait Allah saat itu.  Menurut sebuah sumber, Bait Allah yang direnovasi oleh Herodes ini diselesaikan dalam kurun waktu  83 tahun!

Partai-partai yang tetap punya unsur agama (selain Herodian) ini sebenarnya punya satu motivasi yang sama; mengusung teman: No King, but YHWH!” Mereka berjuang demi kemerdekaan dari penjajahan dan ditegakkannya Kerajaan Allah, namun sayangnya tujuan yang kelihatan mulia ini sebenarnya lahir dari motivasi haus akan kekuasaan dan yang akhirnya melegalkan berbagai intrik dan perselingkuhan politik tingkat tinggi.  Ajaran Kitab Suci tentang Kerajaan Allah pun diperkosa, dipelintir dan dianggap sama dengan memiliki kerajaan dunia.  Tidak heran mereka suka menggunakan cara “tangan besi” (bdk. Mrk. 10:42) dan kudeta berdarah-darah untuk mendirikan Kerajaan Allah versi mereka.

Dalam carut-marut politik inilah sebenarnya berita kebangkitan Kristus menggema.  Tuhan Yesus yang setia melakukan kehendak Bapa-Nya tanpa sedikit pun tergiur dengan godaan untuk menjadi relevan, populer, dan merengkuh pengaruh dan kekuasaan, akhirnya menjadi tumbal dari kompromi politik tingkat tinggi antara Pilatus, Herodes dan para pemimpin parpol-agama Yahudi. Dengan membunuh Yesus, Sang Mesias-utusan Allah yang terjanji, mereka yang hidupnya korup dan manipulatif ini menganggap kekuasaan mereka akan langgeng dan tidak akan mungkin terinterupsi lagi. Dengan kematian Yesus, masyarakat (termasuk para murid), akan berpikir: berakhirlah perjuangan kebenaran melawan kegelapan.  Selamanya kejahatan karena dosa ini akan menguasai bumi yang diciptakan Allah sungguh amat baik ini, dan untuk selamanya pula tidak akan ada harapan untuk pemulihan umat manusia sebab Anak Domba Allah sudah dikalahkan.

Namun kebangkitan membalikkan semua prediksi itu. Kebangkitan menjadi tanda awal dan penting bahwa Allah menghancurkan kematian sebagai senjata pamungkas kejahatan, seperti yang dikatakan  Tom Wright dengan sangat indah: “Death is the final weapon of the tyrant, or, for that matter for the anarchist, and resurrection indicates that this weapon doesn’t have the last word.” Kebangkitan juga menjadi tanda penting bahwa Allah sedang berurusan dan menantang semua kekuatan dan kuasa dunia ini yang merasa lebih tahu untuk membarui dunia ciptaan-Nya ini. Kebangkitan bukan hanya menyatakan bahwa kejahatan dan maut sebagai buahnya tidak punya kuasa apa-apa, tapi juga sekaligus memberikan harapan pasti bahwa satu kali kelak Allah akan sungguh-sungguh membebaskan, membarui dunia ini dan mengakhiri segala kejahatan yang ada di dalamnya.  Berita kebangkitan bukan hanya berita rohani.  Berita kebangkitan Kristus adalah berita politik yang memberitakan pembebasan kepada yang tertindas dan terjajah, sekaligus menantang semua bentuk penjajahan yang dilakukan orang-orang yang merasa berhak menguasai dan mengatur manusia kepunyaan Allah.

Pada akhirnya berita kebangkitan adalah berita kontroversial yang menantang setiap orang yang percaya kepada-Nya untuk berani bertindak dan berani bersikap. Berita yang menggemakan bahwa ada pengharapan akan pembebasan tuntas Allah untuk dunia ini seharusnyalah memberi kita sukacita dan asa untuk giat bekerja bagi Allah, tanpa takut, bukan hanya di balik tembok-tembok Gereja yang rohani, tapi juga di dalam semua sektor kehidupan bermasyarakat yang jauh dari kesan rohani.  Tempat-tempat gelap yang tidak berpengharapan itu membutuhkan kehadiran Kristus yang bangkit. Dunia yang sekarat dan tertindas ini membutuhkan berita kebangkitan Kristus dan membutuhkan saksi-saksi kebangkitan-Nya yang bukan hanya pandai bicara tapi juga yang berani hidup dalam kekudusan yang radikal, tanpa kompromi.





MEMAKNAI TAHUN BARU DALAM PERSPEKTIF ROSH-HASSANAH YAHUDI

1 02 2009

Imamat 23:23-25; Bilangan 10:10

chinese-new-year-in-singapore

I

Saya tertarik melihat kalender dalam kurun waktu penghujung tahun 2008 sampai awal tahun 2009. Setidak-tidaknya ada “tiga kali” tahun baru dalam waktu yang tidak terlalu berjauhan. Yang saya maksudkan dengan tiga kali tahun baru adalah Tahun Baru Muharram (Islam), Tahun Baru Masehi dan Tahun Baru Imlek (Cina). Luar Biasa! Artinya sangat mungkin ada manusia di bumi ini yang merayakan tahun baru lebih dari satu kali dan tentu bahkan ada yang dalam kurun waktu yang tidak terlalu panjang merayakan tiga kali tahun baru!

Budaya Alkitab (dalam hal ini yang terjadi dengan orang-orang Yahudi) pun punya budaya tahun baru. Salah satunya dijelaskan oleh dua teks di atas.

II

Dari konteksnya kita dapat mengerti bahwa teks ini sedang membicarakan perihal beberapa hari-hari raya penting orang Yahudi: Hari raya Paskah (ay. 5), Hari Raya Roti Tidak Beragi (ay. 6), Hari Raya meniup serunai (ay. 24), Hari Raya Pendamaian (ay. 28), dan Hari Raya Pondok Daun (ay. 34). Hari-hari raya ini dapat dikatakan sebagai hari-hari raya yang paling penting bagi orang Yahudi. Hari Raya yang pada akhirnya menjadi cikal bakal Hari Raya Tahun Baru (Rosh-Hassanah) bagi orang Yahudi adalah Hari Raya meniup Serunai. Hari tersebut (hari pertama bulan ketujuh) dianggap sebagai hari yang paling sakral dalam satu tahun sebab angka tujuh adalah angka yang sangat penting (angka Allah) bagi orang Israel. Itulah sebabnya oleh orang-orang Yahudi saat ini hari tersebut disebut sebagai Rosh-Hassanah (Rosh = head; kepala dan Hassanah = year; tahun) atau dapat dikatakan hari yang paling tinggi (pemuncak) dari satu tahun.

Bagi orang Yahudi sendiri Tahun Baru (Rosh-Hassanah) bukanlah hari untuk berfoya-foya seperti kebiasaan banyak orang saat merayakan malam pergantian tahun baru. Kalau kita perhatikan dengan seksama teks kita ini maka ada beberapa hal penting yang menjadi makna tahun baru bagi orang-orang Yahudi.

Makna pertama diberikan oleh simbol meniup serunai (ibr. showpaar). Dalam Bilangan 10:10, meniup nafiri/terompet dikaitkan dengan tindakan untuk “mengingatkan” Tuhan akan Perjanjian (kovenan) yang diikat-Nya dengan umat-Nya:

Juga pada hari-hari kamu bersukaria, pada perayaan-perayaanmu dan pada bulan-bulan barumu haruslah kamu meniup nafiri itu pada waktu mempersembahkan korban-korban bakaranmu dan korban-korban keselamatanmu; maksudnya supaya kamu diingat di hadapan Allahmu; Akulah TUHAN, Allahmu.

Istilah “mengingatkan” mungkin perlu sedikit kita klarifikasi. Istilah “mengingat” sendiri sebenarnya memiliki dua arti. Pertama, “mengingat” dapat diartikan sebagai sebuah aktivitas mental yang dilakukan oleh otak dengan mencoba untuk memanggil kembali informasi yang tersimpan di otak karena mungkin informasi tentang hal tersebut sudah tertumpuk dengan informasi yang baru. Bahasa praktisnya, “mengingat” terjadi karena lupa. Kedua, mengingat dapat diartikan sebagai sebuah tindakan “mengenang.” Contoh: Tugu pahlawan didirikan untuk mengingatkan kita akan jasa para pahlawan.

Dalam konteks Bilangan 10:10 ini tentu bukan definisi pertama ini yang dimaksudkan. Tuhan tentu tidak pelupa seperti manusia. Dalam Mzm. 103:2 (Ul. 6:12) pemazmur menghimbau jiwanya untuk tidak melupakan Tuhan. Dari mazmur ini kita tentu dapat mengerti bahwa “lupa” (pada Tuhan) pasti adalah sifat yang buruk yang pasti tidak ada pada Tuhan! Dalam konteks ini lebih cocok kita mengartikan mengingat di sini sebagai “mengenang.” Mengenang apa? Saya yakin “mengingat” di sini tentu berkaitan dengan mengenang ikatan perjanjian yang terjadi antara YHWH dengan Israel; ikatan perjanjian ajaib yang di satu sisi membuat Israel menjadi umat kesayangan tapi disisi lain ikatan ini sekaligus mengandung tanggung jawab bahwa Israel adalah bangsa yang dipilih TUHAN untuk memberitakan terang bagi bangsa-bangsa. Perhatikan pembaruan kovenan yang dilakukan Asa yang salah satu aktivitasnya adalah meniup serunai/nafiri (2Taw. 15:14) atau yang dilakukan Hizkia (2Taw. 20:26-28; bdk. Ezr. 3:10). Ikatan perjanjian ini adalah ikatan yang di dalamnya terdapat janji-janji Allah bahwa Ia akan memberkati, melindungi dan menaungi Israel namun sekaligus dibarengi perintah agar Israel setia untuk berpaut kepada Dia, mengasihi Dia dengan segenap hati, segenap jiwa dan segenap kekuatan, dan tidak menyembah ilah lain selain Dia. Itulah sebabnya saya lebih suka terjemahan versi bahasa Inggris untuk ayat ini, “. . . and they will be a memorial for you before your God. I am the LORD your God.” Artinya pada saat orang-orang Israel meniup nafiri atau serunai pada tahun baru mereka, mereka dihimbau—oleh Tuhan sendiri, demi janji-janji yang sudah Ia ikrarkan dalam ikatan kovenan—untuk memberanikan diri berseru meminta penyertaan Tuhan sesuai dengan janji-Nya, tanpa ragu dan tanpa takut. Tapi di sisi lain tindakan meniup serunai/nafiri ini sekaligus menantang mereka untuk berani mengoresi dan mengevaluasi secara kritis sikap mereka terhadap Allah. Betulkah hanya Allah yang mereka sembah? Betulkah Allah sungguh-sungguh mereka taati dan mereka kasihi dengan segenap hati, segenap jiwa dan dengan segenap kekuatan? Ataukah sebenarnya ada sesembahan lain, ilah lain, berhala lain yang secara diam-diam menyeruak masuk dalam hati dan hidup mereka dan mengambil bagian yang penting tanpa mereka sadari. Jangan-jangan tindakan meminta pertolongan kepada Tuhan hanyalah sebuah alternatif (bukan satu-satunya cara) yang kita lakukan untuk mencari pertolongan. Dalam Alkitab ada banyak tokoh-tokoh seperti ini diceritakan. Tentu kita tidak akan lupa dengan Saul. Pada satu sisi dia meminta pertolongan Tuhan tapi pada sisi lain ia juga datang kepada peramal. Atau dengan umat Israel pada masa Hakim-hakim. Pada saat seorang Hakim memerintah atas mereka, mereka begitu setia kepada Tuhan. Tapi ketika Hakim tersebut mati, seketika itu pula hati mereka beralih kepada berhala-berhala.

Pada saat saya merenungkan bagian ini saya saya melihat terdapat sebuah pengertian teologi “tahun baru” yang sangat indah dari kitab suci. Di satu sisi, pada tahun baru umat bukan hanya disarankan atau dihimbau untuk meminta pertolongan kepada Tuhan. Dari tradisi meniup serunai/nafiri, menurut saya, umat bahkan diharuskan oleh Tuhan untuk meminta pertolongan-Nya; umat diminta mengundang intervensi-Nya atas segala masalah dan pergumulan hidup yang dihadapi umat. Meminta pertolongan kepada Tuhan pada “tahun baru” bukanlah tindakan yang egois. Saya tegaskan di sini, meminta pertolongan kepada Tuhan pada tahun baru adalah tindakan yang sangat Alkitabiah, sebab Tuhan sendiri memintanya dari kita. Tetapi itu bukanlah seluruh kebenaran dari teologi “tahun baru” Alkitab. Di sisi lain, tradisi meniup serunai/nafiri untuk meminta tolong kepada Tuhan menurut saya adalah sebuah tindakan yang sangat berani. Berani, karena dengan meminta tolong kepada TUHAN Allah Israel berarti saya berani mengatakan bahwa tidak ada pertolongan lain yang lebih melegakan dan lebih sempurna selain yang dilakukan oleh DIA. Dan itu sekaligus secara otomatis berarti bahwa saya tidak akan pernah mencari pertolongan lain, bersandar kepada ilah/allah lain, semenarik apa pun dan semenjanjikan apa pun allah itu, kecuali kepada Tuhan; saya tidak akan pernah mencari jalan pintas untuk keluar dari pergumulan saya dengan menyembah ilah lain dan menyimpan sesuatu berhala. Saya mau tetap berharap kepada Tuhan meskipun kelihatannya jalan yang Ia tawarkan bukanlah jalan yang saya inginkan sambil tetap percaya bahwa apapun yang Ia berikan dan kerjakan dalam hidup saya adalah yang terbaik dan yang terindah! Inilah alasan saya mengatakan bahwa meminta tolong kepada Tuhan adalah sekaligus sebuah tindakan yang berani.

III

Saya tertarik dengan seorang penafsir yang memberi tema Bilangan 10 ini, The Signal For the Journey. Kalau kita perhatikan konteks dekat dari pasal 10 ini (yakni pasal 9:15-23) yang bercerita tentang tiang awan yang akan memimpin perjalanan musafir Israel dari Sinai ke Kanaan maka tampaknya teks pasal 9-10 ini memang secara khusus membahas persiapan-persiapan terakhir orang Israel sebelum melanjutkan perjalan dari Sinai ke Kanaan (perhatikan judul perikop 10:11-36). Dan tentu perjalanan yang akan mereka tempuh bukanlah perjalanan yang mudah. Bayangkan mereka adalah bangsa yang besar sebagai budak di Mesir (bukan prajurit) dan harus melakukan perjalanan penuh risiko di padang gurun yang kering kerontang, yang tentu penuh dengan banyak orang jahat. Dalam konteks tantangan dan risiko yang sangat besar yang sedang menanti di depan sanalah persiapan seperti inilah perihal meniup serunai/nafiri diberikan. Satu-satunya harapan mereka dalam kondisi seperti ini tentu hanya Tuhan, tidak ada yang lain. Dan memang inilah keinginan Tuhan.

Dalam kisah-kisah Israel selanjutnya, tradisi meniup serunai/nafiri tetap dilakukan, bukan hanya pada saat Israel menghadapi tantangan dan pergumulan (2Taw. 13:12, 14; 20:28) tapi juga dalam hal-hal yang tampaknya aman seperti dilakukan dalam ibadah (1Taw. 13:8; 15:28; 16:42; 2Taw. 7:6; Mzm. 98:6). Artinya, pengakuan kita kepada Tuhan bahwa hanya Ialah penolong yang setia bukan hanya pada saat-saat sulit tapi dalam setiap keadaan.





MENGAPA SAYA DITEMPATKAN DI MASA SUKAR?: SEBUAH REFLEKSI AWAL TAHUN

3 01 2009

helmet-of-peaceKalau bisa diberi tema, maka mungkin tema yang cocok untuk tahun 2008 adalah tahun  krisis.  Krisis BBM dan pangan yang sempat merebak di awal sampai pertengahan tahun, ditutup dengan gong krisis ekonomi global yang tidak sekadar memporak-porandakan struktur ekonomi dunia tapi juga merembet dan menciptakan krisis-krisis di sektor kehidupan yang lain.  Tahun ini (2009) kita juga dibuat was-was dengan konstelasi politik yang makin memanas jelang PEMILU legislatif dan Presiden, sebab fakta rusuh PILKADA di beberapa propinsi dan kabupaten tidak bisa dianggap perkara sepele. Yang paling merasakan imbasnya tentu rakyat kecil dan miskin yang makin hari makin bertambah banyak dan makin sedikit mendapatkan akses terhadap rasa keadilan yang menyejahterakan.  Kita tentunya bertanya-tanya mengapa Tuhan menempatkan kita untuk hidup di zaman yang serba sulit dan mengerikan seperti sekarang ini?

 

Kalau kita mau sebentar melihat sejarah maka sebenarnya keadaan dunia pada masa Yesus tidaklah sebaik saat ini.  Kondisi dunia saat itu bahkan mungkin jauh lebih buruk dan jauh lebih mengerikan.  Perlu diperhatikan saat itu belum ada badan dunia semacam PBB yang dapat mencegah timbulnya tindakan-tindakan pendzoliman satu negara terhadap negara lain; menciptakan dan mendorong perdamaian dunia.  Universal Declaration of Human Rights (Pernyataan Universal tentang HAM) yang menjamin hak-hak semua manusia secara setara sejak ia dilahirkan tanpa memandang SARA pun belum terbit.  Belum ada UU KDRT dan perlindungan anak yang menjamin kesetaraan gender dan mencegah tindakan anarkis kaum berkuasa terhadap kaum lemah. 

 

Pada zaman Yesus kondisi ekonomi di Palestina sangat buruk. 90 persen masyarakat hidup di bawah garis kemiskinan karena bekerja sebagai buruh kasar dan hanya sekelompok kecil  kaum elit menikmati kekayaan yang melimpah karena koneksi tingkat tinggi dengan politik (termasuk para imam Saduki di Bait Allah).  Belum lagi sistem cukai yang begitu korup, sangat mencekik hidup mayoritas rakyat jelata (ibrani: ‘am ha eretz) saat itu. Saat itu dunia dipimpin oleh Kerajaan yang (mungkin) paling besar sekaligus paling kejam sepanjang sejarah dunia, Roma. Para raja wilayah pun tidak kalah bengisnya.  Herodes Agung, si psikopat gila hormat dan suka negatif thinking ini tega membunuh 2 dari 10 istrinya, setidaknya 3 anak laki-lakinya tewas di tangannya, juga seorang ipar dan kakek seorang isterinya tewas dibantainya.  Bahkan ketika ia tahu bahwa menjelang ia mangkat banyak orang akan bersukacita atas kematiannya (karena bebas dari pemerintah tirannya), ia memerintahkan anggotanya untuk menangkap para pemimpin orang Yahudi saat itu dan membantai mereka di tempat umum.  Ia memang tahu bahwa tidak akan ada orang yang berduka atas kematiannya tapi  ingin supaya ada orang yang berduka pada saat ia mati, karena itulah ia melakukan tindakan gila ini.  Dalam Matius 2 kita juga tahu bahwa akhirnya Tuhan dan kedua orang tua jasmaniahnya pun terancam oleh raja gila ini! 

 

Tetapi menarik untuk memperhatikan apa yang dicatat Galatia 4:4, “Tetapi setelah genap waktunya, maka Allah mengutus Anak-Nya, yang lahir dari seorang perempuan dan takluk kepada hukum Taurat.” Kami suka dengan terjemahan LAI BIS, “Tetapi pada saatnya yang tepat, Allah mengutus Anak-Nya ke dunia. Anak-Nya itu dilahirkan oleh seorang wanita dan hidup di bawah kekuasaan hukum agama.”  Ada yang agak janggal di sini.  Kalimat awal yang menegaskan keterangan waktu tesebut menunjukkan bahwa Allah justru mengirimkan Anak-Nya yang tunggal, yang sangat dikasihi-Nya (Yoh. 1:14, 18; 3:18; 3:35; 5:20) dalam situasi yang paling sulit dan mungkin paling berat dalam sepanjang sejarah umat manusia, dan itu adalah waktu yang paling tepat!  Ya, seperti-Nya Allah sengaja menempatkan Anak-Nya dalam situasi yang sulit dan tidak mudah. Mengapa? Kami tertarik dengan ayat yang sangat terkenal dari Matius 20:28 yang menurut kami merupakan inti dari Injil Matius, “sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.”  Ya, Sang Kristus justru hadir dalam krisis sebab di sanalah banyak orang yang perlu dibebaskan, dimerdekakan, dipulihkan, disembuhkan dan mendengar kabar baik bahwa Allah tetap peduli dan mengasihi mereka (Luk. 4:18-19). 

 

Bagaimana dengan kita sebagai orang-orang yang terpanggil melayani Dia?  Kami teringat dengan Yohanes 12:26, “Barangsiapa melayani Aku, ia harus mengikut Aku dan di mana Aku berada, di situpun pelayan-Ku akan berada. Barangsiapa melayani Aku, ia akan dihormati Bapa.”  Ya, kalau di atas telah kita lihat bagaimana Bapa sengaja menempatkan Yesus di tengah krisis maka lewat ayat ini maka tampaknya Yesus pun sengaja ingin kita berada di tempat-tempat krisis.  Artinya, jika kita ingin melayani Dia, kita harus ikut ke mana pun Ia memimpin kita dan di tempat Dia berada (yang tentunya adalah tempat-tempat di mana krisis ada), di sana pulalah kita harus berada! Jadi, dalam masa krisis ada kebenaran paradoksal yang termuat.  Memang masa ini adalah masa yang sangat sulit dan membuat kita was-was namun masa krisis juga sekaligus merupakan “kesempatan emas” membawa dunia mengenal dan melihat Allah yang mengasihinya.  Selamat memasuki krisis dan selamat masuk dalam pelayanan yang sebenarnya. Selamat Tahun Baru, Tuhan memberkati kita!

 

 

 

 

Cor Meum Tibi Offero Domine,

Prompte et Sincere[1]


[1]Doa John Calvin yang artinya: “Kepada-Mu, Tuhan, kupersembahkan hatiku, dengan tepat dan tulus.”





KANON PERJANJIAN BARU DAN KEILAHIAN YESUS: SEBUAH RINGKASAN PERENUNGAN

12 12 2008

gospels3 

I

 

Iman orang Kristen tidak hanya berakar dari Perjanjian Lama (PL).  Orang-orang Kristen percaya bahwa kitab-kitab Perjanjian Baru (PB) sama berotoritasnya dengan PL. 

 

Namun akhir-akhir ini ada banyak ajaran baru yang menghembuskan isu bahwa kekristenan yang hadir saat ini bukanlah kekristenan yang historical (menyejarah).  Artinya kekristenan saat ini adalah produk dari berbagai motivasi entah itu motivasi politik, sosial,  ekonomi dan budaya.  Kekristenan yang ada saat ini tidak orisinil lagi; ia tidak lagi berakar pada perihal religius yang menjadi motivasi utama kekristenan mula-mula.

 

Ada dua isu utama yang menjadi keberatan dari kalangan-kalangan tersebut: soal kanon PB dan soal Yesus, yang keduanya seperti kepingan mata uang yang tidak dapat dipisahkan.  PB tidak akan pernah ada tanpa Yesus dan Yesus semakin efektif diberitakan dan diproklamasikan tanpa kanon PB.

 

Tulisan pendek ini merupakan rangkuman keprihatinan, pergumulan dan upaya penulis dalam memaknai isu-isu kontemporer tentang PB, khususnya isu tentang kanon Perjanjian Baru dan Yesus ketika sedang mengikuti studi orientasi staf Perkantas, Juni-Juli 2007, khususnya di kelas Pengantar Perjanjian Baru.

           

 

II

 

Satu hal yang paling merisaukan saat ini bagi kekristenan adalah serangan-serangan terhadap Kanon PB.  Ditemukannya Injil Yudas, misalnya, menjadi salah satu tren yang membuat banyak orang mulai memandang miring kanon-kanon PB yang diyakini Gereja purba sebagai kitab suci. Dampaknya, orang mulai menyangsikan kalau kanon yang dipercayai orang Kristen saat ini adalah yang juga dipercayai sebagai kanon oleh para rasul.  Contoh sederhananya adalah banyak orang yang mulai berpikir bahwa kitab-kitab Injil berasal dari tahun yang lebih muda (late date) dibanding dengan kitab-kitab Injil gnostik seperti Injil Thomas, Injil Barnabas dan Injil Yudas.  Namun mungkin orang-orang Kristen sekarang ini akan bertanya, ”Apa masalah yang terjadi kalau kitab-kitab Injil itu dimasukkan di dalam Kanon?”  Tentu saja substansi yang berbedalah yang membuat kitab-kitab gnostik tidak dimasukkan dalam Kanon.  Kitab-kitab gnostik sangat skeptis dengan natur ilahi dan kemanusiaan Yesus.  Namun serangan dari pihak yang pro Injil gnostik mengatakan bahwa Kanon Kristen yang ada sekarang ini adalah hasil rekayasa dan kesepakatan sepihak Gereja Roma yang dipakai bagi kepentingan politik, khususnya oleh Kaisar Konstantinopel untuk menjaga stabilitas politik dan keamanan negaranya.  Benarkah demikian adanya? Apakah memang pada awalnya komunitas Kristen purba sebenarnya juga turut mengakui kitab-kitab gnostik sebagai Kanon?  Apa sebenarnya standarisasi Kanon?  Apakah hasil keputusan konsili atau memang kitab-kitab tersebut sudah lama diakui sebagai otoritas oleh gereja purba?

 

Pada dasarnya Yesus, Para Rasul dan orang-orang sezaman mereka mempercayai secara bulat bahwa PL adalah kitab suci dan kanon mereka.  Yesus sering mengutip PL dalam pengajaran-Nya (Mrk. 10:6-12; 12:36); bahkan Ia juga dengan lantang dan tegas menyatakan bahwa PL adalah kitab suci yang pasti tergenapi dan tidak mungkin gagal (Mat. 5:17-19; 26:54; Luk. 22:37; Yoh. 10:35). 

 

Para Rasul pun mengakui hal yang sama.  Lihat saja Kisah Para Rasul 1:16 dan Roma 3:2 (Paulus); Kisah Para Rasul 7:38 (Stefanus); Yakobus 4:5 (Yakobus).  Baik Yesus, para rasul dan orang-orang Yahudi sezaman mereka melihat bahwa PL merupakan nubuatan bagi kehadiran seorang Mesias yang akan menggenapi seluruh isi PL itu sendiri.

 

Bagaimana dengan orang-orang Kristen awal?  Bagi orang-orang Kristen yang sudah menyaksikan karya Yesus, kematian dan kebangkita (baca: kemenangan) Yesus, otoritas satu-satunya bukanlah sekadar PL tapi Yesus Kristus yang telah mati, bangkit dan naik ke surga itu, yang merupakan penggenapan nubuatan PL. Lihat saja apa yang sering dikhotbahkan para rasul, bukan PL melainkan Yesus Kristus yang adalah penggenapan apa yang sudah disampaikan di dalam PL.  Bahkan Dr. Bruce Metzer, seorang teolog PB yang sangat dihormati di dunia mengatakan, ”and who, in doing this, had given authoritative pronouncements concerning what is the true and most profound meaning of the Old Testament (Matt. 5:21-28; Mark. 10:2).”[1]  Itulah sebabnya kita tidak perlu heran kalau pada akhirnya dalam kehidupan Gereja mula-mula perkataan Yesus sering disimpan dan dikutip, disandingkan dengan PL dan dianggap memiliki otoritas yang sama (bahkan lebih) daripada PL (Kis. 20:35; 1Kor. 7:10, 12; 9:14; 1Tim. 5:18). Serupa dengan ucapan-ucapan Yesus yang disimpan dan yang beredar itu, pengajaran dan penafsiran para rasul berkenaan dengan kehidupan, karya, pelayanan dan pribadi Yesus Kristus memiliki peran yang signifikan bagi Gereja mula-mula.  Itulah sebabnya mengapa perkataan-perkataan Yesus dan pengajaran para rasul menempati posisi yang istimewa dan berotoritas di kalangan jemaat mula-mula. Surat-surat para rasul ini bahkan sering dibacakan dalam kebaktian-kebaktian jemaat! (Kol. 4:16; 1Tes. 5:27; Why. 1:3).

 

Fakta ini makin diperkuat oleh beberapa dokumen yang bernama Apostolic Fathers. Apostolic Fathers adalah tulisan-tulisan yang dibukukan oleh para pemimpin-pemimpin Gereja mula-mula paska para rasul dalam rangka mengajar dan mendidik jemaat.  Tulisan tertua dari Apostolic Fathers ini adalah karya Clement dari Roma, yang ditulis sekitar tahun 96 M.  Di dalamnya selain mengutip PL, Clement juga mengutip bagian dari surat pertama Paulus kepada jemaat di Korintus.  Ia juga menyinggung satu atau dua surat rasul Paulus yang lain.  Kutipan ini juga menunjukkan bahwa sebuah kopi dari surat Paulus yang telah ditulis pada akhir tahun 50-an di bagian Yunani telah adalah di Roma pada tahun 96!  Selain itu masih banyak Apostolic Fathers yang lain yang menunjukkan bahwa jauh sebelum konsili-konsili Gereja digelar, bagian-bagian PB yang sekarang ini menjadi kanon, telah diakui, disepadankan dan bahkan dianggap berotoritas sebagaimana PL oleh Gereja mula-mula (Surat kepada Barnabas [125 M]; Hermas, The Shepherd [abad 2-3 M]; Justinus Martir, First Apology [155 M]; Tatian, Diatessaron [170M]; Irenaeus,  Against Heresies).  Sebagai contoh, coba perhatikan kutipan surat yang ditulis oleh Polikarpus (69-155 M), seorang Uskup di Smirna, kepada jemaat Filipi yang sangat mirip dengan pesan Paulus dalam 2Timotius 3:16:

 

For neither I, nor any other such one, can come up to the wisdom of the blessed and glorified Paul. He, when among you, accurately and stedfastly taught the word of truth in the presence of those who were then alive. And when absent from you, he wrote you a letter which, if you carefully study, you will find to be the means of building you up in that faith which has been given you, and which, being followed by hope, and preceded by love towards God, and Christ, and our neighbour, “is the mother of us all.”       

 

Sampai di sini kita dapat menyimpulkan bahwa kanon PB terbentuk secara sendirinya lewat sejarah yang panjang dari Gereja mula-mula, seperti yang dikatakan oleh William Barclay, ”It is the simple truth to say that the New Testament books became canonical because no one could stop them doing so.”[2]

 

 

III

 

Isu berikutnya yang sering menjadi perdebatan hangat adalah perihal Yesus.  Tidak kurang dari ajaran-ajaran saksi Yehuwa, Mormonisme, Kristen Tauhid dan kaum Liberal menolak fakta biblis bahwa Yesus adalah Allah.  Inti dari problem of Jesus akhir-akhir ini adalah gugatan terhadap keilahian-Nya.  Semangat pluralisme turut mendorong isu ini menjadi makin hangat.  Tidak heran kalau buku-buku cetek sejenis The Da Vinci Code-nya Dan Brown atau Sejarah Tuhan-nya Karen Amstrong laku keras.  Pembelaan mereka pada intinya sama saja: para rasul dan orang-orang Kristen mula-mula tidak pernah mengakui Yesus sebagai Tuhan. Bahkan ekstremnya, ada yang mengatakan bahwa Yesus sendiri tidak pernah mengakui diri-Nya sebagai Tuhan.  Konsepsi Kristologi seperti yang dipahami kekristenan sekarang ini adalah buah dari politik gereja.  Benarkah kesimpulan ini?

 

Kembali kepada keberatan berbagai kalangan, apakah konsep Kristologi yang menyetarakan Yesus dengan Allah adalah hasil rekayasa Gereja dan bukan merupakan kepercayaan yang turut dianut oleh para murid pertama, khususnya para penulis Perjanjian Baru?  Dalam hal ini N. T. Wright memberikan pandangan yang baik,

 

Whatever we say of latter theology, this [Jewish polemic has often suggested that the Trinity and the incarnation, those great pillars of patristic theology, are sheer paganization] is certainly not true of the New Testament. Long before the secular philosophy was invoked to describe the inner being of the one God (and the relation of this God to Jesus and to the Spirit), a vigorous and very Jewish tradition took the language and imagery of Spirit, Word, Law, Presence (and/or Glory), and Wisdom and developed them in relation to Jesus of Nazareth and the Spirit.[3] 

 

Lihat saja bagaimana Yohanes dengan sangat apik memaparkan teologi Firman yang bergantung sepenuhnya atas tradisi hikmat dari Perjanjian Lama.[4]  Atau lihat juga paparan Rasul Paulus dalam 1Korintus 8:6 yang dalam ayat yang jelas-jelas memuat semangat monoteisme Yahudi ini memberikan posisi yang setara antara Yesus dan Allah:[5]

 

namun bagi kita hanya ada satu Allah saja, yaitu Bapa, yang dari pada-Nya berasal segala sesuatu dan yang untuk Dia kita hidup, dan satu Tuhan saja, yaitu Yesus Kristus, yang oleh-Nya segala sesuatu telah dijadikan dan yang karena Dia kita hidup.

 

Demikian pula apa yang dicatat Paulus dalam Filipi 2:5-11.  Ayat 10-11 dari teks ini jelas mengutip apa yang dicatat nabi Yesaya dalam pasal 45:23 dari kitabnya; yang dari konteks ayat 22 jelas lahir dari semangat monoteisme yang kental:

 

supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku: “Yesus Kristus adalah Tuhan,” bagi kemuliaan Allah, Bapa! (Fil. 2:10-11)

 

Berpalinglah kepada-Ku dan biarkanlah dirimu diselamatkan, hai ujung-ujung bumi! Sebab Akulah Allah dan tidak ada yang lain.  Demi Aku sendiri Aku telah bersumpah, dari mulut-Ku telah keluar kebenaran, suatu firman yang tidak dapat ditarik kembali: dan semua orang akan bertekuk lutut di hadapan-Ku, dan akan bersumpah setia dalam segala bahasa (Yes. 45:22-23).

 

Jelas bagi rasul Paulus Yesus bukanlah figur biasa, melainkan ia menempatkan Yesus sedemikian rupa sehingga setara dengan Bapa.  Penulis sepakat dengan apa yang dikatakan oleh Wright berkenaan dengan kaitan antara kedua teks ini,

 

Isaiah has YHWH defeating the pagan idols and being enthroned over them; Paul has Jesus exalted to a position of equality with ‘the Father’ because he has done what, in Jewish tradition, only the one God can do.[6]

 

Fakta-fakta biblis ini jelas memberikan bukti bahwa sebenarnya dengan cara yang sangat apik dan dengan sangat hati-hati para penulis Perjanjian Baru berupaya menyampaikan bahwa Allah yang dulu bertindak dalam sejarah Israel dan yang terus bertindak dalam dunia yang dikasihi-Nya ini dalam keunikan-Nya kini menyatakan diri di dalam Yesus Kristus.  Ini dapat ditunjukkan dengan penggunaan beberapa gelar yang diberikan penulis Perjanjian Baru kepada Yesus.[7] 

 

Namun selain memaparkan fakta-fakta yang seolah terselubung tentang identitas Yesus, Perjanjian Baru juga memaparkan fakta-fakta eksplisit tentang siapa Yesus:

 

Tomas menjawab Dia: “Ya Tuhanku dan Allahku!” (Yoh. 20:28)—ho kurios mou kai ho theos mou

           

Mereka adalah keturunan bapa-bapa leluhur, yang menurunkan Mesias dalam keadaan-Nya sebagai manusia, yang ada di atas segala sesuatu. Ia adalah Allah yang harus dipuji sampai selama-lamanya. Amin! (Rm. 9:5).

 

dengan menantikan penggenapan pengharapan kita yang penuh bahagia dan penyataan kemuliaan Allah yang Mahabesar dan Juruselamat kita Yesus Kristus (Tit. 2:13).

 

 

Melihat fakta-fakta ini penulis hanya terheran-heran dengan kesimpulan sepihak, spekulatif dan terburu-buru dari berbagai kalangan yang mengatakan bahwa doktrin Kristologi adalah produk Gereja dan tidak berasal dari Perjanjian Baru.

 

 

 



[1]The New Testament: Its Background, Growth and Content, 3rd ed. (Nashville: Abingdon,  2003) 310.

[2]Ibid. 319.

[3]N. T. Wright, “The Divinity of Jesus,” dalam The Meaning of Jesus: Two Visions (New York: HarperSanFransisco, 1989) 161.

[4]Wright membandingkan Yohanes 1:14 dengan Sirakh 24 (ibid).

[5] ibid.

[6]ibid.

[7]lihat buku C. F. D. Moule, The Origin of Christology (Cambridge: Cambridge University, 1977) 11-46.





PANGGILAN MEMBERITAKAN INJIL

1 12 2008

Yesaya 40:1-11; 44:1-8; 52:7; Ro. 1:1-5

idolatry2

I

Sebenarnya ada konsep berbahaya yang sedang dianut oleh Gereja dan banyak orang Kristen saat ini berkenaan dengan konsep pemberitaan Injil, yang menurut penulis tidak memuat seutuhnya konsep Alkitabiah tentang pemberitaan Injil dan cenderung berat sebelah dalam melihat makna Injil. Gereja dan banyak orang Kristen saat ini cenderung mereduksi makna Injil yang dalam Alkitab sebenarnya memuat esensi berita “kabar baik” yang sangat agung dan mulia dan memiliki muatan restorasi yang holistik atas semesta ini sekadar menjadi “kabar baik” yang menurut penulis cenderung egoistik-ekslusifistik, bahkan terkesan bernada hedonisme-materialistik, yakni agar kelak kita mendapatkan “hidup kekal.”  Parahnya lagi (kalau tidak mau dikatakan konyol) konsep “hidup kekal” yang dimaksudkan di sini lagi-lagi tidak beranjak dari konsep yang alkitabiah melainkan sekadar menekankan “hidup yang nikmat, nyaman, enak dan penuh ketenangan, di surga nun jauh di sana.”  Dan parahnya juga, konsep surga yang seperti ini sebenarnya bukanlah konsep surga yang 100% alkitabiah. Baca entri selengkapnya »





Perlukah Reformasi Jilid Dua?: Refleksi Singkat Terhadap Gerakan Reformasi Abad XVI

20 11 2008

indulgences1Gerakan reformasi abad ke-16 adalah sebuah gerakan yang berdampak sangat luas.  Produk yang dihasilkan oleh gerakan ini sebenarnya bukan melulu berkaitan dengan soal doktrinal/pengajaran dan diskursus-diskursus teologi lainnya—seperti yang seringkali ditekankan banyak orang—tapi juga berkaitan dengan kehidupan kristiani yang riil (real Christian life). Malah, Roger Olson, seorang ahli sejarah Gereja, menjelaskan bahwa salah satu latar belakang penting yang mendorong timbulnya gerakan reformasi adalah tidak berminatnya lagi banyak orang dengan teologi Kristen saat itu karena dianggap tidak relevan dengan kehidupan riil masyarakat. Dengan menyimpulkan pandangan Erasmus yang muak dengan teologi dan para teolog saat itu, ia mengatakan demikian tentang latar belakang Reformasi, “The great Christian humanist Erasmus used theology as a synonim for pointless speculation and theologian for an ivory tower thinker who had lost touch with reality.”[i]  Alister McGrath, yang cenderung memandang Reformasi sebagai sebuah gerakan intelektual mengatakan bahwa reformasi memang adalah sebuah gerakan keagamaan namun tidak bisa dilepaskan dengan pergulatan dimensi sosial, politik, dan ekonomi masyarakat pada abad ke-16.  Artinya bagi reformasi abad ke-16, gerakan keagamaan bukanlah gerakan yang lepas dari pergumulan riil masyarakat dan sekadar bicara soal private religion, “It is perhaps inevitable that many modern western historians, familiar with a privatized religious ethos, will assume that religion has no role beyond the realm of personal spirituality. Yet this was not the case in the sixteenth century. . . .”[ii]  Kita tidak boleh lupa bahwa fakta paling telanjang yang memicu trigger reformasi adalah proyek mercusuar rekonstruksi Basilika St. Petrus di Roma oleh Paus Leo X dan upaya fund-raising yang gencar oleh Johann Tetzel dengan menjual indulgensia (surat penghapus dosa) untuk mempercepat pembangunannya.  Dalam dalilnya yang ke-28—dari 95 dalil yang ia pakukan di pintu Gereja Wittenberg sebagai bentuk protesnya terhadap praktik korup Gereja saat itu—Luther jelas menyinggung hal ini, “It is certain that when the penny jingles into the money-box, gain and avarice can be increased, but the result of the intercession of the Church is in the power of God alone.

  Baca entri selengkapnya »





Mengapa Saya Menjadi Kristen??

29 10 2008

Filipi 3:1-11; Kisah Para Rasul 26 

 

 

 

 

Pendahuluan

Menurut penulis pada umumnya ada tiga alasan utama mengapa orang mau menjadi Kristen.  Dua pandangan penulis ambil dari buku John Stott, Why I am a Christian? dan pandangan terakhir adalah pandangan penulis pribadi. 

 

Dalam buku terbarunya, Why I am a Christian? (Mengapa Saya Seorang Kristen?), John Stott, seorang penulis, pengkhotbah dan salah satu pemimpin Kristen dunia yang sangat terkenal memaparkan bahwa dua alasan utama orang menjadi Kristen :

  Baca entri selengkapnya »





PELAYANAN MAHASISWA DAN SIGNIFIKANSINYA TERHADAP PENYEDIAAN SUMBER DAYA MANUSIA

27 10 2008

              

          Mencari Akar Krisis: Sistem Vs SDM

Setiap bangsa pasti mempunyai mimpi berkaitan dengan permasalahan yang dihadapinya…. Tak terkecuali Indonesia juga punya mimpi. Bangsa yang kini dilanda euforia demokrasi ini memimpikan pemimpin yang demokratis.[1]

 

Sepenggal kalimat di atas sangat menarik untuk disimak. Kalau boleh saya terjemahkan sedikit, kalimat tersebut seolah-olah ingin menyatakan bahwa setiap bangsa pasti punya masalah dan setiap bangsa pasti ingin lepas dari masalah yang sedang dihadapinya. Terlepas dari apa bentuk masalah itu, setiap masalah pasti punya sumber yang menyebabkannya. Biasanya masalah-masalah yang ada tidak terlepas dari sistem-sistem birokrasi yang mengatur tatanan kehidupan bangsa tersebut, entah itu sistem hukumnya, sistem politiknya, sistem ekonominya, sistem hankamnya, dan lain-lain.

 

Namun kalimat di atas mengisyaratkan kepada kita bahwa akar utama penyebab dari semua permasalahan yang ada di negara kita, tidak terletak pada sistem tetapi pada para pelaku sistem tersebut. Pemimpin yang dimaksudkan dalam  tulisan di atas tidak berbicara tentang sistem organisasi kepemimpinan atau suatu badan formal yang mengelola sistem-sistem yang ada, melainkan pada sosok personal yang mengendalikan sistem itu. Dengan kata lain masalahnya ada pada manusianya bukan pada organisasinya. Euforia demokrasi yang ada harus dijawab dengan mula-mula melahirkan sosok personal yang demokratis bukan sistem yang demokratis.[2] Baca entri selengkapnya »